Hidup Ini Hanya Sementara
Minggu, 26 Juli 2015
Aku Temannya Budi
Senin, 24 November 2014
Aku pernah punya kawan, kawanku baik hatinya. Namanya Budi. Budi baik sekali. Dia suka menolong orang, diapun senang mengajarkanku cara mengerjakan pe er. Budi pintar sekali. Aku senang berteman dengan Budi. Budi juga senang berteman denganku. Budi bilang aku kawan yang baik, karena pernah memberinya buah kelapa. Padahal itu aku hanya memanjat saja. Juga kata Budi, karena aku sering memberikan dia ikan. Padahal aku hanya memancing saja. Ikan itu lalu dibakar oleh ibu Budi. Aku diajak makan bersama, rasanya enak sekali. Aku juga suka ibu Budi. Ibu Budi pintar memasak.
Nama ibu Budi adalah Aminah. Selain jago memasak, Ibu Budi juga pandai menjahit. Semua baju Budi, Bu Aminah yang jahit, kata Budi. Jahitannya bagus sekali. Aku juga mau dijahitkan baju sama Bu Aminah. Tapi aku malu mau bilang sama Bu Aminah. Ibu Aminah juga pandai bermain piano. Bunyi piano merdu sekali. Aku sering diajaknya bernyanyi. Kata Bu Aminah suaraku bagus. Setelah bermain piano dengan Bu Aminah, aku pulang ke rumahku.
Di rumahku ada ayah dan adek. Ibu sedang di pasar bersama kakak. Ayah sedang menulis, adek bermain penggaris dan pulpen. Ibuku memang suka berjualan, sehingga sekarang sudah memiliki toko yang lumayan besar di pasar sana. Kakakku senang berhitung dan memerintah orang-orang, tapi dia pintar menyuruh, sehingga yang disuruh tak merasa diperintah dan senang saja menurut. Kakakku menyuruh-nyuruh orang-orang yang bekerja di pasar ibu tentunya. Uang yang kami dapat dari toko, kata ayah dan kakak, sedikit saja. Karena ibuku sangat baik. Dia senang sekali memberi sana sini hasil penjualan dari toko sepulangnya dari pasar, sebelum sampai ke rumah. Aku senang ibu begitu. Orang yang baik disayang Tuhan, kata ayah. Aku senang ibuku disayang Tuhan. Orang yang disayang Tuhan pasti bahagia, kata ayah.
Ayahku senang menulis, sudah banyak kulihat ada buku yang ditulis ayah, sering kulihat nama ayah di toko buku. Sering lama lama aku tak sengaja berdiri di depan rak toko buku yang ada buku Ayah nya. Aku senang, seperti mau terbang, seperti balon yang membesar. Ayah bilang itu namanya bangga, katanya sambil menangis. Aku bertanya kenapa ayah menangis? Ayah bilang dia sangat senang karena aku bangga melihat nama ayah. Aku tak mengerti, kenapa senang koq malah menangis? Tapi yang aku tahu aku akan selalu bangga pada Ayah, pasti.
Adikku pintar sekali, mungkin lebih pintar dari budi. Sudah pasti adikku lebih pintar dari aku. Tapi dia tidak pandai memanjat dan memancing. Aku pikir aneh, kenapa orang sepintar adikku tak pintar pula memanjat dan memancing. Mungkin dia malas saja belajar memanjat dan memancing. Dia lebih senang berhitung dan membaca. Meski kulihat lebih banyak berhitungnya. Kakakku juga senang berhitung, tapi beda. Kakakku senang menghitung jumlah beras, garam, menetega dan gula. Sedangkan adik lebih senang menghitung tinggi gunung, rumah, luas rumah dan soal soal matematika yang kelihatannya susah sekali. Pernah kutanya Budi tentang itu, lalu kata Budi itu....... kulkas? Semacam itu, aku lupa. Tapi satu yang paling ayah ibu senangi dari kami. Kami pintar mengaji!
Aku masih ingat, waktu khatam jus 30 kemarin, aku dibelikan martabak! Aku senang sekali. Kubagi martabak pada adik, kakak dan Amon, setelah kupisahkan bagian untukku yang lebih banyak. Amon itu nama pembantu kami. Dia baik juga rajin. Diantara kami, kakak yang paling pandai mengaji. Kalau kakak mengaji, aku berhenti main gasing, adik melepas pulpen dan penggaris, ibu berhenti menghitung barang, ayah berhenti menulis. Barulah setelah kaka selesai mengaji, semua kembali seperti semula. Amon yang tadinya cuma berdiri bengong sambil memegang gagang sapu juga jadi kembali menyapu. Aku senang mendengar kakak mengaji. Aku mau pandai mengaji seperti kakak. Kalau sudah malam, kami semua pergi tidur. Meski kalau sudah di kasur, kadang aku sulit tidur. Banyak sekali yang mau kulakukan besok.
