Tampilkan postingan dengan label Mimpi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mimpi. Tampilkan semua postingan

Aku Mau Disini Terus

Kamis, 20 November 2014

Aku mau tinggal disini saja terus, dalam kamarku. Ac sudah dingin lagi, wify lancar, ada selimut, ada banyak buku. Aku mau tinggal disini saja terus. Supaya tidak usah capek jalan kaki keluar. Tidak usah capek capek makan. Tidak usah capek capek buat orang ngerti, bicara sama orang. Gak usah dengar hal hal yang menjengkelkan. Tidak usah ketemu kamu. Malam ini aku mau di kamar saja terus, sendirian.

Aku baru saja menamatkan novel atau apalah namanya buku yang berjudul Rahvayana, karangan Sujiwo Tejo yang kata dianya mungkin lagi kerasukan Rahwana. Lucu juga, aku suka gayanya. Buku itu rekomendasi teman dari jawa timur, yang memang beliau suka sama Sujiwo Tejo. Isinya bagus ternyata, enak dibacanya, asalkan kamu ndak usah maksa-maksain paham, pasti bisa kamu tamatkan. Soalnya cara dia nulis ini rada-rada ngawur. Kerennya ini buku disertai kaset lagu segala, iya sih udah banyak yang kayak gitu. Tapi kalo saya seingatku ya baru pertama kali ini aku punya. Ada sajak sajak nya setelah cerita inti selesai. Setelah cerita inti bahkan disertakan daftar pustaka. Subhanallah.

Aku sih ya sebenarnya lumayan puyeng juga bacanya, soalnya banyak nama wayang. Morodadi, Sarpakaneka, Wibisana, Trijata dan banyak banyak laiknya, ada batara lah... resi lah.. dewi lah... hanuman... banyak kera! Aneh aneh saja kalo kalian mau paksa paksa ngerti. Makanya mata dosenku kemarin, banyak baca referensi ringan serius dulu baru baca bukunya. Ah embuh, yang penting sekarang saya lagi hampa. Asik ah,  ngebahas hampa mulu aku ini.

Besok mau kuliah regular, mengulang buat perbaikan nilai, belum nyusun skripsi. Ini lagi skripsi ahh bikin keki. Ppl juga harus nyerahin laporan, apaan! Resiko situ jadi mahasiswa, ya kerjain lah! Kerjain woy kerjain! Hallah... aku sih mau leyeh leyeh, malas-malasan ogah-ogahan. Tidak boleh begitu sih seharusnya.

Lagian kenapa dijudes-cuekin sampai segitunya siyyy?! Aku kan jadi gemes-gemes asem gimanaaaaa gitu. Atau cuma perasaanku saja ya? Ah... sadarlah boy, nggak mungkin.. iya nggak mungkin.. nggak mungkiiiiinnn.. kinnnn.kinnn.... Sudahlah nyerah saja... Tinggalkan dan Lupakan sja mimpi mimpi itu. Hanya mengganggu tidur panjang kita. Tidur yang melana hinakan. Bangun bangun sudah ada nyala api berkobar di depan mata. Hayoooo..

Sudahlah, kita sudahi saja. Bingkai bungkusan kamu saya jadi makin ambil tempat saja, jadi sulit aku dan kau saling mengerti satu sama lain. Ahh.. siapa sih aku?! Malam ini aku mau tinggal disini saja. Aku mau malas-malasan sampai..... sampai jatuh cinta itu enak.

Sekian.
Salam Selalu.

Malam-malam Sakit

Selasa, 18 November 2014

Malam selalu membisikkan padaku kata-kata tentang cinta. Kata-kata tentang sakit. Tentang betapa begadang itu nikmat, tidur itu menyusahkan. Aku selalu gelisah. Di malam hari, di peraduan tempat seharusnya aku mengantuk dan tertidur, aku malah cengengesan. Curhat seperti anak kecil, bicara tentang suramnya kehidupan.

Malam selalu mengajakku berkelana, bukan untuk terlelap. Kecuali di malam yang dulu-dulu. Yang waktu itu cinta belum kukenal. Yang waktu itu aku masih punya keinginan kuat untuk terbang, untuk berlari jauh. Helaan nafasku. Malam mengajakku menonton film-film lama. Mendengar lagu-lagu enak. Mengingat-ngingat mimpi. Izinkan aku menjadi sendiri, menjadi tak punya siapa-siapa lagi. Karena cinta hanya melukai. Dalam tawa, dalam tangis, dalam sakit, dalam nikmat. Bahkan di ceritamu, sayang.

