Tampilkan postingan dengan label Serius dikit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Serius dikit. Tampilkan semua postingan

Malam Introspeksi

Rabu, 19 November 2014

Badanku gemetaran, entah kenapa. Tapi jika memang mau mengingat-ngingat, sore tadi itu saya terguncang luar biasa. Hidup terasa kembali hampa, seperti sebuah perjalanan panjang sia-sia. Sang Dosen menasehati kami secara halus, betapa pentingnya membaca buku pelajaran, betapa penting belajar hal-hal keilmuwan. Betapa pentingnya mempersiapkan masa depan generasi setelah kita. Sebagai mahasiswa di jurusan pendidikan, nasihat itu tepat sekali, maka tentu wajar saja, tapi saya tersentuh. Tersentak tepatnya. Dedaunan kering di pohon jiwaku yang tinggi meranggas berguguran luruh perlahan, seiring cahaya kemilauan khayalku yang memburam dan runtuh melihat realita. Kupikir-pikir lagi, ah.. saya banyak sekali menyia-nyiakan hidup.

"Jika makalahmu masih seperti ini, tak usahlah turun demo, bicara ganyang koruptor. Kalian kelak akan menjadi koruptor juga kalo bikin makalah saja sudah kopas. Kalian malas serius belajar, apalagi memperdalam ilmu bahasa arab kalian. Ke malang sana, kalian bakal keok. Lucunya, sudah sejak lama kita begini. Saya dulu waktu mahasiswa juga kayak kalian! Bedanya dulu belum ada internet, jadi kami masih sibuk ke perpus. Lah kalian?". Ya, pak. Apa sih yang terjadi pada kami? Pada generasi ini..

Semoga generasi mu tak seperti kami, ya Si Manis? Aku tahu kau takkan seperti kami. Ah andai semua anak bangsa bisa seperti kau, bangsa ini akan maju lebih cepat. Tapi efek nasihat dosen itu memang dahsyat. Sepanjang pembelajaran saya cuma bisa membisu dan membeo, hatiku tertekuk, otakku tertunduk. Aku malu. Mungkin ini yang Temanku itu maksudkan dengan gugup. Ya gugup. Gugup melihat masa depan. Apalagi ditambah memikirkan hasrat untuk mempersunting kau. Tambah sinting lah saya. Sempurnalah kemasygulanku akan hidup kalau begitu caranya. Beritahu aku, kawan. Apa yang sebaiknya terjadi? Pertanyaan macam apa itu.!

Terakhir, mau kukatakan padamu aku bukan pertama kali ini cemburu. Aku SELALU cemburu sejak kusadari aku suka kamu. Aku terlanjur rendah rendahkan diri. Ndak pede kayak dulu lagi. Saya sering sok asik sendiri. Saya sering sok enak enakan. Padahal sudah itu saya uring-uringan di kamar. Juga mau kubilang, Sang Dosen itu hebat benar, bisa bikin saya depresi setengah mati. Tapi ada bagusnya, saya jadi ndak kepikiran buat macam-macam. Bahkan ngerusak hape teman tadi saya menyesal, tapi ndak sempat galau. Malam ini masih suram juga seperti kemarin, atau malam sebelumnya, dan sebelumnya lagi.

Sekian.
Salam Selalu.

Malam-malam Sakit

Selasa, 18 November 2014

Malam selalu membisikkan padaku kata-kata tentang cinta. Kata-kata tentang sakit. Tentang betapa begadang itu nikmat, tidur itu menyusahkan. Aku selalu gelisah. Di malam hari, di peraduan tempat seharusnya aku mengantuk dan tertidur, aku malah cengengesan. Curhat seperti anak kecil, bicara tentang suramnya kehidupan.

Malam selalu mengajakku berkelana, bukan untuk terlelap. Kecuali di malam yang dulu-dulu. Yang waktu itu cinta belum kukenal. Yang waktu itu aku masih punya keinginan kuat untuk terbang, untuk berlari jauh. Helaan nafasku. Malam mengajakku menonton film-film lama. Mendengar lagu-lagu enak. Mengingat-ngingat mimpi. Izinkan aku menjadi sendiri, menjadi tak punya siapa-siapa lagi. Karena cinta hanya melukai. Dalam tawa, dalam tangis, dalam sakit, dalam nikmat. Bahkan di ceritamu, sayang.

Episode baru hidupku bernama lepaskan dengan paksa. Tak jadi bagian dari apa-apa. Meski sebenarnya, aku haus cinta, haus perhatian semua manusia. Keegoisan ini sudah mengambil tempat terlalu banyak. Sampai memaksa-maksa tangan untuk menulis rekayasa kata yang muram durja. Bukankah kau tak tahu sayang? Aku begitu pintar berdialog sendirian. Ah, rasanya ini bukan lagi rahasia. Mereka semua tahu aku gila, hanya saja aku gila tanpa ngajak-ngajak. Jadi tak apa-apa, gilaku kutempatkan dimana-mana tapi tidak merusak siapa-siapa. Gilaku begini saja.

Hai manis, bukan karena kau aku gila. Aku begini sudah lama, ini kurang lebih pilihanku juga, bukan paksaan siapa-siapa. Kau jarang begadang, tahukah kau rasanya digigit nyamuk tengah malam? Tahukah kau rasanya ingint tidur, tapi pikiran ini tak mau? Namanya kesadaran, yang menghalangi kantukku bertemu tidur. Semuanya kuusahakan, menutup mata percuma.

Aih, malam... Sebuah kesimpulan yang tidak mengikat apa-apa, meski erat tak dinyana. Tapi seperti tirai hujan yang serasi bersama malam, seperti bunyi suling halus di kejauhan, tak teraup semuanya, tak tergapai seluruhnya. Aku tak mau membagi, tapi tetap saja aku merasa kurang. Hai manis,.. Semoga kau berbahagia.

Salam Selalu.

Apakah Masa Depanku Pantas Untukmu?

