Tampilkan postingan dengan label Catatan luka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan luka. Tampilkan semua postingan

It Was A Wrong book, Mate

Senin, 13 April 2015

Menulis adalah mengikat makna. Membaca adalah satu-satunya yang masih mengingatkanku pada siapa aku dulu, pada namamu, pada dirimu. Satu-satunya yang masih mengikatku padamu. Dan tali ini akan kupegang erat-erat. Sejujurnya aku memilih lari. Aku hanya memilih lari dan sembunyi dari semua masalah. Dari semuanya. Aku tak mau menghadapinya, karena rasa sakit diabaikan itu ternyata terlalu sakitnya. Seperti semua lubang hitamku dikumpul jadi satu ditambah satu lagi yang baru setiap kali itu terjadi. Sebuah rasa sakit yang betul-betul tak berwujud. Tak bersulosi. Tak ada tempat lari dan atau sembunyi dari yang satu ini. Karena justru di pelarianlah rasa sakit ini kutemui, justru di persembunyian sakit ini bersarang, Meraja. Dan menerkam segalaku.

Jika menulis adalah mengikat makna, membaca adalah menemukannya. Dan kukira kaulah buku yang tertulis untukku, sebuah buku yang akan kurawat sepenuh hati, kusampul dan takkan kupinjamkan pada siapapun, takkan bosan kubaca hingga berkali-kali. Darimu akan kutulis beribu karya indah tak terperi, karena kau adalah kristal makna yang takkan habis dicacah, takkan selesai dibagi, takkan sempurna dipetakan, kaulah maha makna untukku. Lalu tiba-tiba buku itu menutup setiba-tibanya. Seakan tak pernah dulu buku itu terbuka walau sehalaman, tak pernah untukku. Mendebulah semua makna itu, hilang. Karena hatiku ini rapuh dan lemah dan plin plan. Tak bisa kugenggam, ternyata, pasir makna yang berjuta-juta darimu. Kau menjelma jadi sejuta asteroid di luar angkasa. Mengawang tak berbeban meski sarat massa jika kau masuk ke orbit lingkar gravitasiku. Hai bidadari yang keluar dari kamus tujuh bahasa dan sastra pelangi tujuh warna, kenapa begini jadinya?

Sebuah buku tergolek, diam tak melakukan apa-apa. Tak ada yang tertarik untuk membacanya, tak ada yang tertarik mengikat makna darinya, tak ada yang menganggap ada sesuatupun yang bisa ditulis darinya. Kini kucoba menerka-nerka, jika aku jadi kau. Jika aku jadi Kamu, lalu bagaimanakah terlihatnya aku dari mata Kamu? Apakah sebuah bayangan yang ada tapi tak perlu dianggap ada? Atau debu yang ke-ada-annya selalu siap jadi tapi bisa pula dikebas seketika dan menghilang. Atau hanya sekedar sebuah ada yang menuntut diperhatikan tapi tak penting untuk dirawat dan disayangi, ada yang membingungkan dan mengganggu tapi tak cukup mengganggu untuk diatasi serius. Aku sedang menjadi Kamu, dan yang kulihat hanya seorang laki-laki dewasa tanpa masa depan yang lucu dan menyedihkan. Tapi diatas semua itu, dari mata Kamu kulihat seorang laki-laki LAINNYA. Tak ada yang istimewa, tak ada yang spektakuler, tak ada yang menarik, tak ada, normal dan biasa-biasa saja, bahkan aneh dan cenderung menjijikkan. Laki-laki di depanku ini bau. Bau tak enak yang mengernyitkan hidung, merindingkan bulu kuduk, dihindari orang-orang. Segera aku jadi aku lagi.

Tapi kita takkan pernah tahu kan? Seseorang harus membuka buku itu membacanya. Hei, apa yang ada di dalamnya? Mungkin memang tak ada apa-apa disana, hanya sebuah buku kosong bersampul mentereng yang dilupakan seseorang tanpa sengaja, atau orang itu memang tak peduli pada buku ini. Bisa jadi juga ada sesuatu yang sangat menarik disana, ada tulisan dari seseorang yang tiba-tiba kita merasa mengenalnya. Dan semua orang mulai penasaran. Hei, apa isi buku itu? Ketika semua orang mulai mendekati buku itu. Melihatnya lebih baik. Orang-orang itu menyadari buku itu milik seseorang. Orang itu teman mereka. Mereka menghubungi orang itu. Orang itu datang dan melihat buku itu. Ya, itu bukuku, katanya. Tak ada yang mau kuberi buku ini? Dia bertanya. Tak ada yang mengangkat tangan, awalnya. Lalu satu tangan terangkat, lalu dua. Buku ini buku tua, katanya. Antik, katanya. Takkan kuberi siapa-siapa, katanya, tersenyum miring

Ya sudahlah, kita semua orang baru disini kan? Ayo pulang. Buku itu? Buku itu milik dia.

>>>>>>

Sekian
Salam Selalu

Talking Alone

Minggu, 23 November 2014

want to talk? Ok lets do this!
Whaddaya mean.
Do u know Gto?
I do, Eikichi Onidzuka.
Great, got?
I know, arya stark, robert baratheon
Nice! Tere liye.
U mean, that author? Hell yeah i know it! Bidadari surga, moga bunda disayang Tuhan, Hafalan Surah Delisa.
Andrea Hirata.
Shit! Give me something harder! Laskar pelangi. Hold! My Turn! Dee!!
Hohohoh... Playing dirty, arnt ya? Supernova, Perahu kertas, Rectoverso.
Bodhi is great isnt it?
Hell yeah he is.. And Elektra too.
And Alfa Sagala too.
Who?
Wait, dont tell me... U dont read gelombang yet!?
Dafuq! I cant accept this! Rich guy bastard!
Hahaha... I beat u, bro.. I beat u!!!
Shit, dont just get all cocky just cause one tiny thing like that. Here comes the Thunder! Dan brown!!!
Hallah...
What now.. Lose arnt ya?
hehehe.. Digital fortress, Inferno.
Ok youre Amazing. Its quite fun.
U really dont read Gelombang yet?
Ok ok, u got me.. its just a bored acting. I do.
Obviusly disgusting. I knew it.
When do life got this empty, buddy?
Da hell I'll know about that. hmpf...
Pramoedya Ananta Toer.
What?
Nothing, just saying.
We are so alike aren't we?
Maybe.
Yeah, maybe will be alright.
I'm so sleepy.
U're so creepy.
Hahahha.
Even ur laugh doesn't sound funny.
Ok shut up.
Shut me.
Like I can.
heheheh.
And here u are, laughing.
Its been long...
Its been long, absolutely.
Will it be like this all along, dude?
I dont know, buddy.
And U don't care too.
We don't.
Exactly.
And I know why.
U mean?
I know why I know, And I know U know it too.
Stop pretend?
Done with the bullshit, yes.
Give me.
No, buddy, Give Us.
Alright, desperate aren't we? Give Us.
U are Me.

Sekian.
Salam Selalu.

Aku Mau Disini Terus

Kamis, 20 November 2014

Aku mau tinggal disini saja terus, dalam kamarku. Ac sudah dingin lagi, wify lancar, ada selimut, ada banyak buku. Aku mau tinggal disini saja terus. Supaya tidak usah capek jalan kaki keluar. Tidak usah capek capek makan. Tidak usah capek capek buat orang ngerti, bicara sama orang. Gak usah dengar hal hal yang menjengkelkan. Tidak usah ketemu kamu. Malam ini aku mau di kamar saja terus, sendirian.

Aku baru saja menamatkan novel atau apalah namanya buku yang berjudul Rahvayana, karangan Sujiwo Tejo yang kata dianya mungkin lagi kerasukan Rahwana. Lucu juga, aku suka gayanya. Buku itu rekomendasi teman dari jawa timur, yang memang beliau suka sama Sujiwo Tejo. Isinya bagus ternyata, enak dibacanya, asalkan kamu ndak usah maksa-maksain paham, pasti bisa kamu tamatkan. Soalnya cara dia nulis ini rada-rada ngawur. Kerennya ini buku disertai kaset lagu segala, iya sih udah banyak yang kayak gitu. Tapi kalo saya seingatku ya baru pertama kali ini aku punya. Ada sajak sajak nya setelah cerita inti selesai. Setelah cerita inti bahkan disertakan daftar pustaka. Subhanallah.