Episode baru hidupku bernama lepaskan dengan paksa. Tak jadi bagian dari apa-apa. Meski sebenarnya, aku haus cinta, haus perhatian semua manusia. Keegoisan ini sudah mengambil tempat terlalu banyak. Sampai memaksa-maksa tangan untuk menulis rekayasa kata yang muram durja. Bukankah kau tak tahu sayang? Aku begitu pintar berdialog sendirian. Ah, rasanya ini bukan lagi rahasia. Mereka semua tahu aku gila, hanya saja aku gila tanpa ngajak-ngajak. Jadi tak apa-apa, gilaku kutempatkan dimana-mana tapi tidak merusak siapa-siapa. Gilaku begini saja.

Hai manis, bukan karena kau aku gila. Aku begini sudah lama, ini kurang lebih pilihanku juga, bukan paksaan siapa-siapa. Kau jarang begadang, tahukah kau rasanya digigit nyamuk tengah malam? Tahukah kau rasanya ingint tidur, tapi pikiran ini tak mau? Namanya kesadaran, yang menghalangi kantukku bertemu tidur. Semuanya kuusahakan, menutup mata percuma.

Aih, malam... Sebuah kesimpulan yang tidak mengikat apa-apa, meski erat tak dinyana. Tapi seperti tirai hujan yang serasi bersama malam, seperti bunyi suling halus di kejauhan, tak teraup semuanya, tak tergapai seluruhnya. Aku tak mau membagi, tapi tetap saja aku merasa kurang. Hai manis,.. Semoga kau berbahagia.

Salam Selalu.

Bangkit Dulu, Ah.

Jumat, 14 Februari 2014

Nulis itu so pasti tantangannya adalah kebosanan garis miring kemalasan. Kadang mikirin tulisan bisa gila, belum ngerjainnya. Padahal sebenarnya memang lebih gila waktu mikirnya, waktu nulisnya sih gak banget-banget lah... Stephen Hawking (kalo gak salah) sekali waktu pernah nulis gini.. "Menulis adalah pekerjaan yang sepi, memiliki seseorang yang selalu percaya dan mendampingi adalah sebuah bantuan yang luar biasa". Oleh karena itu saya butuh pacar, eh sory... maksud saya cinta. Yah pacar termasuk lah,,, Makanya sekarang kadang saya stress berat, soalnya jomblo. Hahahah... jangan diambil hati wahai para pembaca, ini guyonan kelakar orang menderita saja. Banyak koq diluar sana para jomblo penulis yang tetap eksis.. dan gak gila gila amat juga koq.

"Berkaryalah... Agar otakmu tak dipenuhi hal-hal yang berbau penyakitan b*ngs*t dan sejenisnya"... ini hanya kata-kata saya, tanda kutipnya buat keren-kerenan aja. Aduh.. Mata saya koq giniyaa.. Apakah mungkin karena sekarang udah jama 03.00 pagi?Ato ini gejala mata minus? Waduh gawat... Saya gak pernah kepikiran bakalan kena mata minus.. Gak pengen juga sih.. Ah semoga bukan gejala mata minus.. Semoga ini akibat gangguan setan yang ingin menghalangi saya dari berkarya dengan cara menulis ini. Yah... meskipun gak keren dan gak terlalu waras ini kah orisinil... asli buatan sendiri.. Meskipun tentu banyak yang secara gak sadar yang terketik ini adalah hasil dari pemikiran banyak orang. Saya hidup sampai sekarang kan juga karena bantuan banyak pihak. Laptop yang sekarang saya pakai kan juga hasil keringat banyak orang.

Terima kasih Ayah..
Terima kasih Ibu.
Terima Kasih Adek-adekku..
Terima kasih Om.. Tante..
Terima kasih juga... Tukang siomay, tukang bakso, mbak-mbak dan mas-mas di Alfamidi, mba-mbak dan mas-mas di Carrefour, Mbak-mbak dan mas-mas di Indomaret.. Tukang tambal ban, tukang sepeda, supir taksi, tukang bajaj, sopir angkot, Pak pilot, mbak pramugari, Pak masinis, Terima kasih ya...