Senin, 03 November 2014

tak banyak yang mau kukatakan pada kertas kosong ini. Gelegak hampa ini tak terdefenisikan. Aku tak tahu kenapa, hanya merasa kosong. Mungkin karena banyak pikiran. Mikirin Rpp, mikirin skripsi, nasi yang hampir basi, nasi yang kebanyakan, lauk ayam goreng sisa sedikit, lauk ikan kuah kuning masih banyak, kacang rebus hampir membusuk, motor belum dicuci, lantai belum disapu. Stress.

Teman teman tahu mana yang harus kubereskan lebih dulu? Apa yang harus kulakukan? Tahukah kalian kalau aku pernah mempertimbangkan lari dari rumah? Apakah kalian merutukiku pengecut jika aku melakukannya? Bukankah lari dari rumah butuh keberanian besar? Aku sebenarnya tahu waktuku sudah sejak lama habis, terlalu banyak hutangku pada masa lalu, terlalu banyak. Sehingga aku takut melihat kedepan.

Aku yakin kalianpun pernah merasakan penyesalan seperti ini. Mengapa dulu tak belajar, mengapa tak mengerjakan tugas, mengapa begadang terlalu larut, mengapa tadi pagi tak mencuci motor, mengapa aku menunda nunda? Aku yakin kalian tahu rasanya jika pernah mengalami. Tapi yang beda adalah apa yang dilakukan berikutnya. Bukan begitu? Karena sejarah yang terhenti tidak ada, waktu bergulir terus.

Tik tok. Waktu mengetuk mengetuk ingatanmu untuk berhenti menyia nyiakan. Tapi aku memilih membiarkan dan menunda. Dan inilah yang kutuai.Sebuah kegamangan absolut. Aku tak bisa memastikan masa depan, ya semua orang juga begitu. Maksudku aku merasa masa depanku runyam. Masa depan seperti itu tak pantas diisi kehadiran seorang wanita hebat seperti kau... Makanya aku malu. Terima kasih, kehadiran kau membuat aku berani membuka mata melihat kedepan. Meski yang kulihat hanya abu dan puing. Sisa kejayaan yang aku runtuhkan. Dan aku tak bisa membuat kau ikut, meski aku sangat ingin. Sangat ingin... Bagaimana denganmu?

Salam Selalu

Kupenuliskah

Kamis, 30 Oktober 2014

Mungkin akan hanya aku yang terus mengenang seorang Iqbal Saja sebagai penulis.

Lahir dalam sebuah keluarga sebagai anak tertua atau pertama, catatan hidupku datar saja. Kalaupun ada beberapa dalam hidupku yang kalian tahu istimewa itu tak lain hanyalah kehebatan kedua orang tuaku dan ridha allah semata. Bahwa aku bisa pergi ke maroko dan dibeasiswa selama setahun disana, hanya sekolahku yang hebat dan menunjukku sebagai wakil. Singkatnya dari apa yang kulakukan tak ada yang begitu luar biasa, maka jarang kubangga banggakan apa yang pernah terjadi padaku. Pun jika kalian dapati ada hal hal istimewa dalam tulisan tulisanku ini, maka aku bersyukur pada Allah Swt. Karena sejujurnya, sejauh ingatanku, aku hanya mau mengaku diri sebagai penulis. Menjadi penulis yang karyanya dibaca dan menginspirasi banyak orang sudah menjadi mimpi yang menghantuiku sejak kecil.

Dari kecil, sejak tahu cara membaca, aku sudah mulai berusaha membaca banyak hal. Masih ingat aku, bagaimana ayahku membuat sebuah buku dengan tulisan tangannya sendiri agar aku mengenal huruf dan penggunaannya dalam susunan kata. Beliau tulis dalam sebuah notes sederhana, yang kerap kita lihat dipakai wartawan tempo lama. Yang ituloh, yang kalau mau membuka halaman selanjutnya, maka caranya adalah membuka kertas ke atas bukan kesamping. Maka setiap melihat notes seperti itu, selalu hinggap padaku rasa akrab yang mendalam. Setiap melihat notes seperti itu, sadarlah aku, Ayahku jauh di dalam hatiku adalah pahlawan besar. Buku itu dulunya selalu kubawa bawa kemanapun, masanya ialah sebelum masuk sd klas 1. Jadi aku sudah mengenal abjad sebelum masuk sd, lengkap dengan cara bacanya, penyambungannya. Saat itu aku belum sadar, kalau aku sedang jatuh cinta. Jatuh pada dunia baca tulis.

Waktu berselang, tahun berlalu. Banyak hal berubah, notes itu sudah tak tahu entah dimana, tertinggal di kenangan, 17 tahun lalu. Tapi cintaku pada baca tulis tak berubah, malah semakin tergila-gila. Di sd, majalah Tiko, bobo, beberapa komik dan koran koran kubaca sangat sering. Dan disana itu saja aku melampiaskan rasa, komik, majalah, koran, dan beberapa cerpen di buku pelajaran sekolah. Kadang saat sedang sendirian dan tak ada yang mau dilakukan, aku mulai membuka buku dan mengambil pulpen, menggambar sesuka hati. Anak kecil mana yang tak suka menggambar? Tapi waktu kecil aku pernah mengarang sebuah lagu. Judulnya Cinta Putih. Kala itu, aku sendiri yang punya konsep lagu begitu sehingga rasanya konyol sekali, sekarang pasti sudah banyak lagu judul begitu.

Semasa smp lah dia menjumpaiku, Sebuah Novel. Berlatar peristiwa WTC yg ditabrak pesawat, novel tipis ini, bahkan sangat tipis sebenarnya, mengisahkan sepasang kasih yang terpisah karena si lelaki wafat pada kejadian itu. Membacanya, merasakan luka sang gadis, perjuangannya dalam membuka hati yang terlanjur mati, penerimaannya pada hati yang baru. Dan aku hanyut begitu saja. Setelah menutup halaman terakhir novel itu, saya tahu saya mau buat yang seperti ini juga! saya mau buat yang beginian!