Aku sih ya sebenarnya lumayan puyeng juga bacanya, soalnya banyak nama wayang. Morodadi, Sarpakaneka, Wibisana, Trijata dan banyak banyak laiknya, ada batara lah... resi lah.. dewi lah... hanuman... banyak kera! Aneh aneh saja kalo kalian mau paksa paksa ngerti. Makanya mata dosenku kemarin, banyak baca referensi ringan serius dulu baru baca bukunya. Ah embuh, yang penting sekarang saya lagi hampa. Asik ah,  ngebahas hampa mulu aku ini.

Besok mau kuliah regular, mengulang buat perbaikan nilai, belum nyusun skripsi. Ini lagi skripsi ahh bikin keki. Ppl juga harus nyerahin laporan, apaan! Resiko situ jadi mahasiswa, ya kerjain lah! Kerjain woy kerjain! Hallah... aku sih mau leyeh leyeh, malas-malasan ogah-ogahan. Tidak boleh begitu sih seharusnya.

Lagian kenapa dijudes-cuekin sampai segitunya siyyy?! Aku kan jadi gemes-gemes asem gimanaaaaa gitu. Atau cuma perasaanku saja ya? Ah... sadarlah boy, nggak mungkin.. iya nggak mungkin.. nggak mungkiiiiinnn.. kinnnn.kinnn.... Sudahlah nyerah saja... Tinggalkan dan Lupakan sja mimpi mimpi itu. Hanya mengganggu tidur panjang kita. Tidur yang melana hinakan. Bangun bangun sudah ada nyala api berkobar di depan mata. Hayoooo..

Sudahlah, kita sudahi saja. Bingkai bungkusan kamu saya jadi makin ambil tempat saja, jadi sulit aku dan kau saling mengerti satu sama lain. Ahh.. siapa sih aku?! Malam ini aku mau tinggal disini saja. Aku mau malas-malasan sampai..... sampai jatuh cinta itu enak.

Sekian.
Salam Selalu.

Malam Introspeksi

Rabu, 19 November 2014

Badanku gemetaran, entah kenapa. Tapi jika memang mau mengingat-ngingat, sore tadi itu saya terguncang luar biasa. Hidup terasa kembali hampa, seperti sebuah perjalanan panjang sia-sia. Sang Dosen menasehati kami secara halus, betapa pentingnya membaca buku pelajaran, betapa penting belajar hal-hal keilmuwan. Betapa pentingnya mempersiapkan masa depan generasi setelah kita. Sebagai mahasiswa di jurusan pendidikan, nasihat itu tepat sekali, maka tentu wajar saja, tapi saya tersentuh. Tersentak tepatnya. Dedaunan kering di pohon jiwaku yang tinggi meranggas berguguran luruh perlahan, seiring cahaya kemilauan khayalku yang memburam dan runtuh melihat realita. Kupikir-pikir lagi, ah.. saya banyak sekali menyia-nyiakan hidup.

"Jika makalahmu masih seperti ini, tak usahlah turun demo, bicara ganyang koruptor. Kalian kelak akan menjadi koruptor juga kalo bikin makalah saja sudah kopas. Kalian malas serius belajar, apalagi memperdalam ilmu bahasa arab kalian. Ke malang sana, kalian bakal keok. Lucunya, sudah sejak lama kita begini. Saya dulu waktu mahasiswa juga kayak kalian! Bedanya dulu belum ada internet, jadi kami masih sibuk ke perpus. Lah kalian?". Ya, pak. Apa sih yang terjadi pada kami? Pada generasi ini..

Semoga generasi mu tak seperti kami, ya Si Manis? Aku tahu kau takkan seperti kami. Ah andai semua anak bangsa bisa seperti kau, bangsa ini akan maju lebih cepat. Tapi efek nasihat dosen itu memang dahsyat. Sepanjang pembelajaran saya cuma bisa membisu dan membeo, hatiku tertekuk, otakku tertunduk. Aku malu. Mungkin ini yang Temanku itu maksudkan dengan gugup. Ya gugup. Gugup melihat masa depan. Apalagi ditambah memikirkan hasrat untuk mempersunting kau. Tambah sinting lah saya. Sempurnalah kemasygulanku akan hidup kalau begitu caranya. Beritahu aku, kawan. Apa yang sebaiknya terjadi? Pertanyaan macam apa itu.!

Terakhir, mau kukatakan padamu aku bukan pertama kali ini cemburu. Aku SELALU cemburu sejak kusadari aku suka kamu. Aku terlanjur rendah rendahkan diri. Ndak pede kayak dulu lagi. Saya sering sok asik sendiri. Saya sering sok enak enakan. Padahal sudah itu saya uring-uringan di kamar. Juga mau kubilang, Sang Dosen itu hebat benar, bisa bikin saya depresi setengah mati. Tapi ada bagusnya, saya jadi ndak kepikiran buat macam-macam. Bahkan ngerusak hape teman tadi saya menyesal, tapi ndak sempat galau. Malam ini masih suram juga seperti kemarin, atau malam sebelumnya, dan sebelumnya lagi.

Sekian.
Salam Selalu.

Malam-malam Sakit

Selasa, 18 November 2014

Malam selalu membisikkan padaku kata-kata tentang cinta. Kata-kata tentang sakit. Tentang betapa begadang itu nikmat, tidur itu menyusahkan. Aku selalu gelisah. Di malam hari, di peraduan tempat seharusnya aku mengantuk dan tertidur, aku malah cengengesan. Curhat seperti anak kecil, bicara tentang suramnya kehidupan.

Malam selalu mengajakku berkelana, bukan untuk terlelap. Kecuali di malam yang dulu-dulu. Yang waktu itu cinta belum kukenal. Yang waktu itu aku masih punya keinginan kuat untuk terbang, untuk berlari jauh. Helaan nafasku. Malam mengajakku menonton film-film lama. Mendengar lagu-lagu enak. Mengingat-ngingat mimpi. Izinkan aku menjadi sendiri, menjadi tak punya siapa-siapa lagi. Karena cinta hanya melukai. Dalam tawa, dalam tangis, dalam sakit, dalam nikmat. Bahkan di ceritamu, sayang.

Episode baru hidupku bernama lepaskan dengan paksa. Tak jadi bagian dari apa-apa. Meski sebenarnya, aku haus cinta, haus perhatian semua manusia. Keegoisan ini sudah mengambil tempat terlalu banyak. Sampai memaksa-maksa tangan untuk menulis rekayasa kata yang muram durja. Bukankah kau tak tahu sayang? Aku begitu pintar berdialog sendirian. Ah, rasanya ini bukan lagi rahasia. Mereka semua tahu aku gila, hanya saja aku gila tanpa ngajak-ngajak. Jadi tak apa-apa, gilaku kutempatkan dimana-mana tapi tidak merusak siapa-siapa. Gilaku begini saja.

Hai manis, bukan karena kau aku gila. Aku begini sudah lama, ini kurang lebih pilihanku juga, bukan paksaan siapa-siapa. Kau jarang begadang, tahukah kau rasanya digigit nyamuk tengah malam? Tahukah kau rasanya ingint tidur, tapi pikiran ini tak mau? Namanya kesadaran, yang menghalangi kantukku bertemu tidur. Semuanya kuusahakan, menutup mata percuma.

Aih, malam... Sebuah kesimpulan yang tidak mengikat apa-apa, meski erat tak dinyana. Tapi seperti tirai hujan yang serasi bersama malam, seperti bunyi suling halus di kejauhan, tak teraup semuanya, tak tergapai seluruhnya. Aku tak mau membagi, tapi tetap saja aku merasa kurang. Hai manis,.. Semoga kau berbahagia.

Salam Selalu.

