Tampilkan postingan dengan label Naskah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Naskah. Tampilkan semua postingan

Aku Temannya Budi

Senin, 24 November 2014

Aku pernah punya kawan, kawanku baik hatinya. Namanya Budi. Budi baik sekali. Dia suka menolong orang, diapun senang mengajarkanku cara mengerjakan pe er. Budi pintar sekali. Aku senang berteman dengan Budi. Budi juga senang berteman denganku. Budi bilang aku kawan yang baik, karena pernah memberinya buah kelapa. Padahal itu aku hanya memanjat saja. Juga kata Budi, karena aku sering memberikan dia ikan. Padahal aku hanya memancing saja. Ikan itu lalu dibakar oleh ibu Budi. Aku diajak makan bersama, rasanya enak sekali. Aku juga suka ibu Budi. Ibu Budi pintar memasak.

Nama ibu Budi adalah Aminah. Selain jago memasak, Ibu Budi juga pandai menjahit. Semua baju Budi, Bu Aminah yang jahit, kata Budi. Jahitannya bagus sekali. Aku juga mau dijahitkan baju sama Bu Aminah. Tapi aku malu mau bilang sama Bu Aminah. Ibu Aminah juga pandai bermain piano. Bunyi piano merdu sekali. Aku sering diajaknya bernyanyi. Kata Bu Aminah suaraku bagus. Setelah bermain piano dengan Bu Aminah, aku pulang ke rumahku.

Di rumahku ada ayah dan adek. Ibu sedang di pasar bersama kakak. Ayah sedang menulis, adek bermain penggaris dan pulpen. Ibuku memang suka berjualan, sehingga sekarang sudah memiliki toko yang lumayan besar di pasar sana. Kakakku senang berhitung dan memerintah orang-orang, tapi dia pintar menyuruh, sehingga yang disuruh tak merasa diperintah dan senang saja menurut. Kakakku menyuruh-nyuruh orang-orang yang bekerja di pasar ibu tentunya. Uang yang kami dapat dari toko, kata ayah dan kakak, sedikit saja. Karena ibuku sangat baik. Dia senang sekali memberi sana sini hasil penjualan dari toko sepulangnya dari pasar, sebelum sampai ke rumah. Aku senang ibu begitu. Orang yang baik disayang Tuhan, kata ayah. Aku senang ibuku disayang Tuhan. Orang yang disayang Tuhan pasti bahagia, kata ayah.

Ayahku senang menulis, sudah banyak kulihat ada buku yang ditulis ayah, sering kulihat nama ayah di toko buku. Sering lama lama aku tak sengaja berdiri di depan rak toko buku yang ada buku Ayah nya. Aku senang, seperti mau terbang, seperti balon yang membesar. Ayah bilang itu namanya bangga, katanya sambil menangis. Aku bertanya kenapa ayah menangis? Ayah bilang dia sangat senang karena aku bangga melihat nama ayah. Aku tak mengerti, kenapa senang koq malah menangis? Tapi yang aku tahu aku akan selalu bangga pada Ayah, pasti.

Adikku pintar sekali, mungkin lebih pintar dari budi. Sudah pasti adikku lebih pintar dari aku. Tapi dia tidak pandai memanjat dan memancing. Aku pikir aneh, kenapa orang sepintar adikku tak pintar pula memanjat dan memancing. Mungkin dia malas saja belajar memanjat dan memancing. Dia lebih senang berhitung dan membaca. Meski kulihat lebih banyak berhitungnya. Kakakku juga senang berhitung, tapi beda. Kakakku senang menghitung jumlah beras, garam, menetega dan gula. Sedangkan adik lebih senang menghitung tinggi gunung, rumah, luas rumah dan soal soal matematika yang kelihatannya susah sekali. Pernah kutanya Budi tentang itu, lalu kata Budi itu....... kulkas? Semacam itu, aku lupa. Tapi satu yang paling ayah ibu senangi dari kami. Kami pintar mengaji!

Aku masih ingat, waktu khatam jus 30 kemarin, aku dibelikan martabak! Aku senang sekali. Kubagi martabak pada adik, kakak dan Amon, setelah kupisahkan bagian untukku yang lebih banyak. Amon itu nama pembantu kami. Dia baik juga rajin. Diantara kami, kakak yang paling pandai mengaji. Kalau kakak mengaji, aku berhenti main gasing, adik melepas pulpen dan penggaris, ibu berhenti menghitung barang, ayah berhenti menulis. Barulah setelah kaka selesai mengaji, semua kembali seperti semula. Amon yang tadinya cuma berdiri bengong sambil memegang gagang sapu juga jadi kembali menyapu. Aku senang mendengar kakak mengaji. Aku mau pandai mengaji seperti kakak. Kalau sudah malam, kami semua pergi tidur. Meski kalau sudah di kasur, kadang aku sulit tidur. Banyak sekali yang mau kulakukan besok.