Sejak itu aku menjadi pembaca setia novel-novel apa saja yang kusuka. Tak ada genre khusus, selama bisa membawaku hanyut, aku suka. Dan ternyata menulis tak semudah membaca. Perlu tekad, kepercayaan diri yang tinggi, mental yang tangguh. Kesemuanya itu aku tak bisa miliki sepenuh waktu. Kadang aku ya, kadang aku tidak. Jika sedikit saja masalah datang, langsung aku kalah dan melemah, lalu menyerah. Sudah ada puluhan naskah. Tapi yang kumulai selalu tak bisa kulanjutkan. Seperti sebuah kutukan yang lengket tak mau lepas.

Kutukan yang agaknya juga menghujani aspek hidupku yang lain. Kuliah setengah setengah, cinta yang melemah loyokan, tugas yang dikerjakan seadanya, hidup yang serba tidak maksimal dalam usaha. Meringkuk dalam rasa malu. Meringkuk dalam rasa kalah. Meringkuk dalam rasa bersalah. Meringkuk saat marah. Meringkuk, berbaring, melemah.

Aku tidak punya rencana, cuma selembar harapan usang, beberapa doa, dan sebuah sumpah. Kegelapan mengelilingi sedikit cahaya terang. Aku berjalan dan terlelap. Aku lelah dan berbaring. Aku malu dan bersalah. Aku hina dan berdosa. Tapi aku berdoa, semoga besok jadi lebih baik.

Salam selalu

Terlepas Terbebas

Minggu, 13 April 2014


Saat itu aku sedang berjalan. Motor matic yang selalu setia menemaniku terparkir tak jauh di belakang sana, kehabisan bensin. Kuparkir sesukaku di pinggir jalan setelah lelah kudorong beberapa lama, jika ada polisi yang iseng-iseng lewat dan melihat motorku begitu, sudah pasti aku ditilang, sim ditahan, stnk ditahan, motor ditahan. Biarlah, lagipula aku tak punya rencana kembali kesitu. Jadi jika kelak diantara kalian ada polisi, atau pelaku curanmor yang menemukan motor itu, terserahlah mau kalian apakan motor itu, kuikhlaskan. Angkut saja.

Sambil terus berjalan entah kemana, aku tertunduk menatap aspal dibawahku. Dulu di SD, nilai-nilai raportku termasuk diatas rata-rata, meski jarang ranking 1 prestasiku termasuk gemilang. Terbukti dari seringnya si ranking 1 (dan teman sekelas lainnya---SEMUANYA) menyontek PRku, menyontek ujianku, bahkan menyontek catatanku. Kejadian seperti ini tak berhenti di sd, tapi terus berlanjut ke SMP, lalu SMA. Akhirnya aku tak tahan, mulai naik SMA kelas dua aku memaksa diriku BERHENTI PINTAR, aku mulai berusaha bodoh. Tapi ternyata sulit juga, karena sejak dahulu aku memang sudah malas belajar, namun tetap saja aku pintar. Apa yang harus kulakukan ya supaya cepat bodoh? Petualanganku untuk menjadi orang bodoh pun dimulai.

Aku mulai bermain di kelas saat penerimaan materi, aku perlahan menyeringkan bolos, aku mulai rajin main ps, sampai di puncaknya aku menyontek dalam 90% ujianku. Oh, jangan kau tanya, Saat itu aku begitu bangga! Tak bisa kulupakan tatapan kagum teman-temanku saat terpana melihat caraku menyontek. Karena tak seperti mereka yang semalaman membuat kertas contekan, aku tanpa basa-basi dan bertele-tele membuka buku catatan bahkan kadang buku cetak, di tengah ujian, dalam mencari jawaban. Semua ini sejauh pengetahuanku, tanpa tetangkap oleh guru manapun. Aku PUAS! Tapi tidak untuk waktu yang lama.

Saat kuperhatikan susunan angka di raportku, kekecewaan maha besar menguasaiku. Membuatku mengumpat dalam hati sekeras-kerasnya. Ternyata nilai-nilaiku juga tak jauh di atas rata-rata. Sementara nilai para pecontek lain melambung tinggi diatas sana. Aku muak! Dan akhirnya aku memaki-maki sejadi-jadinya melihat betapa orang lain yang nilainya berada di bawah garis rata-rata malah terlihat bahagia dan puas, bahkan saat memegang raportnya. Entah kenapa. Sudahlah, aku menyerah jadi orang bodoh, ternyata jadi orang bodoh memang sulit. I quit from being STUPID. Namun jalan garis takdir menampakkan tanduknya, aku sepertinya terlambat menyadarinya. Terlambat sadar dari kebodohan.

Hari berlalu mengganti minggu, minggu berlalu mengganti bulan, bulan berlalu mengganti tahun dan aku masuk kuliah. Ternyata usahaku waktu sma kemarin untuk jadi orang bodoh terlampau keras, sehingga hasil usahaku itu terukir keras jauh dalam sanubariku, aku telah menjadi orang yang berisi BODOH! Kelas perkuliahan jadi nampak memuakkan setelah beberapa kali dilalui, meski tentu awalnya aku sempat begitu bergairah. Nampaknya memang seperti itu untuk semua mahasiswa baru. Aku tak tahan! Lari ke tempat ps, warnet dan tempat karaokean jadi pilihan utama. Tugas-tugas yang hadir kukerjakan suka-suka, sistem copy paste sudah pasti jadi jalan utama. Malam-malam begadang tak jelas diluar rumah mewarnai hari-hariku. Dan tentu tiba hari-hari bolos kuliah. Maka cerita aku yang menetap dalam rumah sakit kebodohan kembali bergulir kencang. Tapi bukan cuma itu berita buruknya. Sudah kubilang tadi kan? Aku punya Motor MATIC.

