Tampilkan postingan dengan label salute. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label salute. Tampilkan semua postingan

Apakah Masa Depanku Pantas Untukmu?

Senin, 03 November 2014

tak banyak yang mau kukatakan pada kertas kosong ini. Gelegak hampa ini tak terdefenisikan. Aku tak tahu kenapa, hanya merasa kosong. Mungkin karena banyak pikiran. Mikirin Rpp, mikirin skripsi, nasi yang hampir basi, nasi yang kebanyakan, lauk ayam goreng sisa sedikit, lauk ikan kuah kuning masih banyak, kacang rebus hampir membusuk, motor belum dicuci, lantai belum disapu. Stress.

Teman teman tahu mana yang harus kubereskan lebih dulu? Apa yang harus kulakukan? Tahukah kalian kalau aku pernah mempertimbangkan lari dari rumah? Apakah kalian merutukiku pengecut jika aku melakukannya? Bukankah lari dari rumah butuh keberanian besar? Aku sebenarnya tahu waktuku sudah sejak lama habis, terlalu banyak hutangku pada masa lalu, terlalu banyak. Sehingga aku takut melihat kedepan.

Aku yakin kalianpun pernah merasakan penyesalan seperti ini. Mengapa dulu tak belajar, mengapa tak mengerjakan tugas, mengapa begadang terlalu larut, mengapa tadi pagi tak mencuci motor, mengapa aku menunda nunda? Aku yakin kalian tahu rasanya jika pernah mengalami. Tapi yang beda adalah apa yang dilakukan berikutnya. Bukan begitu? Karena sejarah yang terhenti tidak ada, waktu bergulir terus.

Tik tok. Waktu mengetuk mengetuk ingatanmu untuk berhenti menyia nyiakan. Tapi aku memilih membiarkan dan menunda. Dan inilah yang kutuai.Sebuah kegamangan absolut. Aku tak bisa memastikan masa depan, ya semua orang juga begitu. Maksudku aku merasa masa depanku runyam. Masa depan seperti itu tak pantas diisi kehadiran seorang wanita hebat seperti kau... Makanya aku malu. Terima kasih, kehadiran kau membuat aku berani membuka mata melihat kedepan. Meski yang kulihat hanya abu dan puing. Sisa kejayaan yang aku runtuhkan. Dan aku tak bisa membuat kau ikut, meski aku sangat ingin. Sangat ingin... Bagaimana denganmu?

Salam Selalu

U MESS WITH A WRONG MOMMA

Kamis, 19 Juni 2014

Ibuku tadi hampir dijambret, udah dijambret siy... Cuman ranselnya bisa balik lagi. Laptop dan uang jutaan rupiah terselamatkan. Meski sekarang ranselnya di tahan di kepolisian, katanya mau dijadiin barang bukti. Penjambretnya so pasti babak belur. Tapi salut lah sama penjambretnya. Masak kan nih ya, ibu saya pake vario, itu ransel di taro diantara dua kakinya, tuh jambret nyambitnya keren pasti. "Koq bisa keambil ya? Koq bisa nyampe ya?" Ibu saya sampai sekarang masih terheran-heran dengan hal itu.

Jambret itu jumlahnya dua orang, yang ngehajar itu massa. Massanya bejibun, oh.. mereka babak belur. Begitu diseret ke kantor polisi, yang satu dah sekarat. Yang masih belum sekarat, kasihan banget tadi saya liat fotonya... Dia ngerawatin yang lagi sekarat, ya kawannya itu. Sekalian, kata ibu saya, dia juga bakal sekarat. Soalnya ntu pak pol pak pol kayak udah gemes banget ama para PENCURI ini, mereka sesekali dipukul sama polisi, di kantor mereka. "Mama jadi kasihan liatnya juga nak..." Kata ibuku, prihatin. Soalnya kan mereka para jambret ini digebukan  tiada bukan ya karena jambret ibu saya, kurang lebih lah ada andil ibu saya disitu. "Ampuni kami Tuhan.".

