Tampilkan postingan dengan label Wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata. Tampilkan semua postingan

Marakech

Selasa, 04 Februari 2014

Kita sampai di Marakech, hari sudah sore.. Adzan berkumandang. Ashar masuklah. Turun dari bus, turunin tas-tas, orangnya juga. Saya muntah-muntah. Nah ini muntah kedua. Saya muntahnya berusaha banget supaya gak keliatan, kasihan sama teman-temannya, entar pada ikutan muntah, keliatan udah pada mabuk semua soalnya. Gilak men!! 7 jam di bus! Oke.. Lanjut. Kita jalan ke temapat pertemuan, deket koq dari pemberhentian bus ini. Tepatnya di Pom bensin di depan Hotel Al-Sawaq Al-Salam, Hotel Besar Banget, paslah buat ketemuan.

Saya dan Aldi singgah dulu bentar di Pom Bensin, masuk Wc. Saya buang air kecil, sekalian puas-puasan muntah bener... Aldi dulu yang masuk, cuma satu soalnya wcnya.. dia bayar 2 dirham sama tukang bersih-bersihnya. Lalu saya yang masuk.. Saya bayar cuma 1 dirham si.. Untuk info tambahan.. Itu wc di kafetarianya. Oke udah. Kak Fauzan udah ada, siap nganter kita ke rumah temen-temen. Oke. Kita bersembilan udah siap...ternyata masih jalan bentar dulu, supaya sampai di situs tempat Gronk (semacam angkutan umum dari ras taxi) biasa beroperasi. Dalam per-jalan-an temen-temen lewatin stand-stand pinggir jalan yang jual buah, inisatif aja beli buah apel sekantong. Gronk nemu, kita naek, cabut jalan! Gronk pertama isinya, saya dan 3 cewek, sisanya orang setempat, kira-kira 2 orangan kalo gak salah, sama sopir berarti kita ada 7 orang di gronk. 3 di depan, 4 di belakang. Gronk emang agak luasan. "Berenti di depan Masakhhah Yorli ya!" Kata mas Fauzan sebelum nutup pintu gronk. Gronk pun berjalan.. Saya ingat saya itu agak buru-buru banget waktu itu... Entah, pokoknya lebih careless gitu lah.. Ohya semua ransel di jatahin ke gronk kami.

>>>>>>
Cerita sisanya nunggu tangan saya mau lagi.

Salam selalu.



Hari Pertama, Iya.. Kayaknya.

Kamis, 12 Desember 2013

Enam jam di Bus, bersama 8 teman Kenitra lainnya. 3 cewek, sisanya cowok, lelah.... Lelah sekali. Tapi begitu sampai di Marakech, tubuh dan pikiran, mental dan jasmani, bisa perlahan terisi kembali. Tapi kuberitahu apa saja yang tiba bersama denganku di Marakech. Ada sakit gigi yang tabah mengikuti dari awal perjalanan sejak di kenitra, diikuti Perut kembung yang hadir perlahan diantara deru mesin dan angin sepoi Casablanca, dan dilengkapi dengan kehadiran sakit kepala yang merengkuh dengan penuh semangat seiring hadirnya panorama bata merah Marakech. Muntah? Oh... Sudah pasti.

Pertama kali muntah itu saat pemberhentian sementara di Marakech sebelum pemberhantian terakhir. Saat itu duhur sudah masuk, Adzan baru saja berkumandang saat saya dan seorang teman turun dari bus mau cari WC untuk membuang hajat pribadi (buang air kecil) sekalian buang nasib buruk (hehe). Nah.. Di dalam WC yang kita temui itulah.. disitulah itu, terjadilah...yang namanya muntah. Setelah memberi 2 dirham pada pemilik warung yang tadi kita tumpangi WC-nya, kita menuju bus lagi, sudah akn berangkat lagi soalnya. Ketika kami naik.. beberapa saat kemudian bus lepas landas. Ohya, teman yang tadi menemani saya namanya Farhani. Saat bus lepas landas tadi, Suroso dan Nizar (tokoh lainnya), hampir ketinggalan karena sedang beli telur rebus dulu. Saat Roso  akhirnya berhasil naik, Nizar masih menunggu kembalian. Masih sempat kami nikmati tontonan perdebatan seru antara Nizar dan si penjual telur. "Awalnya mau saya ambil saja telur 10 buah karena takut ketinggalan bus, tapi takut mubazzir ah...Makanya nda jadi. tak tunggu sekalian kembaliannya.. " Begitu katanya ketika akhirnya naik juga di bus. Jauh sebelum muntah dan berhentinya bus, saat bus baru saja masuk di pos peristarahatan sementara yaitu perkelahian antara kernet kami dengan salah satu penumpang... Sayang sekali mereka meneruskan perkelahian mereka di bawah, mereka berdua turun dari bus! Dan saya tak sempat merekamnya.. Oke Lanjut!