Berulang kali jatuh dari motor karena suka kebut-kebutan sepertinya lebih melukai hati orang tuaku daripada tubuhku. Tentu, mereka menasihati sebisa mungkin, dengan cara sebaik mungkin. Namun sudah dasarnya bodoh, aku tak terlalu peduli, sedikit sesal tentu hadir ketika melihat mata ibu berkca-kaca, tapi ketika angin jalanan menggelitik wajahku, tak bisa kutahan tangan kananku untuk memutar gas lebih kencang. Kaca spion hanya ada untuk menangkal gangguan polisi, fungsinya sudah terlupakan. Rem tak bisa berbuat banyak manakala jarak dan kecepatan begitu tak seimbang, kecelakaan demi kecelakaan terus berlanjut. Dan pada saat bersamaan, jauh di lubuk hati kusadari, masa depan kuliahku terancam.

Nampaknya Tuhan memang Maha Tahu. Salah satu buktinya, dia tahu kegalauan yang melandaku. Dalam salah satu rapat yang kuhadiri, yang diadakan oleh perkumpulan jurusanku, terjadi keajaiban. Entah setan atau malaikatkah yang dikirim Tuhan waktu itu, intinya aku kesurupan. Aku yang saat itu hanya hadir dalam fungsi meramaikan, alias cuma pengikut rapat minor, malah berperan aktif dalam menyampaikan usul dan saran, dan---gilanya----juga kritik. Tak dinyana lagi, aku dipilih jadi ketua kegiatan itu. Ampun! Merasa sudah melaksanakan tugasnya, setan atau malaikat yang tadi merasukiku pergi dan mengembalikan kesadaran orang bodoh, entitas sementaraku saat itu yang langsung berteriak; CILAKA 13! Tapi aku tak cukup gentleman untuk menarik kembali semua kata-kataku tadi dan meminta mereka membatalkan penempatanku sebagai ketua. Apa mau dikata, nasi sudah jadi bubur, sudah dikecapi pula, makanlah!

Sepanjang persiapan yang berlangsung kurang lebih sebulan, otakku seperti dipelintir dan diperas. Tak sadar aku mulai sering ke kampus yang otomatis membuatku sering menghadiri kuliah. Karena ini kegiatan kampus, maka secara tak disengaja dan mau tak mau, hubunganku dengan dosen kembali diperbaiki. Semua urusan tentang transportasi, sertifikat dan lain-lain menyibukkan aku dan teman-temanku sehingga tak ada waktu ke tempat ps, warnet, apalagi karaokean. Kecuali tentu untuk beberapa urusan aku harus ke warnet, tapi hanya itu. Titel baruku sebagai Ketua Kegiatan membuatku hampir gila. Ya, ketika persiapan telah seperempat berjalan aku mengundurkan diri, yang mengundang protes keseluruhan dari semua yang terlibat. Namun syukurlah bukan hanya protes yang kutuai dari kejadian pengunduran diri itu, tapi juga sumpah setia mereka akan sepenuh tenaga membantu. Ini kurang lebih memberiku amunisi baru. Aku kembali maju.

Setelah semua rangkaian kegiatan ini selesai, terasa ada yang berubah dariku. Kuliah tidak menjadi kembali menarik, tapi rasanya salah kalau melewatkannya. Intinya kebodohanku perlahan sembuh. Namun sepertinya Tuhan juga Maha Ikut Campur, nampaknya dia belum selesai denganku. Kali ini aku betul-betul disuruh meninggalkan diriku. Aku terpilih untuk berkuliah setahun di luar negeri. Sensasinya seperti nyawa yang dicabut paksa dan dipindah ke tubuh orang lain. Setahun di luar negeri bersama orang-orang yang betul-betul berbeda kembali membawaku ke tahapan renungan yang selanjutnya. Apa itu orang pintar? Apa itu orang bodoh? Mana yang lebih baik? Mana yang akan bertahan? Mana yang bahagia?

Pertanyaan ini kubawa pulang sampai tanah air dalam keadaan belum juga terjawab. Kuliah kembali terasa membosankan, namun dengan alasan yang sama sekali bukan kemalasan. Justru aku sekarang merasa membuang-buang waktuku dalam kelas, dengan mengikuti perkuliahan aku merasa bodoh. Apakah bukan kebodohan ketika kita beradu argumen dengan menyajikan 3 teori yang persis sama akar dan tujuannya? Dan untuk mengejar sarjana? Sarjana apa!? Aku sekarang terlampau muak, melebihi sebelum-sebelumnya. Gas motorku yang kencang kini kembali menemukan defenisinya, dialah luapan emosiku yang berlebih. Pencair kebosanan yang telah berlarut-larut. Tempatku lari dari topeng-topeng palsu penipu dan pecontek.

Maka ketika akhirnya bensinku habis dan motorku tak mau lagi berjalan. Tak perlu lagi kutengok dompet atau kantongku, adakah uang disana untuk mengisi bensin. Aku hanya mau terus diterpa angin, terus bergerak, terus berpindah, jalan kakipun cukup untuk itu. Sepatu pantofel bututku menghantam keras aspal dibawahku, yang tak juga mencair sekeras dan selama apapun aku menatapnya. Keringat mengalir deras di bawah terpaan matahari, tasku terasa berat di punggungku tapi langkahku terasa ringan, sangat ringan. Aku terasa terbang. Nampaknya Tuhan memang Maha Cerewet... Semilir angin panas jalanan seperti berbisik keras-keras; "Kau Bebas!".

 

Makassar

Kamis. 13 maret 2014.

Bayangan Api

Kamis, 06 Februari 2014

Setiap orang punya sisi gelap dan sisi terangnya. Seperti api yang juga masih memiliki bayangan. Dan tulisan ada kalanya mempresentasikan warna jiwa si penulis. Pertanyaannya, mana yang harus lebih sering ditulis, mana yang sebaiknya ditulis? Gelapkukah? Terangkukah? Baiklah, kalau saya, terserahlah... Apa yang nikmat untuk kutulis itulah yang aku tulis.. Meski setelah saya baca-baca ulang ternyata dalam banyak kesempatana saya jauh lebih sering memilih menulis yang gelap-gelap dari kehidupan pemikiran saya.