SMS (sungguh mati sayang)

ce: Is it okay if I love U, kak?
co: ofcors its okay! I hope god says its okay too.. cause I love U too, dek.
ce: well.. haha.. becanda ji saya kak..
co: oh ya? well..truth has been told.. kalo saya serius, dek. Ku sayang ki.
ce:....
co: napa dek?
ce: marah ki pasti, kak.
co: ya iyalah marah... ka kusayang betul ki tapi takut ka bilangki.. malah kau main maini ka.. tapi nda papa ji.
ce: serius nda papa ji? minta maaf ka kak.. masih mau ja temanan sama kk tapi nda mau ka pacaran sama kk. nda bgtu perasaanku sma kk.
co: ya iyalah nda papa.. lagian saya jg gk ngajak pacaran koq.
ce: maksudnya kak?
co: sy maunya nikah.. tapi ya entar.
ce: ahh... serius ki kak? seram..
co: hehh? koq seram.. sorry dek.. haha.. iya serius ka, seenggaknya sekrang.
ce:....
co: yo.. napa lagi?
ce: ndak kutau apa mau kubilang :,(
co: hee? koq nangis... udah udah... gak usah ngomongin in lagi.. maap maap..
ce: terharu ka, kak... tambah besar rasa bersalah ku ini kalo memang benar apa kk bilang.
co: etdah... udah udah udah... becanda ja pale juga.... brhenti miki nangis itu e...
ce: BERCANDA KI PALE KAK?
co: enggak siy.
ce: iiihhh.. kk ahhh! sebel tauk! jadi tambah nangis nih... kenapa begitu kk!
co: ka nangis ki dek.. ndak kusuka sekali kalau ada cewek nangis.. apalagi kau ceweknya.
ce: pale, berhenti ma nangis..  jangan begitu lagi kk! aku gak suka.. well.. kyknya gak ada cewek yang suka.
co: iya iya.. maap maap.. jadi? jam berapa mi disitu.. belum mau istirahat dek.
ce: iya malam mhy.. istirahat ka dulu pale, kak..
co: iya.. selamat tidur.
>>>>>

di kamar masing-masing.

ce. "kusayang ki kak"... lalu tidur pulas sampai pagi dengan senyum.

co. "darn it! damn it! f*ck it!".. gak tidur sampe pagi.

sekian.
salam selalu.

Rahasia Yang Menyedihkan

Jumat, 31 Oktober 2014

Dunia yang menyedihkan. Ada rahasia yang tersimpan di dunia yang menyedihkan ini. Tentang seseorang yang melihat kenyataannya. Seseorang yang tertolak dari terang, dan memilih terus berjalan dalam gelap. Ada banyak hal yang mau diceritakan meski tak pantas. Ada banyak kenyataan yang perlu diketahui meski tak menyenangkan.

Orang itu, yang duduk di kursi didepan sana, aku tak mengenalnya, tapi aku merasa sedih melihatnya. Seorang bapak bapak seperti itu apa yang dia lakukan disitu disamping dosen kami? Kenapa dia tak mengajar di kelasnya sendiri jika dia dosen? Kenapa dia tidak di tokonya jika dia pengusaha? Apa yang dia lakukan disini? Apa dia tak punya pekerjaan lain? Akankah aku seperti itu juga? Jujur saja, aku tidak mau.

Pada kenyataannya, aku juga tidak berhak berharap yang muluk muluk, misalnya mau jadi keren kaya raya dan terkenal. Dengan kemalasan yang belum berhasil kuusir, aku bahkan layak untuk mendapatkan sesuatu yang lebih hina. Bisa saja kau temukan aku meringkuk di depan emperan toko minggu depan, atau di bawah kolong jembatan di surabaya satu bulan kemudian.

Rasa stress memang kutanggapi dengan cara yang keliru, sudah sejak lama. Hasilnya malah berlipat ganda, stress itu berkembang dalam diriku secara membabi buta. Aku bingung dan linglung, tak tahu mau melakukan apa. Hal baik memang aku tahu banyak, tapi selalu saja aku lari, tak mau mengaku. Lari menuju peristirahatan sementara, melenakan dan membutakan, menyenyakkan dan meng alpakan. Tapi kuakui dalam pelarian selama apapun takkan ditemui kedamaian, ketenangan. Yang hadir cuma gelisah setia menemani, khawatir berkepanjangan, momok.

Dari titik sumpahku kubuat hingga kini, belum juga aku menyongsong terang, entah kenapa. Mungkin karena rasa malu dan bersalah, dari kesalahan yang terlanjur kulakukan dan tak bisa kuhapus kejadiannya, pun tak bisa hinggi kini kulupa rasanya. Kesalahan yang membuatku merasa telah mengganggu hidup orang orang. Semoga dia mau memaafkan kebodohan dan kelancangan ini.

Salam Selalu.

Tak Ada Jurang Tanpa Dasar

Selasa, 28 Oktober 2014



“Tak ada jurang tanpa dasar, Nak”. Begitu kata orang bijak. Tapi bagaimana kalau mereka keliru? Bagaimana kalau jurang tanpa dasar itu memang ada. Bagaimana kalau ternyata kata-kata itu hanya hadir untuk menjamin sebuah kenyamanan palsu?

Mungkin kata-kata bijak seperti itu tak pernah ada, namun kata-kata itu yang terpikirkan di kepalaku saat memikirkan ini, “Jatuh tanpa henti”.. dan untuk lebih jelasnya, yang kumaksud adalah “Jatuh cinta tanpa henti”. Bukan gagasan yang terlalu manis, kau tahu? Tak seromantis yang kau pikirkan!. Pemikiran aneh dan ngawur ini muncul setelah aku menonton episode terakhir Avatar, The legend Of Korra Chapter Two. Disitu diperlihatkan adegan tatap muka Korra dan Mako yang membahas tentang putusnya hubungan tali cinta antara mereka. Hubungan kita ini takkan berhasil, tapi kita akan saling mencintai selamanya. Betapa mengerikannya.

Seperti orang yang jatuh kedalam sebuah jurang dan tak pernah menyentuh dasar. Kasarnya, aku lebih memilih mati hancur terhempas di dasar jurang, atau patah tulang, atau tertusuk bebatuan runcing dibawah sana daripada harus terus mengambang dalam sebuah ruang hampa. “Jatuh tanpa henti”. Kurasa sensasi yang kurang lebih sama akan terasa saat kau mencintai seseorang tanpa henti, saat kau tahu dia juga mencintaimu juga… tapi takkan pernah satu. Satu detail yang kulupakan. Dalam kasus ini kita bukan mengawang di ruang hampa, atau mengarah ke jurang kosong menganga, melainkan melihat dasar tapi tak pernah mencapainya. Karena ini bukan cinta bertepuk sebelah tangan, ini tepuk dua tangan yang tak pernah bertemu.

Dalam kasusku sendiri, aku tak pernah menjadi pihak aktif yang meninggalkan kekasihnya. Selalu mereka yang meninggalkanku lebih dulu. Dan jujur aku belum melupakan apa-apa, seperti menaruh sebuah bola kaca baru di tempat yang penuh dengan bola kaca lain. Aku hanya menambah stok perasaan baru tanpa bisa benar-benar menghapus perasaan sebelumnya. Aku hanya menambah nama dan peristiwa tanpa sempat menghapus nama dan peristiwa lama. Otakku telah kuformat secara tak sadar untuk meletakkan secara khusus hal-hal seperti ini. Peristiwa tentang cinta, di kepalaku, merekat seperti alteco.

Sekarang aku sedang dekat dengan seseorang bernama Nawu, mungkin hanya aku yang merasakan, tapi aku mulai memperhatikan dia lebih, aku naksir padanya. Tapi aku menyadari keadaanku yang belum bisa sepenuhnya bergerak dari kisah dan perasaan pada orang-orang terdahulu. Jadi aku lebih memilih diam menunggu, memperhatikan tanpa terlalu menarik perhatian. Aku bukan lagi Iqbal yang sama sebelum mengenal perasaan yang banyak orang katakan cinta. Banyak yang berubah dari caraku berhubungan dengan orang, bersosialisasi dengan yang lain. Tapi satu yang tak pernah berubah dari prinsip ku “Aku tak pernah mau menyakiti mereka”. Tapi malah menyakiti semua, karena sikap plin-plan ku ini.

Ah.. Kuharap nanti bisa ketemu Avatar The Legend Of Korra, Chapter Three… Supaya aku tahu, apa yang selanjutnya terjadi antara Mako dan Korra. Apakah memang ada jurang yang dasarnya tak tergapai, selama apapun kita jatuh? Atau jawabannya akan datang menemuiku, lebih dulu dari itu.?

Salam Selalu.

Mimpi Seperti Itu...

Selasa, 03 Juni 2014

Aku masih terus penasaran, dengan wajahmu... Kapan aku bisa berhenti mengatakan wajah itu cantik, karena jujur saja, kadang saya terlampau lelah untuk mengingatnya. Sepertinya terlalu banyak ruang yang kau ambil. Dan aku mau senang-senang saja sekarang, saat mengingat bahwa kau itu sudah betul-betul memaksa dirimu menghilang dari pandanganku. Tulisanku kali ini tentang wanita yang pernah kucintai lagi... hahahaha, tema kesukaanku, tema yang paling sering kutulis.