>>>>>
Sekian
Salam Selalu
Makin Jauh
Jumat, 21 November 2014
Gelombang punya Supernova gubahan Dee bikin mabuk. Iya bikin mabuk. Pokoknya mabuk. Apa sih yang kau harapkan dari saya yang sedang mabuk. Sedangkan saya tak mabuk saja tulisanku sudah kacau. Apalagi saya yang sedang mabuk. Mabuk Gelombang Supernova. Aku dimabukkan sama rasa ingin hepi terus. We need Moreeeeee Supernova like this one. Jujur Partikel kemarin agak berat, dia tuh sama kayak Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh kemaren, mainnya terlalu rasa ahhh..
Rasa dingin ac ini menyenangkan sekali, sekaligus melenakan. Enak. Ditambah tadi habis makan kebab tomat dan cendol. Mantap. Tapi sempat sebel juga karena waktu pesan burger ya g keluar kebab.. Benci. Tapi ya sudahlah, ada gelombang. Dan sekrang saya jadi sempurna penasaran... Bahasa korea itu bacanya gimana siyyy... Soalnya ada yang mau saya terjemahin disini! Oh manis, kau tulis "Oh" saja saya penasaran apa maksudnya, ini hruf korea! superb lah... Baiklah, calm down for a sec will we? Belum tentu juga tulisan itu untuk saya, tetap saja saya penasaran. Pake adegan kamu nulisnya passs waktu mau ngasih ke saya. Ah sudahlah. Anomali kau itu.
Mataku sudah berat sekali, mengantuk. Malam ini kubikin jadi apa bagusnya? Sudah, jangan tanya. Malam ini ya malam, ya hitam, ya ada bintang, ya ada bulan. Malam ya malam. Tak peduli apa. Malam ya malam. Cumbu rayu halus alam, tanah dan langit. Kompak banget ya mereka, kalo dah malam... Padahal tadi siang aja bakar-bakaran, udah adem ademan lagi sekrang. Desau napasku masih sama koq. Malas.
Bahasa apa yang paling ingin kupelajari setelah bahasa korea? Spanyol mungkin. Atau arab, saya gampang ngajarinnya, gampang bikin skripsinya. Besok ngajar, wah.. ngajar apaan yah... Saya kosong nih belakangan ini. KOSONG. gak ada inspirasi, motivasi, apa si. Ini doang Gelombang keren banget. Makasih mamen, kamu memang keren! Tadi ngumpul ma teman teman mereka nanyain proposal skripsi, saya gemetaran. Gugup mau jawab apa. Kenapa gak sistem ujian aja siy.... Wisuda donkkkkkkk... aduh masih lama banget gila. Ada laporan PPL, ada KKN.. ck. Pusying. Semoga ppl kkn gak ngulang.
Coba bisa gini terus, makan ada terus... Rumah nyaman. Air cukup. Listrik memadai. Ngapa ngapain enak. Mikiran kepengen malah jadi gelisah. Jadi tidak bisa menikmati apa yang udah aja dulu. Dasar Manusia Malas. Tapi aku mau koq jadi rajin kalo bisa, bisa si. Tapi malas. Ck. Apaan. Yang jelas, malam ini gak usah dicat hitam lagi nih kamar. Pasti kasihan ya? Makin jauuuuuhhhhhh... Seeeeedddddiiiiihhhhhhhhhhh.........tauk!
Sekian.
Salam selalu.
Aku Mau Disini Terus
Kamis, 20 November 2014
Aku mau tinggal disini saja terus, dalam kamarku. Ac sudah dingin lagi, wify lancar, ada selimut, ada banyak buku. Aku mau tinggal disini saja terus. Supaya tidak usah capek jalan kaki keluar. Tidak usah capek capek makan. Tidak usah capek capek buat orang ngerti, bicara sama orang. Gak usah dengar hal hal yang menjengkelkan. Tidak usah ketemu kamu. Malam ini aku mau di kamar saja terus, sendirian.
