Tampilkan postingan dengan label SuPistik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SuPistik. Tampilkan semua postingan

Aku ini Aku, aku si aku.

Sabtu, 22 November 2014

Lets do it fast, okay? A poem should be good by now.. So a poem it is. Now, Should we?

Aku nyalang dan terang, mataku belalak lalak.
Aku teriak dan garang, aku ngelakoni.
Oh, eh.. putri.. gadis.. cewek. kamu. Tuju.
le lek lek... Teredam malukah aku, terbakar takutkah aku. Hilangkah itu?
Wah tidak.. Sama sekali tidak. Sembunyi dia.

Suntuk, aku kutuk. Kubur saja kubur!
Kubur lagi, kubur! Bakar ajalah tu, bakar!
Kan ya seingatku tak begini, apa? apa? APA??!

Suram suram, karabam bam.. nguik nguik.. Holloh.. holloh!
Yeah yea yeah.. We knew it all along. I just pretend to be blind.
No, I just paralyzed. I just fall. I fall deep.

Kayak ndak pernah terjadi itu, tapi pernah.
Kayak ndak pernah tertulis itu, tapi pernah.
Kayak nda pernah ada itu, tapi ada.
Cinta, kenapa mesti selalu begini jalannya?
Ya aku salah. Ya aku salah. Ya aku tahu aku salah.
Aku salah. Aku tahu salahku apa.
Aku cuma tak mau percaya.
Pura pura tuli dan buta.
Aku bisu, bisu meraja.
Aku terkungkung, lama.

dan Kukira kau beda.

Sekian.
Salam selalu.

Terlepas Terbebas

Minggu, 13 April 2014


Saat itu aku sedang berjalan. Motor matic yang selalu setia menemaniku terparkir tak jauh di belakang sana, kehabisan bensin. Kuparkir sesukaku di pinggir jalan setelah lelah kudorong beberapa lama, jika ada polisi yang iseng-iseng lewat dan melihat motorku begitu, sudah pasti aku ditilang, sim ditahan, stnk ditahan, motor ditahan. Biarlah, lagipula aku tak punya rencana kembali kesitu. Jadi jika kelak diantara kalian ada polisi, atau pelaku curanmor yang menemukan motor itu, terserahlah mau kalian apakan motor itu, kuikhlaskan. Angkut saja.

Sambil terus berjalan entah kemana, aku tertunduk menatap aspal dibawahku. Dulu di SD, nilai-nilai raportku termasuk diatas rata-rata, meski jarang ranking 1 prestasiku termasuk gemilang. Terbukti dari seringnya si ranking 1 (dan teman sekelas lainnya---SEMUANYA) menyontek PRku, menyontek ujianku, bahkan menyontek catatanku. Kejadian seperti ini tak berhenti di sd, tapi terus berlanjut ke SMP, lalu SMA. Akhirnya aku tak tahan, mulai naik SMA kelas dua aku memaksa diriku BERHENTI PINTAR, aku mulai berusaha bodoh. Tapi ternyata sulit juga, karena sejak dahulu aku memang sudah malas belajar, namun tetap saja aku pintar. Apa yang harus kulakukan ya supaya cepat bodoh? Petualanganku untuk menjadi orang bodoh pun dimulai.

Aku mulai bermain di kelas saat penerimaan materi, aku perlahan menyeringkan bolos, aku mulai rajin main ps, sampai di puncaknya aku menyontek dalam 90% ujianku. Oh, jangan kau tanya, Saat itu aku begitu bangga! Tak bisa kulupakan tatapan kagum teman-temanku saat terpana melihat caraku menyontek. Karena tak seperti mereka yang semalaman membuat kertas contekan, aku tanpa basa-basi dan bertele-tele membuka buku catatan bahkan kadang buku cetak, di tengah ujian, dalam mencari jawaban. Semua ini sejauh pengetahuanku, tanpa tetangkap oleh guru manapun. Aku PUAS! Tapi tidak untuk waktu yang lama.

