Tampilkan postingan dengan label Sejuta hidup Sehari. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejuta hidup Sehari. Tampilkan semua postingan

Hidup Ini Hanya Sementara

Minggu, 26 Juli 2015



Hidup ini hanya sementara... Mau kau apakan? Apakah kau mau seperti para penganut YOLO? Yang lalu mengisi hidup ini dengan foya-foya dan hura-hura, meledak menjadi-jadi, Terbang sampai membentur langit paling ujung, terbakar sebara-baranya sampai jadi abu halus. Atau seperti firman Allah dalam Al-quran, beribadah? Pergi ke mesjid, membaca alquran, berpuasa sunnah, bersedeqah, rajin membantu sesama dengan ikhlas dan hanya mengharap imbalan pada Allah semata? Atau sebenarnya hidup ini sederhana.. Hanya sebuah kejadian dari rangkaian raksasa rencana dan kehendak Ilahiyah. Dan kita tinggal harus menjalani saja.. Mengikuti arus, terbawa angin berhembus, menikmati perjalanan, menyeka peluh, menyediakan bekal, lalu berjalan lagi.

Mungkin hidup gabungan dari ketiganya. Kita berpesta di hari raya tuhan sepanjang hayat kita. Kita beribadah dengan berjuta gerak dan tarikan nafas, dan dzikir dari detak jantung, puja puji tuhan selalu dari denyut nadi, pompa nafas surgawi tanpa henti, hingga Tuhan memanggil untuk kembali. Kita berjalan diantara pesta ke pesta, ibadah ke ibadah, dan terus kita berjalan, dan berjalan, terus kesana entah kemana, ke tujuan yang telah disiapkan untuk kita, sesuai jalan yang kita tempuh.

Aku ingin sekali percaya aku bisa hidup selamanya. Di pesta raksasa ini. Di ibadah kultus khusyuk ini. Di Jalan panjang menghanyutkan ini. Ingin sekali selamanya begini, tak usah kemana-mana lagi. Cukup disini. Tapi panggilan-Mu... Membuatku rindu. Dan aku mengetuk, selalu mencoba mengetuk. Meski selalu pula melakukan dosa. Karena taubat menyiksa. Kebosanan melingkupiku, menyergapku. Kegelapan menemaniku. Dan aku selalu merasa kesepian tanpa cinta atau apapun itu.

Sekian...
Salam Selalu

It Was A Wrong book, Mate

Senin, 13 April 2015

Menulis adalah mengikat makna. Membaca adalah satu-satunya yang masih mengingatkanku pada siapa aku dulu, pada namamu, pada dirimu. Satu-satunya yang masih mengikatku padamu. Dan tali ini akan kupegang erat-erat. Sejujurnya aku memilih lari. Aku hanya memilih lari dan sembunyi dari semua masalah. Dari semuanya. Aku tak mau menghadapinya, karena rasa sakit diabaikan itu ternyata terlalu sakitnya. Seperti semua lubang hitamku dikumpul jadi satu ditambah satu lagi yang baru setiap kali itu terjadi. Sebuah rasa sakit yang betul-betul tak berwujud. Tak bersulosi. Tak ada tempat lari dan atau sembunyi dari yang satu ini. Karena justru di pelarianlah rasa sakit ini kutemui, justru di persembunyian sakit ini bersarang, Meraja. Dan menerkam segalaku.

Jika menulis adalah mengikat makna, membaca adalah menemukannya. Dan kukira kaulah buku yang tertulis untukku, sebuah buku yang akan kurawat sepenuh hati, kusampul dan takkan kupinjamkan pada siapapun, takkan bosan kubaca hingga berkali-kali. Darimu akan kutulis beribu karya indah tak terperi, karena kau adalah kristal makna yang takkan habis dicacah, takkan selesai dibagi, takkan sempurna dipetakan, kaulah maha makna untukku. Lalu tiba-tiba buku itu menutup setiba-tibanya. Seakan tak pernah dulu buku itu terbuka walau sehalaman, tak pernah untukku. Mendebulah semua makna itu, hilang. Karena hatiku ini rapuh dan lemah dan plin plan. Tak bisa kugenggam, ternyata, pasir makna yang berjuta-juta darimu. Kau menjelma jadi sejuta asteroid di luar angkasa. Mengawang tak berbeban meski sarat massa jika kau masuk ke orbit lingkar gravitasiku. Hai bidadari yang keluar dari kamus tujuh bahasa dan sastra pelangi tujuh warna, kenapa begini jadinya?