Aku baru saja menamatkan novel atau apalah namanya buku yang berjudul Rahvayana, karangan Sujiwo Tejo yang kata dianya mungkin lagi kerasukan Rahwana. Lucu juga, aku suka gayanya. Buku itu rekomendasi teman dari jawa timur, yang memang beliau suka sama Sujiwo Tejo. Isinya bagus ternyata, enak dibacanya, asalkan kamu ndak usah maksa-maksain paham, pasti bisa kamu tamatkan. Soalnya cara dia nulis ini rada-rada ngawur. Kerennya ini buku disertai kaset lagu segala, iya sih udah banyak yang kayak gitu. Tapi kalo saya seingatku ya baru pertama kali ini aku punya. Ada sajak sajak nya setelah cerita inti selesai. Setelah cerita inti bahkan disertakan daftar pustaka. Subhanallah.
Aku sih ya sebenarnya lumayan puyeng juga bacanya, soalnya banyak nama wayang. Morodadi, Sarpakaneka, Wibisana, Trijata dan banyak banyak laiknya, ada batara lah... resi lah.. dewi lah... hanuman... banyak kera! Aneh aneh saja kalo kalian mau paksa paksa ngerti. Makanya mata dosenku kemarin, banyak baca referensi ringan serius dulu baru baca bukunya. Ah embuh, yang penting sekarang saya lagi hampa. Asik ah, ngebahas hampa mulu aku ini.
Besok mau kuliah regular, mengulang buat perbaikan nilai, belum nyusun skripsi. Ini lagi skripsi ahh bikin keki. Ppl juga harus nyerahin laporan, apaan! Resiko situ jadi mahasiswa, ya kerjain lah! Kerjain woy kerjain! Hallah... aku sih mau leyeh leyeh, malas-malasan ogah-ogahan. Tidak boleh begitu sih seharusnya.
Lagian kenapa dijudes-cuekin sampai segitunya siyyy?! Aku kan jadi gemes-gemes asem gimanaaaaa gitu. Atau cuma perasaanku saja ya? Ah... sadarlah boy, nggak mungkin.. iya nggak mungkin.. nggak mungkiiiiinnn.. kinnnn.kinnn.... Sudahlah nyerah saja... Tinggalkan dan Lupakan sja mimpi mimpi itu. Hanya mengganggu tidur panjang kita. Tidur yang melana hinakan. Bangun bangun sudah ada nyala api berkobar di depan mata. Hayoooo..
Sudahlah, kita sudahi saja. Bingkai bungkusan kamu saya jadi makin ambil tempat saja, jadi sulit aku dan kau saling mengerti satu sama lain. Ahh.. siapa sih aku?! Malam ini aku mau tinggal disini saja. Aku mau malas-malasan sampai..... sampai jatuh cinta itu enak.
Sekian.
Salam Selalu.
SMS (sungguh mati sayang)
Selasa, 18 November 2014
ce: Is it okay if I love U, kak?
co: ofcors its okay! I hope god says its okay too.. cause I love U too, dek.
ce: well.. haha.. becanda ji saya kak..
co: oh ya? well..truth has been told.. kalo saya serius, dek. Ku sayang ki.
ce:....
co: napa dek?
ce: marah ki pasti, kak.
co: ya iyalah marah... ka kusayang betul ki tapi takut ka bilangki.. malah kau main maini ka.. tapi nda papa ji.
ce: serius nda papa ji? minta maaf ka kak.. masih mau ja temanan sama kk tapi nda mau ka pacaran sama kk. nda bgtu perasaanku sma kk.
co: ya iyalah nda papa.. lagian saya jg gk ngajak pacaran koq.
ce: maksudnya kak?
co: sy maunya nikah.. tapi ya entar.
ce: ahh... serius ki kak? seram..
co: hehh? koq seram.. sorry dek.. haha.. iya serius ka, seenggaknya sekrang.
ce:....
co: yo.. napa lagi?
ce: ndak kutau apa mau kubilang :,(
co: hee? koq nangis... udah udah... gak usah ngomongin in lagi.. maap maap..
ce: terharu ka, kak... tambah besar rasa bersalah ku ini kalo memang benar apa kk bilang.
co: etdah... udah udah udah... becanda ja pale juga.... brhenti miki nangis itu e...
ce: BERCANDA KI PALE KAK?
co: enggak siy.
ce: iiihhh.. kk ahhh! sebel tauk! jadi tambah nangis nih... kenapa begitu kk!
co: ka nangis ki dek.. ndak kusuka sekali kalau ada cewek nangis.. apalagi kau ceweknya.
ce: pale, berhenti ma nangis.. jangan begitu lagi kk! aku gak suka.. well.. kyknya gak ada cewek yang suka.
co: iya iya.. maap maap.. jadi? jam berapa mi disitu.. belum mau istirahat dek.
ce: iya malam mhy.. istirahat ka dulu pale, kak..
co: iya.. selamat tidur.