Saat kuperhatikan susunan angka di raportku, kekecewaan maha besar menguasaiku. Membuatku mengumpat dalam hati sekeras-kerasnya. Ternyata nilai-nilaiku juga tak jauh di atas rata-rata. Sementara nilai para pecontek lain melambung tinggi diatas sana. Aku muak! Dan akhirnya aku memaki-maki sejadi-jadinya melihat betapa orang lain yang nilainya berada di bawah garis rata-rata malah terlihat bahagia dan puas, bahkan saat memegang raportnya. Entah kenapa. Sudahlah, aku menyerah jadi orang bodoh, ternyata jadi orang bodoh memang sulit. I quit from being STUPID. Namun jalan garis takdir menampakkan tanduknya, aku sepertinya terlambat menyadarinya. Terlambat sadar dari kebodohan.

Hari berlalu mengganti minggu, minggu berlalu mengganti bulan, bulan berlalu mengganti tahun dan aku masuk kuliah. Ternyata usahaku waktu sma kemarin untuk jadi orang bodoh terlampau keras, sehingga hasil usahaku itu terukir keras jauh dalam sanubariku, aku telah menjadi orang yang berisi BODOH! Kelas perkuliahan jadi nampak memuakkan setelah beberapa kali dilalui, meski tentu awalnya aku sempat begitu bergairah. Nampaknya memang seperti itu untuk semua mahasiswa baru. Aku tak tahan! Lari ke tempat ps, warnet dan tempat karaokean jadi pilihan utama. Tugas-tugas yang hadir kukerjakan suka-suka, sistem copy paste sudah pasti jadi jalan utama. Malam-malam begadang tak jelas diluar rumah mewarnai hari-hariku. Dan tentu tiba hari-hari bolos kuliah. Maka cerita aku yang menetap dalam rumah sakit kebodohan kembali bergulir kencang. Tapi bukan cuma itu berita buruknya. Sudah kubilang tadi kan? Aku punya Motor MATIC.

Berulang kali jatuh dari motor karena suka kebut-kebutan sepertinya lebih melukai hati orang tuaku daripada tubuhku. Tentu, mereka menasihati sebisa mungkin, dengan cara sebaik mungkin. Namun sudah dasarnya bodoh, aku tak terlalu peduli, sedikit sesal tentu hadir ketika melihat mata ibu berkca-kaca, tapi ketika angin jalanan menggelitik wajahku, tak bisa kutahan tangan kananku untuk memutar gas lebih kencang. Kaca spion hanya ada untuk menangkal gangguan polisi, fungsinya sudah terlupakan. Rem tak bisa berbuat banyak manakala jarak dan kecepatan begitu tak seimbang, kecelakaan demi kecelakaan terus berlanjut. Dan pada saat bersamaan, jauh di lubuk hati kusadari, masa depan kuliahku terancam.

Nampaknya Tuhan memang Maha Tahu. Salah satu buktinya, dia tahu kegalauan yang melandaku. Dalam salah satu rapat yang kuhadiri, yang diadakan oleh perkumpulan jurusanku, terjadi keajaiban. Entah setan atau malaikatkah yang dikirim Tuhan waktu itu, intinya aku kesurupan. Aku yang saat itu hanya hadir dalam fungsi meramaikan, alias cuma pengikut rapat minor, malah berperan aktif dalam menyampaikan usul dan saran, dan---gilanya----juga kritik. Tak dinyana lagi, aku dipilih jadi ketua kegiatan itu. Ampun! Merasa sudah melaksanakan tugasnya, setan atau malaikat yang tadi merasukiku pergi dan mengembalikan kesadaran orang bodoh, entitas sementaraku saat itu yang langsung berteriak; CILAKA 13! Tapi aku tak cukup gentleman untuk menarik kembali semua kata-kataku tadi dan meminta mereka membatalkan penempatanku sebagai ketua. Apa mau dikata, nasi sudah jadi bubur, sudah dikecapi pula, makanlah!

Sepanjang persiapan yang berlangsung kurang lebih sebulan, otakku seperti dipelintir dan diperas. Tak sadar aku mulai sering ke kampus yang otomatis membuatku sering menghadiri kuliah. Karena ini kegiatan kampus, maka secara tak disengaja dan mau tak mau, hubunganku dengan dosen kembali diperbaiki. Semua urusan tentang transportasi, sertifikat dan lain-lain menyibukkan aku dan teman-temanku sehingga tak ada waktu ke tempat ps, warnet, apalagi karaokean. Kecuali tentu untuk beberapa urusan aku harus ke warnet, tapi hanya itu. Titel baruku sebagai Ketua Kegiatan membuatku hampir gila. Ya, ketika persiapan telah seperempat berjalan aku mengundurkan diri, yang mengundang protes keseluruhan dari semua yang terlibat. Namun syukurlah bukan hanya protes yang kutuai dari kejadian pengunduran diri itu, tapi juga sumpah setia mereka akan sepenuh tenaga membantu. Ini kurang lebih memberiku amunisi baru. Aku kembali maju.