Ohya... Juga buat teman-teman sekalian yang membaca tulisan ini juga terima kasih banget. Ini saya liat banyak yang dari Amric...Gak tau deh nyata ato fiksi... Tapi terima kasih juga.. udah mo mampir n baca-baca.. Mampir lagi ya,...Oh... Buat teman-teman yang gak baca juga terima kasih ya...

Salam selalu..

Bayangan Api

Kamis, 06 Februari 2014

Setiap orang punya sisi gelap dan sisi terangnya. Seperti api yang juga masih memiliki bayangan. Dan tulisan ada kalanya mempresentasikan warna jiwa si penulis. Pertanyaannya, mana yang harus lebih sering ditulis, mana yang sebaiknya ditulis? Gelapkukah? Terangkukah? Baiklah, kalau saya, terserahlah... Apa yang nikmat untuk kutulis itulah yang aku tulis.. Meski setelah saya baca-baca ulang ternyata dalam banyak kesempatana saya jauh lebih sering memilih menulis yang gelap-gelap dari kehidupan pemikiran saya.

Dalam kesempatan kali ini, saya ingin meregangkan otot dan melemaskan syaraf. Pandangan, pemikiran, pola pikir, cara pandang atau apalah semua itu... Telah terkikis gila-gilaan belakangan ini, masih terus terjadi tapi inilah hidup. Seperti air yang melewati sungai... Selama  ada ruang, arus akan hadir.. Terserah kau buang sampah atau berak di kali, mau buang permata, dollar atau emas... Sejauh ada ruang, arus akan hadir. Air akan mengalir. Dan disini saya. Menulis karena mau menulis.

Refreshing jiwa kata sebagian orang. Pemenuhan pada diri sendiri, tapi tak dipungkiri juga... Kadang aku ingin dibaca..Aku ingin tulisanku dikomentari.. Dipuji kalo boleh. Responlah, yah.... enak juga kalo ada yang merhatiin ternyata ya, kawan? Tapi ya mbok saya ndak maksa cari pengikut lah.. Ini Om Google sama Mas Blogger udah berbaik hati biarin saya nyampah di tempat mereka saya dah seneng... Galaksi seabrek bernama internet ini batasnya mungkin jauh juga.

Refreshing jiwa kata sebagian orang. Pemenuhan pada diri sendiri... Loh koq upline nya diulang? ya suka-suka  saya lah... Nulis itu puyeng juga loh.. bahkan karangan bebas.. bahkan tulisan ngaco kayak gini aja nih susah banget bikinnya sumpah... Butuh berton-ton ceramah, berkilo-kilo semangat.... buat bisa lanjut.. yah wajar.. Taraf saya masih penulis level beginner, atau mungkin sandbox... Ini udah empat paragraf... udah bagus lah kayaknya ini ya? Okelah... saya tutup dsini.. Rencananya mau rekap Firapu dan Roki semuanya... Hah.... Gilak... Padahal belum genap 10 halaman... inih kepala udh buntuuuuu.. aja...

Oke.
Salam Selalu.


NAWAITU

Selasa, 04 Februari 2014

Hilang diantara bacaan dan tulisanku, aku melongo. Hilang diantara sela aktifitas dan tidur, diantara himpitan detik, aku terbengong. Yah... Episode Firapu dan Roki rasanya harus menanti lebih lama. Rasanya seperti dipaksa merasakan gentar akan hidup, takut akan mati. Masih banyak ternyata yang mau aku lakukan, yang mau aku selesaikan, janji-janji yang mau aku lunasi. Masih banyak karya yang mau kubuat, tapi tanganku mengkarat. Masih ada nada-nada yang mau kupetik, masih ada lagu yang mau kunyanyikan... masih banyak yang ingin kulakukan. Aku masih muda. Tapi sakit ini membuatku tua.

Jariku, lidahku, kakiku....mataku, telingaku, hati dan otakku. Pusaran angin puyuh gila yang dulu meraung kencang-kencang kini menjinak---bukan--- MENGHILANG... Perlahan. Yang tersisa ada sedikit puing, bekas senjata rusak, sedikit harta rampasan perang. Diatas sudah terlalu tinggi, di bawah tak lagi ada alas, bualan mimpi selesai sampai disini. Terbangun kaget pelan-pelan, sudah pasti... Tersangkut... tentu...