>>>>>
di kamar masing-masing.
ce. "kusayang ki kak"... lalu tidur pulas sampai pagi dengan senyum.
co. "darn it! damn it! f*ck it!".. gak tidur sampe pagi.
sekian.
salam selalu.
Apakah Masa Depanku Pantas Untukmu?
Senin, 03 November 2014
tak banyak yang mau kukatakan pada kertas kosong ini. Gelegak hampa ini tak terdefenisikan. Aku tak tahu kenapa, hanya merasa kosong. Mungkin karena banyak pikiran. Mikirin Rpp, mikirin skripsi, nasi yang hampir basi, nasi yang kebanyakan, lauk ayam goreng sisa sedikit, lauk ikan kuah kuning masih banyak, kacang rebus hampir membusuk, motor belum dicuci, lantai belum disapu. Stress.
Teman teman tahu mana yang harus kubereskan lebih dulu? Apa yang harus kulakukan? Tahukah kalian kalau aku pernah mempertimbangkan lari dari rumah? Apakah kalian merutukiku pengecut jika aku melakukannya? Bukankah lari dari rumah butuh keberanian besar? Aku sebenarnya tahu waktuku sudah sejak lama habis, terlalu banyak hutangku pada masa lalu, terlalu banyak. Sehingga aku takut melihat kedepan.
Aku yakin kalianpun pernah merasakan penyesalan seperti ini. Mengapa dulu tak belajar, mengapa tak mengerjakan tugas, mengapa begadang terlalu larut, mengapa tadi pagi tak mencuci motor, mengapa aku menunda nunda? Aku yakin kalian tahu rasanya jika pernah mengalami. Tapi yang beda adalah apa yang dilakukan berikutnya. Bukan begitu? Karena sejarah yang terhenti tidak ada, waktu bergulir terus.
Tik tok. Waktu mengetuk mengetuk ingatanmu untuk berhenti menyia nyiakan. Tapi aku memilih membiarkan dan menunda. Dan inilah yang kutuai.Sebuah kegamangan absolut. Aku tak bisa memastikan masa depan, ya semua orang juga begitu. Maksudku aku merasa masa depanku runyam. Masa depan seperti itu tak pantas diisi kehadiran seorang wanita hebat seperti kau... Makanya aku malu. Terima kasih, kehadiran kau membuat aku berani membuka mata melihat kedepan. Meski yang kulihat hanya abu dan puing. Sisa kejayaan yang aku runtuhkan. Dan aku tak bisa membuat kau ikut, meski aku sangat ingin. Sangat ingin... Bagaimana denganmu?
Salam Selalu
Rahasia Yang Menyedihkan
Jumat, 31 Oktober 2014
Dunia yang menyedihkan. Ada rahasia yang tersimpan di dunia yang menyedihkan ini. Tentang seseorang yang melihat kenyataannya. Seseorang yang tertolak dari terang, dan memilih terus berjalan dalam gelap. Ada banyak hal yang mau diceritakan meski tak pantas. Ada banyak kenyataan yang perlu diketahui meski tak menyenangkan.
Orang itu, yang duduk di kursi didepan sana, aku tak mengenalnya, tapi aku merasa sedih melihatnya. Seorang bapak bapak seperti itu apa yang dia lakukan disitu disamping dosen kami? Kenapa dia tak mengajar di kelasnya sendiri jika dia dosen? Kenapa dia tidak di tokonya jika dia pengusaha? Apa yang dia lakukan disini? Apa dia tak punya pekerjaan lain? Akankah aku seperti itu juga? Jujur saja, aku tidak mau.
Pada kenyataannya, aku juga tidak berhak berharap yang muluk muluk, misalnya mau jadi keren kaya raya dan terkenal. Dengan kemalasan yang belum berhasil kuusir, aku bahkan layak untuk mendapatkan sesuatu yang lebih hina. Bisa saja kau temukan aku meringkuk di depan emperan toko minggu depan, atau di bawah kolong jembatan di surabaya satu bulan kemudian.