Saya tak mau kalian tahu nama, silahkan tebak-tebak saja, tulisan kali ini pun hanya campuran dari mereka semua.. Karena sejauh ini, aku belum lupa. Mereka semua terlalu cantik, teman-teman. Silahkan kata-katai aku sebagai, pemuja nafsu, pecinta semu apapun itu. Aku laki-laki yang cukup beruntung untuk menemui mereka, dan cuku sial untuk akhirnya berpisah dengan mereka. Satu dari mereka, menyiksaku lebih sadis dari kata "Berpisah". Mereka semua ini, pernah kupertimbangkan untuk jadi istriku, ibu anak-anakku kelak.. Tapi sejauh ini semuanya bukan.

Mereka semua ini begitu mudh didekati, ya bangsatlah aku, tapi mereka itu para aktris maha ulung, pesohor di tingkat masing-masing. Dan aku ini lugu, selugu orang lugu dungu. Dan aku ini mau saja jatuh cinta pada mereka. Dan akhirnya saya melakukan kesalahan, mereka punya alasan angkat kaki. Ah... angkat kakilah kalian, biar saja tak usah ada akhirnya... bukan yang pertama juga saya dikasi begini. Yoi, mamen, saya sakit. Katanya sih, sebagian mereka juga.. ya  okelah sama-sama sakit. Peace-peace,... keep smile.

Lagu, puisi, cerita, curhat.. ahhh semua itu cuma kubangan muntah raksasa. Sini kublender rame-rame semua yang terjadi diantara kita, dan kita coba kita makan sama-sama... rasanya getir, pahit, sepat... tapi kau dan aku akan memakannya sampai habis, sampai tak bersisa. Dan ketika kita selesai, kita sekali lagi akan terduduk diam sementara. Seperti jeda yang kau beri padaku waktu itu, menunggu memencet tombol yang akan meledakkanmu.. Dan aku menangis. yah.. Kalian boleh duduk menangis bersamaku, tapi yang kutahu lebih banyak dari kalian bangkit lagi... Perasaan bersalah itu memenuhi dadaku, aku ingin panggil kalian semua lagi. Tapi mimpi seperti itu akan memberiku utang yang terlalu banyak. Jadi disinilah kita...

Semua sudah terlanjur rusak. Kalo boleh, aku sangat ingin tahu jawabannya... "Sudah kau temukan, kah.. cinta sejati itu?"

Dan MUNTAHLAH!

Hari ini, bagian malamnya.. tepatnya dimulai dari setelah maghribnya, adalah hari yang sangat menjengkelkan.Ya, menjengkelkan. Setelah selesai shalat maghrib, saya pulang kerumah, bersandar di lemari kacadekat dapur, dan tidak bergerak sama sekali sampai iqamat isya selesai. Saya seperti kesurupan, atau mungkin begitu. Seperti ada yang berkata, "Apa yang kau lakukan disini? Apa yang kau lakukan disini? APA YANG KAU LAKUKAN DISINI?!!". Anjrit banget, ah.. Mungkin itu karena saat itu saya cuma bersandar menonton adik-adik saya memasak, lalu pikiran-pikiran tentang betapa hebatnya mereka menerpa diriku, dan perasaan ini membesar...sampai titik dimana aku mau saja menggas full motorku sampai tertabrak, sampai terbang. Begitulah... Sepanjang perjalanan diatas varioku aku terbahak gila, menangis, sesenggukan ancur... Aku mulai mengeluarkan geraman-geraman sembarang yang aneh.

Kisahku memang tak bisa  kutulis lurus-lurus, itu bukan gayaku. Yang kubagi bukan langkah-langkah, jarang seperti itu. Yang kubagi itu rasa, gambarannya, dan kau akan paham jika tiba saatnya, mungkin, mungkin tidak. Karena biarpun kuceritakan, kurasa tidak akan ada apa-apa yang sampai padamu, karena memang bukan itu, bukan itu yang biasanya kubagi. Sekarang, otakku malah meraung-raung, mereka mendesakku bercerita! Wanjjiiiirrr! Ndak bisakah kalian ini diam dan ikuti saja mauku? Baiklah kuikuti mau  kalian. Jadi, tadi aku pertama kali merasa hancur begini itu waktu di atas motor ada muncul perasaan seperti ini "Adikku keren banget, saya mau disamping dia terus, ah..bukan, saya mau dia disamping saya terus..." Start.. Mental saya singkatnya labil, adik-adikku ini, terutama yang satu ini, membawa tekanan yang terlalu kuat! Gila, saya akhirnya harus ngaku, saya mau kayak dia juga! Ah,.. Kalian menang.. kalian menang.. Oke.

Sebenarnya tidak ada ilmu, pengetahuan yang selalu aku percaya.. jarang sekali, maka saya ini rasanya tidak bisa menjadi ilmuwan. Tapi tadi, aku membuktikan teori yang mengatakan, suasana hati bisa mempengaruhi keadaan fisik. tarikan, desakan, dorongan jiwa ini saling grasak-grusuk, menumpang-tindih.. Kepalaku tidak sakit, tapi tubuhku rasanya kosong. Mungkin itu sensasinya kesurupan. Angin malam yang menghujam dengan kecapatan motorku yang beradu-adu, terasa sepele, sangat sepele.. Semua sepele! Tak ada lagi yang penting.. Huuuuuuuuuuuuu ... Semua tiba-tiba geser, yang kulihat kosong! Di depan saya, ndak ada apa-apa lagi! Masa depanku ndak kelihatan lagi! Mimpi-mimpi itu jadi sepele.... Gue gila! Gue gila! Ahhh! Motor ini tak tahu apa-apa, dia maju terus. Dan aku sampai juga di kost temanku. Dalam perjalanan itu, ada sekitar 2-3 kali aku menimbang kata "KEMANA?"

Wah... Roda ini, kemana kau mau pergi? Motor ini, dengan kecepatan 60 km per jam, mau kemana? "kau mau kamana, bal?" Kau mau apa? Ndak ada, saya ndak tau mau kemana, ndak tau.. ndak tauk... saya DIMANA? Kamu siapa? Apa ini? Apa INI? Semua pertanyaan-pertanyaan buatan ini, terus berputar-putar menyesatkanku.. sampai aku tiba depan rumah temanku. Dan saya akhirnya harus berhenti juga.. Kegilaan ini akhirnya jeda... Bukan henti, tapi jeda.

Beberapa hari lalu, guru menulis bilang bagusnya tulisan ada solisunya, jangan masalah terus. Aku sadar yang lebih sering kuketik, dan kutuliskan untuk kalian hanya masalah, dan lebih banyak pertanyaan. Baiklah, mari kita memberi kalian solusi. Solusiku... milikilah sebuah laptop, usahakan lumayan besar, usahakan milikilah uang cukup untuk masuk warkop yang ada wifi. Masuk, dan bukalah laptopmu, masuklah ke internet.. Dan MUNTAHLAH!

Cinta Gak Terlalu Sama Dengan Lemah

Selasa, 27 Mei 2014

cinta adalah rasionalitas sempurna, tempat harga diri melebur bersama kasih sayang tak bertepi. Merendahkan diri di hadapan cinta adalah menghina diri sendiri, karena cinta tak pernah minta dipuja. Ya, malam ini kubaca dan kuingat semua kisah-kisah.. aku kembali jadi laki-laki penuh teori dan kata-kata yang bisa jadi cuma berhenti di alam konsep semata. Tapi disinilah kurasa keganjilanku menemukan peraduannya, pelabuhannya.

setelah kuingat kalian semua, para nama agung yang pernah memberiku kesempatan mencintai, aku kini bisa menyimpulkan. Ada pesan yang kalian semua ingin perlahan sampaikan dan tanam, dan aku harus paham itu sekarang. Jika tidak, akan tambah banyak hari tak jelas yang sebenarnya sudah terlalu banyak di rentetan waktuku. Jika tidak aku pahami sekarang, jatuh cintaku selanjutnya akan kembali membawa luka gamang tak terpahami.

Semua kata yang telah dan kelak kuketik mungkin akan mengganggu banyak orang, Tapi inilah cita-citaku. Selamat datang... Tuhan. Terima Kasih.

