Tampilkan postingan dengan label Minat n pengen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Minat n pengen. Tampilkan semua postingan

It Was A Wrong book, Mate

Senin, 13 April 2015

Menulis adalah mengikat makna. Membaca adalah satu-satunya yang masih mengingatkanku pada siapa aku dulu, pada namamu, pada dirimu. Satu-satunya yang masih mengikatku padamu. Dan tali ini akan kupegang erat-erat. Sejujurnya aku memilih lari. Aku hanya memilih lari dan sembunyi dari semua masalah. Dari semuanya. Aku tak mau menghadapinya, karena rasa sakit diabaikan itu ternyata terlalu sakitnya. Seperti semua lubang hitamku dikumpul jadi satu ditambah satu lagi yang baru setiap kali itu terjadi. Sebuah rasa sakit yang betul-betul tak berwujud. Tak bersulosi. Tak ada tempat lari dan atau sembunyi dari yang satu ini. Karena justru di pelarianlah rasa sakit ini kutemui, justru di persembunyian sakit ini bersarang, Meraja. Dan menerkam segalaku.

Jika menulis adalah mengikat makna, membaca adalah menemukannya. Dan kukira kaulah buku yang tertulis untukku, sebuah buku yang akan kurawat sepenuh hati, kusampul dan takkan kupinjamkan pada siapapun, takkan bosan kubaca hingga berkali-kali. Darimu akan kutulis beribu karya indah tak terperi, karena kau adalah kristal makna yang takkan habis dicacah, takkan selesai dibagi, takkan sempurna dipetakan, kaulah maha makna untukku. Lalu tiba-tiba buku itu menutup setiba-tibanya. Seakan tak pernah dulu buku itu terbuka walau sehalaman, tak pernah untukku. Mendebulah semua makna itu, hilang. Karena hatiku ini rapuh dan lemah dan plin plan. Tak bisa kugenggam, ternyata, pasir makna yang berjuta-juta darimu. Kau menjelma jadi sejuta asteroid di luar angkasa. Mengawang tak berbeban meski sarat massa jika kau masuk ke orbit lingkar gravitasiku. Hai bidadari yang keluar dari kamus tujuh bahasa dan sastra pelangi tujuh warna, kenapa begini jadinya?

Sebuah buku tergolek, diam tak melakukan apa-apa. Tak ada yang tertarik untuk membacanya, tak ada yang tertarik mengikat makna darinya, tak ada yang menganggap ada sesuatupun yang bisa ditulis darinya. Kini kucoba menerka-nerka, jika aku jadi kau. Jika aku jadi Kamu, lalu bagaimanakah terlihatnya aku dari mata Kamu? Apakah sebuah bayangan yang ada tapi tak perlu dianggap ada? Atau debu yang ke-ada-annya selalu siap jadi tapi bisa pula dikebas seketika dan menghilang. Atau hanya sekedar sebuah ada yang menuntut diperhatikan tapi tak penting untuk dirawat dan disayangi, ada yang membingungkan dan mengganggu tapi tak cukup mengganggu untuk diatasi serius. Aku sedang menjadi Kamu, dan yang kulihat hanya seorang laki-laki dewasa tanpa masa depan yang lucu dan menyedihkan. Tapi diatas semua itu, dari mata Kamu kulihat seorang laki-laki LAINNYA. Tak ada yang istimewa, tak ada yang spektakuler, tak ada yang menarik, tak ada, normal dan biasa-biasa saja, bahkan aneh dan cenderung menjijikkan. Laki-laki di depanku ini bau. Bau tak enak yang mengernyitkan hidung, merindingkan bulu kuduk, dihindari orang-orang. Segera aku jadi aku lagi.

Tapi kita takkan pernah tahu kan? Seseorang harus membuka buku itu membacanya. Hei, apa yang ada di dalamnya? Mungkin memang tak ada apa-apa disana, hanya sebuah buku kosong bersampul mentereng yang dilupakan seseorang tanpa sengaja, atau orang itu memang tak peduli pada buku ini. Bisa jadi juga ada sesuatu yang sangat menarik disana, ada tulisan dari seseorang yang tiba-tiba kita merasa mengenalnya. Dan semua orang mulai penasaran. Hei, apa isi buku itu? Ketika semua orang mulai mendekati buku itu. Melihatnya lebih baik. Orang-orang itu menyadari buku itu milik seseorang. Orang itu teman mereka. Mereka menghubungi orang itu. Orang itu datang dan melihat buku itu. Ya, itu bukuku, katanya. Tak ada yang mau kuberi buku ini? Dia bertanya. Tak ada yang mengangkat tangan, awalnya. Lalu satu tangan terangkat, lalu dua. Buku ini buku tua, katanya. Antik, katanya. Takkan kuberi siapa-siapa, katanya, tersenyum miring

Ya sudahlah, kita semua orang baru disini kan? Ayo pulang. Buku itu? Buku itu milik dia.

>>>>>>

Sekian
Salam Selalu

Aku Temannya Budi

Senin, 24 November 2014

Aku pernah punya kawan, kawanku baik hatinya. Namanya Budi. Budi baik sekali. Dia suka menolong orang, diapun senang mengajarkanku cara mengerjakan pe er. Budi pintar sekali. Aku senang berteman dengan Budi. Budi juga senang berteman denganku. Budi bilang aku kawan yang baik, karena pernah memberinya buah kelapa. Padahal itu aku hanya memanjat saja. Juga kata Budi, karena aku sering memberikan dia ikan. Padahal aku hanya memancing saja. Ikan itu lalu dibakar oleh ibu Budi. Aku diajak makan bersama, rasanya enak sekali. Aku juga suka ibu Budi. Ibu Budi pintar memasak.

Nama ibu Budi adalah Aminah. Selain jago memasak, Ibu Budi juga pandai menjahit. Semua baju Budi, Bu Aminah yang jahit, kata Budi. Jahitannya bagus sekali. Aku juga mau dijahitkan baju sama Bu Aminah. Tapi aku malu mau bilang sama Bu Aminah. Ibu Aminah juga pandai bermain piano. Bunyi piano merdu sekali. Aku sering diajaknya bernyanyi. Kata Bu Aminah suaraku bagus. Setelah bermain piano dengan Bu Aminah, aku pulang ke rumahku.