Rasa stress memang kutanggapi dengan cara yang keliru, sudah sejak lama. Hasilnya malah berlipat ganda, stress itu berkembang dalam diriku secara membabi buta. Aku bingung dan linglung, tak tahu mau melakukan apa. Hal baik memang aku tahu banyak, tapi selalu saja aku lari, tak mau mengaku. Lari menuju peristirahatan sementara, melenakan dan membutakan, menyenyakkan dan meng alpakan. Tapi kuakui dalam pelarian selama apapun takkan ditemui kedamaian, ketenangan. Yang hadir cuma gelisah setia menemani, khawatir berkepanjangan, momok.
Dari titik sumpahku kubuat hingga kini, belum juga aku menyongsong terang, entah kenapa. Mungkin karena rasa malu dan bersalah, dari kesalahan yang terlanjur kulakukan dan tak bisa kuhapus kejadiannya, pun tak bisa hinggi kini kulupa rasanya. Kesalahan yang membuatku merasa telah mengganggu hidup orang orang. Semoga dia mau memaafkan kebodohan dan kelancangan ini.
Salam Selalu.
Bangkit Dulu, Ah.
Jumat, 14 Februari 2014
"Berkaryalah... Agar otakmu tak dipenuhi hal-hal yang berbau penyakitan b*ngs*t dan sejenisnya"... ini hanya kata-kata saya, tanda kutipnya buat keren-kerenan aja. Aduh.. Mata saya koq giniyaa.. Apakah mungkin karena sekarang udah jama 03.00 pagi?Ato ini gejala mata minus? Waduh gawat... Saya gak pernah kepikiran bakalan kena mata minus.. Gak pengen juga sih.. Ah semoga bukan gejala mata minus.. Semoga ini akibat gangguan setan yang ingin menghalangi saya dari berkarya dengan cara menulis ini. Yah... meskipun gak keren dan gak terlalu waras ini kah orisinil... asli buatan sendiri.. Meskipun tentu banyak yang secara gak sadar yang terketik ini adalah hasil dari pemikiran banyak orang. Saya hidup sampai sekarang kan juga karena bantuan banyak pihak. Laptop yang sekarang saya pakai kan juga hasil keringat banyak orang.
Terima kasih Ayah..
Terima kasih Ibu.
Terima Kasih Adek-adekku..
Terima kasih Om.. Tante..
Terima kasih juga... Tukang siomay, tukang bakso, mbak-mbak dan mas-mas di Alfamidi, mba-mbak dan mas-mas di Carrefour, Mbak-mbak dan mas-mas di Indomaret.. Tukang tambal ban, tukang sepeda, supir taksi, tukang bajaj, sopir angkot, Pak pilot, mbak pramugari, Pak masinis, Terima kasih ya...
Ohya... Juga buat teman-teman sekalian yang membaca tulisan ini juga terima kasih banget. Ini saya liat banyak yang dari Amric...Gak tau deh nyata ato fiksi... Tapi terima kasih juga.. udah mo mampir n baca-baca.. Mampir lagi ya,...Oh... Buat teman-teman yang gak baca juga terima kasih ya...
Salam selalu..
Sandal Pendamai.
Selasa, 07 Agustus 2012
**Hayooo.. Pusing kan sandal saya yang mana?
Sakit Kepala dan Dahlan Iskan.
Jumat, 27 Juli 2012
*Seingat saya tanggal Lahir beliau 17 agustus.. Dibikin sendiri oleh Beliau waktu ditanya guru sekolah..
Siapa Sekarang yang Memegang Uang?
Kamis, 12 Juli 2012
Biasanya, saya bukan orang yang terlalu mikirin uang (pelanggan pulsa gue langsung protes). Iya bener, saya orangnya juga dermawan (teman sekelas gue langsung protes). Terus saya ini juga senang menabung (emak gue langsung protes). Dan terlebih, saya ini ganteng (orang yang kenal-maupun yang gak kenal gue langsung protes. Trus, saya ini (BUUukkkk!! giliran pembaca tulisan ini yang protes).
oKE, intinya, biasanya saya tak terlalu memikirkin uang. Lalu mengapa pertanyaan diatas muncul dalam otak saya? Otak di dalam kepala saya. Apakah otak benar berada didalam kepala saya? Pertanyaan yang cocok untuk anak fakultas kesehatan dan kedokteran. Yang pasti otak saya tidak didalam kepala Budi. Karena Budi dan Ani sedang pergi ke pasar.
Sudah 2 paragraf dan 3 kali spasi, tapi inti permasalahan sama sekali belum tersentuh. Sabar... Toh kamu juga lagi nganggur kan? Ya. Hanya orang-orang kurang kerjaan yang nekat buka blog ini.