Kota yang bus kita lewati dalam perjalanan, setelah meninggalkan Kenitra, adalah Rabat lalu Casablanca. Nah, di Casablanca ini juga terjadi perkelahian seru yang untungnya sempat saya nonton sebagian besarnya. Perkelahian antara (awalnya) 2 penjual tiket, (kerennya) terjadi di atas bus kami, lalu (dengan antusias) diikuti oleh penjual karcis lainnya. (Hebatnya) kernet kita terlibat untuk melerai. Yang menarik juga di Casablanca ini terminalnya lumayan luas... Luas... luas... Luas.... luaaaasssss... Sudah. Oke, ramai juga si... Dan lalu, kayaknya itu aja si semua tentang Casablanca. Oke mundur!

Di Rabat, nah di Rabat,... Apa di Rabat? Nah.. Kita cuma numpang lewat di Rabat.. Sayang sekali ya? gak seru banget Rabat ya? Ya Iya, kita cuma lewat.. Yah.. Ada penumpang naek turun Si, cuma gitu doang ah... Ohya, Ada sedikit misi telpn menelpon antara Aldi-Nizar (tokoh dari pihak kenitra) dan Fauzan-Hasbi (tokoh dari pihak marakech). Andddddd That's All bout something in Rabat.

Dan untuk sesuatu tentang Marakech... Yah.. Yang itu pantas juga diceritakan ya? Jadi gini! Kita mulai darimana ya? Dari sampainya kita di rumah teman-teman di Marakech, jalannya kita Jami El-Fanna, ato kita simpen untuk besok saja? Kan kan? Udah besok ajalah.. Udah malem.. Oke-oke, seenggaknya kita selesaikan hari pertama kan? Hm... Lumayan panjang lagi kalo begitu! Ya udah.. Nanti mungkin saya tulis lagi. Heheh...

Salam Selalu.....
Selamat Selalu....


Sakit Kepala? Yhuh!!!

Minggu, 08 Desember 2013

Setidaknya setelah shalat dhuha tadi saya berdoa "Ya Allah, seenggak-enggaknya biarkan saya habiskan omelet yang sisa semalam...". Dan sekarang saya sedang berjuang mewujudkan permintaan saya itu, dan sejauh ini Tuhan masih membiarkan saya sedikit menikmati, sedikit menderita...Tapi ujung-ujungnya tetap saja tidak sanggup saya habiskan omelet sisa semalam itu. Saya tawarkan pada teman sekamar saya yang langsung mengiyakan dan segera melahapnya habis. Lalu saya terpikir "Saya betul-betul lapar".

Saya senang karena teman-teman menyisakan makanan untuk saya makan, tapi sakit gigi ini sama sekali tidak memberi banyak pilihan makanan, dan sayangnya makanan yang disisakan untuk saya itu juga tidak masuk kategori. Maka saya terpikir untuk beli mie instan saja, makanan yang tidak terlalu menuntut saya untuk mengunyah. Tidak lama setelah itu saya keluar, mengunjungi toko yang saya tahu menjual mie instan. Toko pertama buka, tapi tutup sementara... (teralinya dipasang) (mungkin penjaganya sedang pergi shalat Ashar), toko kedua tutup, nampaknya untuk seharian full. Jadilah saya terus berjalan saja menyusuri jalanan. Sebenarnya niat saya keluar kali ini bukan sekedar untuk nyari mie instan, saya tadi juga sengaja mengantongi banyak uang receh. Saya meniatkan diri untuk sedekah sedikit, berharap dengan itu sakit gigi saya bisa mereda. Tapi sepanjang jalan saya cuma nemu satu pengemis. Saya beri lalu saya jalan pulang lagi. Kembali saya menyusuri rute mie instan tadi, ah... Toko yang buka tapi tutup sementara itu sudah buka lagi, dan saya beli 2 mie instan. Lalu saya pulang ke rumah.