Hati ini masih hancur seperti senantiasa, masih seperti 4-6 tahun lalu, tak berbentuk lagi, tak pantas dimiliki siapa-siapa, tapi tak apa-apa. Semua itu bukan alasan untuk menyia-nyiakan detik-detikku.. semua itu bukan untuk dikutuk seterusnya. Meski pasti besok-besok bisa jadi kalian dapati aku yang versi bangsat ternayta belum juga pergi-pergi, tapi hasrat untuk bahagia, menikmati, bersyukur, belajar lebih, semoga juga ikut menemani.

Hari-hari ini mungkin yang kutulis hanya seperti ini, tapi janji untuk menulis hal lainnya juga ada di niatanku. Aminkan, kawan..

Gamang Larang

Selasa, 13 Mei 2014

Dalam. Aku tenggelam sangat dalam. Dalam Imajinasi yang membius, khayalan yang menjerumuskanku dalam permainan yang tak selesai-selesai. Setiap hari sangat sayang waktuku terbuang-buang disana. Di tempat antah berantah, jauh di dalam sanubari manusiaku, yang tertahan... Yang tak lagi mau berkembang lebih jauh, dan aku takut berjalan. Karena kini jalan kita semua kulihat hanya seperti robot, gerakan yang menipu, seolah hidup padahal sejatinya mati. Intisari dari perenungan panjang yang kulalui hanya jadi sisa cerita saja. Untuk kudongengkan pada orang-orang yang mungkin masih percaya. Tapi selebihnya tak ada lagi apa-apa untuk diceritakan, semua hanya lembar panjang fotokopian... Karena yang asli, tak lagi menemukan jalan keluar.

Tak kupungkiri awalnya semua ini cuma soal cinta belaka. Pada makhluk makhluk rupawan surgawi bernama perempuan, tapi kini tak lagi sesederhana itu, meski kuakui tetap merekalah intinya. Kawan, jika kau tak keberatan kupanggil kawan, ujung dari dunia memang harus kiamat. Ini bukan realita pesimistik, ini hanya fakta otentik karya manusia biasa. Kita semua merindukan Orang-orang seperti Nabi. Orang-orang gila yang bisa kita ajak ngomong dan bergaul sehari-hari. Orang-orang sinting yang bisa kita cintai sampai mati. Orang-orang yang selalu salah dimengerti namun pemberani dan terus bersosialisasi, bukan mereka yang patah-arang lalu menyembunyikan diri. Sebenarnya, sejauh inilah cinta itu kugapai...

Terlalu klise jika cerita cintaku lagi yang mau kuungkit-ungkit, karena setelah aku keliling internet, kisahku bukan yang pertama, pun bukan yang terakhir. Kulihat akhir dari kisah -kisah lama, kulihat awal dari kisah-kisah baru, hanya senyum yang bisa kuukir. Di tempatku, permainan sudah lama usai, seharusnya begitu. Tak ada lagi yang harus kuikuti, semua sudah selesai sejak sangat lama sekali, seharusnya seperti itu. Tapi hidup masih harus terus dilalui, dan disini aku tersesat. AH...betapa lama aku mau mengatakan itu.

Memang bukan terapi seperti ini, bukan relaksasi seperti ini yang cocok denganku, tapi kadang aku mau, betul-betul berharap. Sapa tau disini kutemui satu sisi koinku yang lain itu. Yang akan mengantarku menemui takdir yang sebenarnya sudah lama dijanjikan untukku. Yang akan mempertemukanku dengan satu belahan jiwa yang lama tersimpan dan juga sama menanti-cari ku. Yang akan membawaku pada pertobatan yang sebenarnya, pelepasan yang sempurna.

Sejauh mata memandang masih kutemui para hantu itu.

Terlepas Terbebas

Minggu, 13 April 2014


Saat itu aku sedang berjalan. Motor matic yang selalu setia menemaniku terparkir tak jauh di belakang sana, kehabisan bensin. Kuparkir sesukaku di pinggir jalan setelah lelah kudorong beberapa lama, jika ada polisi yang iseng-iseng lewat dan melihat motorku begitu, sudah pasti aku ditilang, sim ditahan, stnk ditahan, motor ditahan. Biarlah, lagipula aku tak punya rencana kembali kesitu. Jadi jika kelak diantara kalian ada polisi, atau pelaku curanmor yang menemukan motor itu, terserahlah mau kalian apakan motor itu, kuikhlaskan. Angkut saja.

Sambil terus berjalan entah kemana, aku tertunduk menatap aspal dibawahku. Dulu di SD, nilai-nilai raportku termasuk diatas rata-rata, meski jarang ranking 1 prestasiku termasuk gemilang. Terbukti dari seringnya si ranking 1 (dan teman sekelas lainnya---SEMUANYA) menyontek PRku, menyontek ujianku, bahkan menyontek catatanku. Kejadian seperti ini tak berhenti di sd, tapi terus berlanjut ke SMP, lalu SMA. Akhirnya aku tak tahan, mulai naik SMA kelas dua aku memaksa diriku BERHENTI PINTAR, aku mulai berusaha bodoh. Tapi ternyata sulit juga, karena sejak dahulu aku memang sudah malas belajar, namun tetap saja aku pintar. Apa yang harus kulakukan ya supaya cepat bodoh? Petualanganku untuk menjadi orang bodoh pun dimulai.

Aku mulai bermain di kelas saat penerimaan materi, aku perlahan menyeringkan bolos, aku mulai rajin main ps, sampai di puncaknya aku menyontek dalam 90% ujianku. Oh, jangan kau tanya, Saat itu aku begitu bangga! Tak bisa kulupakan tatapan kagum teman-temanku saat terpana melihat caraku menyontek. Karena tak seperti mereka yang semalaman membuat kertas contekan, aku tanpa basa-basi dan bertele-tele membuka buku catatan bahkan kadang buku cetak, di tengah ujian, dalam mencari jawaban. Semua ini sejauh pengetahuanku, tanpa tetangkap oleh guru manapun. Aku PUAS! Tapi tidak untuk waktu yang lama.

Saat kuperhatikan susunan angka di raportku, kekecewaan maha besar menguasaiku. Membuatku mengumpat dalam hati sekeras-kerasnya. Ternyata nilai-nilaiku juga tak jauh di atas rata-rata. Sementara nilai para pecontek lain melambung tinggi diatas sana. Aku muak! Dan akhirnya aku memaki-maki sejadi-jadinya melihat betapa orang lain yang nilainya berada di bawah garis rata-rata malah terlihat bahagia dan puas, bahkan saat memegang raportnya. Entah kenapa. Sudahlah, aku menyerah jadi orang bodoh, ternyata jadi orang bodoh memang sulit. I quit from being STUPID. Namun jalan garis takdir menampakkan tanduknya, aku sepertinya terlambat menyadarinya. Terlambat sadar dari kebodohan.

Hari berlalu mengganti minggu, minggu berlalu mengganti bulan, bulan berlalu mengganti tahun dan aku masuk kuliah. Ternyata usahaku waktu sma kemarin untuk jadi orang bodoh terlampau keras, sehingga hasil usahaku itu terukir keras jauh dalam sanubariku, aku telah menjadi orang yang berisi BODOH! Kelas perkuliahan jadi nampak memuakkan setelah beberapa kali dilalui, meski tentu awalnya aku sempat begitu bergairah. Nampaknya memang seperti itu untuk semua mahasiswa baru. Aku tak tahan! Lari ke tempat ps, warnet dan tempat karaokean jadi pilihan utama. Tugas-tugas yang hadir kukerjakan suka-suka, sistem copy paste sudah pasti jadi jalan utama. Malam-malam begadang tak jelas diluar rumah mewarnai hari-hariku. Dan tentu tiba hari-hari bolos kuliah. Maka cerita aku yang menetap dalam rumah sakit kebodohan kembali bergulir kencang. Tapi bukan cuma itu berita buruknya. Sudah kubilang tadi kan? Aku punya Motor MATIC.

Berulang kali jatuh dari motor karena suka kebut-kebutan sepertinya lebih melukai hati orang tuaku daripada tubuhku. Tentu, mereka menasihati sebisa mungkin, dengan cara sebaik mungkin. Namun sudah dasarnya bodoh, aku tak terlalu peduli, sedikit sesal tentu hadir ketika melihat mata ibu berkca-kaca, tapi ketika angin jalanan menggelitik wajahku, tak bisa kutahan tangan kananku untuk memutar gas lebih kencang. Kaca spion hanya ada untuk menangkal gangguan polisi, fungsinya sudah terlupakan. Rem tak bisa berbuat banyak manakala jarak dan kecepatan begitu tak seimbang, kecelakaan demi kecelakaan terus berlanjut. Dan pada saat bersamaan, jauh di lubuk hati kusadari, masa depan kuliahku terancam.