>>>>>
Sekian
Salam Selalu

Terlepas Terbebas

Minggu, 13 April 2014


Saat itu aku sedang berjalan. Motor matic yang selalu setia menemaniku terparkir tak jauh di belakang sana, kehabisan bensin. Kuparkir sesukaku di pinggir jalan setelah lelah kudorong beberapa lama, jika ada polisi yang iseng-iseng lewat dan melihat motorku begitu, sudah pasti aku ditilang, sim ditahan, stnk ditahan, motor ditahan. Biarlah, lagipula aku tak punya rencana kembali kesitu. Jadi jika kelak diantara kalian ada polisi, atau pelaku curanmor yang menemukan motor itu, terserahlah mau kalian apakan motor itu, kuikhlaskan. Angkut saja.

Sambil terus berjalan entah kemana, aku tertunduk menatap aspal dibawahku. Dulu di SD, nilai-nilai raportku termasuk diatas rata-rata, meski jarang ranking 1 prestasiku termasuk gemilang. Terbukti dari seringnya si ranking 1 (dan teman sekelas lainnya---SEMUANYA) menyontek PRku, menyontek ujianku, bahkan menyontek catatanku. Kejadian seperti ini tak berhenti di sd, tapi terus berlanjut ke SMP, lalu SMA. Akhirnya aku tak tahan, mulai naik SMA kelas dua aku memaksa diriku BERHENTI PINTAR, aku mulai berusaha bodoh. Tapi ternyata sulit juga, karena sejak dahulu aku memang sudah malas belajar, namun tetap saja aku pintar. Apa yang harus kulakukan ya supaya cepat bodoh? Petualanganku untuk menjadi orang bodoh pun dimulai.

Aku mulai bermain di kelas saat penerimaan materi, aku perlahan menyeringkan bolos, aku mulai rajin main ps, sampai di puncaknya aku menyontek dalam 90% ujianku. Oh, jangan kau tanya, Saat itu aku begitu bangga! Tak bisa kulupakan tatapan kagum teman-temanku saat terpana melihat caraku menyontek. Karena tak seperti mereka yang semalaman membuat kertas contekan, aku tanpa basa-basi dan bertele-tele membuka buku catatan bahkan kadang buku cetak, di tengah ujian, dalam mencari jawaban. Semua ini sejauh pengetahuanku, tanpa tetangkap oleh guru manapun. Aku PUAS! Tapi tidak untuk waktu yang lama.

Saat kuperhatikan susunan angka di raportku, kekecewaan maha besar menguasaiku. Membuatku mengumpat dalam hati sekeras-kerasnya. Ternyata nilai-nilaiku juga tak jauh di atas rata-rata. Sementara nilai para pecontek lain melambung tinggi diatas sana. Aku muak! Dan akhirnya aku memaki-maki sejadi-jadinya melihat betapa orang lain yang nilainya berada di bawah garis rata-rata malah terlihat bahagia dan puas, bahkan saat memegang raportnya. Entah kenapa. Sudahlah, aku menyerah jadi orang bodoh, ternyata jadi orang bodoh memang sulit. I quit from being STUPID. Namun jalan garis takdir menampakkan tanduknya, aku sepertinya terlambat menyadarinya. Terlambat sadar dari kebodohan.

Hari berlalu mengganti minggu, minggu berlalu mengganti bulan, bulan berlalu mengganti tahun dan aku masuk kuliah. Ternyata usahaku waktu sma kemarin untuk jadi orang bodoh terlampau keras, sehingga hasil usahaku itu terukir keras jauh dalam sanubariku, aku telah menjadi orang yang berisi BODOH! Kelas perkuliahan jadi nampak memuakkan setelah beberapa kali dilalui, meski tentu awalnya aku sempat begitu bergairah. Nampaknya memang seperti itu untuk semua mahasiswa baru. Aku tak tahan! Lari ke tempat ps, warnet dan tempat karaokean jadi pilihan utama. Tugas-tugas yang hadir kukerjakan suka-suka, sistem copy paste sudah pasti jadi jalan utama. Malam-malam begadang tak jelas diluar rumah mewarnai hari-hariku. Dan tentu tiba hari-hari bolos kuliah. Maka cerita aku yang menetap dalam rumah sakit kebodohan kembali bergulir kencang. Tapi bukan cuma itu berita buruknya. Sudah kubilang tadi kan? Aku punya Motor MATIC.