Di rumahku ada ayah dan adek. Ibu sedang di pasar bersama kakak. Ayah sedang menulis, adek bermain penggaris dan pulpen. Ibuku memang suka berjualan, sehingga sekarang sudah memiliki toko yang lumayan besar di pasar sana. Kakakku senang berhitung dan memerintah orang-orang, tapi dia pintar menyuruh, sehingga yang disuruh tak merasa diperintah dan senang saja menurut. Kakakku menyuruh-nyuruh orang-orang yang bekerja di pasar ibu tentunya. Uang yang kami dapat dari toko, kata ayah dan kakak, sedikit saja. Karena ibuku sangat baik. Dia senang sekali memberi sana sini hasil penjualan dari toko sepulangnya dari pasar, sebelum sampai ke rumah. Aku senang ibu begitu. Orang yang baik disayang Tuhan, kata ayah. Aku senang ibuku disayang Tuhan. Orang yang disayang Tuhan pasti bahagia, kata ayah.

Ayahku senang menulis, sudah banyak kulihat ada buku yang ditulis ayah, sering kulihat nama ayah di toko buku. Sering lama lama aku tak sengaja berdiri di depan rak toko buku yang ada buku Ayah nya. Aku senang, seperti mau terbang, seperti balon yang membesar. Ayah bilang itu namanya bangga, katanya sambil menangis. Aku bertanya kenapa ayah menangis? Ayah bilang dia sangat senang karena aku bangga melihat nama ayah. Aku tak mengerti, kenapa senang koq malah menangis? Tapi yang aku tahu aku akan selalu bangga pada Ayah, pasti.

Adikku pintar sekali, mungkin lebih pintar dari budi. Sudah pasti adikku lebih pintar dari aku. Tapi dia tidak pandai memanjat dan memancing. Aku pikir aneh, kenapa orang sepintar adikku tak pintar pula memanjat dan memancing. Mungkin dia malas saja belajar memanjat dan memancing. Dia lebih senang berhitung dan membaca. Meski kulihat lebih banyak berhitungnya. Kakakku juga senang berhitung, tapi beda. Kakakku senang menghitung jumlah beras, garam, menetega dan gula. Sedangkan adik lebih senang menghitung tinggi gunung, rumah, luas rumah dan soal soal matematika yang kelihatannya susah sekali. Pernah kutanya Budi tentang itu, lalu kata Budi itu....... kulkas? Semacam itu, aku lupa. Tapi satu yang paling ayah ibu senangi dari kami. Kami pintar mengaji!

Aku masih ingat, waktu khatam jus 30 kemarin, aku dibelikan martabak! Aku senang sekali. Kubagi martabak pada adik, kakak dan Amon, setelah kupisahkan bagian untukku yang lebih banyak. Amon itu nama pembantu kami. Dia baik juga rajin. Diantara kami, kakak yang paling pandai mengaji. Kalau kakak mengaji, aku berhenti main gasing, adik melepas pulpen dan penggaris, ibu berhenti menghitung barang, ayah berhenti menulis. Barulah setelah kaka selesai mengaji, semua kembali seperti semula. Amon yang tadinya cuma berdiri bengong sambil memegang gagang sapu juga jadi kembali menyapu. Aku senang mendengar kakak mengaji. Aku mau pandai mengaji seperti kakak. Kalau sudah malam, kami semua pergi tidur. Meski kalau sudah di kasur, kadang aku sulit tidur. Banyak sekali yang mau kulakukan besok.

>>>>>
Sekian
Salam Selalu

Aku ini Aku, aku si aku.

Sabtu, 22 November 2014

Lets do it fast, okay? A poem should be good by now.. So a poem it is. Now, Should we?

Aku nyalang dan terang, mataku belalak lalak.
Aku teriak dan garang, aku ngelakoni.
Oh, eh.. putri.. gadis.. cewek. kamu. Tuju.
le lek lek... Teredam malukah aku, terbakar takutkah aku. Hilangkah itu?
Wah tidak.. Sama sekali tidak. Sembunyi dia.

Suntuk, aku kutuk. Kubur saja kubur!
Kubur lagi, kubur! Bakar ajalah tu, bakar!
Kan ya seingatku tak begini, apa? apa? APA??!

Suram suram, karabam bam.. nguik nguik.. Holloh.. holloh!
Yeah yea yeah.. We knew it all along. I just pretend to be blind.
No, I just paralyzed. I just fall. I fall deep.

Kayak ndak pernah terjadi itu, tapi pernah.
Kayak ndak pernah tertulis itu, tapi pernah.
Kayak nda pernah ada itu, tapi ada.
Cinta, kenapa mesti selalu begini jalannya?
Ya aku salah. Ya aku salah. Ya aku tahu aku salah.
Aku salah. Aku tahu salahku apa.
Aku cuma tak mau percaya.
Pura pura tuli dan buta.
Aku bisu, bisu meraja.
Aku terkungkung, lama.

dan Kukira kau beda.

Sekian.
Salam selalu.

Aku Mau Disini Terus

Kamis, 20 November 2014

Aku mau tinggal disini saja terus, dalam kamarku. Ac sudah dingin lagi, wify lancar, ada selimut, ada banyak buku. Aku mau tinggal disini saja terus. Supaya tidak usah capek jalan kaki keluar. Tidak usah capek capek makan. Tidak usah capek capek buat orang ngerti, bicara sama orang. Gak usah dengar hal hal yang menjengkelkan. Tidak usah ketemu kamu. Malam ini aku mau di kamar saja terus, sendirian.

Aku baru saja menamatkan novel atau apalah namanya buku yang berjudul Rahvayana, karangan Sujiwo Tejo yang kata dianya mungkin lagi kerasukan Rahwana. Lucu juga, aku suka gayanya. Buku itu rekomendasi teman dari jawa timur, yang memang beliau suka sama Sujiwo Tejo. Isinya bagus ternyata, enak dibacanya, asalkan kamu ndak usah maksa-maksain paham, pasti bisa kamu tamatkan. Soalnya cara dia nulis ini rada-rada ngawur. Kerennya ini buku disertai kaset lagu segala, iya sih udah banyak yang kayak gitu. Tapi kalo saya seingatku ya baru pertama kali ini aku punya. Ada sajak sajak nya setelah cerita inti selesai. Setelah cerita inti bahkan disertakan daftar pustaka. Subhanallah.