Nampaknya Tuhan memang Maha Tahu. Salah satu buktinya, dia tahu kegalauan yang melandaku. Dalam salah satu rapat yang kuhadiri, yang diadakan oleh perkumpulan jurusanku, terjadi keajaiban. Entah setan atau malaikatkah yang dikirim Tuhan waktu itu, intinya aku kesurupan. Aku yang saat itu hanya hadir dalam fungsi meramaikan, alias cuma pengikut rapat minor, malah berperan aktif dalam menyampaikan usul dan saran, dan---gilanya----juga kritik. Tak dinyana lagi, aku dipilih jadi ketua kegiatan itu. Ampun! Merasa sudah melaksanakan tugasnya, setan atau malaikat yang tadi merasukiku pergi dan mengembalikan kesadaran orang bodoh, entitas sementaraku saat itu yang langsung berteriak; CILAKA 13! Tapi aku tak cukup gentleman untuk menarik kembali semua kata-kataku tadi dan meminta mereka membatalkan penempatanku sebagai ketua. Apa mau dikata, nasi sudah jadi bubur, sudah dikecapi pula, makanlah!

Sepanjang persiapan yang berlangsung kurang lebih sebulan, otakku seperti dipelintir dan diperas. Tak sadar aku mulai sering ke kampus yang otomatis membuatku sering menghadiri kuliah. Karena ini kegiatan kampus, maka secara tak disengaja dan mau tak mau, hubunganku dengan dosen kembali diperbaiki. Semua urusan tentang transportasi, sertifikat dan lain-lain menyibukkan aku dan teman-temanku sehingga tak ada waktu ke tempat ps, warnet, apalagi karaokean. Kecuali tentu untuk beberapa urusan aku harus ke warnet, tapi hanya itu. Titel baruku sebagai Ketua Kegiatan membuatku hampir gila. Ya, ketika persiapan telah seperempat berjalan aku mengundurkan diri, yang mengundang protes keseluruhan dari semua yang terlibat. Namun syukurlah bukan hanya protes yang kutuai dari kejadian pengunduran diri itu, tapi juga sumpah setia mereka akan sepenuh tenaga membantu. Ini kurang lebih memberiku amunisi baru. Aku kembali maju.

Setelah semua rangkaian kegiatan ini selesai, terasa ada yang berubah dariku. Kuliah tidak menjadi kembali menarik, tapi rasanya salah kalau melewatkannya. Intinya kebodohanku perlahan sembuh. Namun sepertinya Tuhan juga Maha Ikut Campur, nampaknya dia belum selesai denganku. Kali ini aku betul-betul disuruh meninggalkan diriku. Aku terpilih untuk berkuliah setahun di luar negeri. Sensasinya seperti nyawa yang dicabut paksa dan dipindah ke tubuh orang lain. Setahun di luar negeri bersama orang-orang yang betul-betul berbeda kembali membawaku ke tahapan renungan yang selanjutnya. Apa itu orang pintar? Apa itu orang bodoh? Mana yang lebih baik? Mana yang akan bertahan? Mana yang bahagia?

Pertanyaan ini kubawa pulang sampai tanah air dalam keadaan belum juga terjawab. Kuliah kembali terasa membosankan, namun dengan alasan yang sama sekali bukan kemalasan. Justru aku sekarang merasa membuang-buang waktuku dalam kelas, dengan mengikuti perkuliahan aku merasa bodoh. Apakah bukan kebodohan ketika kita beradu argumen dengan menyajikan 3 teori yang persis sama akar dan tujuannya? Dan untuk mengejar sarjana? Sarjana apa!? Aku sekarang terlampau muak, melebihi sebelum-sebelumnya. Gas motorku yang kencang kini kembali menemukan defenisinya, dialah luapan emosiku yang berlebih. Pencair kebosanan yang telah berlarut-larut. Tempatku lari dari topeng-topeng palsu penipu dan pecontek.

Maka ketika akhirnya bensinku habis dan motorku tak mau lagi berjalan. Tak perlu lagi kutengok dompet atau kantongku, adakah uang disana untuk mengisi bensin. Aku hanya mau terus diterpa angin, terus bergerak, terus berpindah, jalan kakipun cukup untuk itu. Sepatu pantofel bututku menghantam keras aspal dibawahku, yang tak juga mencair sekeras dan selama apapun aku menatapnya. Keringat mengalir deras di bawah terpaan matahari, tasku terasa berat di punggungku tapi langkahku terasa ringan, sangat ringan. Aku terasa terbang. Nampaknya Tuhan memang Maha Cerewet... Semilir angin panas jalanan seperti berbisik keras-keras; "Kau Bebas!".

 

Makassar

Kamis. 13 maret 2014.

NAWAITU

Selasa, 04 Februari 2014

Hilang diantara bacaan dan tulisanku, aku melongo. Hilang diantara sela aktifitas dan tidur, diantara himpitan detik, aku terbengong. Yah... Episode Firapu dan Roki rasanya harus menanti lebih lama. Rasanya seperti dipaksa merasakan gentar akan hidup, takut akan mati. Masih banyak ternyata yang mau aku lakukan, yang mau aku selesaikan, janji-janji yang mau aku lunasi. Masih banyak karya yang mau kubuat, tapi tanganku mengkarat. Masih ada nada-nada yang mau kupetik, masih ada lagu yang mau kunyanyikan... masih banyak yang ingin kulakukan. Aku masih muda. Tapi sakit ini membuatku tua.

Jariku, lidahku, kakiku....mataku, telingaku, hati dan otakku. Pusaran angin puyuh gila yang dulu meraung kencang-kencang kini menjinak---bukan--- MENGHILANG... Perlahan. Yang tersisa ada sedikit puing, bekas senjata rusak, sedikit harta rampasan perang. Diatas sudah terlalu tinggi, di bawah tak lagi ada alas, bualan mimpi selesai sampai disini. Terbangun kaget pelan-pelan, sudah pasti... Tersangkut... tentu...

Simfoni hitam yang mendiam perlahan tetap mengetukkan derap langkahnya di tengah hujan deras di hutan serigala mata biru yang sudah lama haus... Entah lengkah terakhir atau mantra pemanggil, yang jelas.... yang jelas...bunyinya terngiang. Jelas sampai subuh hari... Masuk sampai hati,sampai terbawa mimpi.. Sampai bangun lagi.. Sampai status fb. Celah sempit bernama kesempatan itu masih terbuka... Tentu. Tak pernah tertutup untuk siapapun.. hanya pindah. Kini jejaknya tak kulihat lagi. Lucunya? tak ada keinginan mencari. Niat punya, tapi tidak mau.

NAWAITU!
Salam selalu...


Sudahkan Siapnya?

Sabtu, 21 Desember 2013

Sering saya bertanya-tanya, apa alasan saya melakukan bersih-bersih? Karena alasan itu katanya perlu untuk memberi semangat tambahan pada apa yang kita kerjakan. Jawaban yang saya dapatkan ternyata macam-macam. Aku cinta kebersihan? No, think again. Aku senang membantu orang lain? Hm, Close but still no.. oke.. Maybe. Cari muka? Nah... So damn close!! But I have a feeling, i'm not that bad, am I not? Jadi.. Tebakan terbenar saya sampai saat ini adalah, NOTHING PARTICULARLY... Gak ada alasan. I just do it coz I feel like doing it. And That's all. Is it the end of conclusion? Well guess again.

Ternyata gak sesimple itu. Bersih bersih itu kerja berat lho.. Berat di badan, berat di hati juga. Jadi kenapa ada orang (saya) yang mau melakukannya tanpa alasan khusus? Mungkin saya merasa sedikit terbebani karena memang kurang bantu-bantu di sudut lain, but still.. Nobody tell me to do it... I just do it. Mungkin karena saya memang tidak punya pekerjaan lain yang penting alias kurang kerjaan, mungkin mata saya gak suka liat sampah dimana-mana, mungkin saya pengen orang orang yang ngotorin itu malu, mungkin saya pengen dipuji sama orang yang liat saya kerja... Whatever... Masih mungkin juga. Tapi okelah saya kasi kamu bocoran. Saya lakukan itu karena saya kesepian. What the heck is there a reason like that? Well U know what? Wellcome to my life!