Berulang kali jatuh dari motor karena suka kebut-kebutan sepertinya lebih melukai hati orang tuaku daripada tubuhku. Tentu, mereka menasihati sebisa mungkin, dengan cara sebaik mungkin. Namun sudah dasarnya bodoh, aku tak terlalu peduli, sedikit sesal tentu hadir ketika melihat mata ibu berkca-kaca, tapi ketika angin jalanan menggelitik wajahku, tak bisa kutahan tangan kananku untuk memutar gas lebih kencang. Kaca spion hanya ada untuk menangkal gangguan polisi, fungsinya sudah terlupakan. Rem tak bisa berbuat banyak manakala jarak dan kecepatan begitu tak seimbang, kecelakaan demi kecelakaan terus berlanjut. Dan pada saat bersamaan, jauh di lubuk hati kusadari, masa depan kuliahku terancam.

Nampaknya Tuhan memang Maha Tahu. Salah satu buktinya, dia tahu kegalauan yang melandaku. Dalam salah satu rapat yang kuhadiri, yang diadakan oleh perkumpulan jurusanku, terjadi keajaiban. Entah setan atau malaikatkah yang dikirim Tuhan waktu itu, intinya aku kesurupan. Aku yang saat itu hanya hadir dalam fungsi meramaikan, alias cuma pengikut rapat minor, malah berperan aktif dalam menyampaikan usul dan saran, dan---gilanya----juga kritik. Tak dinyana lagi, aku dipilih jadi ketua kegiatan itu. Ampun! Merasa sudah melaksanakan tugasnya, setan atau malaikat yang tadi merasukiku pergi dan mengembalikan kesadaran orang bodoh, entitas sementaraku saat itu yang langsung berteriak; CILAKA 13! Tapi aku tak cukup gentleman untuk menarik kembali semua kata-kataku tadi dan meminta mereka membatalkan penempatanku sebagai ketua. Apa mau dikata, nasi sudah jadi bubur, sudah dikecapi pula, makanlah!

Sepanjang persiapan yang berlangsung kurang lebih sebulan, otakku seperti dipelintir dan diperas. Tak sadar aku mulai sering ke kampus yang otomatis membuatku sering menghadiri kuliah. Karena ini kegiatan kampus, maka secara tak disengaja dan mau tak mau, hubunganku dengan dosen kembali diperbaiki. Semua urusan tentang transportasi, sertifikat dan lain-lain menyibukkan aku dan teman-temanku sehingga tak ada waktu ke tempat ps, warnet, apalagi karaokean. Kecuali tentu untuk beberapa urusan aku harus ke warnet, tapi hanya itu. Titel baruku sebagai Ketua Kegiatan membuatku hampir gila. Ya, ketika persiapan telah seperempat berjalan aku mengundurkan diri, yang mengundang protes keseluruhan dari semua yang terlibat. Namun syukurlah bukan hanya protes yang kutuai dari kejadian pengunduran diri itu, tapi juga sumpah setia mereka akan sepenuh tenaga membantu. Ini kurang lebih memberiku amunisi baru. Aku kembali maju.

Setelah semua rangkaian kegiatan ini selesai, terasa ada yang berubah dariku. Kuliah tidak menjadi kembali menarik, tapi rasanya salah kalau melewatkannya. Intinya kebodohanku perlahan sembuh. Namun sepertinya Tuhan juga Maha Ikut Campur, nampaknya dia belum selesai denganku. Kali ini aku betul-betul disuruh meninggalkan diriku. Aku terpilih untuk berkuliah setahun di luar negeri. Sensasinya seperti nyawa yang dicabut paksa dan dipindah ke tubuh orang lain. Setahun di luar negeri bersama orang-orang yang betul-betul berbeda kembali membawaku ke tahapan renungan yang selanjutnya. Apa itu orang pintar? Apa itu orang bodoh? Mana yang lebih baik? Mana yang akan bertahan? Mana yang bahagia?

Pertanyaan ini kubawa pulang sampai tanah air dalam keadaan belum juga terjawab. Kuliah kembali terasa membosankan, namun dengan alasan yang sama sekali bukan kemalasan. Justru aku sekarang merasa membuang-buang waktuku dalam kelas, dengan mengikuti perkuliahan aku merasa bodoh. Apakah bukan kebodohan ketika kita beradu argumen dengan menyajikan 3 teori yang persis sama akar dan tujuannya? Dan untuk mengejar sarjana? Sarjana apa!? Aku sekarang terlampau muak, melebihi sebelum-sebelumnya. Gas motorku yang kencang kini kembali menemukan defenisinya, dialah luapan emosiku yang berlebih. Pencair kebosanan yang telah berlarut-larut. Tempatku lari dari topeng-topeng palsu penipu dan pecontek.