Setelah semua rangkaian kegiatan ini selesai, terasa ada yang berubah dariku. Kuliah tidak menjadi kembali menarik, tapi rasanya salah kalau melewatkannya. Intinya kebodohanku perlahan sembuh. Namun sepertinya Tuhan juga Maha Ikut Campur, nampaknya dia belum selesai denganku. Kali ini aku betul-betul disuruh meninggalkan diriku. Aku terpilih untuk berkuliah setahun di luar negeri. Sensasinya seperti nyawa yang dicabut paksa dan dipindah ke tubuh orang lain. Setahun di luar negeri bersama orang-orang yang betul-betul berbeda kembali membawaku ke tahapan renungan yang selanjutnya. Apa itu orang pintar? Apa itu orang bodoh? Mana yang lebih baik? Mana yang akan bertahan? Mana yang bahagia?

Pertanyaan ini kubawa pulang sampai tanah air dalam keadaan belum juga terjawab. Kuliah kembali terasa membosankan, namun dengan alasan yang sama sekali bukan kemalasan. Justru aku sekarang merasa membuang-buang waktuku dalam kelas, dengan mengikuti perkuliahan aku merasa bodoh. Apakah bukan kebodohan ketika kita beradu argumen dengan menyajikan 3 teori yang persis sama akar dan tujuannya? Dan untuk mengejar sarjana? Sarjana apa!? Aku sekarang terlampau muak, melebihi sebelum-sebelumnya. Gas motorku yang kencang kini kembali menemukan defenisinya, dialah luapan emosiku yang berlebih. Pencair kebosanan yang telah berlarut-larut. Tempatku lari dari topeng-topeng palsu penipu dan pecontek.

Maka ketika akhirnya bensinku habis dan motorku tak mau lagi berjalan. Tak perlu lagi kutengok dompet atau kantongku, adakah uang disana untuk mengisi bensin. Aku hanya mau terus diterpa angin, terus bergerak, terus berpindah, jalan kakipun cukup untuk itu. Sepatu pantofel bututku menghantam keras aspal dibawahku, yang tak juga mencair sekeras dan selama apapun aku menatapnya. Keringat mengalir deras di bawah terpaan matahari, tasku terasa berat di punggungku tapi langkahku terasa ringan, sangat ringan. Aku terasa terbang. Nampaknya Tuhan memang Maha Cerewet... Semilir angin panas jalanan seperti berbisik keras-keras; "Kau Bebas!".

 

Makassar

Kamis. 13 maret 2014.

Curhatun Abdun

Rabu, 05 September 2012


Okelah Tuhan. Okelah Tuhan, bahwa aku ini belum tahu apa yang sebenarnya yang paling kuinginkan, sesuatu yang tak perlu kata bosan dan malas disana, yang memang tak terdapat disana. Bahwa aku ini terlalu cepat bosan melakukan apapun. Terlalu cepat bosan pada banyak hal, segala hal, termasuk diriku sendiri. Kenyataan nya aku tahu banyak sekali kata-kata bijak tanpa pernah mengamalkan satu darinya secara berkesinambungan. Aku tak bisa berkomitmen, okelah, aku terima itu sebagai kenyataan. Kenyataan yang ingin kuubah tentunya. Aku sadar bahwa kekuatan kata-kata itu dahsyat, kekuatan keinginan itu luar biasa. Tpi kau, kekuatanmu jauh di atas segalanya. Kuasa-Mu yang mengatur alam semestsa. Kehendak-Mu yang membuat alam ini ada. Kekuatan-Mu yang membuat aku nyata, meski fana.