Sebuah buku tergolek, diam tak melakukan apa-apa. Tak ada yang tertarik untuk membacanya, tak ada yang tertarik mengikat makna darinya, tak ada yang menganggap ada sesuatupun yang bisa ditulis darinya. Kini kucoba menerka-nerka, jika aku jadi kau. Jika aku jadi Kamu, lalu bagaimanakah terlihatnya aku dari mata Kamu? Apakah sebuah bayangan yang ada tapi tak perlu dianggap ada? Atau debu yang ke-ada-annya selalu siap jadi tapi bisa pula dikebas seketika dan menghilang. Atau hanya sekedar sebuah ada yang menuntut diperhatikan tapi tak penting untuk dirawat dan disayangi, ada yang membingungkan dan mengganggu tapi tak cukup mengganggu untuk diatasi serius. Aku sedang menjadi Kamu, dan yang kulihat hanya seorang laki-laki dewasa tanpa masa depan yang lucu dan menyedihkan. Tapi diatas semua itu, dari mata Kamu kulihat seorang laki-laki LAINNYA. Tak ada yang istimewa, tak ada yang spektakuler, tak ada yang menarik, tak ada, normal dan biasa-biasa saja, bahkan aneh dan cenderung menjijikkan. Laki-laki di depanku ini bau. Bau tak enak yang mengernyitkan hidung, merindingkan bulu kuduk, dihindari orang-orang. Segera aku jadi aku lagi.

Tapi kita takkan pernah tahu kan? Seseorang harus membuka buku itu membacanya. Hei, apa yang ada di dalamnya? Mungkin memang tak ada apa-apa disana, hanya sebuah buku kosong bersampul mentereng yang dilupakan seseorang tanpa sengaja, atau orang itu memang tak peduli pada buku ini. Bisa jadi juga ada sesuatu yang sangat menarik disana, ada tulisan dari seseorang yang tiba-tiba kita merasa mengenalnya. Dan semua orang mulai penasaran. Hei, apa isi buku itu? Ketika semua orang mulai mendekati buku itu. Melihatnya lebih baik. Orang-orang itu menyadari buku itu milik seseorang. Orang itu teman mereka. Mereka menghubungi orang itu. Orang itu datang dan melihat buku itu. Ya, itu bukuku, katanya. Tak ada yang mau kuberi buku ini? Dia bertanya. Tak ada yang mengangkat tangan, awalnya. Lalu satu tangan terangkat, lalu dua. Buku ini buku tua, katanya. Antik, katanya. Takkan kuberi siapa-siapa, katanya, tersenyum miring

Ya sudahlah, kita semua orang baru disini kan? Ayo pulang. Buku itu? Buku itu milik dia.

>>>>>>

Sekian
Salam Selalu

Makin Jauh

Jumat, 21 November 2014

Gelombang punya Supernova gubahan Dee bikin mabuk. Iya bikin mabuk. Pokoknya mabuk. Apa sih yang kau harapkan dari saya yang sedang mabuk. Sedangkan saya tak mabuk saja tulisanku sudah kacau. Apalagi saya yang sedang mabuk. Mabuk Gelombang Supernova. Aku dimabukkan sama rasa ingin hepi terus. We need Moreeeeee Supernova like this one. Jujur Partikel kemarin agak berat, dia tuh sama kayak Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh kemaren, mainnya terlalu rasa ahhh..