Aku sih ya sebenarnya lumayan puyeng juga bacanya, soalnya banyak nama wayang. Morodadi, Sarpakaneka, Wibisana, Trijata dan banyak banyak laiknya, ada batara lah... resi lah.. dewi lah... hanuman... banyak kera! Aneh aneh saja kalo kalian mau paksa paksa ngerti. Makanya mata dosenku kemarin, banyak baca referensi ringan serius dulu baru baca bukunya. Ah embuh, yang penting sekarang saya lagi hampa. Asik ah,  ngebahas hampa mulu aku ini.

Besok mau kuliah regular, mengulang buat perbaikan nilai, belum nyusun skripsi. Ini lagi skripsi ahh bikin keki. Ppl juga harus nyerahin laporan, apaan! Resiko situ jadi mahasiswa, ya kerjain lah! Kerjain woy kerjain! Hallah... aku sih mau leyeh leyeh, malas-malasan ogah-ogahan. Tidak boleh begitu sih seharusnya.

Lagian kenapa dijudes-cuekin sampai segitunya siyyy?! Aku kan jadi gemes-gemes asem gimanaaaaa gitu. Atau cuma perasaanku saja ya? Ah... sadarlah boy, nggak mungkin.. iya nggak mungkin.. nggak mungkiiiiinnn.. kinnnn.kinnn.... Sudahlah nyerah saja... Tinggalkan dan Lupakan sja mimpi mimpi itu. Hanya mengganggu tidur panjang kita. Tidur yang melana hinakan. Bangun bangun sudah ada nyala api berkobar di depan mata. Hayoooo..

Sudahlah, kita sudahi saja. Bingkai bungkusan kamu saya jadi makin ambil tempat saja, jadi sulit aku dan kau saling mengerti satu sama lain. Ahh.. siapa sih aku?! Malam ini aku mau tinggal disini saja. Aku mau malas-malasan sampai..... sampai jatuh cinta itu enak.

Sekian.
Salam Selalu.

Kupenuliskah

Kamis, 30 Oktober 2014

Mungkin akan hanya aku yang terus mengenang seorang Iqbal Saja sebagai penulis.

Lahir dalam sebuah keluarga sebagai anak tertua atau pertama, catatan hidupku datar saja. Kalaupun ada beberapa dalam hidupku yang kalian tahu istimewa itu tak lain hanyalah kehebatan kedua orang tuaku dan ridha allah semata. Bahwa aku bisa pergi ke maroko dan dibeasiswa selama setahun disana, hanya sekolahku yang hebat dan menunjukku sebagai wakil. Singkatnya dari apa yang kulakukan tak ada yang begitu luar biasa, maka jarang kubangga banggakan apa yang pernah terjadi padaku. Pun jika kalian dapati ada hal hal istimewa dalam tulisan tulisanku ini, maka aku bersyukur pada Allah Swt. Karena sejujurnya, sejauh ingatanku, aku hanya mau mengaku diri sebagai penulis. Menjadi penulis yang karyanya dibaca dan menginspirasi banyak orang sudah menjadi mimpi yang menghantuiku sejak kecil.

Dari kecil, sejak tahu cara membaca, aku sudah mulai berusaha membaca banyak hal. Masih ingat aku, bagaimana ayahku membuat sebuah buku dengan tulisan tangannya sendiri agar aku mengenal huruf dan penggunaannya dalam susunan kata. Beliau tulis dalam sebuah notes sederhana, yang kerap kita lihat dipakai wartawan tempo lama. Yang ituloh, yang kalau mau membuka halaman selanjutnya, maka caranya adalah membuka kertas ke atas bukan kesamping. Maka setiap melihat notes seperti itu, selalu hinggap padaku rasa akrab yang mendalam. Setiap melihat notes seperti itu, sadarlah aku, Ayahku jauh di dalam hatiku adalah pahlawan besar. Buku itu dulunya selalu kubawa bawa kemanapun, masanya ialah sebelum masuk sd klas 1. Jadi aku sudah mengenal abjad sebelum masuk sd, lengkap dengan cara bacanya, penyambungannya. Saat itu aku belum sadar, kalau aku sedang jatuh cinta. Jatuh pada dunia baca tulis.

Waktu berselang, tahun berlalu. Banyak hal berubah, notes itu sudah tak tahu entah dimana, tertinggal di kenangan, 17 tahun lalu. Tapi cintaku pada baca tulis tak berubah, malah semakin tergila-gila. Di sd, majalah Tiko, bobo, beberapa komik dan koran koran kubaca sangat sering. Dan disana itu saja aku melampiaskan rasa, komik, majalah, koran, dan beberapa cerpen di buku pelajaran sekolah. Kadang saat sedang sendirian dan tak ada yang mau dilakukan, aku mulai membuka buku dan mengambil pulpen, menggambar sesuka hati. Anak kecil mana yang tak suka menggambar? Tapi waktu kecil aku pernah mengarang sebuah lagu. Judulnya Cinta Putih. Kala itu, aku sendiri yang punya konsep lagu begitu sehingga rasanya konyol sekali, sekarang pasti sudah banyak lagu judul begitu.

Semasa smp lah dia menjumpaiku, Sebuah Novel. Berlatar peristiwa WTC yg ditabrak pesawat, novel tipis ini, bahkan sangat tipis sebenarnya, mengisahkan sepasang kasih yang terpisah karena si lelaki wafat pada kejadian itu. Membacanya, merasakan luka sang gadis, perjuangannya dalam membuka hati yang terlanjur mati, penerimaannya pada hati yang baru. Dan aku hanyut begitu saja. Setelah menutup halaman terakhir novel itu, saya tahu saya mau buat yang seperti ini juga! saya mau buat yang beginian!