Sebagai apresiasi atas kesabaran anda, saya akan ceritakan alasan saya mengajukan pertanyaan di atas. Tapi bolehlah, mungkin kau ingin menebak-nebak?
Kau mau ngutang ya?
Bukan.
Kau mau minjem ya?
Pertanyaannya sama aja yang diatas, jadi jawabannya sama juga.
Kau pengemis ya?
Yang itu tidak usah sya jawab. Mengacaukan saraf saja.
Oke. Jadi, tadi saya habis buka blognya Raditya dika. Dan lalu saya sadar, Raditya Dika itu penulis yang bukunya best seller semua! Meski tak sampai Luar Negeri, cukup best seller National saja. Tapi itu tetap best seller namanya kan? Dan lalu, tipe tulisannya Raditya Dika itukan Bebas Pakem banget toh? Seandainya Chairil Anwar masih hidup, pasti dia dan Raditya Dika jadi rival!
Buku semacam tulisannya Raditya Dika ini,menurut sya tidak akan lulus seleksi kompas, dan juga tidak akan diulas Sapardi Djoko Damono. Alias, anak muda banget!
Kembali ke pertanyaan diatas. Siapa yang sekarang memegang uang? Membeli buku kan pake uang? Buku itu untuk dibaca. Dan buku kayak tulisannya Raditya Dika itu, anak muda doang yang bakal baca kan? (Kalo ada orang-orang tua yang masih baca buku kayak bukunya Raditya Dika, mungkin ,mereka itu punya sindrom MMKB, Masa Muda Kurang Bahagia). Nah... Berarti yang megang uang anak muda donk?
Ini sebuah pemikiran iseng yang muncul tiba-tiba. Logis menurutku. Tapi tak tahu logis atau tidak menurut anda. LOGIs tak logisnya relatif.
Hmmm......
Anak anak muda yang memegang uang itu, mungkin ada yang karena mampu nabung. Atau mungkin yang dikasih uang jajan lebih ama Ortunya. Atau mungkin yang dikasih ama pacarnya. Atau mungkin yang udah punya kerja. Salah satunya yah kayak RadityaDika itu. Dalam umurnya yang masih muda, dia udah menjadi penulis yang bukunya ditunggu-tunggu banyak orang.
MEski harus jujur diakui, bahwa gaya tulisnya banyak yang tak sesuai dengan EYD (Ejaan Yang Disempurnakan) Dan betul-betul keluar dari pakem umum yang dianut sastr umumnya, tapi tak dapat disangkal. Raditya Dika ikut ambil andil besar dalam sejarah kepenulisan Indonesia. Kita bisa lihat realitanya, gaya tulis Raditya Dika mengilhami banyak anaka muda lain untuk ikut menulis, meski tanpa pengetahuan pakem yang mengangkasa. Terlihat dari banyaknya buku-buku bergaya ngawur khas Radith yang tersebar di toko-toko buku terkemuka Indonesia.
Begitulah selalu jiwa muda. Mereka ingin bebas, atau lebih tepatnya, ingin orang lain menerima mereka sebagaimana mereka mau. Anak muda melakukan yang mau mereka lakukan, tanpa berpikir lebih matang, apa itu memang baik dilakukan atau tidak. Sebagian diterima dengan baik, sebagian lagi dicap bengal, tapi gerakan anak muda selalu fantastis.
Dengan tangan dan jiwa yang masih lincah, kalian bisa lihat anak muda betapa berpengaruh bagi dunia. Mereka hadir di semua tempat yang melibatkan manusia. Mereka bahkan menembus ilalang atau hutan atau laut atau jurang, demi menemukan dunia mereka, memperlihatkan sudut pandang yang benar-benar baru. Sebagian dari mereka diapresiasi dengan sangat positif, sebagian lagi sangat dipandang buruk, tapi sebenarnya meraka hanya ingin dilihat apa adanya.
Selanjutnya, mari kita buat cerita kita sendiri.
Salam damai selalu.
Salam Selalu.
Selalu.
Rutinitas Memuakkan? Lalu? Ubah aja!
Rabu, 11 Juli 2012
Sudah tak lagi berkarya padahal belum mati.
Sudah tak lagi bekerja padahal belum mati.
Sudah tak lagi berbagi.
Sudah tak lagi tersenyum.
Sudah tak lagi tertawa.
Sudah tak Lagi mencintai.
Itu namanya mayat yang bernafas.