Maka ketika akhirnya bensinku habis dan motorku tak mau lagi berjalan. Tak perlu lagi kutengok dompet atau kantongku, adakah uang disana untuk mengisi bensin. Aku hanya mau terus diterpa angin, terus bergerak, terus berpindah, jalan kakipun cukup untuk itu. Sepatu pantofel bututku menghantam keras aspal dibawahku, yang tak juga mencair sekeras dan selama apapun aku menatapnya. Keringat mengalir deras di bawah terpaan matahari, tasku terasa berat di punggungku tapi langkahku terasa ringan, sangat ringan. Aku terasa terbang. Nampaknya Tuhan memang Maha Cerewet... Semilir angin panas jalanan seperti berbisik keras-keras; "Kau Bebas!".

 

Makassar

Kamis. 13 maret 2014.

Refleksi Bangun Pagi

Minggu, 09 Desember 2012


Aku dalam proses penciptaan, aku ingin mencipta sebuah cerita, dari apa yang kupikirkan semuanya. Aku senang bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia memberiku kesempatan untuk memusingkan pembaca tulisanku ke makna tersembunyi yang bahkan aku sendiri pun tak pernah bayangkan. Bahasa Indonesia bahkan ----konon katanya--- telah dinobatkan sebagai bahasa terindah di dunia, bersandingan dengan bahasa kota mimpi, bahasa Paris, bahasa Prancis.

Dengan ini aku mau memulai semuanya, dengan kata yang terketik seketika. Terbetik sekenanya. Suara adzan membawaku ke peringatan untuk memenuhi panggilan Tuhan. Aku disini berusaha terus konsentrasi mengetik, mengetik, dan mengetik. Aku ingin mencipta cerita. Aku membutuhkan bantuan Tuhan, aku memerlukan bantuan alam, aku membutuhkan semua bantuan yang bisa aku dapatkan… Bel berbunyi.. bel berbunyi.. darimana dia berasal, apa yang dia panggil…? Atau siapa…?

Disinilah aku, terdampar dalam sebuah khayalan akan cerita tentang kuaci berhadiah. Tentang seorang laki-laki bangkrut yang menemukan hadiah dalam bungkusan kuaci 1000 Rupiah. Jadi dia bernama Torent, Torent Noakat. Jika betul nanti kisah Torent Noakat ini akan jadi cerita, aku ingin sampul bukunya nanti berjudul “……..”, uwahhh… susah sekali memikirkan sebuah judul untuk sebuah cerita yang akupun belum tahu pasti. Tapi setidaknya aku bisa meraba-raba seperti apa kisah ini akan bermula..

“Aku pusing, sudah lama sekali aku berjalan. Semua bangunan disini tentu memiliki banyak perbedaan, tapi entah kenapa, dimataku semua ini sama saja. Langkahku layu dan gontai, sama sekali tak seperti 4 tahun lalu ketika aku baru menginjakkan kaki ke tanah ini.

Aku sekarang tak bertempat tinggal, aku tak punya rumah. Tepatnya, aku tak lagi punya tempat untuk pulang, beristarahat dan merasa aman di tanah ini. Tidak! Aku bukan orang miskin, meski aku sama sekali tak keberatan dicap seperti itu, aku tak pernah protes dicap seperti apa, itu salah satu keistimewaanku yang membuat aku bisa sampai kaya. Itulah faktanya, aku sama sekali tidak miskin. Sekarang saja, di tasku ada ber gepok-gepok uang rupiah pecahan 100ribu dan pecahan lainnya. Bukan pecahan kaca atau plastick maksudku pecahan rupiah. Tolong jangan buat aku tersinggung. Aku mungkin rela di cap miskin atau melarat, atau bodoh, atau apapun, tapi aku tidak mau dibilang bertata bahasa aneh. Itu salah satu yang membuatku bisa sampai menggelandang seperti ini.

Aku kaya. Di dompetku ada beberapa kartu ATM atau kartu Kredit dengan isi tidak sedikit. Tapi sayangnya sama sekali tidak bisa aku sentuh, jika aku ingin terus bebas menghirup udara di luar penjara. Aku buronan. Tepatnya aku dicari polisi seluruh Indonesia. Sedikit lebih lama lagi, aku akan dicari polisi seluruh dunia. Seperti itulah perkiraanku, aku tidak mau mengambil resiko dengan memperlonggar kewaspadaanku. Aku lapar. Aku ingin makan. Sudah lama aku tidak makan nasi. Dengan jumlah rupiah yang ada di tanganku, aku bisa makan dimana saja, berapapun. Tapi sekali lagi, aku tak suka menghirup udara dari dalam penjara. Aku benci penjara. Itu hal yang umum, banyak orang benci penjara. Aku salah satunya saja. Tak ada yang istimewa.