Sejak itu aku menjadi pembaca setia novel-novel apa saja yang kusuka. Tak ada genre khusus, selama bisa membawaku hanyut, aku suka. Dan ternyata menulis tak semudah membaca. Perlu tekad, kepercayaan diri yang tinggi, mental yang tangguh. Kesemuanya itu aku tak bisa miliki sepenuh waktu. Kadang aku ya, kadang aku tidak. Jika sedikit saja masalah datang, langsung aku kalah dan melemah, lalu menyerah. Sudah ada puluhan naskah. Tapi yang kumulai selalu tak bisa kulanjutkan. Seperti sebuah kutukan yang lengket tak mau lepas.

Kutukan yang agaknya juga menghujani aspek hidupku yang lain. Kuliah setengah setengah, cinta yang melemah loyokan, tugas yang dikerjakan seadanya, hidup yang serba tidak maksimal dalam usaha. Meringkuk dalam rasa malu. Meringkuk dalam rasa kalah. Meringkuk dalam rasa bersalah. Meringkuk saat marah. Meringkuk, berbaring, melemah.

Aku tidak punya rencana, cuma selembar harapan usang, beberapa doa, dan sebuah sumpah. Kegelapan mengelilingi sedikit cahaya terang. Aku berjalan dan terlelap. Aku lelah dan berbaring. Aku malu dan bersalah. Aku hina dan berdosa. Tapi aku berdoa, semoga besok jadi lebih baik.

Salam selalu

Ah! Selamat Selalu!

Kamis, 05 Desember 2013

Hari ini saya lumayan senang, kayaknya emang harus bahagia. Sudahlah, biar air mata darah turun, tenggorokan keselek tusuk gigi, gigi sakit karena bolong parah, nampaknya mengeluh tepat tidak memperbaiki apa-apa. Jadi tak apa menangislah. Muka ini jelek, badan ini gemuk, celana kesempitan, baju kotor bertumpukan tetap bukan alasan untuk berkeluh-kesah lantas malas ngapa-ngapain. Jangan malas! Boleh rajin tidur, rajin maen game, rajin makan, tapi jangan MALAS. Bahkan saat suhu di kota/desa kamu telah mencapai 3 derajat celcius, lantai tehel/tegel terasa seperti balok es, air yang keluar dari keran terasa seperti keluar dari freezer, tetap malas tidak membawa efek positif sama sekali. Jadi bergerak, menulis, membaca, nonton film, makan, duduk-duduk sambil nyanyi, baringan sambil tereak-tereak, masih bagus.

Paragraf baru seharusnya berarti ide baru, sesuatu yang memang misah dengan paragaraf sebelumnya. Jika sebelumnya kita bicara soal 1, maka di paragraf berikutnya kita boleh bicara tentang 2. Tapi juga tidak apa-apa jika tidak seperti itu, kan? Toh warna biru dan hijau yang betapa jelasnya masih sering tertukar di lidah dan mata beberapa orang (banyak), sama kasusnya seperti kata hati dan jantung yang sangat sulit ditemukan relevansi di kehidupan nyatanya dan di dunia kedokterannya (kedua kasus ini sepertinya cuma di Indonesia). Paragraf baru juga sepertinya dimaksudkan supaya mata pembaca tidak jenuh dalam memandang. Ada seni keindahan tersembunyi yang memanjakan mata di satu kata kecil seperti paragraf itu...Meski pargraf juga agak nyebelin bagi penulis pemula sperti saya jika terlalu pendek. Kesannya saya seperti kekurangan bahan dan malas menulis (padahal iya). Disitulah mungkin mengapa nulis itu sulit sekali.

Seringkali saya katakan atau tuliskan atau ketikkan dalam tulisan saya bahwa "Menulis itu Sulit". Saya paham mungkin ini penyebabnya. Menulis berbeda dengan bercerita dengan mulut. Menulis beda dengan ngobrol, bicara. Menulis itu seperti berkata-kata sendirian, ada sensasi gila yang terwajari disini. Kadang tanpa sadar menggelitik otak kita, ada sebuah pertanyaan muncul "Hal mengerikan apa ini yang sedang saya lakukan?". Dan kadang gelitikan itu mensentak tangan kita dan disitulah saya berhenti menulis. Tapi ada pula yang mengabaikan gelitikan itu, terus maju.... bahkan ada yang menganggap gelitikan itu malah gas tambahan yang membuat dia melesat semakin kencang.. Orang-orang gila seperti Maha Guru Radit atau Pak Andrea Hirata mungkin paham ini. Saya hanya penulis pemula yang sempat menyicip kemanisan menulis tapi masih belum kuat menahan pahitnya. Masih panjang jalannya untuk diakui orang lain, meski sudah ada beberapa yang memuji.

Lihatlah ini, sepanjang jalan tadi saya ngawur seperti kumur-kumur obat sakit gigi. Tapi di tengah situ tiba-tiba koq saya jadi resmi dan terarah? Hehehe.. Padahal waktu masih solat tadi rencananya mau ngulas tentang kejadian demam Candy Crush yang lagi mewabah di rumah, yang sampai sepertinya bakal mengakibatkan demam betulan. Karena main Candy Crush bisa sampai bkin naik darah kalo gak naik-naik levelnya. Sering-sering naik darah bisa bikin pembuluh darah bengkak, apalagi salah satu korbannya ada yang memang punya darah tinggi. banyak pekerjaan terbengkalai karena Candy Crush. Seperti nyuci baju, nonton film ato ngisi blog.. hehe

Jadi intinya hari ini banyak kejadian yang terjadi meski sebenarnya hari ini saya tidur dari pagi sampe sore. Pas bangun langsung Solat duhur, mumpung asarnya belum masuk, Setelah solat duhur adzan Ashar langsung menyambut, dan shalat asarlah saya mumpung belum batal wudhunya, soalnya malas wudhu lagi... Berhubung airnya sangat dingin. Lalu saya baca komik, Buka puasa, Solat Maghrib, Dibaan... Ada acara makan-makan juga.. Soalnya tasyakuran yang baru pulang haji lagi dirumah. habis Tasyakuran (makan-makan) ada sedikit nyanyi-nyanyi.. Gitaran... Dan Sekarang.... Habis Shalat isya, di tengah nonton film dan main Candy Crush.. Saya tamatkan dulu tulisan ini....