Di rumah saya ambil periuk dan masak air. Karena tidak ada korek untuk menyalakan kompor gas, saya ambil kertas selembar (sepertinya tadinya kertas itu penting), saya bakar kertas itu di penghangat air yang juga berlokasi di dapur. Sulit, sulit sekali... Tapi berhasil juga mempertahankan nyala kertas itu sampai akhirnya sampai di mulut kompor. Menyalalah gas, dan akhirnya bisa masak air.beneran. Masak air, seduh mie instan. Jadi ingat masa-masa sekolah dan kuliah waktu di Indonesia. Meskipun belum tamat kuliah sih...hehe. Mienya enak, tapi perut saya sedang tidak enakan, saya hampir tidak bisa menghabiskan Mie tadi. Tapi saya habiskan juga. Saya sempat melirik nasi ayam yang disisakan buat saya, "Bagaimana kalo nasinya di campur dengan mie?" Tapi saya urungkan, saya takut tidak bisa menghabiskan mienya. Setelah mie nya habis, saya bersiap shalat ashar. Saat itu teman-teman yang lainnya sedang sibuk-sibuk bersiap mau berangkat ke pengajian sore. Kegiatan kami. Tapi saya tidak menyiapkan diri, beberapa teman yang mafhum dengan keadaan sakit gigi saya tidak lagi bertanya, tapi ada satu juga yang basa-basi mengajak "Ikutan ngaji bal? Udah sembuh kann.."."Kayaknya gak ikut bro, belum bisa... Udah mendingan si.."

Setelahh ritual shalat Asharku selesai, saya ngobrol dengan teman yang juga gak ikut ngaji sore di masjid. Kita ngomongin soal-soal standar pemikiran remaja kayak kita-kita ini. Ya cinta, ya cewek, ya sudahlah... Aduh,.. Kepala saya sakit! Bye bye...

Salam Selalu...
Selamat Selalu...

Makam 2 Raja, Makam Seribu Tiang. Rabat-Maroko

Jumat, 26 Juli 2013

Masih di Rabat-Maroko. Setelah puas berlama-lama di Pantai Oudaya, kita pulang lewat jalan yang tadi. Berarti sekarang lorong pintu mesjid itu ada di sebelah kanan kita. Perhatikan tembok tinggi di samping kiri. Saat kita menemukan gang yang bernuansa biru dan agak luas, masuklah kita ke gang itu. Gang bernuansa biru ini berliuk-liuk seperti ular tapi tidak menyesatkan karena hanya memang satu jalur. Kita cukup ikuti saja dan jalan terus. Nanti akhirnya kita sampai di tempat yang cukup luas, disana ada beberapa kafe dan tempat makan. Bisa istirahat sebentar lagi disini kalau masih banyak waktu.

Setelah istirahat sejenak kita masuk ke sebuah terowongan singkat yang ada di simpang kiri sana. Agak gelap, karena yang ini memang beratap dinding sisa benteng juga. Keluar dari terowongan singkat itu, kita disambut sebuah taman. Taman yang bernuansa oranye saat musim semi. Setidaknya, itu yang saya ingat. Disepanjang jalan tadi banyak wanita yang menjajakan jasa mengecat kuku, kalo ada yang berminat silahkan. Saya ingat pernah punya kenangan buruk dengan salah satu dari mereka, tapi itu tidak apa-apa, mereka jadi tidak ramah kalau jasanya tidak dihiraukan, hanya masalah uang. Di taman ini banyak objek yang sangat bagus untuk difoto. Ada baiknya kalau anda didampingi orang lokal disini, atau teman, bisa juga guide yang memang sudah tahu tempat ini. Supaya jika ada yang usil melarang anda berfoto, anda bisa melawan dengan bantuan teman atau guide tadi.

Tidak perlu berlama-lama disini, karena ini hanya transit. Disini banyak turis lain berseliweran, jika memang kita datang di waktu yang tepat. Taman ini dikelilingi dinding tinggi. Nanti kita lihat ada orang yang masuk lewat pintu lain, kita keluar dari taman ini lewat situ. Sejenak terowongan gelap lagi, dan Tadaaa!! Ini tempat yang tadi kita lewati. Kalo kita memalingkan wajah ke kanan, disana tempat masuk kita tadi, Museum Oudaya berdiri megah disitu. Kita akan melihat tangga-tangga yang tadi. Berarti jalan kita ada di sebelah kiri. Adapun di depan kita terhampar keramaian kota Rabat yang lumayan sibuk. Banyak mobil berkeliaran dan sekali-kali ada motor juga.