Dalam kesempatan kali ini, saya ingin meregangkan otot dan melemaskan syaraf. Pandangan, pemikiran, pola pikir, cara pandang atau apalah semua itu... Telah terkikis gila-gilaan belakangan ini, masih terus terjadi tapi inilah hidup. Seperti air yang melewati sungai... Selama  ada ruang, arus akan hadir.. Terserah kau buang sampah atau berak di kali, mau buang permata, dollar atau emas... Sejauh ada ruang, arus akan hadir. Air akan mengalir. Dan disini saya. Menulis karena mau menulis.

Refreshing jiwa kata sebagian orang. Pemenuhan pada diri sendiri, tapi tak dipungkiri juga... Kadang aku ingin dibaca..Aku ingin tulisanku dikomentari.. Dipuji kalo boleh. Responlah, yah.... enak juga kalo ada yang merhatiin ternyata ya, kawan? Tapi ya mbok saya ndak maksa cari pengikut lah.. Ini Om Google sama Mas Blogger udah berbaik hati biarin saya nyampah di tempat mereka saya dah seneng... Galaksi seabrek bernama internet ini batasnya mungkin jauh juga.

Refreshing jiwa kata sebagian orang. Pemenuhan pada diri sendiri... Loh koq upline nya diulang? ya suka-suka  saya lah... Nulis itu puyeng juga loh.. bahkan karangan bebas.. bahkan tulisan ngaco kayak gini aja nih susah banget bikinnya sumpah... Butuh berton-ton ceramah, berkilo-kilo semangat.... buat bisa lanjut.. yah wajar.. Taraf saya masih penulis level beginner, atau mungkin sandbox... Ini udah empat paragraf... udah bagus lah kayaknya ini ya? Okelah... saya tutup dsini.. Rencananya mau rekap Firapu dan Roki semuanya... Hah.... Gilak... Padahal belum genap 10 halaman... inih kepala udh buntuuuuu.. aja...

Oke.
Salam Selalu.


Wahai Diriku?

Minggu, 08 September 2013

Aku dan diriku seperti tak saling mengenal lagi. Sudah tak mesra seperti dulu lagi. Kadang jika kulihat cermin, kulihat pantulan wajahku mendengus benci, seakan dia berkata, "Minggir!". Aku semakin takut pada diriku sendiri. Aku pernah mempelajari ilmu mendeteksi kebohongan dari sebuah film, sejak itu aku selalu mempraktekkan ilmu ini. Sekarang aku jadi kesulitan percaya pada orang lain, jadi kesulitan bicara atau minta tolong pada orang lain. Dan ketika aku berputar untuk melihat diriku sendiri, tiba-tiba kutemui wajah penuh cacat dan luka, yang semua kebohongan dan kebejatannya kuketahui. Orang yang selalu tidak aku sukai, ternyata dia disini....

Sedekit lubang kecil di pintu yang ingin kubuka, atau mungkin pintu yang sekedar ada disana. Wahai diriku, kudengar jeritanmu. Wahai diriku, kulihat tangisanmu meski tak ada air mata mau mengalir. Kurasakan betapa besar lukamu meski tak sanggup tangan ini meraba. Kudengar kau memanggil... Mungkin yang kau panggil bukan aku, tapi coba kau tengok, Kawan. Akulah satu satunya yang mendengarmu ketika semua yang lain berbalik pergi meninggalkan. Aku satu-satunya yang masih disini, mendengarkan ceritamu seburuk apapiun itu. Aku satu-satunya yang bertahan menemanimu ketika topeng kepalsuan mereka akhirnya kau buka. Jadi kenapa tak kau terima saja aku ini?? Dan mari kita selami lautan mimpi ini sekali lagi.

Wahai diriku, kau dan aku satu yang ditakdirkan  bersama....Dalam suka dan dalam duka, sampai kelak ajal sekalipun kita masih akan terus bersama. Jadi kenapa tak kita bakar sekalian bumi ini jika memang tempat mu di neraka? Karena rasa-rasanya akupun takkan masuk di surga kalau kau tak mau. Wahai diriku, kita berdua memang mencintai wanita cantik kan? Iya kan? Kau dan aku tak peduli sebejat apa mereka, sebodoh apa mereka... Tapi kau mencintai wanita cantik kan? Tapi benarkah begitu? Apa memang seperti itu? Aku tak bisa menjawabnya. Yang aku tahu, jawabanku pasti juga jawabanmu.

Jadi kenapa tak kau terima saja diriku? Ayo kita bakar malam ini sama-sama. Ayo jalan-jalan keliling dunia. Karena pada ujungnya aku harus mengaku. Tak peduli kata siapa atau apa. Ternyata setelah begitu jauh mencari belahanjiwa dan cinta, aku dipaksa kembali dan mengaku. AKU itu KAMU. AKU itu DIRIKU.

Jadi kenapa tak kau terima saja diriku?
Wahai diriku?


Tahun Kesedihan

Minggu, 07 Juli 2013

Ini tahun kesepuluh diutusnya beliau menjadi Sang Rasulullah, Utusan Tuhan, dan dia menamakan tahun ini, Tahun Kesedihan. Bukannya semangat Beliau akhirnya hilang atau hati Beliau melemah, namun tahun ini memang luar biasa memberatkan hati Sang Nabi Muhammad. SAW. Di tahun ini dua orang kesayangannya wafat dalam selang waktu tak sampai 2 bulan. Pertama Sitti Khadijah bintu Khuwaidah, istri Beliau, di susul Abu Thalib, paman beliau. Maka tahun ini beliau namai 'Amul Hizn'. Tahun Kesedihan.