Salam Selalu,...
Selamat selalu.....

I Got Confused

Rabu, 04 Desember 2013

Dua cerita fantasi yang sedang kugarap sedang dalam masa tak aktif, sudah lama tak kuisi. Bahkan sekarang aku kehilangan alur cerita yang kutulis sendiri itu... Kisah tentang Roki dan Firapu. Mereka berdua adalah tokoh utama dari dua zaman berbeda, dan dari 2 kisah berbeda pula. Mereka berdua bisa dikunjungi di http://dd4217bz.blogspot.com/ untuk Roki dan di http://firapu.blogspot.com/ untuk Firapu. Mereka pasti sekarang sedang bosan malas-malasan bersama teman-teman mereka yang juga sudah kureka-reka. Alur cerita yang lumayan Absurd dan semoga keren hadir dari kompleksnya bahan bacaanku. Harry Potter karya J.K Rowling, Twilight karya Stephenie Meyer.. dan banyak lagi.

Jadi sekarang biarlah saya tulis apa-apa sajalah. Jadi setiap hari itu ada saja kejadian yang sebenarnya asik sekali untuk diceritakan. Meski sulit untuk menceritakannya lewat tulisan. Siapa saja dimana saja bisa jadi pelawak hebat tapi tidak terkenal, yah... gak selalu karena gak nulis sih. Nah loh? Jadi hubungannya apa. Udahlah pokoknya gitu deh.. Gak usah mikir yang njilemt njlimet dulu.. Cuma deadline mo menuh-menuhin blog ini koq. Memang sih kalo mau jadi penulis ya harus serius katanya. Sudah harus latihan nulis dengan baik dan benar, harus berani dan tahan nulis yang bener-bener. Siap bosen, siap nguras pikiran dan bla bla bla. HARUS SIAP CAPEK, DAN HARUS CAPEK!! TITIK!

Saya tahu itu benar betul.. Mimpi ini bukan mimpi mudah, tapi disinilah saya dengan pedenya ngaku saja "Saya Mau Jadi Penulis".. Dengan nada seperti mau ditraktir donat terus bilang "Saya mau yang Coklat".. Semua kerumitan mimpi ini membuatku merasa agak ngeri, deh. Tapi memang terbukti juga akhirnya, mimpi saja gak cukup buat keren, harus BANGUN. Dan melakukan sesuatu. Umurku sekarang 21, sudah cukupkah bahan yang saya punya untuk ngejar mimpi ini.. Sanggupkah? Pantaskah? Sempatkah? Saya mau bikin karya seni tentang hidup, di tulisan bagus juga, kan?

Tapi seperti besi ikat pinggang yang perlahan karatan, semangat saya juga bisa auuusss.s.. .. Lenyap nguap meruap. Ah.. Benarkah mimpi memilih? Benarkah Pemimpi DIPILIH? Teori siapa? Pengen dong ngobrol panjang sampe pagi terus ngakak kayak orang gila, makan mi rebus ato mi goreng.. Nasi goreng juga boleh.. Asal yang merah. Saya suka yang Merah, yang khas Jawa Timur. Meskipun katanya kurang sehat. Oke.. Jadi semangat saya ternyata auss.. Mimpi saya terasa makin jauh, waktu gak punya waktu untuk kompromi. Dan saya iri, Men. Iri sama kesuksesan orang-orang yang lebih tua dari saya, bahkan yang lebih muda juga ada. Bukan iri pada apa yang mereka dapatkan (oke, itu juga si), lebih condong iri ke Orangnya. "Gilak! Mereka koq bisa ya! Saya juga pengen bisa dong!!!! Please God!! Help MWEWW... " Nah.. Sperti itu iri saya. Semoga iri yang sehat yah, Sodara-sodara...?

Cara tulis seperti ini sudah dipopulerkan oleh sang Maha Guru Raditya Dika. Dan dicampur sedikit gaya ceplas ceplos nya Andrea Hirata. Jadilah ini tulisan tulisan gado-gado ngawur gaya Iqbalisme. Pokoknya asal blog ini keisi. Tunggu saja, 3-4-5-6-7-8-9-an tulisan kedepan bisa jadi berbau sama. Semoga kalian yang (koq bisa bisanya ) jadi pembaca setia gak jenuh. Karena saya Iya. Jadi sebnernya wajat kalian jenuh juga.

Huh.. Hidup ini rumit yah/? Ada mimpi, ada cinta. ada keluarga. Mereka semua seakan minta jatah dari kita. Semuanya Dibagi-bagi dijatah.// lama lama sumpek. Tapi ternyata tak pelak harus diakui, begitu pula yang saya lakukan sama orang. Diam-diam saya minta ditolerir, diam-diam saya minta dikagumi, diam-diam saya minta dipuji, diam-diam saya minta dicintai, diam-diam saya minta dilayani. jadi sebenarnya tak jauh beda ya, sama mereka yang sengak sombong tak tahu diri, tolol songong sok perkasa dan nyebelin itu? Bedanya cuma di titik publikasi dan data. Kalo mereka lebih sering terlihat dan terdengar jelas, punya saya cuma kemresek hilang datang timbul tenggelam.

Start-nya tadi apa sudah jelas bodo amat. Sepanjang jalan banyak paku duri.. gak papa. Ngehindar saja. Ini saya mulai pegang muka. Ini sudah ngawur sekali betul. Kasihan kalian yang baca. Kasihan blog saya juga sebenarnya. Saya sering baca ulang tulisan saya sendiri. Tersenyum.. lalu termenung.. Kadang mengira-ngira... Ada jugakah yang tersenyum di paragraf ini sperti saya sekrang? Uh.. Adakah yang tahu paragraf ini ada? Ah.... Terlalu melankoli sebenarnya, tapi iya... Saya penasaran respon pembaca gimana? Tapi saya ini bukan siapa-siapa, belum. Pengen juga jadi penulis.... Pengen Nulis Cerpen... Pengen nulis Novel... Pengen dipuji cerpennya.... Pengen dibaca novelnya.. Pengen dikoment. Ujung-ujungnya.. yah... pengen diakui...