Sekarang kita seperti sedang menuruni bukit. Jalan untuk kendaraan bermotor ada di samping kanan kita sekarang. Kecuali anda mau iseng nyebrang, yang memang tidak perlu. Jalan lurus terus saja. Ketemu tangga turun di sebelah kiri, kita bisa turun, atau mau jalan terus. Memang lebih asyik di bawah, tapi kalau mau lewat trotoar saja juga bisa. Lurus saja. Nanti kita sampai lagi di tangga pertigaan yang tadi ada tangganya. Ruas kiri jalan terlihat berbaring di tanah, sementara ruas kanan jalan menanjak keatas. Kita menyeberang ke ruas kanan jalan lalu keatas juga. Menaiki tangga yang ada di samping kanan kita dan kita sampai di sebuah persimpangan jalan yang besar.

Belok kanan arah ke Stasiun Rabat-Ville, ada belokan ke kiri juga. Di depan kita terbentang jalan menanjak. Lewat situlah kita kalau mau ke Makam Hasan II / Muhammad V yang terkenal dengan pelataran yang dipenuhi 1000 tiang (atau lebih tepatnya sesuatu yang seperti itu). Ini salah satu objek wisata yang paling menarik di Rabat. Tentu anda tak akan kesasar jika berani bertanya pada orang sekitar atau ditemani guide.

Ini beberapa foto yang terabadikan di Makam Hasan II/ Muhammad V.

Makam Hasan II/ Muhammad V

Tampak Atas (Edited)

Di bagian Dalam.


Sumber;
Pengalaman Pribadi.






Karang Pantai Benteng "Oudaya"- Rabat, Maroko

Jumat, 12 Juli 2013

Di Rabat ada pantai yang indah sangat!Nama pantai ini "Oudaya". Keren sangat lah. Karena ada "sentuhan" bentengnya! Ya, ada pantai di depan sisa-sisa benteng di Rabat ini. Kalo dari jalan soekarno mau jalan kaki kesana lumayan jauh. Tapi tetap bisa, dan asyik juga! Dari jalan soekarno itu kita mundur sampai keluar ke jalan utama. Stasiun ada di sebelah kanan kita, kita belok kiri. Terus jalan lurus-lurus saja. Di depan sana ada pasar lho! Ramai. Nih, coba lihat! Kiri kanan kita ini penuh toko kan! Dan banyak kafe juga. Tapi hati-hati kawan, kalau memang tidak punya uang banyak, tidak usah singgah di kafe. Kafe-kafe di sini tarifnya gila-gilaan. Teman saya pernah nyeruput segelas kopi hitam kecil di salah satu kafe, harganya 18 dirham. Itu setara 20.000 rupiah kurang lebih. Mari jalan terus.

Nah, itu rail tramway. Sudah pernah dengar? Dia itu semacam transportasi yang berbentuk kereta kecil tengah kota. Saya pribadi belum pernah naik yang itu sampai tulisan ini dibuat, tapi teman-teman saya yang lain sudah pernah. Saya cuma mau memakai rail ini sebagai patokan tempat saja, hehe. Dari sini kita akan jalan ke sebelah kanan. Yah, supaya enak jalannya, kita harus nyebrang. Liat kiri-kanan. Awas! Disini jalurnya terbalik sama indonesia, antara kiri dan kanan. Jadi istilah belok kiri langsung disini gak ada, yang ada, belok kanan langsung. Sukses menyeberang kita ambil arah yang tadi saya bilang. Kita berjalan di samping kiri jalan. Ini perjalanan yang lumayan panjang. Semoga kau bawa air putih atau minuman segar. Itu sangat membantu. Nanti kita sampai di sebuah persimpangan jalan yang lumayan besar.