Pada waktu yang kurang lebih sama, yaitu tadi siang juga, saya sedang ada di tempat penjual telur, sedang beli telur. Punggungku enteng, ranselku kusimpan di motor di seberang jalan yang berhadapan dengan punggungku. Artinya, hanya 5 langkah dari tempatku berdiri. Beli telur ayam satu rak, harganya 35 ribu, katanya telur ayam ras, saya tak peduli. Selama bisa buat telur dadar dan nasi goreng, ya sudah saya beli. Setelah berbalik dan melangkah menuju motor, tampak sebuah pemandangan aneh. Bukan, gak mungkin tiba-tiba mantan saya muncul and mau nraktir saya bakso atau coto kuda, bukan juga tiba-tiba ada lahar meleleh dari bawah tanah.,.. anu... ituloh,.. Motor yang saya parkir itu koq keliatannya agak beda ya?

Ohya, ranselnya ndak ada. Saya cari-cari di penjual telur, ndak ada. Di samping, sekitar, sekeliling motor, ndak ada. Di got, sapa tau kecebur, nda ada juga. Wah kacau. Ransel ane ilang bro! Saya coba-coba nanya, ke penjaga warung dekat situ, dia bilang "Wah gak tau tuh, dek.. Daritadi saya disini, ndak pernah keluar-keluar.". Wah, malah curcol nih. "Kenapa memang ndak adek putar dulu motornya? Ditinggal seberang jalan lagi..ck ck ck...". Aseik, ane diceramahin... Tapi saya ingat betul hikmah yang ibu ini sampaikan "Yah... memang itu barang kalau mau hilang, ketemu juga lah jalannya....". Kata-kata ini saya dengar udah sering, tapi barusan ini terasa betul kedalamannya.

Di dalam Ransel itu ada Laptop, ada barang-barang lain juga tapi itu yang paling penting. Ohya, ada bukunya Aqram juga... Ada kitab saya dua. Ada fd 8 gb saya yang masih baru, ada kartu main yang belum pernah dimaenin, kecuali buat dijadiin alat peraga sulap amatiran. Kini mereka semua raib bersamaan. Yang paling pertama saya pikirkan Ortu. Anjrit, saya bikin sedih mereka lagi.. Ah, itu satu-satunya pemikiran yang mengganggu ketenangan saya, keikhlasan saya. Bahwa di laptop itu ada file-file tugas yang bejibun, di ransel itu ada KRS, fotokopian slip pembayaran, semua kekhawatiran untuk mereka itu datang belakangan.

Di tengah galau-galaunya, ada jin ifrit lewat, eh.. maksudnya saya Aqram. Dengan jaket warna biru muda yang mencolok itu, motor jupiter mx koplingan dan tanpa helmnya itu, dia berlalu, sempat menoleh dan melambaikan tangan padaku, kubalas. Lalu pemikiran yang kutunggu-tunggu tiba juga....Ah... Sudahlah, ikhlaskan saja, Bal. Saya pamit sama mereka, orang-orang yang kubikin ikut panik bersamaku. Aku naik motor, dan kupacu ke arah yang sama Aqram tadi menuju... ke arah rumahku, Aku mau pulang saja... telpon ibu, lapor, dimarahi, main Clash Of Clans bentar, lalu tidur.

Ternyata kujumpai Aqram sedang parkir depan warung, habis beli sayur dan lauk. Dia panggil kusamperi, kuceritakan yang baru saja terjadi... Dia ajak saya kerumahnya, makan. Saya ikut saja. "Ndak usah lapor dulu Bro, supaya ibumu ndak kaget.." Kata dia sok bijak. Saya juga sok merenung. Hapeku lobet. 1-0 untuk skenario Aqram. Saya minta pinjam hapenya, peluang Skor buat skenarioku. Hape Aqram ndak ada pulsa. Hasil Akhir 2-0 untuk skenario Aqram. Aku pamit pulang, dia terus ke kampus. Dasar emang orang sok sibuk dia.