Rasa dingin ac ini menyenangkan sekali, sekaligus melenakan. Enak. Ditambah tadi habis makan kebab tomat dan cendol. Mantap. Tapi sempat sebel juga karena waktu pesan burger ya g keluar kebab.. Benci. Tapi ya sudahlah, ada gelombang. Dan sekrang saya jadi sempurna penasaran... Bahasa korea itu bacanya gimana siyyy... Soalnya ada yang mau saya terjemahin disini! Oh manis, kau tulis "Oh" saja saya penasaran apa maksudnya, ini hruf korea! superb lah... Baiklah, calm down for a sec will we? Belum tentu juga tulisan itu untuk saya, tetap saja saya penasaran. Pake adegan kamu nulisnya passs waktu mau ngasih ke saya. Ah sudahlah. Anomali kau itu.

Mataku sudah berat sekali, mengantuk. Malam ini kubikin jadi apa bagusnya? Sudah, jangan tanya. Malam ini ya malam, ya hitam, ya ada bintang, ya ada bulan. Malam ya malam. Tak peduli apa. Malam ya malam. Cumbu rayu halus alam, tanah dan langit. Kompak banget ya mereka, kalo dah malam... Padahal tadi siang aja bakar-bakaran, udah adem ademan lagi sekrang. Desau napasku masih sama koq. Malas.

Bahasa apa yang paling ingin kupelajari setelah bahasa korea? Spanyol mungkin. Atau arab, saya gampang ngajarinnya, gampang bikin skripsinya. Besok ngajar, wah.. ngajar apaan yah... Saya kosong nih belakangan ini. KOSONG. gak ada inspirasi, motivasi, apa si. Ini doang Gelombang keren banget. Makasih mamen, kamu memang keren! Tadi ngumpul ma teman teman mereka nanyain proposal skripsi, saya gemetaran. Gugup mau jawab apa. Kenapa gak sistem ujian aja siy.... Wisuda donkkkkkkk... aduh masih lama banget gila. Ada laporan PPL, ada KKN.. ck. Pusying. Semoga ppl kkn gak ngulang.

Coba bisa gini terus, makan ada terus... Rumah nyaman. Air cukup. Listrik memadai. Ngapa ngapain enak. Mikiran kepengen malah jadi gelisah. Jadi tidak bisa menikmati apa yang udah aja dulu. Dasar Manusia Malas. Tapi aku mau koq jadi rajin kalo bisa, bisa si. Tapi malas. Ck. Apaan. Yang jelas, malam ini gak usah dicat hitam lagi nih kamar. Pasti kasihan ya? Makin jauuuuuhhhhhh... Seeeeedddddiiiiihhhhhhhhhhh.........tauk!

Sekian.
Salam selalu.

Aku Mau Disini Terus

Kamis, 20 November 2014

Aku mau tinggal disini saja terus, dalam kamarku. Ac sudah dingin lagi, wify lancar, ada selimut, ada banyak buku. Aku mau tinggal disini saja terus. Supaya tidak usah capek jalan kaki keluar. Tidak usah capek capek makan. Tidak usah capek capek buat orang ngerti, bicara sama orang. Gak usah dengar hal hal yang menjengkelkan. Tidak usah ketemu kamu. Malam ini aku mau di kamar saja terus, sendirian.

Aku baru saja menamatkan novel atau apalah namanya buku yang berjudul Rahvayana, karangan Sujiwo Tejo yang kata dianya mungkin lagi kerasukan Rahwana. Lucu juga, aku suka gayanya. Buku itu rekomendasi teman dari jawa timur, yang memang beliau suka sama Sujiwo Tejo. Isinya bagus ternyata, enak dibacanya, asalkan kamu ndak usah maksa-maksain paham, pasti bisa kamu tamatkan. Soalnya cara dia nulis ini rada-rada ngawur. Kerennya ini buku disertai kaset lagu segala, iya sih udah banyak yang kayak gitu. Tapi kalo saya seingatku ya baru pertama kali ini aku punya. Ada sajak sajak nya setelah cerita inti selesai. Setelah cerita inti bahkan disertakan daftar pustaka. Subhanallah.

Aku sih ya sebenarnya lumayan puyeng juga bacanya, soalnya banyak nama wayang. Morodadi, Sarpakaneka, Wibisana, Trijata dan banyak banyak laiknya, ada batara lah... resi lah.. dewi lah... hanuman... banyak kera! Aneh aneh saja kalo kalian mau paksa paksa ngerti. Makanya mata dosenku kemarin, banyak baca referensi ringan serius dulu baru baca bukunya. Ah embuh, yang penting sekarang saya lagi hampa. Asik ah,  ngebahas hampa mulu aku ini.