Setelah sekian panjang jalan kaki yang lumayan melelahkan, kita sampai juga di pesimpangan ini. Ada yang mengarah keatas. Diatas sana ada tempat menarik lainnya. Ingat-ingat ini. Tapi jalan kita di bawah. Karena kita mau ke pantai kan? Jalan ke bawah ini bentuknya tangga. Dan di tangga ini asyik juga buat foto-foto. Karena disini ada papan penunjuk jalan yang banyak memuat tulisan-tulisan Arab yang bertuliskan tempat dan arah. Jadi berasa banget lah, luar negeri nya, kalo ambil foto disini. Lepas foto-foto di tangga kita jalan lagi. Turun lalu nyebrang. Di depan kita sudah betul-betul laut. Angin laut sudah terasa sejak tadi. Tapi ini belum apa-apa. Ini belum pantainya. Kita bisa memilih jalan di trotoar atau di pinggiran pantai. Ku usulkan kita lewat pinggiran pantai saja. Supaya bisa lihat pemandangan keren. Tapi kalu lewat trotoar juga bisa. Rutenya sama, lurus ke arah berlawanan dari tempat kita datang tadi. Lagipula dari sini kita sudah bisa melihat menara yang sangat tinggi dan keren. Itu patokan kita. Kita menuju kesana!

Kalo lewat trotoar, kita bisa langsung lihat semcam benteng, dan kita bisa tahu jelas harus kemana. Tapi kalau lewat pinggiran laut ada tangga dulu yang harus kita daki. Juga beberapa undakan yang kita lewati sebelum tangga itu. Pokoknya ketemu tangga kita naik. Misalnya saya lewat trotoar dan kamu lewat pinggiran laut itu, asal kecepatan jalan kita sama-sama santai, saat kamu sampai di tangga, kita bakal ketemu lagi. Toh tidak ada penghalang antar pinggiran laut dan trotoar jalan, hanya ketinggian dan pagar. Mari jalan sama-sama ke benteng itu. Di depan bekas benteng ini, kita istirahat takjub sejenak. Keren, ada tangga-tanggaan juga, ada dua!


Sebelum tangga-tanggan itu, di samping kanan kita tadi ada semcam pintu ke bawah tanah kan? Kita bisa leat situ juga kalau mau ke pantai. Tapi itu lebih seru buat jaln pulangnya. Mau masuk kita lewat sana saja, ada pintu juga setelah tangga-tanggaan kedua. Di pintu itu kita masuk. Ikuti bau garam! Bau asin air laut yang akrab. Atau mungkin hawa dingin sejuk asem manis khas angin pantai yang terpantul-pantul sepnjang dinding sisa-sisa benteng ini. Di situ ada lorong tak beratap, itu jalan kita. Sekarang di kiri-kanan kita banyak toko-toko, ada pameran juga. Nikmati saja perjalanan ini. Nikmati gang-gang kecil misterius di kanan-kiri kita. Gang-gang bernuansa biru itu terasa cocok dan romantis dengan bau garam ini. Angin ini.

Tiba-tiba di sebelah kanan kita, ada Tuhan sedang tersenyum memanggil! Ya, disitu, di sebelah kanan beberapa langkah lagi, ada lorong kecil yang tepat di ujung mulutnya adalah sebuah pintu masuk masjid yang sedang tertutup dengan anggunnya, ada pintu yang berdiri gagah. Dan pintu itu berdiri di atas undakan beberapa anak tangga yang tersusun apik. Ya, tangga lagi! Ayo foto-foto disini. Sekalian kalau waktu shalat sudah masuk dan kita belum shalat, kita bisa shalat di dalam. Tak ada yang bisa saya ceritakan tentang bagian dalam masjid ini, karena saya memang belum pernah memasukinya.

Keluar dari lorong itu, kita kembali ke arah semula. Awalnya kumpulan tanah gersang menyambut kita. Namun jika kita rela melangkah beberapa kali lagi. Dan mau bergabung dengan pusat keramaian, maka kita akan ikut bersandar di pinggir pembatas tebing buatan. Lalu kita memandang. Lalu kita melihat. Lalu kita tersenyum. Di bawah situ, gulungan ombak pantai mengecil namun tetap terasa agung. Laut terhampar.