Di Rumah, langsung dicegat dengan pernyataan tiba-tiba dari Bibi "Bal, tadi Mama nelpon cariin kau... Nda tau juga kenapa..". Wah... kedengarannya gawat. "Coba Bi, saya pinjam hapenya". Kutelpon ibu, wah.. dijawab sibuk ma mbak telkomsel. Yasud, hape saya kembalikan. Hidup berjalan normal. Dan lalu setelah maghrib, kudengar ibu pulang... Dan tahulah saya, ternyata ada cerita yang paling pertama tadi. Ibu jadinya ndak terlalu marah. Ranselku itu penolak bala ransel Ibu. Ibu menceritakan kisah kejambretannya dengan seru. Beliau mengejar motor Jupiter mx mereka, dengan varionya... Rem katanya tak lagi dihiraukannya, ketika teriakan "Maling.. Maling..." tak lagi dihiraukan, tersisa "Allahu Akbar!" dan kepalan tangan terangkat beliau yang menggantikan. Ah Ibu, anakmu di seluruh dunia takkan pernah berhenti kagum padamu.

"Mereka, waktu Mama kejar, sering noleh-noleh kebelakang... Mungkin mereka gak nyangka mama kejar wiihh..ibu itu ngejar!".....

Well... Bro, it's unfortunate, but U MESS WITH A WRONG MOMMA.


Mimpi Seperti Itu...

Selasa, 03 Juni 2014

Aku masih terus penasaran, dengan wajahmu... Kapan aku bisa berhenti mengatakan wajah itu cantik, karena jujur saja, kadang saya terlampau lelah untuk mengingatnya. Sepertinya terlalu banyak ruang yang kau ambil. Dan aku mau senang-senang saja sekarang, saat mengingat bahwa kau itu sudah betul-betul memaksa dirimu menghilang dari pandanganku. Tulisanku kali ini tentang wanita yang pernah kucintai lagi... hahahaha, tema kesukaanku, tema yang paling sering kutulis.

Saya tak mau kalian tahu nama, silahkan tebak-tebak saja, tulisan kali ini pun hanya campuran dari mereka semua.. Karena sejauh ini, aku belum lupa. Mereka semua terlalu cantik, teman-teman. Silahkan kata-katai aku sebagai, pemuja nafsu, pecinta semu apapun itu. Aku laki-laki yang cukup beruntung untuk menemui mereka, dan cuku sial untuk akhirnya berpisah dengan mereka. Satu dari mereka, menyiksaku lebih sadis dari kata "Berpisah". Mereka semua ini, pernah kupertimbangkan untuk jadi istriku, ibu anak-anakku kelak.. Tapi sejauh ini semuanya bukan.

Mereka semua ini begitu mudh didekati, ya bangsatlah aku, tapi mereka itu para aktris maha ulung, pesohor di tingkat masing-masing. Dan aku ini lugu, selugu orang lugu dungu. Dan aku ini mau saja jatuh cinta pada mereka. Dan akhirnya saya melakukan kesalahan, mereka punya alasan angkat kaki. Ah... angkat kakilah kalian, biar saja tak usah ada akhirnya... bukan yang pertama juga saya dikasi begini. Yoi, mamen, saya sakit. Katanya sih, sebagian mereka juga.. ya  okelah sama-sama sakit. Peace-peace,... keep smile.

Lagu, puisi, cerita, curhat.. ahhh semua itu cuma kubangan muntah raksasa. Sini kublender rame-rame semua yang terjadi diantara kita, dan kita coba kita makan sama-sama... rasanya getir, pahit, sepat... tapi kau dan aku akan memakannya sampai habis, sampai tak bersisa. Dan ketika kita selesai, kita sekali lagi akan terduduk diam sementara. Seperti jeda yang kau beri padaku waktu itu, menunggu memencet tombol yang akan meledakkanmu.. Dan aku menangis. yah.. Kalian boleh duduk menangis bersamaku, tapi yang kutahu lebih banyak dari kalian bangkit lagi... Perasaan bersalah itu memenuhi dadaku, aku ingin panggil kalian semua lagi. Tapi mimpi seperti itu akan memberiku utang yang terlalu banyak. Jadi disinilah kita...

Semua sudah terlanjur rusak. Kalo boleh, aku sangat ingin tahu jawabannya... "Sudah kau temukan, kah.. cinta sejati itu?"

SuperHero

Jumat, 20 April 2012



Aku masih ingat. Ketika suatu hari aku pulang dari kampus naik Motor. Pengendara motor tentu bukan cuma aku seorang. Ada banyak sekali pengguna motor di jalan. Dan tentu bukan cuma motor yang memakai jalan, ada mobil juga. Ada becak juga. Ada Bemor juga (Becak Motor).