Ada ketentraman batin yang hadir sedikit setelah saya menyelesaikan tugas bersih-bersih sendirian. Ada kepuasan tersendiri yang saya dapatkan melihat kebersihan yang dihasilkan oleh tangan saya sendiri. Ada sudut sepi yang sakit yang secuil terobati melihat saya bisa sedikit berbuar baik dengan bersih-bersih itu. Ada kesenangan yang hadir saat melihat semua beres tanpa harus memerintah orang lain. Ada ketenangan yang menjelma selalu saat merasa tahu tak perlu lagi mendengar keributan orang lain yang melakukan bersih-bersih. Saling minta tolong (merintah) satu sama lain, gejolak emosi perlahan yang gak penting dan rasanya gak perlu hadir. Semua itu hanya untuk memenuhi hasrat indah sepiku dalam mimpi tidur panjang yang sebenarnya juga gak bagus-bagus amat. 

Jadi itulah beban orang yang selalu saja merasa hidup sendirian. Haus akan rasa percaya orang lain tapi tidak bisa sepenuhnya percaya siapapun. Kecewa jika dinomor duakan padahal jarang sekali menomor satukan orang lain. Kecewa jika tak dipedulikan padahal sering menampik yang datang. Senyumnya manis tapi palsu, tawanya menggema tapi kosong. Lawakannya lucu tapi ragu, tangisannya pedih tapi malu.




Cinta Itu Kapan?

Jumat, 18 Oktober 2013

"I Love U!" Kata dia. Sejenak Firapu terdiam. "U Love me, Huh?" Respon Firapu akhirnya.
"Sure... Kalo begitu, apa warna kseukaanku?" Tanya Firapu tiba-tiba.
"Eh?" Windy tercelekit. "Permisi?"
"Ayo.. Jawab saja pertanyaanku, Windy.." Firapu tersenyum dengan pertanyaannya kali ini, dia tahu apa di pikiran Windy. Dan Windy kali ini mulai sedikit gemetaran. Senyum yang tadi dia bawa perlahan hilang, dia tahu apa di pikiran Firapu.
"Aku tidak tahu..." Jawab Windy akhirnya. Jawaban yang keluar itu tanpa dia duga-duga mengagetkan dirinya sendiri.

"Kamu tahu Aku mencintaimu Windy. Dan kurasa kamu cocok dengan itu. Kau senang dengan keberadaanku. Aku juga senang dengan itu. Aku senang mencintaimu, tapi aku bisa semaksimal ini justru karena aku HANYA temanmu. Jika kau ingin aku terus begini kurasa aku bisa, tak usah paksa dirimu mencintaiku. Sedetik tadi aku senang sekali, sungguh.... Aku bahagia untuk sedetik tadi. Tapi Please, Windy.. Jangan ulangi lagi. Lain kali belum tentu pikiranku bisa sejernih tadi, aku bisa betul-betul percaya pada kata kata itu, dan itu tak baik. Tak baik untukku, lebih-lebih lagi untukumu. Sungguh.. Windy... Jangan ulangi lagi, ketika sedetik kebahagiaan tadi pergi, aku rasanya mau mati karena rasa sakit yang hadir ketika aku tahu itu bukan yang sebenarnya terjadi.."

"Maafkan Aku, Firapu...." Kata Windy akhirnya, getaran di tubuhnya masih ada, tapi dia mulai menenangkan diri.

"Aku tidak tahu, Windy. Kenapa AKU MENCINTAIMU. Dan kenapa KAMU TIDAK MENCINTAIKU.. Let's be just friend again, ok? Forget all this..."

Entah kenapa, Windy tidak sedih, tidak juga senang. Dia tidak tahu apa yang dia rasakan. Yang pasti saat dia mengangkat muka dan menatap muka Firapu, disitu ada senyum luka yang terlalu indah...


Belum banyak yang berubah sejak kau pergi, hanya saja kamu tak lagi disini.....

Dua Anak Kecil

Selasa, 15 Oktober 2013

Dengan cara ini perlahan dia akan hilang. Kalau kamu mau terus membiarkan dia sendiri begitu dia akan hilang. Kalau kalian terpisahkan untuk waktu yang lama dia akan hilang. Kalau kau mati dia akan hilang. Kalau dia pergi jauh dan tak menemuimu lagi dia akan hilang. Kalau begitu, dia akan hilang dan tak bisa kamu temui lagi. Dia ingin bersamamu, ingin selalu bersamamu.

Kamu bertemu dia saat dia sendirian. Dia tak pernah punya teman, dibenci semua orang, tak ada yang mau bermain dengan dia. Lalu kamu datang dan bermain dengan dia, dia senang karena akhirnya merasa punya teman. Setiap malam kalian berdua bermain bersama. Kamupun senang bisa bermain dengan dia, Bukankah begitu? Lalu suatu malam tiba ketika dia tahu akan dipindahkan. Dia akan berpisah denganmu untuk waktu yang lama, mungkin untuk selamanya. Karena kalian berdua tak tahu apa yang akan terjadi lagi.

Seperti apa cerita satu halaman penuh tentang perpisahan? Mau sebanyak apa kata-kata yang terpakai untuk mengatakan "Dengan cara ini, dia akan hilang". Karena mungkin di daerah sini dia tidak diperlakukan dengan mungkin, mungkin disini dia hanya dibenci dan dilempari batu. Tapi hanya disini dia bisa bertemu kamu, satu-satunya teman yang dia miliki. Jadi dia tidak peduli seburuk apa mereka memperlakukan dia, selama dia punya kamu dia bisa bertahan. Hanya sebanyak itu mungkin, kata untuk menceritakan perpisahan. Tak perlu kata tangis dan air mata atau sedih, meskipun nanti di kenyataannya memang ada. Tak perlu nama tokoh dan  nama daerah.

Dan gambar dia ketika sedang duduk jongkok di pinggir sungai itu. Yang memulai cerita kalian berdua sebenarnya....


Cantik Itu Cintakah???

Kamis, 19 September 2013

Semakin kuperhatikan kurasakan dia dan aku semakin menjauh... Bukan dalam artian harfiah, tapi ini soal rasa dan hati. Aku percaya ini mungkin yang terbaik yang harus terjadi. Tak perlu memaksakan kehendakku jika itu hanya memperburuk keadaan. Sudah cukup banyak masalah yang ia dapatkan dalam kehidupan yang ia ceritakan padaku, menurutku tak perlu kutambah-tambah lagi. Sejauh inilah perkembangan hubunganku. Kudapati dia kembali terbuka padaku, kami kembali akrab, nampaknya dinding kabut yang menghalangi kami untuk berkomunikasi telah diangkat.

Tapi bukan itu yang terjadi dihatiku. Di dalam sini aku hanya semakin jauh, semakin tertutup, dan dinding itu semakin tebal. Rasanya jadi serba salah, karena justru dari "Luar", aku bisa melihat ke "Dalam". Ya, kira-kira seperti itulah... Jadi sejauh ini kesimpulanya begitu, "Dia juga bukan satu itu". Bukan belahan jiwaku. Sejauh ini selalu seperti itu ingatanku, dia selalu sudah punya seseorang. Dan ini belum juga satu tahun. Berapa banyak orang yang kau kenal selama kurang dari satu tahun, tapi memberi dampak yang begitu besar?

Hanya sejenak nafas yang kutahan pelan-pelan. Yang kunikmati dalam hirup, dalam lepas. Aku percaya kelak ada seseorang yang mencintaiku, mau bertahan untukku. Aku percaya aku tak seburuk itu. Lalu aku lihat cermin sekali lagi, tahulah aku masalahku apa. Yang kucari cewek cantik. Bukan anak baik-baik atau yang sopan, atau yang terhormat. Yang kucari cewek cantik. Yang badannya kecil dan parasnya menawan. Disitulah masalahku ternyata. Yang kucari cewek cantik yang mencintaiku. Maka wajarlah cerita kehidupan cintaku tak damai. Mungkin caraku mencari salah.

Namun begitulah aku. Ya itulah aku. Ya inilah.. Kenapa selalu jum'at?