 Lalu di sebelah kanan kita ada lagi tangga kecil yang menuntun kita ke bawah. Tidak membawa kita ke pantai utama, tapi tangga ini membawa kita ke kumpulan batu karang hitam. Tempat ini biasanya tidak terlalu ramai. Tapi memang seperti itulah indahnya. Sunyi dalam sembunyi itu indah. Batu-batu karang hitam yang besar-besar ini memang tampaknya sedang bersembunyi. Bukan karena mereka takut pada ombak. Tapi mereka yang sudah tua-tua ini, mungkin mau memberi kesempatan pada karang muda lainnya untuk menikmati ombak, menimati takut, menikmati "menjadi berani". Seperti kita. Agak sulit menyeberang ke situ. Tapi jika akhirnya berhasil. Mari pilih satu batu karang besar untuk kita tempati berdiri atau duduk istirahat sejenak. Karena karang-karang ini tidak tajam, mereka hanya keras.


Nanti di jalan pulang masih banyak pemandangan indah, tapi mari kita nikmati yang ini sejenak lebih lama. Ini sisi lain dari "Pantai Oudaya".




Jalan Soekarno, Rabat-Maroko

Senin, 08 Juli 2013

Mari kita mulai dari Stasiun keretanya. Di Rabat ada 2 stasiun, yang satunya adalah stasiun Rabat Aghdal, dan satu lagi Stasiun Rabat Ville. Kita mulai dari Stasiun Rabat Ville dulu. Tepat ketika kita keluar dari stasiun, langsung terpampang penampakan sebuah bangunan besar seperti Coloseum di Italia sana, di seberang jalan. Bangunan besar itu tampak berbaur dengan bangunan lain yang rata-rata juga besar. Itu sebenarnya kumpulan toko yang berbaris tinggi-tinggi dan banyak. Tiap toko hanya disekati dengan tembok tanpa ruang. Initinya bangunannya itu mepet-mepet. Tapi jika kita mengunjunginya, setiap toko tetap akan terasa lega, tergantung bagaiamana penataan si pemilik toko.

Tadi disebutkan ada jalanan ya? Ya, di depan Stasiun ini terbentang jalan 3 cabang. Satu lurus kekiri, satu ruas lagi lurus ke kanan, dan ada juga 1 ruas yang lebih sempit mengarah ke depan, tepat di depan tempat kita berdiri. Transportasi yang tersedia saat kita berposisi di stasiun adalah Taksi berwarna biru yang biasanya banyak parkir di sebelah kanan stasiun. Kalau kita berjalan ke kanan sejenak akan nampak banyak mobil biru berderet-deret. Anda mungkin juga akan melihat taksi seperti itu tepat di depan stasiun, sedang menurunkan penumpang. Tapi kalau anda memperhatikan, taksi itu sebenarnya tidak bisa berhenti disitu. Selain karena memang ada rambu tanda dilarang berhenti, sedikit di depannya ada tiang lampu merah. Jadi itu memang bukan tempat taksi mangkal.

Tapi kalau anda tiba saat pagi, siang atau sore, dan punya tenaga yang cukup, lebih baik berjalan kaki! Iya, jalan kaki saja!  Lebih enak dan hemat. Apa? Anda mau kemana? Mau lihat jalan Soekarno? Itu dekat sekali sama stasiun! Yuk! Kita jalan bareng. Jadi dari depan stasiun kita belok kiri. Jalan sedikit, jalan sedikit, lalu lihat! Di samping kiri kita ada gedung parlemen yang ketat dijaga petugas berseragam. Biasanya sepanjang jalan kita juga akan banyak menemui petugas berseragam, semacam anti huru-hara, karena memang biasanya disinilah banyak orang melakukan demonstrasi. Sudah, kita tinggalkan gedung parlement itu, mari kita terus, toh kita tidak bisa masuk. Ya, ya, silahkan ambil foto, tapi berhati-hatilah, saya sendiri takut. Saat kita berjalan, di samping kanan kita terbentang jalanan 2 ruas yang dibatasi deretan pohon tinggi. Diantara 2 ruas jalan itu kita bisa lihat banyak orang berseliweran, bahkan duduk-duduk, foto-foto, karena memang itu perantara yang cukup lebar dan menyenangkan. Banyak merpati juga disana yang berseliweran setiap waktu seperti bebek. Ohya, saya baru ingat. Anda mau ke jalan Soekarno ya? Baik-baik..