Jadi, Karena begitu banyaknya kendaraan yang melintas di perempatan dekat kampusku, dan perempatan kampusku itu bukan hanya pusat kendaraan, namun juga pusatnya jalan rusak. Ditambah ruasnya begitu sempit. Maka, pak polisi menggunakan semacam palang untuk menertibkan perampatan yang notabene tidak memiliki sarana Lampu Merah (Kuning, Ijo) ini. Palang itu, terdiri dari.............waduh Aku tak tahu apa namanyi itu yang dibikin jadi palang. Itulho...yang semacam segitiga itu, tepatnya kerucut! Ya. Kerucut!Ahhhh.. setelah ngobrak-ngabrikin Google, tahulah aku. Namanya Traffic Cone! Jadi traffic cone itu dirangkaikan pakai tali. Jadilah sebuah palang fleksibel.


Nahh. itu dia gambarnya traffic Cone. jadi, bagian atasnya diiket pakai tali. Salut buat para pak Polisi, karena palang ini bekerja dengan baik. Meskipun kadang membuat keki beberapa pengguna jalan (contohnya aku), karena jalurnya dialihkan sedikit, tehnik pngaturan ruas jalan ini lumayan mengurangi kemacetan.Kaetika aku akan melewati palang-traffic cone inilah, aku melihat insiden itu!

Seorang bapak-bapak yang sebenarnya biasa-biasa saja. Tangan dua, kaki dua, iya. Kulit agak legam, tanda bahwa bapak ini pekerja keras. Celana pendek, lupa warnanya tapi spertinya warna gelap (tak penting pula sebenarnya aku menjelaskan ini). Tapi dia pahlawanku. Bukan superman, atau spiderman, atau batman. Bapak inilah pahlawanku. Dengan mengendarai sebuah sepeda motor tua.

Coba lihat dia. Coba lihat bawaannya! 2 karung besar dia pangku diantara 2 pahanya yang tentu telah melemah. Dan beberapa karung besar juga terikat disisi belakang. Dialah! Dialah yang diapit barang bawaannya. Dan saat aku sejenak tercenung melihat dia, aku juga memerhatikan. Dari atas motorku yang berjalan, sedangkan motornya berhenti. Karena ban depannya melindas salah satu dari traffic cone yang dirangkainkan oleh polisi. Saat itu. Rasanya aku ingin turun saat itu, dan membantu bapak ini mendorong motornya yang tentu tersangkut disana dan sulit ia dorong sendiri. Tapi aku tak juga melakukannya. Aku hanya mengenangnya sebagai seorang superheroku. Sepurhero yang mungkin tak menyelamatkan dunia, namun menyelamatkan dirinya dan keluarganya. Yang menyelamatkan harga dirirnya, untuk tak jadi peminta-minta.

Ya, mungkin saat itu aku tak membantunya karena aku telah menganggapnya sebagai superhero. Aku tak tahu bagaimana nasib bapak yang tak aku kenal itu. Juga tak jelas kuingat wajahnya. Tapi yang aku tahu. Tadi pagi, semua trafficcone telah berdiri tegak melaksanakan tugasnya. Menertibkan kendaraan yang lalu lalamg. Namun, kalau kau mau memerhatikan lebih dekat. Kau akan menemukan bahwa traffic cone yang tengah, agak sedikit penyok. Itulah tanda tangan Superhero ku.



Irnawanti

Rabu, 11 April 2012

Guwe Tumpahkan Semua kegalauan guwe disini. Tempat yang mungkin gak bakal dijangkau oleh dia. Oleh Irnawanti Abnurah.

Irnawanti adalah nama yang sedikit aneh kan? Biasanya Irnawati, ato Irawati. ini Irnawanti. Memang banyak yang bilang kalo kata irnawanti sedikit unik. Di bagian wanti nya itu kan? Gw ktemu dgn org yang bernama Irnawanti ini kalo gak salah ingat sekitar 4 tahun lalu, di kota ini. Kota Makassar.

Gue gak mau irna tau kegalauan gue karena dia bakal jengah, n Mandek. Dia mungkin udah sejak lama jengah n eneg sama tingkah laku gw yang gak bisa santai kalo deket-deket ma dia. (Liat fotonya aja gue salting). Terlanjur merasa dicintai, itu mungkin kata yang tepat untuk menggambarkan kegalauan guwe. Parah deh pokoknya.