Aku tahu bahwa mengeluh itu tak baik. Tapi aku hanya akan mengeluh di depanmu Tuhan. Tak apa-apakah itu Tuhan? Toh, didepan-Mu aku memang tak ada apa-apanya. Tak ada hal yang terlaru keren buatku sehingga aku bisa mengerjakannya seharian, sebulan, setahun. Entahlah Tuhan, semakin aku berkaluh kesah seperti ini, semakin aku sadar betapa banyak hal yang sebenarnya aku sia-siakan. Aku sadar punya sejuta potensi yang orang lain sangat-sangat menginginkannya untuk ada pada dirinya, tapi tidaK.

 Tuhan, kau telah memilihku untuk memilki semua kehendak gila, semua kemampuan ini, semua cara pandang tak normal ini. Dan dengan sungguh tunduk dalam kepasrahan, juga dalam kepongahan, atau kebosanan, aku memohon, aku kadang bertanya “Apa yang harus kulakukan?”. Dengan otak seperti ini begitu banyak yang seharusnya sudah kuhapal di luar kepala. Betapa banyak kosakata yang seharusnya sudah kupelajari. Begtiu banyak pelajaran yang seharusnya sudah kukuasai. Begitu banyak tugas yang seharusnya telah kuselesaikan. Namun, lalu aku terhempaskan pada sebuah pertanyaan mendasar yang begitu mengerikan “Untuk apa kulakukan semuanya?”.

Kekosongan dalam hati ini minta terus diisi yaaaaa Tuhan. Terlalu jauhkah aku tersesat?. Aku mengahambakan diri padamu, hanya dalam sebuah tidur panjang yang bersambung dengan tidur lagi. Karyakan aku!

Siapa Sekarang yang Memegang Uang?

Kamis, 12 Juli 2012

Siapa sekarang yang memegang uang?

Biasanya, saya bukan orang yang terlalu mikirin uang (pelanggan pulsa gue langsung protes). Iya bener, saya orangnya juga dermawan (teman sekelas gue langsung protes). Terus saya ini juga senang menabung (emak gue langsung protes). Dan terlebih, saya ini ganteng (orang yang kenal-maupun yang gak kenal gue langsung protes. Trus, saya ini (BUUukkkk!! giliran pembaca tulisan ini yang protes).

oKE, intinya, biasanya saya tak terlalu memikirkin uang. Lalu mengapa pertanyaan diatas muncul dalam otak saya? Otak di dalam kepala saya. Apakah otak benar berada didalam kepala saya? Pertanyaan yang cocok untuk anak fakultas kesehatan dan kedokteran. Yang pasti otak saya tidak didalam kepala Budi. Karena Budi dan Ani sedang pergi ke pasar.

Sudah 2 paragraf dan 3 kali spasi, tapi inti permasalahan sama sekali belum tersentuh. Sabar... Toh kamu juga lagi nganggur kan? Ya. Hanya orang-orang kurang kerjaan yang nekat buka blog ini.

Sebagai apresiasi atas kesabaran anda, saya akan ceritakan alasan saya mengajukan pertanyaan di atas. Tapi bolehlah, mungkin kau ingin menebak-nebak?

Kau mau ngutang ya?
Bukan.
Kau mau minjem ya?
Pertanyaannya sama aja yang diatas, jadi jawabannya sama juga.
Kau pengemis ya?


Yang itu tidak usah sya jawab. Mengacaukan saraf saja.

Oke. Jadi, tadi saya habis buka blognya Raditya dika. Dan lalu saya sadar, Raditya Dika itu penulis yang bukunya best seller semua! Meski tak sampai Luar Negeri, cukup best seller National saja. Tapi itu tetap best seller namanya kan? Dan lalu, tipe tulisannya Raditya Dika itukan Bebas Pakem banget toh? Seandainya Chairil Anwar masih hidup, pasti dia dan Raditya Dika jadi rival!

Buku semacam tulisannya Raditya Dika ini,menurut sya tidak akan lulus seleksi kompas, dan juga tidak akan diulas Sapardi Djoko Damono. Alias, anak muda banget!

Kembali ke pertanyaan diatas. Siapa yang sekarang memegang uang? Membeli buku kan pake uang? Buku itu untuk dibaca. Dan buku kayak tulisannya Raditya Dika itu, anak muda doang yang bakal baca kan? (Kalo ada orang-orang tua yang masih baca buku kayak bukunya Raditya Dika, mungkin ,mereka itu punya sindrom MMKB, Masa Muda Kurang Bahagia). Nah... Berarti yang megang uang anak muda donk?