Sudah lebih parah dari Zombie, zombie setidaknya punya orientasi, pengen makan otak. Sampai bela-belain bangkit dari kubur! Lihat? Zombie masih lebih baik daripada orang hidup yang tak mau melakukan apa-apa.
Kawan, saat kau letakkan kepala di lantai. Rebahan, berbaring, dan memikirkan semua bebanmu. Entah itu hp yang rusak, KRS yang belum selesai diurus, pengen kencing, Adk yang ribut, atau apapun, ketika kau hanya berbaring disana, kau akan merasa dan membuat itu semua semakin berat!! Sungguh, ini berdasar pengalaman pribadi!
Kemarin, Hpku nyemplung di Air. Sakarang lagi tipes, sudah dirawat dengan diselimuti beras. Mohon doa restunya kawan. Supaya cepat sembuh dan gak bikin galau lagi.
Bangkitlah kawan! Meski Wc nya jauh minta ampun, bangkitlah dan pergi buang air, kotoran yang mengendap akan jadi racun mematikan!
Bangkitlah kawan! Kunjungi warnet dan buka portal mahasiswa mu, urus KRSmu. tapi tolong, jangan angkat telponmu, untuk minta tolong teman. Itu namanya pembunuhan berencana. Hehehehe.
Kurang lebih seperti itulah.........
Hal-hal yang beredar dalam kehidupan kita gak boleh bikin kita mati gaya, apalagi mati kutu.
Sudah jauh sekali putar-putar.
Sekarang saatnya diakhiri. Masih banyak hal bodoh lain yang harus saya lakukan.
Diantaranya mungkin guling-guling badan, atau ngegemukin badan. Atau sekedar bertapa.
Bencilah Rutuinitas, yang membuat kita jadi robot.
Salam damai selalu.
Salam selalu.
Selalu.
Membosankan
Minggu, 17 Juni 2012
Nih penjaga warnet pasti keluarganya yang punya warnet. Trus kalo di luar mungkin dia ada band juga, dia jadi vokalist! hm.
Oke, kita biarain penjaga warnet nya nyanyi disitu, biarin. Gue mo bahas warnet ini dulu. Warnet ini baru pertama kalim gue masuki. Nih warnet satu gedung sama apotik. Sebuah kolaborasi yang tidak biasa, tapi rasanya gak aneh deh. Biasa-biasa saja. Mungkin udah keseringan liat yang lebih aneh. Seperti teman gue yang punya rambut gimbal tapi sukanya lagu bugis ma dangdut. Ato guru bahasa arab yang suakanya lagu-lagu inggris. Ada juga dosen yang ngajak mahasiswanya karaokean rame-rame. Atau rektor yang minta tolong salah satu dosen buat bikinin buku. Pokoknya banyak.
Koneksi di warnet ini, tergolong bagus jga. Tapi mari kita lihat komputernya. Khususnya keyboardnya! keyboardnya dah pada goyang semua, kalo diketik jadi goyang dangdut. Tombol-tombolnya berkedat-kedut, macam ada di air. Tpi anehnya gak copot-copot juga. Kuat. Lebih bagus seperti ini juga sih, daripada kayak punyaku yang kelihatan mantap, tapi bisa melompat setiba-tibanya. Keyboardnya berdebu, kayaknya tadi si-Sand Man (musuh spiderman di film ke 3) abis pake nih keyboard tapi penjaga nya lupa nyuci, ato setidaknya ngelap kek. Dan sepertinya, si Sand Man. abis download film yang panjang deh. Mungkin jadi boseb nunggu, malah sembarangan pegang-pegang barang. Buktinya. semua perabot komputer ini penuh debu. Hmmmm. Sand-man harus beli sarung tangan segera.
Di pojok belakang nih warnet ada AC (gak tau AC? Air Conditioner). Gak berasa sama sekali. Turus wcnya gak didalam ruangan. Ini yang bikin gw paling gak enak. Secara saya ini menderita semacam penyakit yang bikin saya jadi sering buang air kecil. Aplagi ini kan di ruang ber AC (meski ACnya tampak tak memberi pengaruh).
Lokasi? Kebetulan lokasinya dekat ma salah satu teman sya. Kalo ada yang mau kenalan, namanya Iswahyudi nur, Ardiansyah. Muh sabir, Adi Baedori, dan Haedir Zaini. ohh.. itu namanya bukan salah satu ya? tapi salah lima. Wahhh banyak banget salahnya.
Wahhhh.....bosan juga nulis gini.