Mari kita tarik sedikit garis waktu, dan kita hayati air mata Sang Nabi. Khadijah bintu Khuwaidah, istri beliau yang pertama, adalah Saudagar kaya, dan seorang janda terhormat sebelum dipersunting Sang Nabi. Dan Khadijah, dari sekian banyak pemuda dan pria lain di mekkah, memilih Muhammad, seorang pemuda yatim piatu penggembala kambing yang lugu. Di sini, di jiwa yang inilah, pertama kalinya Muhammad bertemu tempat untuk berteduh. Di Khadijahlah air mata perjuangan nabi bertemu muaranya. Segala keluh kesah, air mata darah dan keringat nabi di peras sampai habis di Pangkuan Khadijah. Ya, Khadijahlah perempuan pertama yang memberi Muhammad sentuhan keibuan setelah sekian lama. Cukup lama, sejak Ibu nabi, Sitti Aminah bintu Wahab, wafat saat Muhammad berumur 6 tahun. Mungkin Muhammad takkan lupa, bagaimana Khadijah menyelimutinya setelah penerimaan wahyu pertama. Bagaimana dia gemetar dalam pelukan Khadijah malam itu. Tak ada yang mampu meramalkan Tuhan, tak juga sang utusannya, Muhammad ibn Abdullah. Hari ini, 10 tahun kemudian, dia bertemu guncangan yang lebih dahsyat dari malam itu, kepergian Khadijah. Istri pertamanya, ibu dari anak-anaknya, peneduh jiwanya. Dan kelak, akan dia hadapi malam paling menakutkan, tanpa Khadijah. Maka mari kita hayati air mata Sang Nabi, dan bershalawatlah untuknya.

Sebulan lima hari kemudian, Abu Thalib wafat. Tahu tidak? Abu Thalib paman Nabi yang peling getol membelanya. Dialah tameng dari semua pedang dan anak panah quraisy yang mengarah ke tengkuk Sang Nabi, Muhammad keponakannya yang tersayang. Yang ia sayangi sebagaimana ia menyayangi anaknya sendiri Ali bin Abi Thalib. Tahu tidak? Abu Thalib bukanlah seorang muslim dalam melakukan semua itu. Betapa agungnya, dia bukan pemeluk agama islam, namun dia ikut berjuang!!. Dan Tahu tidak? Abu Thalib wafat dalam keadaan yang sama seperti dalam perjuangannya. Ya, dia wafat tanpa mengucapkan kalimat Laa Ilaa Ha Illa Allah.... Dia mati bertuhankan Latta, Hubal, dan Uzza. Dia mati kafir. Dan air mata Sang Nabi tumpah lagi. Tak ada yang dapat meramal Tuhan, tidak juga utusan-nya, Muhammad. Dan hari ini, tameng itu akhirnya bingkas, kaum kafir Quraisy menghembuskan nafas yang sudah sejak lama mereka tahan. "Akhirnya! Si Muhammad tak lagi bertameng!". Satu celah telah terbuka, kaum kafir Quraisy dialiri adrenalin yang membuncah untuk menghancurkan Muhammad yang tak pernah mereka rasakan sebelumnya. Pedang-pedang seakan bergetar, meraung-raung di balik sarung pedang mereka. Anak panah dan busurnya seakan ikut meronta di punggung mereka. Pisau-pisau haus darah. Dan ya, sungguh tepat kata Nabi, inilah Tahun Kesedihan itu. Jembatan perjuangan Islam jatuh satu penopangnya, hari-hari akan semakin berat. Mari kita hayati air mata Sang Nabi, dan bershalawatlah untuknya.

Dalam kitab Fiqhu Al-Shirah, karya Ramadhan Al Bauti, beliau tekankan "Bukan karena rasa sayang Nabi kepada dua orang ini yang membuat Tahun ini beliau namai Tahun Kesedihan" Lalu apa? Bukankah ini sudah cukup mengiris hati manusia cukup dalam? "Ya, namun alasan beliau menamai tahun ini Tahun Kesedihan, adalah betapa dahsyatnya kesulitan yang akan beliau temui di jalan dakwahnya setelah kepergian dua orang itu." Renungkan itu, kawan. Dia bersedih untuk jalan dakwahnya. Dia bersedih untuk umatnya, dia bersedih untuk kita.

Lihatlah beliau, suatu hari, seorang Kafir Quraiys mengolok-olok dia dengan menaburkan tanah di kepalanya. Sang Nabi pun terpakasa pulang dengan kepala penuh tanah. Mungkin, di tengah jalan pulang, banyak orang yang menertawakan kepalanya yang penuh tanah. Mungkin, ada yang meneriakkan ejekan-ejekan, bahkan mungkin ada yang memaki sambil tertawa terbahak-bahak. Tapi Nabi sampai di rumah dengan tangan bersih tanpa darah, tak menyentuh siapapun, tak melukai siapapun. Salah satu dari putrinya segera membasuh kepala nabi. Namun bukan cuma air yang mengalir di kepala beliau lalu jatuh menetes dari muka belaiu, tapi ternyata jatuh pula tetesan air mata anaknya. Ya, anaknya menangis tersedu-sedu. Ayahmu pulang dengan kepala penuh tanah, ulah seseorang yang masih sekampung bahkan mungkin tetangga, bisa jadi keluarga, maka kau menangis. Itu sesuatu yang wajar, namun apa sabda Nabi? ; Jangan menangis anakku, Allah selalu menjaga bapakmu ini.."

Jika, bapakku yang mengatakan ini, aku mungkin akan menangis semakin keras.

Curhatun Abdun

Rabu, 05 September 2012


Okelah Tuhan. Okelah Tuhan, bahwa aku ini belum tahu apa yang sebenarnya yang paling kuinginkan, sesuatu yang tak perlu kata bosan dan malas disana, yang memang tak terdapat disana. Bahwa aku ini terlalu cepat bosan melakukan apapun. Terlalu cepat bosan pada banyak hal, segala hal, termasuk diriku sendiri. Kenyataan nya aku tahu banyak sekali kata-kata bijak tanpa pernah mengamalkan satu darinya secara berkesinambungan. Aku tak bisa berkomitmen, okelah, aku terima itu sebagai kenyataan. Kenyataan yang ingin kuubah tentunya. Aku sadar bahwa kekuatan kata-kata itu dahsyat, kekuatan keinginan itu luar biasa. Tpi kau, kekuatanmu jauh di atas segalanya. Kuasa-Mu yang mengatur alam semestsa. Kehendak-Mu yang membuat alam ini ada. Kekuatan-Mu yang membuat aku nyata, meski fana.