Ini sebuah pemikiran iseng yang muncul tiba-tiba. Logis menurutku. Tapi tak tahu logis atau tidak menurut anda. LOGIs tak logisnya relatif.

Hmmm......
Anak anak muda yang memegang uang itu, mungkin ada yang karena mampu nabung. Atau mungkin yang dikasih uang jajan lebih ama Ortunya. Atau mungkin yang dikasih ama pacarnya. Atau mungkin yang udah punya kerja. Salah satunya yah kayak RadityaDika itu. Dalam umurnya yang masih muda, dia udah menjadi penulis yang bukunya ditunggu-tunggu banyak orang.

MEski harus jujur diakui, bahwa gaya tulisnya banyak yang tak sesuai dengan EYD (Ejaan Yang Disempurnakan) Dan betul-betul keluar dari pakem umum yang dianut sastr umumnya, tapi tak dapat disangkal. Raditya Dika ikut ambil andil besar dalam sejarah kepenulisan Indonesia. Kita bisa lihat realitanya,  gaya tulis Raditya Dika mengilhami banyak anaka muda lain untuk ikut menulis, meski tanpa pengetahuan pakem yang mengangkasa. Terlihat dari banyaknya buku-buku bergaya ngawur khas Radith yang tersebar di toko-toko buku terkemuka Indonesia.

Begitulah selalu jiwa muda. Mereka ingin bebas, atau lebih tepatnya, ingin orang lain menerima mereka sebagaimana mereka mau.  Anak muda melakukan yang mau mereka lakukan, tanpa berpikir lebih matang, apa itu memang baik dilakukan atau tidak. Sebagian diterima dengan baik, sebagian lagi dicap bengal, tapi gerakan anak muda selalu fantastis.

Dengan  tangan dan jiwa yang masih lincah, kalian bisa lihat anak muda betapa berpengaruh bagi dunia. Mereka hadir di semua tempat yang melibatkan manusia. Mereka bahkan menembus ilalang atau hutan atau laut atau jurang, demi menemukan dunia mereka, memperlihatkan sudut pandang yang benar-benar baru. Sebagian dari mereka diapresiasi dengan sangat positif, sebagian lagi sangat dipandang buruk, tapi sebenarnya meraka hanya ingin dilihat apa adanya.

Selanjutnya, mari kita buat cerita kita sendiri.

Salam damai selalu.
Salam Selalu.
Selalu.

SAng Juara Dimana mana

Selasa, 05 Juni 2012

Sebenaranya kita bisa melihat juara dimanapun. Berkeliaran ditengah-tengah kita, di depan kita, di belakang kita, disamping kirir kita, di samping kanan kita, di bawah kolong meja, diatas pesawat. Oke, udah kelewatan. intinya kita bisa menemui Sang Juara dimanapun. Bahkan dalam diri kita sendiri. Dan dialah Sang Juara yang harus paling kita banggakan.

Sang juara dalam defenisi yang gue punya, dalam pengetahuan tak berdasar gue, adalah orang yang selalu bisa mengatakan, "Ahh.. Gitu doang sih kecil!". Nahh, sampai sini silahkan berhenti membaca sejenak, Liarkan pikiran anda, silahkan bayangkan orang seperti apa yang saya katakan.

Waaww! iNI SIH NAMANYA GILA, berlebihan banget! Bisa siapa aja dong? Betul, semua orang biusa aja bilanng, "gini doang sih kecil.". Tapi ada sedikit perbedaan signifikan , yang membuat seseorang bisa dikatakan Sang JUara yang sebenarnya, bukan dalam pikirannya doang. Jawabannya jelas. Tindakan!

Siapa aja boleh bilang " Gini Doang sih Kecil!", tapi cuma sang Juara beneran yang membuktikan itu, yang merealisasikan itu. yANG Bertindak. AdaPun yang cuma bisa ngomong doang, bakal tetep dan selalu jadi Juara dalam pikirannya doang. Contohnya gue, gue tadi abis baca postingan-postingan nya Mabak DEE, si penulis supernova itu. Postingannya asyik-asyik n banyak yang baca. Gue aja yang bloon ini bisa-bisa nya sempet mikir, "Ahhh, Gue juga bisa kayak gitu!". Sungguh sebuah dosis kesombongan yang tak tertakarkan. tapi serius, gue sempet mikir kayak gitu.