Gak punya kata-kata yang rasa-rasanya tepat buat ngegambarin cerita ini. Juga gue rasa bakal sulit banget dipahami.

Jadi Ceritanya gue ketemu ma Irna nih di Acara pelatihan di Makassar, tepatnya di UNM Parang Tambung. Irna tuh manis, kecil-kecil orangnya, trus tegar. Ditinggal mati oleh ibu sejak kecil, dipelihara oleh bibinya dan dibesarkan dalam keadaan diperebutkan oleh keluarga bapak n Ibu. Hidup Irna bikin gue terkesan (jujur fisik n tutur katanya juga gue suka). Kelakuannya polos, dia tegas. Untuknya, sebuah batas hubungan adalah batas, kata yang ia keluarkan adalah penetapan, dan Cukup Tuhan yang 1 itu yang bisa ngubah.

Herannya, dalam Acara pelatihan itu gue ama nih anak Akrab banget. Ngobrol bedua di Taman kalo lagi waktu Istirahat, sampe lupa kalo masih ada agenda acara yang mau dihadiri. Jalan bedua di benteng Rotterdam, udah kayak orang pacaran, tapi enggak. Gw ma irna gak pernah pacaran. Gak dulu, n gak juga sekarang. Pas gw beli nomor hp (gw waktu itu gak bwa hape, sama temen2 gw yang dari pesantren saat itu), dia minta nomor hape gue. Malemnya gue pinjem hape irna karena mo ngaktifin nomor gue, entah gimana hape Irna tuh gue pegang sejak malam itu sampai hari terakhir Acara Pelatihan. Gw inget waktu itu dia ngingetin gue satu hal, "Ada satu folder yang gak boleh dibuka". Dan sumpah demi nama Tuhan yang 1 itu, gw gak pernah buka folder itu. Maka sampai sekarang gw masih sedikit penasaran. Apa isi Folder itu.

Irna banyak curhat ma guwe waktu itu, salah satunya ya tentang keluarga n prinsip hidupnya, juga pengalaman pacarannya yang ternyata banyak banget, beda ama gue yang waktu itu baru 1 kali pacaran (itupun lewat telpon) n udah putus pula. Waktu itu dia katanya dalam keadaan lowong, jomblo. Irna waktu itu gak pernah tertawa lepas n gak pernah tepuk tangan, dia heran waktu gue nanyain hal itu, karena cuma gue yang menyadari hal itu dan dia iyakan. Ya, dia memang gak bertepuk tangan dan tak tertawa lepas, juga duduknya tegak. Gw emang sering merhatiin Irna. Sejak hari itu gw merhatiin semua orang, kadang terang-terangan, lebih sering-sembunyi-sembunyi. Gw sekarang gak tahu Irna masih gitu ato gak, tapi katanya di telpon wktu aku telpon (iyalah), katanya sejak bertemu ma gw, dia jadi lebih sering ketawa n gak pacaran lagi. Entahlah, semua itu benar ato gak, Gw sekarang udah gak punya kesempatan untuk menanyakan itu lagi sama dia ato temen-temennya, juga gak punya lagi kesempatan untuk memeperhatikan Irna kayal dulu. Gw sekarang gak tahu di mana dia tinggal. Meskipun 3 bulan lalu gue masih bisa bertatap langsung ma Irna.

Sejak acara pelatihan itu berakhir, secara teknis, gue ma Irna memang gak bisa tatap muka lagi. Aku di Bone, dia di Bantaeng. Tapi telpon n sms tentu punya maksud sendiri untuk dicipta. Maka yang terjadi-terjadilah. Tulisan dan suara, menggantikan kata dan kehadiran. Awal yang manis. Tapi gw tahu berkemabang ke arah yang tak menyenangkan. Kebosanan mungkin selalu tantangan terbesar dalam sebuah hubungan jarak jauh. Mengalahkan rindu.