Besok mau kuliah regular, mengulang buat perbaikan nilai, belum nyusun skripsi. Ini lagi skripsi ahh bikin keki. Ppl juga harus nyerahin laporan, apaan! Resiko situ jadi mahasiswa, ya kerjain lah! Kerjain woy kerjain! Hallah... aku sih mau leyeh leyeh, malas-malasan ogah-ogahan. Tidak boleh begitu sih seharusnya.

Lagian kenapa dijudes-cuekin sampai segitunya siyyy?! Aku kan jadi gemes-gemes asem gimanaaaaa gitu. Atau cuma perasaanku saja ya? Ah... sadarlah boy, nggak mungkin.. iya nggak mungkin.. nggak mungkiiiiinnn.. kinnnn.kinnn.... Sudahlah nyerah saja... Tinggalkan dan Lupakan sja mimpi mimpi itu. Hanya mengganggu tidur panjang kita. Tidur yang melana hinakan. Bangun bangun sudah ada nyala api berkobar di depan mata. Hayoooo..

Sudahlah, kita sudahi saja. Bingkai bungkusan kamu saya jadi makin ambil tempat saja, jadi sulit aku dan kau saling mengerti satu sama lain. Ahh.. siapa sih aku?! Malam ini aku mau tinggal disini saja. Aku mau malas-malasan sampai..... sampai jatuh cinta itu enak.

Sekian.
Salam Selalu.

SMS (sungguh mati sayang)

Selasa, 18 November 2014

ce: Is it okay if I love U, kak?
co: ofcors its okay! I hope god says its okay too.. cause I love U too, dek.
ce: well.. haha.. becanda ji saya kak..
co: oh ya? well..truth has been told.. kalo saya serius, dek. Ku sayang ki.
ce:....
co: napa dek?
ce: marah ki pasti, kak.
co: ya iyalah marah... ka kusayang betul ki tapi takut ka bilangki.. malah kau main maini ka.. tapi nda papa ji.
ce: serius nda papa ji? minta maaf ka kak.. masih mau ja temanan sama kk tapi nda mau ka pacaran sama kk. nda bgtu perasaanku sma kk.
co: ya iyalah nda papa.. lagian saya jg gk ngajak pacaran koq.
ce: maksudnya kak?
co: sy maunya nikah.. tapi ya entar.
ce: ahh... serius ki kak? seram..
co: hehh? koq seram.. sorry dek.. haha.. iya serius ka, seenggaknya sekrang.
ce:....
co: yo.. napa lagi?
ce: ndak kutau apa mau kubilang :,(
co: hee? koq nangis... udah udah... gak usah ngomongin in lagi.. maap maap..
ce: terharu ka, kak... tambah besar rasa bersalah ku ini kalo memang benar apa kk bilang.
co: etdah... udah udah udah... becanda ja pale juga.... brhenti miki nangis itu e...
ce: BERCANDA KI PALE KAK?
co: enggak siy.
ce: iiihhh.. kk ahhh! sebel tauk! jadi tambah nangis nih... kenapa begitu kk!
co: ka nangis ki dek.. ndak kusuka sekali kalau ada cewek nangis.. apalagi kau ceweknya.
ce: pale, berhenti ma nangis..  jangan begitu lagi kk! aku gak suka.. well.. kyknya gak ada cewek yang suka.
co: iya iya.. maap maap.. jadi? jam berapa mi disitu.. belum mau istirahat dek.
ce: iya malam mhy.. istirahat ka dulu pale, kak..
co: iya.. selamat tidur.
>>>>>

di kamar masing-masing.

ce. "kusayang ki kak"... lalu tidur pulas sampai pagi dengan senyum.

co. "darn it! damn it! f*ck it!".. gak tidur sampe pagi.

sekian.
salam selalu.

Kupenuliskah

Kamis, 30 Oktober 2014

Mungkin akan hanya aku yang terus mengenang seorang Iqbal Saja sebagai penulis.