Namun kesombongan yang memang di sulut oleh sedikit iri dan dengki itu tidak bertahta lama-lama. Karena secara tiba-tiba gue inget konsep tindakan ini, maka gue buka lah blog gue yang masih sepi banget ini, demi memenuhi janjiku pada diri sendiri.

Gue mau banget jadi Juara. Setidaknya gue punya sebuah cita-cita, gue pengen nulis novel yang dibaca banyak orang. Maka gue harus banyak berjuang dan sedikit banyak maksa. Contoh yah seperti ini, gue nulis blog., meski belum punya pembaca. Toh. untuk bisa nulis, kita cuma butuh setidaknya 2 tangan yang bisa dipake megang pulpen n nekan stuts keyboard. Urusan pulen ama keyboardnya bisa nyusul (itulah gunanya temen yang punya pulpen ama leptop!).

Gu4e suka baca kisah-kisah para juara, Sperti Mario Teguh. Ippho Swentosa, Dewi Lestari dan lainnya. Dan Semakin gue mendalami para juara ini, semakin gue paham bahwa mereka ternyata sama ja ma gue. Bisa nangis juga, bisa capek juga, bisa galau juga, bisa illfeel juga. Mereka gak lepas dari semua kekurangan yang gue n kita semua punya. Tapi yang berbeda dari mereka adalah sedikit hal kecil. Gue namain hal itu kepercayaan.

Konsep pervaya diri yang dulu kita pelajari di PPkn waktu sd itu udah tepat banget, (silahkan buka kembali buku PPkn sd anda untuk keterangan lebih lanjut), kalo direwnungin lebih jauh malah bisa super banget! (kalo mau tahu lebih jaun tentang ini tak perlu bertanya pada guru sd anda). Para njuara ini, seringkali gue temuin lebih percaya ma diri mereka sendiri dari pada tuhan! Itu namanya majas hiperbola aja. Setidaknya penggambaran seperti ini lebih membekas n tepat menurut gue. Mario teguh pernah bialng "Canangkan cita-cita mu setinggi tinggi nya, jangan berharap Harapanmu sejalan dengan kehendak Tuyhan, karena kau tak tahu kehendak Tuhan, tapi mintalah Tuhan merestui apa yang kau inginkan!"

Sekarang gue lagi punya tugas mentakhrij hadits, itu tugas yang seperti tikat masuk ruang final. Dengan sangat jujur disini saya katakan bahwa saya sudah muak dengan semua aturan perkuliahan dan tugas tugas yang menjengkelkan. Tapi saya bertahan disini untuk memnuhi janji pada diriku sendiri, Dan sebagai pembuktian pada Tuhan bahwa aku berhak untuk tempat yang lebih tinggi. Bukan karena siapa kau, namun karena apa yang kulakukan.

Gue senang mengoleksi kata-kata yang menguatkan jiwa, pikiran dan mental. Tapi aku sangat kurang dalam hal tindakan. Aku ingin berbuat banyak dalam ruang waktu manapun. Aku tak ingin mengenal batas-batas yang bmembelenggu. Tapi harus kuakui batas-batas itu ada. Ada untuk memperingatkan prioritasgw. Untuk memoerjelas kembali apa yang harusnya aku lakukan.

Tuhan terima kasih, untuk semua ini, untuk kedua tangan ini, untuk hidup ini.

Irnawanti

Rabu, 11 April 2012

Guwe Tumpahkan Semua kegalauan guwe disini. Tempat yang mungkin gak bakal dijangkau oleh dia. Oleh Irnawanti Abnurah.

Irnawanti adalah nama yang sedikit aneh kan? Biasanya Irnawati, ato Irawati. ini Irnawanti. Memang banyak yang bilang kalo kata irnawanti sedikit unik. Di bagian wanti nya itu kan? Gw ktemu dgn org yang bernama Irnawanti ini kalo gak salah ingat sekitar 4 tahun lalu, di kota ini. Kota Makassar.