Aku tahu bahwa mengeluh itu tak baik. Tapi aku hanya akan mengeluh di depanmu Tuhan. Tak apa-apakah itu Tuhan? Toh, didepan-Mu aku memang tak ada apa-apanya. Tak ada hal yang terlaru keren buatku sehingga aku bisa mengerjakannya seharian, sebulan, setahun. Entahlah Tuhan, semakin aku berkaluh kesah seperti ini, semakin aku sadar betapa banyak hal yang sebenarnya aku sia-siakan. Aku sadar punya sejuta potensi yang orang lain sangat-sangat menginginkannya untuk ada pada dirinya, tapi tidaK.

 Tuhan, kau telah memilihku untuk memilki semua kehendak gila, semua kemampuan ini, semua cara pandang tak normal ini. Dan dengan sungguh tunduk dalam kepasrahan, juga dalam kepongahan, atau kebosanan, aku memohon, aku kadang bertanya “Apa yang harus kulakukan?”. Dengan otak seperti ini begitu banyak yang seharusnya sudah kuhapal di luar kepala. Betapa banyak kosakata yang seharusnya sudah kupelajari. Begtiu banyak pelajaran yang seharusnya sudah kukuasai. Begitu banyak tugas yang seharusnya telah kuselesaikan. Namun, lalu aku terhempaskan pada sebuah pertanyaan mendasar yang begitu mengerikan “Untuk apa kulakukan semuanya?”.

Kekosongan dalam hati ini minta terus diisi yaaaaa Tuhan. Terlalu jauhkah aku tersesat?. Aku mengahambakan diri padamu, hanya dalam sebuah tidur panjang yang bersambung dengan tidur lagi. Karyakan aku!

Mengejar Karya Ilmiah

Kamis, 07 Juni 2012

Waktu telah menunjukkan jam 5 sorean lewat. Dan saya masih belum puas dengan yang saya dapatkan sejauh ini di internet. Oke, koneksi di warkop ini memang bagus (dan es tehnya enak, tapi kemanisan), tapi tak secepat yang saya mau.

Saya bertandang ke warkop ini, bersama laptop ku yang usang tapi masih kuat ini, untuk mencari bahan demi manyusun karya ilmiah yang terasa kian hari, kian menjengkelkan. Ditambah badan yang terasa lengket karena berkeringat dan berdebu (berlumut pula), juga karena belum mandi sore (dan belum sikat gigi dari tadi pagi), maka kepenatan saya lengkaplah sudah. Muak, semuat muatnya.

Karya ilmiah yang ingin saya susun ini adalah dalam rangka memenuhi tugas yang diwajibkan kepada seluruh anak Pendidikan Bahasa Arab, untuk mata kuliah Ilmu Alamiah Dasar, dalam rangka memenuhi nilai Mid Semester yang Ditiadakan. Dosen Ilmu Alamiah Dasar kami jadi kian dibenci (sangat), karena tugas ini. Segembira apapun kami di kelas, ketika tugas ini disebut oleh salah seorang, tiba-tiba hilanglah semua senyum dan tawa, digantikan mendung kelabu dan umpatan tertahan, dari jurang hati paling dalam kami (sungguh lebay, tapi benar). Sekatika itu pula kami lunglai. Namun tugas ini tak juga selesai.

Dengan inisiatif tersendiri dan semangat secukupnya, saya memutuskan untuk bergerilya, mengerjakan tugas ini diam-diam (sangat diam), toh ini adalah tugas individu. Sungguh-sungguh merepotkan perasaan dongkol ini. Tidur tak nyenyak, makan tak enak, nonton upin-ipin pun tak khusuk. Sudah seperti oarang diputuskan sama pacarnya, padahal lamaran pernikahan telah diajukan. Galau tak terkira-kira.

Saya memilih tema seputar "Game" untuk karya ilmiah ini. Kebetulan saya adalah penggila game. Saya ingin tahu, bagaimana pendapat mahasiswa pada umumnya perihal game ini. Dan lagi, Mereka pulalah yang saya ingin teliti. Cukup dengan angket yang saya sebar di 3 grup populer di Fb, dan 1 grup tidak populer (sungguh sedih, itu grupku). Saya berharap hasil yang saya dapatkan cukup. Betul-betul berharap.

Nah. Di warkop ini, saya sudah download beberapa artikel mengenai game. Saya terpikirkan, apa itu sebenarnya defenisi game dalam bahasa indonesia? Saya tak menemukan nya di kamus besar bahasa indonesia, karena ini kata inggris. Mungkin saya harus mencoba kata permainan, arti harfiah paling mendekati dari game. Entahlah.

Dan juga, saya dengan getolnya mencari panduan penulisan karya ilmiah. Saya sangat bego karena tidak menyimpan apapun dari materi KIR (Karya Ilmiah Remaja), sewaktu saya mengikuti pelatihannya di Makassar 4 tahun lalu. Yang saya masih simpan sampai sekarang malah salah satu nama dari peserta cewek di pelatihan itu yang bikin saya galau setiap hari. Oke. Itu bisa dibahas dan pernah dibahas di lain waktu. Jangan dan Bukan disini.

Beberapa paragraf uneg-uneg tak jelas ini sudah saatnya saya tutup. Bukan hanya karena saya mulai kehabisan bahan, tapi juga karena adzan maghrib tak lama lagi akan berkumandang. Dan itu tidak baik didengar jika kita masih melakukan aktifitas di luar rumah. Tenang, itu bukan fatwa dari ulama manapun, bukan pula dari Mario Teguh, itu hanya kebijakan falsafah pribadi saya.