Sekarang kau mungkin bisa melihat seperti apa situasiku. Tapi situasiku tidak segawat yang kau pikir. Situasi ini agak sedikit rumit. Baik! Aku akan mengaku! Situasi ini memang tak bisa kujelaskan karena aku pun tak tahu apa yang sebenarnya tejadi.!

Tiba-tiba rasa lapar ini menjadi sangat mendesak. Aku ingin makan, aku lapar, aku lapar! Mataku jelalatan mencari sesuatu yang bisa dimakan. Heran, mungkin karena pusing, aku tak melihat bangunan apapun yang menjual makanan. Aku mengucek mataku, menampar-nampar pipiku, memanggil kesadaranku untuk kembali dan membantuku mencari makanan. “Ayolah! Apa saja!”. Yang kudapati malah pandanganku semakin buram. Gawat! Aku tak mau pingsan disini! Ini khalayak umum. Maksudku ini keramaian. Maksudku! Aku akan dengan sangat mudah tertangkap polisi jika pingsan disini! Ketakutan-ketakutan dan pemikiran berat ini malah mempercepat proses semaputku. Tepat ketika aku telah berlutut paksa, seperti ditekan oleh tangan maha raksasa, sebuah suara cempreng nan tak enak didengar menyelusup “Kuaci bang? Kuaci? Mau kuaci bang? Beli kuaci bang??”.

Kuaci. Ahh! Itu sejenis makanan! Tiba-tiba suara cempreng jelek itu bertransformasi sekejap menjadi denting harpa surgawi. “Kuaci bang?” Harapanku terkumpul, semua konsentrasiku kukerahkan untuk membeli kuaci. Bahkan sejenak mungkin aku merasa telah menghentikan proses pemompaan darah dan pemompaan udara demi mengumpulkan tenaga sisa sebisa-bisanya. “Boleh..” aku tak tahu suara seperti apa yang keluar dari mulutku waktu mengatakan ini, mungkin sejenis suara arwah yang hampir ditanam di liang kubur, tapi ekspresi penjual kuaci tampak biasa saja. “Mau yang berapa bang? Yang seribu? 2 ribu?” Aku tengah dalam proses-hidup mati-mencari uang kecil.

Seribu rupiah! Luar biasa! Ada uang pecahan seribu rupiah di tasku! “Yang seribu aja.” Kali ini pandangan si penjual kuaci berubah aneh. Mungkin karena aku mengatakan itu seperti ingin meneken tanda jadi pembelian sebuah benua utuh, lengkap dengan para penduduknya. Entahlah. Segera setalah transaksi kecil yang luar biasa ini selesai. Penjual kuaci itu pergi. Tak kuperhatikan dia kemana, aku terfokus pada bungkusan kuaci ditanganku. Proses pembukaan bungkus kuaci, lalu pengupasan kuaci, berlangsung hikmat dan seakan abadi. Tapi proses pemakanan, penelanan dan pengolahannya luar biasa! Singkat, satu kata, “sekejap”. Aku berusaha makan kuaci dengan senormal mungkin, bersandar di sebuah pohon, aku tampak sperti orang-orang biasa, seperti seorang yang sedang membawa tas, berpakaian normal dan berjalan-jalan biasa. Tapi jika kau memperhatikan aku disitu. Kau akan melihatku bergetar hebat, seperti kesetrum. Seakan-akan yang kusandari ini bukan pohon, tapi tiang listrik. Mungkin ini terjadi karena proses metabolism tubuhku sedang melakukan perang.

Di tengah proses makan kuaci yang dahsyat ini, aku tiba-tiba tersentak melihat kedalam bungkusan kuaci. Aku sebenarnya sempat heran tadi, kenapa bungkusan kuaci ini begitu berat? Ternyata ini alasannya. Kuaci yang kubeli ini ada hadiahnya. Aku mengangkat hadiah kuaci itu, aku ingin menerawangnya dibawah matahari. Tapi  tidak ada gunanya, kunci tidak bisa diterawang. Ya… dari dalam kuaci seribu rupiah ini aku mendapatkan hadiah sebuah kunci. Tepatnya sebuah kunci mobil."

Dan, Kisah Torent Noakat berlanjut.

Kerenn!! Cukuplah.

Kamis, 05 April 2012

Lo boleh bilang gw nih termasuk diantara salah satu orang yang terbuang, atau, sebenarnya gw yang pengen dibilangin kayak gitu. Kenapa? Lebih ber filosofikah? Ya dan gak. Ya, mungkin lebih berfilosofi, gak, karena sebenarnya bukan itu alasan guwe. Gw Cuma mikir, itu keren aja. Cool gitu, berasa tinggiiiiiiii banget, jauhhhhhh……

Gilak e?