Simfoni hitam yang mendiam perlahan tetap mengetukkan derap langkahnya di tengah hujan deras di hutan serigala mata biru yang sudah lama haus... Entah lengkah terakhir atau mantra pemanggil, yang jelas.... yang jelas...bunyinya terngiang. Jelas sampai subuh hari... Masuk sampai hati,sampai terbawa mimpi.. Sampai bangun lagi.. Sampai status fb. Celah sempit bernama kesempatan itu masih terbuka... Tentu. Tak pernah tertutup untuk siapapun.. hanya pindah. Kini jejaknya tak kulihat lagi. Lucunya? tak ada keinginan mencari. Niat punya, tapi tidak mau.

NAWAITU!
Salam selalu...


Mimpi Tenggelam tapi Tidak

Sabtu, 07 September 2013


Semalam saya mimpi tenggelam, saya dalam kehidupan nyata memang tidak tahu berenang. Biasanya mimpi tenggelam itu menandakan saya sedang ketindihan, dan artinya saya ketakukan setengah mati dalam mimpi itu, mimpi tenggelam itu mimpi buruk bagi saya. Tapi khusus semalam itu tidak. Saya tidak ketakutan sama sekali. Karena semalam tidak seperti mimpi tenggelam lain sebelumnya yang saya ingat. Kali ini saya tidak tenggelam sendirian. Saya tenggelam bersama seorang gadis.

Jadi dalam mimpi itu saya sedang menemani dia jalan-jalan ke pantai. Dia memakai baju u-can-see warna pink, dan celana training warna hitam. Sampai di tempat ternyata itu bukan pantai seperti pantai lainnya, pantai itu tidak punya dataran pasir yang menjadi bibir pantai, alih-alih yang terlihat malah turunan miring yang tersusun dari dinding batu halus, seperti yang sering dilihat membatasi pelabuhan-pelabuhan besar. Dan ketika tiba ternyata kami dapati tempat itu lumayan ramai.

gambar tangan (soalnya mimpi)

Di ujung kanan jauh disana, ada orang sedang berorasi, (pidato, ceramah? khutbah? entah ngapain gak jelas. Pemimpinnya sama saya saling kenal, bahkan dia sempat melambai ke saya.. tak usah disebutkan disini, cuma mimpi juga koq). Di bagian kiri ini saya ndak kenal siapa-siapa. Kita berjalan ke bagian tengah itu berdua. Seingat saya, saya hanya jongkok saja melihat-lihat ke bawah.... Tiba-tiba si cewek ini malah meluncur turun! Dia meluncur turun seperti papan luncur! Ya, papan luncur. Dengan posisi menelungkup dan kepala mengarah ke bawah. Untunglah dia sudah memakai pakaian tambahan sebelum meluncur, sepertinya tadi pakaian tambahan itu dia taruh di tas. Saya panik, tapi masih melihat keadaan dulu (siapa tau dia memang siap, kan?). Ketika sampai di bawah (alias laut), ternyata dia megap-megap, baru tanpa pikir panjang saya ikut lompat.

Ketika saya sampai di laut, dia sudah betul-betul tak lagi tampak di permuakaan, sekuat tenaga saya meraih ke dalam air laut. Saya seperti sedang merogoh ke gunungan jelly, air laut seperti memadat. Saya merasakan sedikit di depan tanganku ada riak juga. Tanpa melihat apa-apa saya arahkan tanganku ke sana, dan saya temukan tangannya, kucengkram kuat-kuat. Saya rasakan dia juga mencengkram balik dengan sisa tenaganya. Sekuat tenaga kuangkat tangan itu, dan "Buahh!!!" Kepala gadis itu tiba-tiba menyeruak di permukaan. Saya benar-benar lega tapi masih panik, saya tidak tahu berenang, apa yang harus saya lakukan sekarang? Tapi di mimpi itu saya merasa ada aliran di kaki saya yang saat itu di dalam air, dia bergerak mendorong ke atas, saya tidak tahu bagaimana cara kerjanya, tapi itulah yang terjadi. Saya bisa mengapung di tengah laut. Kupertahankan kondisi meski susah payah, karena ada bobot gadis itu juga di tanganku.