Sekian.

SAng Juara Dimana mana

Selasa, 05 Juni 2012

Sebenaranya kita bisa melihat juara dimanapun. Berkeliaran ditengah-tengah kita, di depan kita, di belakang kita, disamping kirir kita, di samping kanan kita, di bawah kolong meja, diatas pesawat. Oke, udah kelewatan. intinya kita bisa menemui Sang Juara dimanapun. Bahkan dalam diri kita sendiri. Dan dialah Sang Juara yang harus paling kita banggakan.

Sang juara dalam defenisi yang gue punya, dalam pengetahuan tak berdasar gue, adalah orang yang selalu bisa mengatakan, "Ahh.. Gitu doang sih kecil!". Nahh, sampai sini silahkan berhenti membaca sejenak, Liarkan pikiran anda, silahkan bayangkan orang seperti apa yang saya katakan.

Waaww! iNI SIH NAMANYA GILA, berlebihan banget! Bisa siapa aja dong? Betul, semua orang biusa aja bilanng, "gini doang sih kecil.". Tapi ada sedikit perbedaan signifikan , yang membuat seseorang bisa dikatakan Sang JUara yang sebenarnya, bukan dalam pikirannya doang. Jawabannya jelas. Tindakan!

Siapa aja boleh bilang " Gini Doang sih Kecil!", tapi cuma sang Juara beneran yang membuktikan itu, yang merealisasikan itu. yANG Bertindak. AdaPun yang cuma bisa ngomong doang, bakal tetep dan selalu jadi Juara dalam pikirannya doang. Contohnya gue, gue tadi abis baca postingan-postingan nya Mabak DEE, si penulis supernova itu. Postingannya asyik-asyik n banyak yang baca. Gue aja yang bloon ini bisa-bisa nya sempet mikir, "Ahhh, Gue juga bisa kayak gitu!". Sungguh sebuah dosis kesombongan yang tak tertakarkan. tapi serius, gue sempet mikir kayak gitu.

Namun kesombongan yang memang di sulut oleh sedikit iri dan dengki itu tidak bertahta lama-lama. Karena secara tiba-tiba gue inget konsep tindakan ini, maka gue buka lah blog gue yang masih sepi banget ini, demi memenuhi janjiku pada diri sendiri.

Gue mau banget jadi Juara. Setidaknya gue punya sebuah cita-cita, gue pengen nulis novel yang dibaca banyak orang. Maka gue harus banyak berjuang dan sedikit banyak maksa. Contoh yah seperti ini, gue nulis blog., meski belum punya pembaca. Toh. untuk bisa nulis, kita cuma butuh setidaknya 2 tangan yang bisa dipake megang pulpen n nekan stuts keyboard. Urusan pulen ama keyboardnya bisa nyusul (itulah gunanya temen yang punya pulpen ama leptop!).

Gu4e suka baca kisah-kisah para juara, Sperti Mario Teguh. Ippho Swentosa, Dewi Lestari dan lainnya. Dan Semakin gue mendalami para juara ini, semakin gue paham bahwa mereka ternyata sama ja ma gue. Bisa nangis juga, bisa capek juga, bisa galau juga, bisa illfeel juga. Mereka gak lepas dari semua kekurangan yang gue n kita semua punya. Tapi yang berbeda dari mereka adalah sedikit hal kecil. Gue namain hal itu kepercayaan.

Konsep pervaya diri yang dulu kita pelajari di PPkn waktu sd itu udah tepat banget, (silahkan buka kembali buku PPkn sd anda untuk keterangan lebih lanjut), kalo direwnungin lebih jauh malah bisa super banget! (kalo mau tahu lebih jaun tentang ini tak perlu bertanya pada guru sd anda). Para njuara ini, seringkali gue temuin lebih percaya ma diri mereka sendiri dari pada tuhan! Itu namanya majas hiperbola aja. Setidaknya penggambaran seperti ini lebih membekas n tepat menurut gue. Mario teguh pernah bialng "Canangkan cita-cita mu setinggi tinggi nya, jangan berharap Harapanmu sejalan dengan kehendak Tuyhan, karena kau tak tahu kehendak Tuhan, tapi mintalah Tuhan merestui apa yang kau inginkan!"

Sekarang gue lagi punya tugas mentakhrij hadits, itu tugas yang seperti tikat masuk ruang final. Dengan sangat jujur disini saya katakan bahwa saya sudah muak dengan semua aturan perkuliahan dan tugas tugas yang menjengkelkan. Tapi saya bertahan disini untuk memnuhi janji pada diriku sendiri, Dan sebagai pembuktian pada Tuhan bahwa aku berhak untuk tempat yang lebih tinggi. Bukan karena siapa kau, namun karena apa yang kulakukan.

Gue senang mengoleksi kata-kata yang menguatkan jiwa, pikiran dan mental. Tapi aku sangat kurang dalam hal tindakan. Aku ingin berbuat banyak dalam ruang waktu manapun. Aku tak ingin mengenal batas-batas yang bmembelenggu. Tapi harus kuakui batas-batas itu ada. Ada untuk memperingatkan prioritasgw. Untuk memoerjelas kembali apa yang harusnya aku lakukan.

Tuhan terima kasih, untuk semua ini, untuk kedua tangan ini, untuk hidup ini.

 

Popular Posts

Tags

Akun (1) blegok (6) Catatan luka (36) DerapLangkah (11) gemes (1) Giyatta (7) Giyatta!! (3) HujanDeras (9) IN-g-AT (13) Kacau (31) KAYLA (3) LucuB (5) Mimpi (8) Minat n pengen (11) Naskah (7) Pesan (5) Puisi (4) salute (5) Sejuta hidup Sehari (45) Serius dikit (11) Shadowlight (16) SuPistik (6) tapi gak bakat (4) Ups (5) Wisata (7)

Ketikkan Saja