Gak papa, udah biasa gue dibilangin kayak gitu. Kenyataan kayak gitu yang banyak nyebar sekarang. Udah kedengeran keren, selesai, biarlah tak tahu makna dari sebuah kata, asal kedengeran keren cukuplah. Asal udah keliatan keren, cukuplah. Cara pandang yang sungguh praktis, ringan, n berbahaya. Supaya kedengeran keren, grupnya dinamain Illuminati, ciehhhhhh kerenn! Vaksinasi, cieeehhhhh kerennn!! Overbagasi, ciehhhhhh berat ni yeeeeeee.

Tanktop, ciiiiieehhhhhh kerennnn! Hotpants, cieeeehhhh kerennnnn! Jilbab, cieehhhhhhh, apaan tuh?

Guys (cieehhhhhhh, kereennnn!!), guwe (ciehhhhhhhh, kereennnn!!), kapan ngomongnya nih? (cieehhhhh kerennn!). Stop!! ciehhh kerennya dah selese e? (ciieeeehhhhh marahhh eeeee!!!). Cukup, atao gue pecat lo jadi editor (oke, oke). Nah, gitu dong, kan enak. Tulisnya jadi lancer.

Guys! Gue pengen nyeritain ama lo semua sebuah cerita. Udah susah mikir dulu, jadi ngarang.

Dulu, si Kancil (yg terkenal dengan kepintarannya) punya banyak sekali teman. Tapi sekarang dah gak lagi. Menyebar rumor yang penyebarannya dah kayak tumor, bahwa ini terjadi karena kepintarannya dah hilang!! Kecerdasannya juga!! Kepandainnya juga!! Tetapi Panda tidak (Panda nyelonong aja, bosen jarang disebutin, n emang lagi kurang kerjaan).

Tapi, setelah dibentuk tim peneliti untuk meneliti hal ini (Tim Peneliti ini tak pernah dibahas dalam rapat DPR, jadi bisa saja tim peneliti ini illegal), ternyata ditemukan fakta lain, bahawa sekarang para Buaya dan Macan tak lagi memakan daging, tapi memakan buah tomat dan tauge, juga remah-remah roti. Para peneliti mulai mencari keterkaitan hal ini dengan hal yang tadi.

 “Sapa tauk terkait to?”, kata salah satu dari peneliti yang tak mau disebutkan namanya. Laporan ini kami dapati dari wartawan yang juga tak mau disebutkan namanya. “Cerita ini akan semakin tidak jelas, jika banyak tokoh terkait yang tak mau disebutkan namanya!” Komentar salah satu pejabat hutan yang berkuasa, yang juga tak mau disebutkan namanya. Maka setelah pertimanbangan matang-matang (bahkan pertimbangannya hamper saja hangus jika tak diangkat, oleh seseorang yang tak mau disebutkan namanya), dibentuk lagi sebuah tim, untuk memetakan semua nama dari tokoh yang terkait dengan cerita ini.

Tammat. Judul ceritanya Indonezzzaku.

FILE III

Selasa, 21 Juni 2011

Aku-pun mencari jalan untuk kembali


File III


" Hei, Kagiri! Kau masuk kuliah pagi ini? ". (Oke, karena Kagiri biasanya tidak bicara, jadi biar aku yang menyalurkan apa yang tersimpan di otaknya) " Kelasmu dekat dengan kelas Ma'i kan? ".Okey so?" Kamu lihat gak dia kemana? ".Tumben sangat nih Ehrgeiz mencari Khuma'i, kau mau apa?" Ini nih, tugas dari dosen lagi" Oh, bagus sudah kuduga, lalu? "Ohya, Firapuss mana yahh?". Di Hutan Dopintarek , Bodoh!! (Hmm..disini Kagiri sedikit melotot dengan gaya jengkelnya yang khas_alias tidak kelihatan_itu. Dan kata bodoh tadi titipan Khuma'i) " Mereka di hutan Dopintarek kan?". Yeahh..kita juga lagi mau kesana " Kita juga mau kesana kan? Windy dah datang belum yah.."

Nah para pembaca yang budiman, begitulah yang biasanya terjadi setiap kali Ehrgeiz dan Kagiri sedang berdekatan. Kagiri tidak pernah menyahut, lagi pula tidak terlalu berguna juga. Kembali ke Dopintarek, lokasi Aku dan Khuma sekarang tepatnya berada....