Saya tidak ingat bagaiamana jelasnya, tapi tiba-tiba ada ledakan air. Dan saya terbangun... Saya melihat ke kanan saya... disitu ada botol kaca Coca-cola ukuran besar yang kosong... Tapi ada air mengalir di dinding bagian dalamnya. Air Laut...*

Nb: Sya  masih tidur ternyata saat ini. Jadi ini mimpi lapis dua. Saat betul-betul terbangun. Botol kaca coca-coal itu tidak ada. Memang tidak ada.

Hari Biasa, Lamunan

Jumat, 06 September 2013

Ini hanya hari biasa  seperti hari lainnya. Saat kita duduk bersandar di dinding dan tidak melakukan apa-apa. Hanya berusaha menggali ingatan-ingatan atau malah tidak memikirkan apa-apa. Sesekali terlintas wajah orang yang kita cintai atau kita benci, atau kenangan-kenangan ketika kita sendirian berjalan menyelusuri kota atau desa. Ini hanya hari biasa seperti hari lainnya, di siang hari ketika kita bersandar dan mendengar suara-suara. Saat aku sudah tidak tahu mau melakukan apa. Hanya saat sendiri dan tenang. Sedikit sedikit suara orang memasak, atau orang ngobrol di luar rumah terdengar. Dan ada sinar matahari hangat yang masuk, yang kadang saking seringnya hadir bisa menipu kita seakan-akan dia tidak ada.

Dan kadang ada seseorang tiba-tiba datang saat kita sendiri, mencoba bertanya dan berbasa-basi, "Tidak tahu,", jawabku... Lalu kusadari ada headset terpasang di telinga, tapi tak ada suara disini. Sekedar terbiasa memasangnya, dan terasa aneh jika dilepas.Betapa banyak yang ingin kita ceritakan, betapa banyak yang kita ingin katakan. Namun semuanya kita telan saja, dan kata itu tak pernah menemukan jalan keluar. Betapa banyak yang ingin kuketik. Mungkin tentang bisul yang tiba-tiba muncul di perut, yang semalam kutusuk dengan jarum tapi tak keluar juga nanahnya. Ini pertama kalinya saya dapat bisul di perut.

Sangat mengganggu, kadang suara manusia lain terasa sangat mengganggu, tak peduli dia sedang mengaji, bershalawat atau bernyanyi, berdoa sembahyang atau berbisik, suara manusia kadang bisa sangat mengganggu. Apakah kau merasakannya juga seperti saya? Setiap waktu? Sering terlintas di kepalaku betapa aku rindu pada diriku yang dulu. Yang membuka mata dan telinga selebar-lebarnya, yang sanggup menonton film seseram atau secengeng apapun, yang sanggup mendengar suara siapapun, yang bisa melihat ekspresi apapun. Dan kadang sekedar ingat itu saja kita tersenyum. Disana sendi kehidupan hilang hadir tak kau sadari. Dan aku disini takut menatap masa depanku.

Ini hanya hari biasa, saat tangan kau sandarkan di jendela. Tak ada lagi yang bisa dikerjakan, tak ada lagi yang mau kau lakukan, kau hanya menikmati kekosongan ini. Menikmati angin, menikmatai cahaya hangat matahari, meneliti aliran udara, mengamati nafas yang naik pelan teratur di dada. Kujumpai titk itu lagi.


Hidupkan Kembali Pak Harfan!

Kamis, 14 Juni 2012

Saya sedih dengan perfilman indonesia. Jujur saya ini penikmat fanatik film, tapi sering sedih kalo liat industri film negara ibu pertiwi. Gimana enggak coba? Sementara orang lain sudah mendaratkan Robot Raksasa di sisi gelap bulan (Transformers 3), kita malah masih ngerebutin telur ajaib (serial Tv Blangkon Ajaib).

Film, dari awal munculnya memang sudah menunjukkan potensi untuk jadi salah satu favorit yang bakal paling dicari. Sudah sejak film itu masih hitam putih dan tanpa suara. Sebuah negara melambung tinggi namanya kalau bisa menelurkan sebuah film yang "keren". Negara maju, maupun negara berkembang. Tengoklah india dengan bollywoodnya.

Oke, mungkin indonesia kesulitan mengikuti koreografi india yang waaaww!!. Tapi coba lihat jalan cerita Three Idiots, Taare Zamen Paar.Masih Sulitkah Indonesia mengikutinya? Orang pintar di indonesia banyak koq.