Lalu?

Salam Selalu.......

Bersama, The Script.

Minggu, 11 Agustus 2013

Setelah bertahun-tahun mengalami galau, saya mendapatkan beberapa pelajaran. Seenggak-enggaknya kurang lebih saya tahu galau itu apa, gimana rasanya, dan apa saja syarat-syaratnya kalau mau  galau kamu itu asyik. 

Galau itu adalah satu dari sekian banyak jenis perasaan untuk menggambarkan suasana negatif yang terjadi di hati manusia, (atau mungkin juga di makhluk lainnya). Galau sering digambarkan dengan warna hitam, atau abu-abu, atau kuning. Warna-warna yang menggambar suasana lemah atau frustrasi atau benci, atau apalah namanya, You Name It!!. Maaf, defensi ini tidak ada sumber tertulisnya, gak saya ambil di KBBI juga. Jadi kalau ada ketidak-samaan pendapat dalam hal ini tidak usah dirundingkan panjang-panjang. Hanya buang-buang umur saja.

Rasanya galau itu sepat, pahit, atau hambar, tergantung kasus keadaan atau lidah (atau maksud saya hati) masing-masing. Seperti yang sering saya bilang, ada tempat, ada waktu, ada kejadian. Galau itu semacam obat kuat yang konsumsi Noya gak bisa sembarang orang. Rasanya yang tidak bisa di tolerir itu bisa menimbulkan situasi-situasi yang tidak terduga. Seperti halusinasi berat, sakit tak terdeteksi, kemalasan berganda, bau badan berlebihan, senyum datar, ketawa jahat, dan hal-hal aneh lainnya.

Seenggak-enggaknya ada beberapa syarat yang harus terpenuhi kalau mau galau kamu itu asyik. 

1.     Harus di tempat khusus area galau.
Ya, lacaklah di kota atau kabupaten anda titik-titik seperti itu. Tuhan maha Pengasih maha Penyayang, rasa kasih sayang Nya menyeluruh ke semua orang, termasuk orang galau. Jadi emang ada beberapa titik yang Tuhan ciptakan itu pas banget banget buat bergalau ria. Katakanlah pinggir pantai, puncak gunung, di atas pohon, di gua, dll, ada juga yang buatan manusia, contohnya kamar, ruang tamu malam hari, tempat tidur, kamar mandi (?). Pokoknya sesuatu sperti itu lah,... You Name It.

2.     Area galau itu harus sepi. 
Bahkan kalau bisa kamu sendiri doang di tempat itu. Gak lucu kalau kamu galaunya ramai-ramai (maksudnya ada di area galau yang sama dengan orang galau lainnya). Bayangkan lah kamu sedang galau, terus tiba-tiba kamu keceplosan ngedumel “Ah... Padahal hubungan kita ludah jalan 3 tahun, kenapa kita putus”. Tiba-tiba orang galau di samping kamu ikut ngedumel “Ah.. padahal hubungan kita ludah 6 tahun, kenapa kita putus”, terus ada lagi yang ngedumel “Ah... padahal hubungan kita udah... (kamu dan orang galau kedua tadi diam mendengarkan) ah.. sudahlah.!!!”. Nah kan gak seru, jadinya kayak ada ajang lomba galau gitu. Tiba-tiba orang ke-empat, (oh Tuhan, kenapa 4 orang galau bisa ngumpul di satu area, apkah tanda kiamat sudah dekat) nyenolong Aja pergi Gak momong apa-apa. Selidik demi selidik ternyata dia galaunya karena gak pernah pacaran.

Galau bisa diderita siapa saja, penyebabnya bisa apa saja, untuk beberapa orang, galau malah bisa terjadi tanpa alasan tertentu. Bagi mereka, galau sudah seperti makanan sehari-hari. Mereka tak tahu kapan itu bermula, ketika sadar, galau sudah ambil tempat. Tidak mau pindah ke mana-mana. Kadang gak ada pilihan selain bilang,”Yah.. Sudahlah!”. Bukan berarti mereka sudah terbiasa. Rasanya tetap sesepat biasanya, tidak jadi manis karena sering dirasakan. Tapi mereka belajar menjalani hidup saja.

Saya mau bawa materi ini ke panggung Stand Up Comedy satu hari....

Salam selalu....
(Band The Script lagu-lagu nya keren.!)


Siapa Sekarang yang Memegang Uang?

Kamis, 12 Juli 2012

Siapa sekarang yang memegang uang?

Biasanya, saya bukan orang yang terlalu mikirin uang (pelanggan pulsa gue langsung protes). Iya bener, saya orangnya juga dermawan (teman sekelas gue langsung protes). Terus saya ini juga senang menabung (emak gue langsung protes). Dan terlebih, saya ini ganteng (orang yang kenal-maupun yang gak kenal gue langsung protes. Trus, saya ini (BUUukkkk!! giliran pembaca tulisan ini yang protes).

oKE, intinya, biasanya saya tak terlalu memikirkin uang. Lalu mengapa pertanyaan diatas muncul dalam otak saya? Otak di dalam kepala saya. Apakah otak benar berada didalam kepala saya? Pertanyaan yang cocok untuk anak fakultas kesehatan dan kedokteran. Yang pasti otak saya tidak didalam kepala Budi. Karena Budi dan Ani sedang pergi ke pasar.

Sudah 2 paragraf dan 3 kali spasi, tapi inti permasalahan sama sekali belum tersentuh. Sabar... Toh kamu juga lagi nganggur kan? Ya. Hanya orang-orang kurang kerjaan yang nekat buka blog ini.

Sebagai apresiasi atas kesabaran anda, saya akan ceritakan alasan saya mengajukan pertanyaan di atas. Tapi bolehlah, mungkin kau ingin menebak-nebak?

Kau mau ngutang ya?
Bukan.
Kau mau minjem ya?
Pertanyaannya sama aja yang diatas, jadi jawabannya sama juga.
Kau pengemis ya?