" Hai!! Khuma, Firapu,. lama menunggu?". Nah, ini dia, tokoh yang kami tunggu-tunggu. Aku tidak tahu, mungkin hanya perasaanku saja, tapi setiap kedatangan Windy, selalu saja ada yang berubah dari hutan ini, entah itu berupa perubahan suhu, angin yang tiba-tiba bertiup, atau bahkan,--saat aku diam-diam jeli memperhatikan--perubahan posisi beberapa pohon, atau hal-hal lain yang biasanya sepele. Entahlah, aku tidak tahu pendapat Kagiri dan yang lainnya bagaimana, aku belum pernah berdiskusi dengan mereka perihal ini.

" Tidak juga, Hanya hampir kering saja ". Jawab Khuma khas, ketus, tak peduli.

" Oh, ayolah Khuma aku minta maaf...Ahh, Kagiri dan Ehrgeiz belum datang yahhh? Mereka mau datang kan?". Hari ini kami tak punya agenda apa-apa di hutan ini, belum.

" Kalau kuliah pagi Kagiri sudah selesai, dia akan segera datang, dan seperti biasa, Ehrgeiz akan megekor di belakangnya ". aku menjawab sekenanya. Aku sedang mengitarkan pandanganku pada setiap sudut hutan, betul betul berusaha meresapi kesunyian ini, menikmati keheningan hutan yang terasa agung.

Aku dan teman-temanku sangat suka tempat ini. Hutan ini adalah tempat tinggal Windy, manusia setengah peri. Di hutan ini banyak peri, tapi mereka jarang mau menemui kami, itu menurut Windy. Aku tidak peduli, bukan itu yang membuatku menyukai tempat ini. Aku suka tempat ini karena tempat ini sepi dari manusia yang mengenal namaku, yang mengejekku, dan hutan ini juga sangat tenang, jauh sekali dari keributan. Khuma sukan hutan ini karena di hutan ini banyak binatang buas!! " Entahlah Firapu, aku suka sekali binatang- binatang itu, mungkin karena mereka terlihat kuat dan tek ringkih ". yahh, sekuat apapun kau memarahi mereka, mereka takkan jengkel..haha. Alasan Kagiri menyukai tempat ini kurang lebih sama denganku, dia kurang menyukai keramaian dan banyak manusia. Ehrgeiz? Ohh...semenjengkelkan apapun dia, dia itu setia kawan, lagipula dimana lagi dia bisa bertemu Kagiri ? hehe.

Ohya, soal Ehrgeiz, dulu itu aku tidak terlalu respek dengannya, karena menurutku, dia mau berteman denganku hanya karena Kagiri sering bersamaku. Apalagi ditambah kebiasaannya memanggilku Firapusss. Kukira dia sebenarnya sama saja dengan orang lain yang hanya memandangku dari sebuah nama, bukan sebagai pribadi. Namun sebuah kejadian kecil mengubah semua pandanganku itu. Sekaligus memberiku harapan, bahwa di luar sana, ada lebih banyak orang yang bisa menghargaiku sebagai pribadi, bukan sebagai seorang pewaris nama mengerikan dari seorang pembunuh yang melegenda.

FILE II

Kamis, 16 Juni 2011

Takkan kubiarkan siapapun mengambil kebahagiaanku..

File II

Seperti biasa, aku, Firapu yang tidak suka masuk kuliah ( karena dosen tidak pernah menyebut nama ku, mungkin namaku memang tidak tertulis di daftar absen, atau mungkin tertulis tapi tidak pernah dibaca-entahlah) membolos dari kuliah pagi ini, kali ini aku ditemani Khuma'i. Terjadilah sedikit obrolan singkat.

"Hmm...kemana Kagiri ?".

" Siapa, pemain suling melankonis itu ?".

" Ya..Pemain suling melankonis itu, kemana dia ?".

" Mau kemana lagi? Yah kek kelas lah, pemain suling itu tidak pernah membolos sejak masih di semester 1, dan itu tidak berubah selama 3 semester berikutnya, kau bodoh atau apa masih menanyakannya ?". Nah,.Khuma, kau bersama Firapu sekarang, orang yang sabar.

" Entahlah, sedikit berharap, tidak apa-apa kan?".

"Oh..Great!! Berharap temannya membolos dari kuliah, mengikuti jejaknya menuju jurang kemalasan yang dalam. Dari lubuk hati aku bertanya, tidak apa-apa kan ?".

" Terserah kaulah, tak bisakah kau jadi asyik sebentar saja ?".

" Apa itu asyik-menurutmu-? Kabur dari kuliah ? Bolos dari mata pelajaran pagi, dan pergi naik gunung, lalu turun, pergi masuk hutan rimba, tersesat dan diterkam singa yang sedang kalap karena kepalanya kau lempari batu ? Atau dililit anaconda muda, yang salah mengira kau ini kera, hanya karena kau ini dari genus yang sama ? Dasar kau, homo saphiens payah.!". Wow!! Khuma mungkin sedang dalam mood jelek tapi aku pernah mendengar yang lebih buruk.