Memang, belakangan industri perfilman Indonesia mengalami perbaikan yang "mengharukan". Sebutlah Merantau, The Raid, Ayat-Ayat Cinta, dan Laskar Pelangi. Tapi itu semua masih jauh dari target yang menurut saya pribadi bisa kita capai.

Dan saya mau menekankan dulu pada film Laskar Pelangi. Sebagai penggemar Fanatik Tetra Logi Laskar Pelangi dalam bentuk novel, saya SANGAT kecewa. Film ini mungkin mendapat sambutan hangat dari berbagai kalangan, tapi saya, dan mungkin banyak pembaca setia Laskart Pelangi lainnya sangat tidak puas. Saya membanding-bandingkan, bukan dengan maksud merendahkan, tapi coba lihat HArry Potter! HarryPotter yang sama-sama film Adaptasi dari Novel. Saya sadar sekali keterbatasan kita. Tapi coba perhatikan.

Sebenarnya, kali ini saya mau membahas serial tv anak yang menjengkelkan itu. Tapi, komentar tentang Laskar Pelangi The Movie ini sudah terlalu lama saya simpan-simpan. Jadi, biarkan saya ngamuk sejenak. Tentu ngamuk dengan cara yang kalem. Tidak grasak grusuk, ato bakar-bakar ban.

Saya mau mulai dengan Pak Harfan. Pertanyaannya. Mengapa Pak Harfan Meninggal? Saya memang tidak mencari-cari faktanya, tapi teman-teman boleh lacak. Dari Novel Laskar Pelangi sampai Maryamah Karpov, pak Harfan SAMA SEKALI belum meninggal. Ya! Setidaknya itu yang ditulis Andrea Hirata di Novelnya. Saya tahu, Andrea Hirata dilibatkan dalam pembuatan film ini, tapi......ahhhh....saya tak tahu mau ngomong apa. Mungkin film ini mau dibikin jadi lebih dramatis, tapi, menurutku, cara yang baik tidak seperti ini. Apa pun motifnya, saya sama sekali tidak respek dengan modus seperti ini.

Lalu, tarian para siswa Muhammadiyah. Oke, keterbatasan. Lagi-lagi keterbatasan membuat pencitraannya tidak maksimal. Tapi ini namanya bukan kurang lagi, tapi Minus! Bayangan saya mengenai gambaran Andrea Hirata mengenai tarian itu rontok seketika. Benar-benar menjengkelkan. Jika film ini mau diliris ulang, sya sangat menanti perbaikannya.

Lalu, Flo. Flo di film Kalem banget. Cenderung lemot malah. Kemayu pula. Padahal, di Novel, Flo adalah petinju perempuan yang disegani. Saya juga menanti perbaikan disini.

Dan satu lagi, Lintang dan Lomba Cerdas Cermat. Okelah, tontonan ini mau ditujukan kepada segala umur. Maunya supaya semua penonton paham substansi film. Tapi, ini namanya kelewatan bro. Silahkan Liat Lintang di Laskar pelangi, Juga kejadian di Cerdas Cermat. Ini titk inti, sebuah simpul yang hilang.

Saya memang tak ada peran apa-apa di pembuatan film ini. Cuma penonton dan komentator saja. Tapi ini setidaknya menunjukkan bahwa saya ini perhatian. Saya peduli. Masih ada banyak masyarakat Indonesia yang Peduli dengan isi film yang ditontonnya.

Kalo lain kali, mau ada film adaptasi lagi, tolong lah mas. Janganlah terlalu di ubah. Apalagi lagi sampai "Membunuh" orang , ato"membunuh" Karakter.
 

Popular Posts

Tags

Akun (1) blegok (6) Catatan luka (36) DerapLangkah (11) gemes (1) Giyatta (7) Giyatta!! (3) HujanDeras (9) IN-g-AT (13) Kacau (31) KAYLA (3) LucuB (5) Mimpi (8) Minat n pengen (11) Naskah (7) Pesan (5) Puisi (4) salute (5) Sejuta hidup Sehari (45) Serius dikit (11) Shadowlight (16) SuPistik (6) tapi gak bakat (4) Ups (5) Wisata (7)

Ketikkan Saja