Gue gak mau irna tau kegalauan gue karena dia bakal jengah, n Mandek. Dia mungkin udah sejak lama jengah n eneg sama tingkah laku gw yang gak bisa santai kalo deket-deket ma dia. (Liat fotonya aja gue salting). Terlanjur merasa dicintai, itu mungkin kata yang tepat untuk menggambarkan kegalauan guwe. Parah deh pokoknya.

Gak punya kata-kata yang rasa-rasanya tepat buat ngegambarin cerita ini. Juga gue rasa bakal sulit banget dipahami.

Jadi Ceritanya gue ketemu ma Irna nih di Acara pelatihan di Makassar, tepatnya di UNM Parang Tambung. Irna tuh manis, kecil-kecil orangnya, trus tegar. Ditinggal mati oleh ibu sejak kecil, dipelihara oleh bibinya dan dibesarkan dalam keadaan diperebutkan oleh keluarga bapak n Ibu. Hidup Irna bikin gue terkesan (jujur fisik n tutur katanya juga gue suka). Kelakuannya polos, dia tegas. Untuknya, sebuah batas hubungan adalah batas, kata yang ia keluarkan adalah penetapan, dan Cukup Tuhan yang 1 itu yang bisa ngubah.

Herannya, dalam Acara pelatihan itu gue ama nih anak Akrab banget. Ngobrol bedua di Taman kalo lagi waktu Istirahat, sampe lupa kalo masih ada agenda acara yang mau dihadiri. Jalan bedua di benteng Rotterdam, udah kayak orang pacaran, tapi enggak. Gw ma irna gak pernah pacaran. Gak dulu, n gak juga sekarang. Pas gw beli nomor hp (gw waktu itu gak bwa hape, sama temen2 gw yang dari pesantren saat itu), dia minta nomor hape gue. Malemnya gue pinjem hape irna karena mo ngaktifin nomor gue, entah gimana hape Irna tuh gue pegang sejak malam itu sampai hari terakhir Acara Pelatihan. Gw inget waktu itu dia ngingetin gue satu hal, "Ada satu folder yang gak boleh dibuka". Dan sumpah demi nama Tuhan yang 1 itu, gw gak pernah buka folder itu. Maka sampai sekarang gw masih sedikit penasaran. Apa isi Folder itu.

Irna banyak curhat ma guwe waktu itu, salah satunya ya tentang keluarga n prinsip hidupnya, juga pengalaman pacarannya yang ternyata banyak banget, beda ama gue yang waktu itu baru 1 kali pacaran (itupun lewat telpon) n udah putus pula. Waktu itu dia katanya dalam keadaan lowong, jomblo. Irna waktu itu gak pernah tertawa lepas n gak pernah tepuk tangan, dia heran waktu gue nanyain hal itu, karena cuma gue yang menyadari hal itu dan dia iyakan. Ya, dia memang gak bertepuk tangan dan tak tertawa lepas, juga duduknya tegak. Gw emang sering merhatiin Irna. Sejak hari itu gw merhatiin semua orang, kadang terang-terangan, lebih sering-sembunyi-sembunyi. Gw sekarang gak tahu Irna masih gitu ato gak, tapi katanya di telpon wktu aku telpon (iyalah), katanya sejak bertemu ma gw, dia jadi lebih sering ketawa n gak pacaran lagi. Entahlah, semua itu benar ato gak, Gw sekarang udah gak punya kesempatan untuk menanyakan itu lagi sama dia ato temen-temennya, juga gak punya lagi kesempatan untuk memeperhatikan Irna kayal dulu. Gw sekarang gak tahu di mana dia tinggal. Meskipun 3 bulan lalu gue masih bisa bertatap langsung ma Irna.

Sejak acara pelatihan itu berakhir, secara teknis, gue ma Irna memang gak bisa tatap muka lagi. Aku di Bone, dia di Bantaeng. Tapi telpon n sms tentu punya maksud sendiri untuk dicipta. Maka yang terjadi-terjadilah. Tulisan dan suara, menggantikan kata dan kehadiran. Awal yang manis. Tapi gw tahu berkemabang ke arah yang tak menyenangkan. Kebosanan mungkin selalu tantangan terbesar dalam sebuah hubungan jarak jauh. Mengalahkan rindu.