" Serratuss...!!! Untuk pujianmu, Khuma. Dan lebih banyak lagi, jika kau bisa membunuh beruang yang sekarang tengkurap kurang-lebih 10 meter disamping kirimu itu dengan kata katamu.".Ohya, omong-omong aku dan Khuma sekarang ada di tengah hutan rimba yang orang sebut Dopintarek Forest.

Disini kami sedang menunggu seseorang, namanya, Windy, Windy Civylia

FILE I,.....

Sabtu, 11 Juni 2011

sedianya aku hanya ingin berkarya....
melayani pencapaian kebahagiaanmu....

File I

Malam adalah temanku yang paling setia. Meski aku hanya bisa menangis. Angin malam selalu bisa menghapus air mataku, angin mengeringkannya.

Sekarang ini aku sedang sibuk! bersiap masuk ke dunia baru, dunia kampus...dunia yang lebih dewasa, katanya, dunia yang lebih tua. Kau bisa melihatku berjalan santai, gontai, bergoyang-goyang ditiup angin. Tapi banyak sekali yang kupikirkan. Tentang sekolah, tentang perempuan, tentang orang tua, tentang aku.

Perkenalkan, namaku Firapu. Nama ini penuh sejarah kelam yang membuat aku terus dihina, dicaci, sampai 18 tahun, sejak dunia mengenalku, sampai sekarang, dan mungkin sampai nanti. Sampai aku mati, sampai tak ada lagi yang mengingat nama ini. Aku tidak peduli, aku tak mau mengganti namaku. Tidak semua orang menjauhiku karena nama ini, tapi cuma sedikit orang yang mau untuk terus ada disampingku, tertawa bersamaku, menangis bersamaku. Aku tidak peduli jika mereka sekumpulan orang gila, atau orang utan, karena mereka mau berteman denganku. Mereka ada.

Perkenalkan, yang pertama, yang paling sering bersamaku, namanya Kagiri, pemain suling. Di kampus yang luas ini, tidak terlalu sulit mencari Kagiri. Pasang telingamu baik-baik, dan jika kau merasa mendengar suara suling melengking merdu, maka pasti Kagiri sedang tidak jauh dari tempat telingamu terpasang. Dia pendiam, dia penyendiri, dia yang termuda di kampus ini. Maka orang seperti ini biasanya jenius, sayangnya iya, dia juga sangat menarik untuk didekati, dia juga sangat menguasai teori psikologi manusia dan praktiknya. Dia juga Kagiri anak jurusan psikologi yang paling rajin masuk kuliah..

Yang kedua, yang paling ribut, namanya Ehrgeiz. Cewek keras kepala ini sangat cerewet. Dia mungkin sudah bisa ngomong sejak lahir, sudah bisa membaca sejak dalam rahim. Dan sudah merancang pertanyaan bahkan sebelum ada dalam rahim. Sialnya, karena itu dia pintar, maka susah sekali mendebat dia apalagi menyuruh dia diam. Satu hal lagi, yang tidak tahu berkah atau musibah, dia cantik dan modis, maka kurang sekali cowok yang suka cari ribut sama dia, kecuali aku. Dan untung juga ada Khuma'i, perkenalkan;

Khuma'i,.(dibaca Khuma i, Khuma dan i, pisah) lebih sering kupanggil Khuma, yang paling biasa-biasa saja. Istilahnya, Khuma ini cewek yang ada di garis normal, penampilannya biasa-biasa saja. Setidaknya selama ia belum bicara,...Dia punya perbendaharaan kata sadis yang luar biasa banyak. Dia begitu judesnya. Ini tidak bagus, karena kata yang dia ucapakan seringkali membuat kami harus menghadapi banyak masalah. Praktis kalau dia mengatakan sesuatu yang membuat orang lain merasa tidak enak (bahkan marah), ya kita-kita juga yang kena getahnya, dia kan sama-sama kami terus.Untunglah dia tidak secerewet Ehrgeiz, dan untunglah dia tidak ikut menghinaku seperti orang lain.

 
 

Popular Posts

Tags

Akun (1) blegok (6) Catatan luka (36) DerapLangkah (11) gemes (1) Giyatta (7) Giyatta!! (3) HujanDeras (9) IN-g-AT (13) Kacau (31) KAYLA (3) LucuB (5) Mimpi (8) Minat n pengen (11) Naskah (7) Pesan (5) Puisi (4) salute (5) Sejuta hidup Sehari (45) Serius dikit (11) Shadowlight (16) SuPistik (6) tapi gak bakat (4) Ups (5) Wisata (7)

Ketikkan Saja