Yang itu tidak usah sya jawab. Mengacaukan saraf saja.

Oke. Jadi, tadi saya habis buka blognya Raditya dika. Dan lalu saya sadar, Raditya Dika itu penulis yang bukunya best seller semua! Meski tak sampai Luar Negeri, cukup best seller National saja. Tapi itu tetap best seller namanya kan? Dan lalu, tipe tulisannya Raditya Dika itukan Bebas Pakem banget toh? Seandainya Chairil Anwar masih hidup, pasti dia dan Raditya Dika jadi rival!

Buku semacam tulisannya Raditya Dika ini,menurut sya tidak akan lulus seleksi kompas, dan juga tidak akan diulas Sapardi Djoko Damono. Alias, anak muda banget!

Kembali ke pertanyaan diatas. Siapa yang sekarang memegang uang? Membeli buku kan pake uang? Buku itu untuk dibaca. Dan buku kayak tulisannya Raditya Dika itu, anak muda doang yang bakal baca kan? (Kalo ada orang-orang tua yang masih baca buku kayak bukunya Raditya Dika, mungkin ,mereka itu punya sindrom MMKB, Masa Muda Kurang Bahagia). Nah... Berarti yang megang uang anak muda donk?

Ini sebuah pemikiran iseng yang muncul tiba-tiba. Logis menurutku. Tapi tak tahu logis atau tidak menurut anda. LOGIs tak logisnya relatif.

Hmmm......
Anak anak muda yang memegang uang itu, mungkin ada yang karena mampu nabung. Atau mungkin yang dikasih uang jajan lebih ama Ortunya. Atau mungkin yang dikasih ama pacarnya. Atau mungkin yang udah punya kerja. Salah satunya yah kayak RadityaDika itu. Dalam umurnya yang masih muda, dia udah menjadi penulis yang bukunya ditunggu-tunggu banyak orang.

MEski harus jujur diakui, bahwa gaya tulisnya banyak yang tak sesuai dengan EYD (Ejaan Yang Disempurnakan) Dan betul-betul keluar dari pakem umum yang dianut sastr umumnya, tapi tak dapat disangkal. Raditya Dika ikut ambil andil besar dalam sejarah kepenulisan Indonesia. Kita bisa lihat realitanya,  gaya tulis Raditya Dika mengilhami banyak anaka muda lain untuk ikut menulis, meski tanpa pengetahuan pakem yang mengangkasa. Terlihat dari banyaknya buku-buku bergaya ngawur khas Radith yang tersebar di toko-toko buku terkemuka Indonesia.

Begitulah selalu jiwa muda. Mereka ingin bebas, atau lebih tepatnya, ingin orang lain menerima mereka sebagaimana mereka mau.  Anak muda melakukan yang mau mereka lakukan, tanpa berpikir lebih matang, apa itu memang baik dilakukan atau tidak. Sebagian diterima dengan baik, sebagian lagi dicap bengal, tapi gerakan anak muda selalu fantastis.

Dengan  tangan dan jiwa yang masih lincah, kalian bisa lihat anak muda betapa berpengaruh bagi dunia. Mereka hadir di semua tempat yang melibatkan manusia. Mereka bahkan menembus ilalang atau hutan atau laut atau jurang, demi menemukan dunia mereka, memperlihatkan sudut pandang yang benar-benar baru. Sebagian dari mereka diapresiasi dengan sangat positif, sebagian lagi sangat dipandang buruk, tapi sebenarnya meraka hanya ingin dilihat apa adanya.

Selanjutnya, mari kita buat cerita kita sendiri.

Salam damai selalu.
Salam Selalu.
Selalu.

Hidupkan Kembali Pak Harfan!

Kamis, 14 Juni 2012

Saya sedih dengan perfilman indonesia. Jujur saya ini penikmat fanatik film, tapi sering sedih kalo liat industri film negara ibu pertiwi. Gimana enggak coba? Sementara orang lain sudah mendaratkan Robot Raksasa di sisi gelap bulan (Transformers 3), kita malah masih ngerebutin telur ajaib (serial Tv Blangkon Ajaib).

Film, dari awal munculnya memang sudah menunjukkan potensi untuk jadi salah satu favorit yang bakal paling dicari. Sudah sejak film itu masih hitam putih dan tanpa suara. Sebuah negara melambung tinggi namanya kalau bisa menelurkan sebuah film yang "keren". Negara maju, maupun negara berkembang. Tengoklah india dengan bollywoodnya.

Oke, mungkin indonesia kesulitan mengikuti koreografi india yang waaaww!!. Tapi coba lihat jalan cerita Three Idiots, Taare Zamen Paar.Masih Sulitkah Indonesia mengikutinya? Orang pintar di indonesia banyak koq.

Memang, belakangan industri perfilman Indonesia mengalami perbaikan yang "mengharukan". Sebutlah Merantau, The Raid, Ayat-Ayat Cinta, dan Laskar Pelangi. Tapi itu semua masih jauh dari target yang menurut saya pribadi bisa kita capai.

Dan saya mau menekankan dulu pada film Laskar Pelangi. Sebagai penggemar Fanatik Tetra Logi Laskar Pelangi dalam bentuk novel, saya SANGAT kecewa. Film ini mungkin mendapat sambutan hangat dari berbagai kalangan, tapi saya, dan mungkin banyak pembaca setia Laskart Pelangi lainnya sangat tidak puas. Saya membanding-bandingkan, bukan dengan maksud merendahkan, tapi coba lihat HArry Potter! HarryPotter yang sama-sama film Adaptasi dari Novel. Saya sadar sekali keterbatasan kita. Tapi coba perhatikan.

Sebenarnya, kali ini saya mau membahas serial tv anak yang menjengkelkan itu. Tapi, komentar tentang Laskar Pelangi The Movie ini sudah terlalu lama saya simpan-simpan. Jadi, biarkan saya ngamuk sejenak. Tentu ngamuk dengan cara yang kalem. Tidak grasak grusuk, ato bakar-bakar ban.