Irna tanggal lahirmya 26 juni, 1993, tuaan sebulan dari gue yang 26 juli 1993. Kecocokan tanggal yang  buat              gw sedikit berpikir optimis "mungkin ini memang suratan takdir". Tapi itu hanya angka-angka. Apakah faktor ini ikut ambil andil dalam hal menjauhnya Irna dari gw, gw gak tau. Gw cowok culun n bisu di depan Irna yang kecil n mungil ini. Irna juga pernah ngaku lewat telpon kalo dia, sejak ketemu ma aku, jadi gak suka lagi pake celana panjang, apalagi celana pendek. Entah dia wktu itu keliru ngomong, ato dia emamg cepat berubah, yang jelas ketika gue nganter dia ke UNISMUH beberapa bulan lalu, dia pake celana panjang. Tapi seingatku, dia memang cewek berkerudung. Saat gue konfirmasi ulang pengakuannya dulu, dia cuma bilang entahlah. Ya, Entahlah. Entahlah apa yang terjadi antara kita sekarang Irna. Antara Gw ma Lo. Entahlah.

Entahlah, dengan cara apa gue bisa menyambung tali hubungan gue ama nih anak. Facebook? Fb yang sekarang dia pakai, adalah buatan gue, udah dia ubah passwordnya, jadi gak bisa gue apa-apain lagi. Aq berteman ma dia di Fb. Tapi lebih seperti orang tak dikenal rasanya. Gue pernah ngirim-ngirim pesan ma Irna, tapi gak ada yang di bales. Mungkin karena alasan yang tak gw tahu. Mungkin emang gak dia baca waktu tau kalo yang ngirim ternyata adalah Iqbal Sahawi Muhammad. Orang yang dihindarinya. Apakah betul dia menghindar dariku? Benarkah? Entahlah. Kenapa ya? Entahlah. Tak ada penejelasan dari dia. Ahh...!!Gue hampir lupa. HApe? Ajaibnya, dia, terakhir kali gue ketemu 3 bulan yang lalu, tak punya hape. Juga tak punya nomor hape. Seorang Pelajar Diploma 3, bertempat-tinggl di Makassar, berasal dari Bantaeng, dan tak punya keluarga besar di Makassar, tak punya hape. Kenyataan yang sempat buatku sedikit heran tentunya. Tapi bahkan gw pernah berkeputusan untuk tak berhape (dan memang kulakukan), tapi aku memang tinggal dengan keluarga. Maka biarlah, dengan berbagai pertanyaaan masih bercokol di kepala, kuterima hal ini sebagai sesuatu yang wajar.

Sampai sekarang. Setiap malam, setiap hari, gw masih mencoba mengingat-ngingat, dan menduga-duga, apa yang sebenarnya terjadi. Mungkin ada yang kulewatkan. Tentu banyak yang terjadi dalam 3 tahun terakhir, ketika dia gak di samping gue, gak dalam jangkauan mata gue. Fotonya masih gue pasang sebagai wallpaper gue. Di leptop gue masih banyak gue simpan fotonya Irna. Meski dah jarang gue buka. Setiap buka Fbqu, gue bakal singgah di halamannya, meski cuma gue liat-liatin. Gue seneng kalo dia ngupdate status or ngupload foto di Fbxa. Berarti setidaknya fb yang gw bikinin ada gunanya juga buat dia, meskipun orang-orang bilang, bikin fb, apa susahnya sih?. Gue gak lagi comment2 statusnya. Karena menurut pengalamanku, itu malah bakal bikin dia males buka fb. Juga gue hapus beberapa Comment gue yang gue rasa gak seharusnya gue tulis.

Gue rasa, udah saatnya melepaskan harapan gue yang kayaknya egois itu. Gw yakin koq. Gw juga bukan orang yang buruk. Irna cuma belum ngeliat gw aja. Dan memilih pergi sebelum melihat guwe.


 

Popular Posts

Tags

Akun (1) blegok (6) Catatan luka (36) DerapLangkah (11) gemes (1) Giyatta (7) Giyatta!! (3) HujanDeras (9) IN-g-AT (13) Kacau (31) KAYLA (3) LucuB (5) Mimpi (8) Minat n pengen (11) Naskah (7) Pesan (5) Puisi (4) salute (5) Sejuta hidup Sehari (45) Serius dikit (11) Shadowlight (16) SuPistik (6) tapi gak bakat (4) Ups (5) Wisata (7)

Ketikkan Saja