Irna tanggal lahirmya 26 juni, 1993, tuaan sebulan dari gue yang 26 juli 1993. Kecocokan tanggal yang  buat              gw sedikit berpikir optimis "mungkin ini memang suratan takdir". Tapi itu hanya angka-angka. Apakah faktor ini ikut ambil andil dalam hal menjauhnya Irna dari gw, gw gak tau. Gw cowok culun n bisu di depan Irna yang kecil n mungil ini. Irna juga pernah ngaku lewat telpon kalo dia, sejak ketemu ma aku, jadi gak suka lagi pake celana panjang, apalagi celana pendek. Entah dia wktu itu keliru ngomong, ato dia emamg cepat berubah, yang jelas ketika gue nganter dia ke UNISMUH beberapa bulan lalu, dia pake celana panjang. Tapi seingatku, dia memang cewek berkerudung. Saat gue konfirmasi ulang pengakuannya dulu, dia cuma bilang entahlah. Ya, Entahlah. Entahlah apa yang terjadi antara kita sekarang Irna. Antara Gw ma Lo. Entahlah.

Entahlah, dengan cara apa gue bisa menyambung tali hubungan gue ama nih anak. Facebook? Fb yang sekarang dia pakai, adalah buatan gue, udah dia ubah passwordnya, jadi gak bisa gue apa-apain lagi. Aq berteman ma dia di Fb. Tapi lebih seperti orang tak dikenal rasanya. Gue pernah ngirim-ngirim pesan ma Irna, tapi gak ada yang di bales. Mungkin karena alasan yang tak gw tahu. Mungkin emang gak dia baca waktu tau kalo yang ngirim ternyata adalah Iqbal Sahawi Muhammad. Orang yang dihindarinya. Apakah betul dia menghindar dariku? Benarkah? Entahlah. Kenapa ya? Entahlah. Tak ada penejelasan dari dia. Ahh...!!Gue hampir lupa. HApe? Ajaibnya, dia, terakhir kali gue ketemu 3 bulan yang lalu, tak punya hape. Juga tak punya nomor hape. Seorang Pelajar Diploma 3, bertempat-tinggl di Makassar, berasal dari Bantaeng, dan tak punya keluarga besar di Makassar, tak punya hape. Kenyataan yang sempat buatku sedikit heran tentunya. Tapi bahkan gw pernah berkeputusan untuk tak berhape (dan memang kulakukan), tapi aku memang tinggal dengan keluarga. Maka biarlah, dengan berbagai pertanyaaan masih bercokol di kepala, kuterima hal ini sebagai sesuatu yang wajar.

Sampai sekarang. Setiap malam, setiap hari, gw masih mencoba mengingat-ngingat, dan menduga-duga, apa yang sebenarnya terjadi. Mungkin ada yang kulewatkan. Tentu banyak yang terjadi dalam 3 tahun terakhir, ketika dia gak di samping gue, gak dalam jangkauan mata gue. Fotonya masih gue pasang sebagai wallpaper gue. Di leptop gue masih banyak gue simpan fotonya Irna. Meski dah jarang gue buka. Setiap buka Fbqu, gue bakal singgah di halamannya, meski cuma gue liat-liatin. Gue seneng kalo dia ngupdate status or ngupload foto di Fbxa. Berarti setidaknya fb yang gw bikinin ada gunanya juga buat dia, meskipun orang-orang bilang, bikin fb, apa susahnya sih?. Gue gak lagi comment2 statusnya. Karena menurut pengalamanku, itu malah bakal bikin dia males buka fb. Juga gue hapus beberapa Comment gue yang gue rasa gak seharusnya gue tulis.

Gue rasa, udah saatnya melepaskan harapan gue yang kayaknya egois itu. Gw yakin koq. Gw juga bukan orang yang buruk. Irna cuma belum ngeliat gw aja. Dan memilih pergi sebelum melihat guwe.


 

Popular Posts

Tags

Akun (1) blegok (6) Catatan luka (36) DerapLangkah (11) gemes (1) Giyatta (7) Giyatta!! (3) HujanDeras (9) IN-g-AT (13) Kacau (31) KAYLA (3) LucuB (5) Mimpi (8) Minat n pengen (11) Naskah (7) Pesan (5) Puisi (4) salute (5) Sejuta hidup Sehari (45) Serius dikit (11) Shadowlight (16) SuPistik (6) tapi gak bakat (4) Ups (5) Wisata (7)

Ketikkan Saja