Saya mau mulai dengan Pak Harfan. Pertanyaannya. Mengapa Pak Harfan Meninggal? Saya memang tidak mencari-cari faktanya, tapi teman-teman boleh lacak. Dari Novel Laskar Pelangi sampai Maryamah Karpov, pak Harfan SAMA SEKALI belum meninggal. Ya! Setidaknya itu yang ditulis Andrea Hirata di Novelnya. Saya tahu, Andrea Hirata dilibatkan dalam pembuatan film ini, tapi......ahhhh....saya tak tahu mau ngomong apa. Mungkin film ini mau dibikin jadi lebih dramatis, tapi, menurutku, cara yang baik tidak seperti ini. Apa pun motifnya, saya sama sekali tidak respek dengan modus seperti ini.

Lalu, tarian para siswa Muhammadiyah. Oke, keterbatasan. Lagi-lagi keterbatasan membuat pencitraannya tidak maksimal. Tapi ini namanya bukan kurang lagi, tapi Minus! Bayangan saya mengenai gambaran Andrea Hirata mengenai tarian itu rontok seketika. Benar-benar menjengkelkan. Jika film ini mau diliris ulang, sya sangat menanti perbaikannya.

Lalu, Flo. Flo di film Kalem banget. Cenderung lemot malah. Kemayu pula. Padahal, di Novel, Flo adalah petinju perempuan yang disegani. Saya juga menanti perbaikan disini.

Dan satu lagi, Lintang dan Lomba Cerdas Cermat. Okelah, tontonan ini mau ditujukan kepada segala umur. Maunya supaya semua penonton paham substansi film. Tapi, ini namanya kelewatan bro. Silahkan Liat Lintang di Laskar pelangi, Juga kejadian di Cerdas Cermat. Ini titk inti, sebuah simpul yang hilang.

Saya memang tak ada peran apa-apa di pembuatan film ini. Cuma penonton dan komentator saja. Tapi ini setidaknya menunjukkan bahwa saya ini perhatian. Saya peduli. Masih ada banyak masyarakat Indonesia yang Peduli dengan isi film yang ditontonnya.

Kalo lain kali, mau ada film adaptasi lagi, tolong lah mas. Janganlah terlalu di ubah. Apalagi lagi sampai "Membunuh" orang , ato"membunuh" Karakter.

Nulis And Ngetik

Kamis, 22 Desember 2011

Asiikkkee...
Ini kolom gila gilaan..

Coba ya, aku punya keyboard kayak kertas, ditulisin, hrufnya muncul di layar, kayak ngetik tapi nulis, nulis tapi ngetik. gitulah... beda banget deh perasaannya kalo nulis pake tangan ama ngetik. Ahh, berasa mati gaya aja lah kalo ngetik. Ide-ide yang biasanya muncul kalo corat coret jadi nguap entah kemana. Mungkin karena gak terbiasa aja kali ya? Padahal kalo diliat yah, lebih simpel kalo ngetik, trus, enak dibaca pula. Beda sangat lah dengan tulisan tanganku yang bahkan kadang aku sendiri susah bacanya. 


Aku kalo nulis tangan tuh pake kiri, istilah orang kidal. Tapi kalo makan tetep pake kanan. Sebenarnya kalo mo distudi kasuskan, aku bisa jadi gak termasuk kidal-kidal amat koq. Kalo main gasing, mutarnya pake tangan kanan, kalo megang mouse, enaknya juga pake tangan kanan. Iya kan? kalo mo dibandingin ma orang kidal lain, yang segalanya harus tangan kiri. Tapi ya itu, kebiasaan nulis pake tangan kiri itu gak bisa keubah. Sempet sih, latihan nulis pake tangan kanan. Tapi bosan, males.  Nulis I malah jadi S. Tulis D, malah jadi O. Tlis V malah jadi U. Ya udah, daripada frustasi kan? Let it go, pake tangan kiri ja...


Bilangnya aja aku suka nulis. Cita-cita yang bikin penasaran banget deh tuh, bikin novel!!. Ide dah bejibun, lengkap detail. Tapi pas menghadap pulpen ma keyboard, malah loyo. Motivasi, aku kurang motivasi aja sih sebenarnya. Gitu! aku tuh orangnya, kalo belum terjepit, selama belum terhimpit, berjalan di lorong yang dinding kiri kanannya penuh api ama duri, aku enjoy aja. Entar kalo dindingnya dah tinggil seinci dari epidermis gue, n trus mendekat (kalo tuh dinding diem, santai aja juga), baru deh ambil tindakan nekat. WHHHUUuuuuusss!! tiba-tiba bisa terbang kek,  CCCCllliiiiinggg!! tiba-tiba ngilang lah....ato tiba-tiba jadi manusia baja (gak ada sound effectnya)....Apa pula hubungannya ini sama judul di atas?


Ngetik tuh pake keyboard. Asik juga mencet-mencet tombol. Tik, tak, tik..tik..keren aja. Tapi ya itu,...ya itu tadi loh...Ahhh....kalo dah sempat semenit aja, tangan lepas dari keyboard, malah malas megang lagi. Trus buka film, nonton bentar. Or kalo ada jaringan internet, buka komik. Tiba-tiba jadi pengen ngelakuin yang lain lagi. Ngetik di blog, di microsoft word, di fb, di twitter......dah lama nih nda buka twitter. Twitterq mati blum ya? Ada jangka waktunya yah? Misalnya, kalo gak diaktifin lagi selama sebulan, mati. Gitu yah? gak tau juga. Ngetik, buat tugas, ngetik, ngetik... Kenapa mengetik-disebut mengetik? Jadi nginget mesin ketik kan? Jadi gak keren deh kedengaran.





 

Popular Posts

Tags

Akun (1) blegok (6) Catatan luka (36) DerapLangkah (11) gemes (1) Giyatta (7) Giyatta!! (3) HujanDeras (9) IN-g-AT (13) Kacau (31) KAYLA (3) LucuB (5) Mimpi (8) Minat n pengen (11) Naskah (7) Pesan (5) Puisi (4) salute (5) Sejuta hidup Sehari (45) Serius dikit (11) Shadowlight (16) SuPistik (6) tapi gak bakat (4) Ups (5) Wisata (7)

Ketikkan Saja