Salam Selalu
*setelah saya baca ulang... penjelasana mengenai posisi Ac itu agak sulit sekali dimngerti... tapi biarlah begitu.
Hidupkan Kembali Pak Harfan!
Kamis, 14 Juni 2012
Film, dari awal munculnya memang sudah menunjukkan potensi untuk jadi salah satu favorit yang bakal paling dicari. Sudah sejak film itu masih hitam putih dan tanpa suara. Sebuah negara melambung tinggi namanya kalau bisa menelurkan sebuah film yang "keren". Negara maju, maupun negara berkembang. Tengoklah india dengan bollywoodnya.
Oke, mungkin indonesia kesulitan mengikuti koreografi india yang waaaww!!. Tapi coba lihat jalan cerita Three Idiots, Taare Zamen Paar.Masih Sulitkah Indonesia mengikutinya? Orang pintar di indonesia banyak koq.
Memang, belakangan industri perfilman Indonesia mengalami perbaikan yang "mengharukan". Sebutlah Merantau, The Raid, Ayat-Ayat Cinta, dan Laskar Pelangi. Tapi itu semua masih jauh dari target yang menurut saya pribadi bisa kita capai.
Dan saya mau menekankan dulu pada film Laskar Pelangi. Sebagai penggemar Fanatik Tetra Logi Laskar Pelangi dalam bentuk novel, saya SANGAT kecewa. Film ini mungkin mendapat sambutan hangat dari berbagai kalangan, tapi saya, dan mungkin banyak pembaca setia Laskart Pelangi lainnya sangat tidak puas. Saya membanding-bandingkan, bukan dengan maksud merendahkan, tapi coba lihat HArry Potter! HarryPotter yang sama-sama film Adaptasi dari Novel. Saya sadar sekali keterbatasan kita. Tapi coba perhatikan.
Sebenarnya, kali ini saya mau membahas serial tv anak yang menjengkelkan itu. Tapi, komentar tentang Laskar Pelangi The Movie ini sudah terlalu lama saya simpan-simpan. Jadi, biarkan saya ngamuk sejenak. Tentu ngamuk dengan cara yang kalem. Tidak grasak grusuk, ato bakar-bakar ban.
Saya mau mulai dengan Pak Harfan. Pertanyaannya. Mengapa Pak Harfan Meninggal? Saya memang tidak mencari-cari faktanya, tapi teman-teman boleh lacak. Dari Novel Laskar Pelangi sampai Maryamah Karpov, pak Harfan SAMA SEKALI belum meninggal. Ya! Setidaknya itu yang ditulis Andrea Hirata di Novelnya. Saya tahu, Andrea Hirata dilibatkan dalam pembuatan film ini, tapi......ahhhh....saya tak tahu mau ngomong apa. Mungkin film ini mau dibikin jadi lebih dramatis, tapi, menurutku, cara yang baik tidak seperti ini. Apa pun motifnya, saya sama sekali tidak respek dengan modus seperti ini.
Lalu, tarian para siswa Muhammadiyah. Oke, keterbatasan. Lagi-lagi keterbatasan membuat pencitraannya tidak maksimal. Tapi ini namanya bukan kurang lagi, tapi Minus! Bayangan saya mengenai gambaran Andrea Hirata mengenai tarian itu rontok seketika. Benar-benar menjengkelkan. Jika film ini mau diliris ulang, sya sangat menanti perbaikannya.
Lalu, Flo. Flo di film Kalem banget. Cenderung lemot malah. Kemayu pula. Padahal, di Novel, Flo adalah petinju perempuan yang disegani. Saya juga menanti perbaikan disini.
Dan satu lagi, Lintang dan Lomba Cerdas Cermat. Okelah, tontonan ini mau ditujukan kepada segala umur. Maunya supaya semua penonton paham substansi film. Tapi, ini namanya kelewatan bro. Silahkan Liat Lintang di Laskar pelangi, Juga kejadian di Cerdas Cermat. Ini titk inti, sebuah simpul yang hilang.
Saya memang tak ada peran apa-apa di pembuatan film ini. Cuma penonton dan komentator saja. Tapi ini setidaknya menunjukkan bahwa saya ini perhatian. Saya peduli. Masih ada banyak masyarakat Indonesia yang Peduli dengan isi film yang ditontonnya.
Kalo lain kali, mau ada film adaptasi lagi, tolong lah mas. Janganlah terlalu di ubah. Apalagi lagi sampai "Membunuh" orang , ato"membunuh" Karakter.