Hmmmpppfffttthh

Jumat, 13 September 2013

Kadang kau tiba di satu posisi, ketika kau tahu kau tak bisa lari, tapi kau berusaha lari. Ketika kau tahu tak ada gunanya sembunyi, tapi kau berusaha sembunyi. Kadang kau temui kondisi, ketika kau  tahu mana yang benar untuk dilakukan, dan mana yang salah, kau tahu persis, tapi kau melakukan hal yang salah, dan kau benci itu. Kau tahu seharusnya kamu tak ragu, tapi kau juga tak yakin. Kamu tahu seharusnya kau melakukannya sekarang, tapi kau menundanya. Seribu alasan kau tampakkan, seribu alasana kau buat. Hanya untuk menunda yang sudah pasti harus kau lakukan.

Kenapa? Dan kau bertanya kenapa. Kenapa itu terjadi berulang-ulang kali. Kenapa ketika akhirnya kau melihat harapan untuk sembuh, tiba-tiba kau ingat 'Aku Sakit'. Apa? Apa yang menanti di masa depan? Untuk melakukan ini? Untuk apa melakukan ini? Aku dapat uang. aku dapat pujian, lalu ap??? Kenapa begitu sulit menikmati detik ini yang tak pernah bisa terulang? Dan semua pikiran-pikiran ini tersimpan jauh di dalam kepalamu. Bergelung menjadi asap tebal yang selalu siap menjahilimu sewaktu-waktu. Kupikir ini salah satu wujud musuh dalam selimut.

Kau sadar dirimu tak terlalu bagus. Kau dapati rencanamu tidak begitu bagus. Kau temui perkiraanmu jauh dari titik aman. Kau temui ketidak pastian menghantuimu dari sisi negatifnya.."Bagaimana kalau kau gagal??"... 'Bagaimana kalau orang-orang tidak suka?', 'Bagaimana kalau...bagaimana kalau... bagaimana??'... Dan kau dapati dirimu mulai takut pada kemungkinan-kemungkinan buruk yang sebenarnya kau buat sendiri itu. Lalu kau mulai mencoba meminta pendapat orang, berharap saran orang bisa memperbaikimu, berharap orang memujimu sebelum kau melakukan apapun.. Dan kau mulai membual-membual-dan membual. Dan ya, Mereka memujimu... Kamu tersenyum penuh kemenangan. Tapi disana, jauh di dalam hatimu terbaring kenyataan yang kau paling tahu... itu semua BOHONG!!

Kau mulai menemui lebih banyak orang, membual makin sering, dan mereka memujimu lagi, senyummu makin lebar, bahkan kini kau berani tertawa..... Tapi suara di hatimu itu tidak pernah berubah, juga tidak mengecil, tidak tertutup oleh tawamu... Tiba-tiba tepat di telingamu berdenging sesuatu, kata hatimu "Tapi bagaimana kalau kamu gagal? Aku gak yakin itu menarik.". Untuk sejenak semua tiba-tiba berhenti, kau mendadak membeku dalam kekagetan yang amat sangat. Kau telan ludahmu pelan-pelan.. Itu bukan suara dari dalam, bukan dari hati, bukan fikiranmu... Itu perkataan seseorang..... Tawamu mengecil, senyummu memudar. Kau merasa baru saja jatuh dari bulan.. Dan orang itu tak tahu apa yang terjadi padamu, "Hey... Bagaimana kalau kamu gagal? kayak nya itu kurang menarik deh..". Kau berpaling padanya, kau bangkit, ya kau bangkit, kau berpikir "Mungkin aku bisa membual sedikit lebih lama.."...."Yah...Itu bisa saja terjadi!", katamu dengan gagahnya, dengan kalemnya, dan kau mulai membual lagi.... Tapi jantungmu berdetak kencang, urat-uratmu menegang. Saat itu tubuhmu sedang berteriak keras-keras "AKUILAH!".

Ketika akhirnya kau kembali ke tempat tidurmu. Mata kau pejamkan, tapi matamu tidak mau. Mulut kau katupkan, tapi mulutmu tidak mau. Dan seakan bisa kau dengr degup jantungmu dengan jelas, saking kencangnya. Udara begitu bersih tapai kau bernafas seakan hampir kehilngan oksigen.. Dan kau memperhatikan nafasmu seakan takut paru-parumu berhenti memompa jika kau tak memperhatikan. Dan kau mulai berhenti memikirkan sesuatu... Kau mulai berhenti mengharapkan keajaiban,.. Kau hapus pujian-pujian itu. Malam itu kau tak tidur sama sekali. Tapi paginya..... Ketika kau sama sekali belum tidur, tiba-tiba tanganmu bicara... "It's gonna be hard, Bro.. But Lets Do this... Lets see what we can got with this.."

Seorang agung kurang lebih 1400 tahun lalu pernah memberi kapak pada seorang gelandangan dan berkata, "Ambil ini, di hutan banyak kayu, tebang.. Jadikan kayu bakar dan Jual.."....Seluruh jagad raya Bershalawat padanya Sampai hari ini....


Wahai Diriku?

Minggu, 08 September 2013

Aku dan diriku seperti tak saling mengenal lagi. Sudah tak mesra seperti dulu lagi. Kadang jika kulihat cermin, kulihat pantulan wajahku mendengus benci, seakan dia berkata, "Minggir!". Aku semakin takut pada diriku sendiri. Aku pernah mempelajari ilmu mendeteksi kebohongan dari sebuah film, sejak itu aku selalu mempraktekkan ilmu ini. Sekarang aku jadi kesulitan percaya pada orang lain, jadi kesulitan bicara atau minta tolong pada orang lain. Dan ketika aku berputar untuk melihat diriku sendiri, tiba-tiba kutemui wajah penuh cacat dan luka, yang semua kebohongan dan kebejatannya kuketahui. Orang yang selalu tidak aku sukai, ternyata dia disini....

Sedekit lubang kecil di pintu yang ingin kubuka, atau mungkin pintu yang sekedar ada disana. Wahai diriku, kudengar jeritanmu. Wahai diriku, kulihat tangisanmu meski tak ada air mata mau mengalir. Kurasakan betapa besar lukamu meski tak sanggup tangan ini meraba. Kudengar kau memanggil... Mungkin yang kau panggil bukan aku, tapi coba kau tengok, Kawan. Akulah satu satunya yang mendengarmu ketika semua yang lain berbalik pergi meninggalkan. Aku satu-satunya yang masih disini, mendengarkan ceritamu seburuk apapiun itu. Aku satu-satunya yang bertahan menemanimu ketika topeng kepalsuan mereka akhirnya kau buka. Jadi kenapa tak kau terima saja aku ini?? Dan mari kita selami lautan mimpi ini sekali lagi.

Wahai diriku, kau dan aku satu yang ditakdirkan  bersama....Dalam suka dan dalam duka, sampai kelak ajal sekalipun kita masih akan terus bersama. Jadi kenapa tak kita bakar sekalian bumi ini jika memang tempat mu di neraka? Karena rasa-rasanya akupun takkan masuk di surga kalau kau tak mau. Wahai diriku, kita berdua memang mencintai wanita cantik kan? Iya kan? Kau dan aku tak peduli sebejat apa mereka, sebodoh apa mereka... Tapi kau mencintai wanita cantik kan? Tapi benarkah begitu? Apa memang seperti itu? Aku tak bisa menjawabnya. Yang aku tahu, jawabanku pasti juga jawabanmu.

Jadi kenapa tak kau terima saja diriku? Ayo kita bakar malam ini sama-sama. Ayo jalan-jalan keliling dunia. Karena pada ujungnya aku harus mengaku. Tak peduli kata siapa atau apa. Ternyata setelah begitu jauh mencari belahanjiwa dan cinta, aku dipaksa kembali dan mengaku. AKU itu KAMU. AKU itu DIRIKU.

Jadi kenapa tak kau terima saja diriku?
Wahai diriku?


 

Popular Posts

Tags

Akun (1) blegok (6) Catatan luka (36) DerapLangkah (11) gemes (1) Giyatta (7) Giyatta!! (3) HujanDeras (9) IN-g-AT (13) Kacau (31) KAYLA (3) LucuB (5) Mimpi (8) Minat n pengen (11) Naskah (7) Pesan (5) Puisi (4) salute (5) Sejuta hidup Sehari (45) Serius dikit (11) Shadowlight (16) SuPistik (6) tapi gak bakat (4) Ups (5) Wisata (7)

Ketikkan Saja