Jadi mari kita jalan terus. Nah, kita sampai di belokan kiri. Yang ini namanya Zanqat Al-Quds, tak usah belok, jalan lurus lagi. Nah, belokan kiri berikutnya! Ini dia Rue Soekarno aka Jalan Soekarno. Oke, disini kita belok kiri. Perhatikan, kita jalan disisi kanan jalan saja. Soalnya nanti di depan sana, ada plangnya, yang menunjukkan nama Jalan. Kalo mau foto-foto disitu tempatnya, mari jalan. Yak, tepat disini!


Nb; itu foto teman saya, bukan saya. hehe.

Membosankan

Minggu, 17 Juni 2012

Ngantuk Betul! Padahal suara di warnet ini lumayan bikin telinga bengkak. Bass sound systemnya pasti dipacu sampe full. Bikin Kepala gemetar. Nah, sekarang lagu yang kukenal berputar, mengalun di udara, tetap memekakkan telinga. TApi setidaknya cukup akrab. Judul nya Miss Independent. Nah.,nah, si penjaga warnet jadi ikutan nyanyi. Sempat sebal juga, tapi gak jadi, suaranya bagus gila.

Nih penjaga warnet pasti keluarganya yang punya warnet. Trus kalo di luar mungkin dia ada band juga, dia jadi vokalist! hm.

Oke, kita biarain penjaga warnet nya nyanyi disitu, biarin. Gue mo bahas warnet ini dulu. Warnet ini baru pertama kalim gue masuki. Nih warnet satu gedung sama apotik. Sebuah kolaborasi yang tidak biasa, tapi rasanya gak aneh deh. Biasa-biasa saja. Mungkin udah keseringan liat yang lebih aneh. Seperti teman gue yang punya rambut gimbal tapi sukanya lagu bugis ma dangdut. Ato guru bahasa arab yang suakanya lagu-lagu inggris. Ada juga dosen yang ngajak mahasiswanya karaokean rame-rame. Atau rektor yang minta tolong salah satu dosen buat bikinin buku. Pokoknya banyak.

Koneksi di warnet ini, tergolong bagus jga. Tapi mari kita lihat komputernya. Khususnya keyboardnya! keyboardnya dah pada goyang semua, kalo diketik jadi goyang dangdut. Tombol-tombolnya berkedat-kedut, macam ada di air. Tpi anehnya gak copot-copot juga. Kuat. Lebih bagus seperti ini juga sih, daripada kayak punyaku yang kelihatan mantap, tapi bisa melompat setiba-tibanya. Keyboardnya berdebu, kayaknya tadi si-Sand Man (musuh spiderman di film ke 3) abis pake nih keyboard tapi penjaga nya lupa nyuci, ato setidaknya ngelap kek. Dan sepertinya, si Sand Man. abis download film yang panjang deh. Mungkin jadi boseb nunggu, malah sembarangan pegang-pegang barang. Buktinya. semua perabot komputer ini penuh debu. Hmmmm. Sand-man harus beli sarung tangan segera.

Di pojok belakang nih warnet ada AC (gak tau AC? Air Conditioner). Gak berasa sama sekali. Turus wcnya gak didalam ruangan. Ini yang bikin gw paling gak enak. Secara saya ini menderita semacam penyakit yang bikin saya jadi sering buang air kecil. Aplagi ini kan di ruang ber AC (meski ACnya tampak tak memberi pengaruh).

Lokasi? Kebetulan lokasinya dekat ma salah satu teman sya. Kalo ada yang mau kenalan, namanya Iswahyudi nur, Ardiansyah. Muh sabir, Adi Baedori, dan Haedir Zaini. ohh.. itu namanya bukan salah satu ya? tapi salah lima. Wahhh banyak banget salahnya.

Wahhhh.....bosan juga nulis gini.

Salam Selalu

*setelah saya baca ulang... penjelasana mengenai posisi Ac itu agak sulit sekali dimngerti... tapi biarlah begitu.
 

Popular Posts

Tags

Akun (1) blegok (6) Catatan luka (36) DerapLangkah (11) gemes (1) Giyatta (7) Giyatta!! (3) HujanDeras (9) IN-g-AT (13) Kacau (31) KAYLA (3) LucuB (5) Mimpi (8) Minat n pengen (11) Naskah (7) Pesan (5) Puisi (4) salute (5) Sejuta hidup Sehari (45) Serius dikit (11) Shadowlight (16) SuPistik (6) tapi gak bakat (4) Ups (5) Wisata (7)

Ketikkan Saja