Lahir dalam sebuah keluarga sebagai anak tertua atau pertama, catatan hidupku datar saja. Kalaupun ada beberapa dalam hidupku yang kalian tahu istimewa itu tak lain hanyalah kehebatan kedua orang tuaku dan ridha allah semata. Bahwa aku bisa pergi ke maroko dan dibeasiswa selama setahun disana, hanya sekolahku yang hebat dan menunjukku sebagai wakil. Singkatnya dari apa yang kulakukan tak ada yang begitu luar biasa, maka jarang kubangga banggakan apa yang pernah terjadi padaku. Pun jika kalian dapati ada hal hal istimewa dalam tulisan tulisanku ini, maka aku bersyukur pada Allah Swt. Karena sejujurnya, sejauh ingatanku, aku hanya mau mengaku diri sebagai penulis. Menjadi penulis yang karyanya dibaca dan menginspirasi banyak orang sudah menjadi mimpi yang menghantuiku sejak kecil.

Dari kecil, sejak tahu cara membaca, aku sudah mulai berusaha membaca banyak hal. Masih ingat aku, bagaimana ayahku membuat sebuah buku dengan tulisan tangannya sendiri agar aku mengenal huruf dan penggunaannya dalam susunan kata. Beliau tulis dalam sebuah notes sederhana, yang kerap kita lihat dipakai wartawan tempo lama. Yang ituloh, yang kalau mau membuka halaman selanjutnya, maka caranya adalah membuka kertas ke atas bukan kesamping. Maka setiap melihat notes seperti itu, selalu hinggap padaku rasa akrab yang mendalam. Setiap melihat notes seperti itu, sadarlah aku, Ayahku jauh di dalam hatiku adalah pahlawan besar. Buku itu dulunya selalu kubawa bawa kemanapun, masanya ialah sebelum masuk sd klas 1. Jadi aku sudah mengenal abjad sebelum masuk sd, lengkap dengan cara bacanya, penyambungannya. Saat itu aku belum sadar, kalau aku sedang jatuh cinta. Jatuh pada dunia baca tulis.

Waktu berselang, tahun berlalu. Banyak hal berubah, notes itu sudah tak tahu entah dimana, tertinggal di kenangan, 17 tahun lalu. Tapi cintaku pada baca tulis tak berubah, malah semakin tergila-gila. Di sd, majalah Tiko, bobo, beberapa komik dan koran koran kubaca sangat sering. Dan disana itu saja aku melampiaskan rasa, komik, majalah, koran, dan beberapa cerpen di buku pelajaran sekolah. Kadang saat sedang sendirian dan tak ada yang mau dilakukan, aku mulai membuka buku dan mengambil pulpen, menggambar sesuka hati. Anak kecil mana yang tak suka menggambar? Tapi waktu kecil aku pernah mengarang sebuah lagu. Judulnya Cinta Putih. Kala itu, aku sendiri yang punya konsep lagu begitu sehingga rasanya konyol sekali, sekarang pasti sudah banyak lagu judul begitu.

Semasa smp lah dia menjumpaiku, Sebuah Novel. Berlatar peristiwa WTC yg ditabrak pesawat, novel tipis ini, bahkan sangat tipis sebenarnya, mengisahkan sepasang kasih yang terpisah karena si lelaki wafat pada kejadian itu. Membacanya, merasakan luka sang gadis, perjuangannya dalam membuka hati yang terlanjur mati, penerimaannya pada hati yang baru. Dan aku hanyut begitu saja. Setelah menutup halaman terakhir novel itu, saya tahu saya mau buat yang seperti ini juga! saya mau buat yang beginian!

Sejak itu aku menjadi pembaca setia novel-novel apa saja yang kusuka. Tak ada genre khusus, selama bisa membawaku hanyut, aku suka. Dan ternyata menulis tak semudah membaca. Perlu tekad, kepercayaan diri yang tinggi, mental yang tangguh. Kesemuanya itu aku tak bisa miliki sepenuh waktu. Kadang aku ya, kadang aku tidak. Jika sedikit saja masalah datang, langsung aku kalah dan melemah, lalu menyerah. Sudah ada puluhan naskah. Tapi yang kumulai selalu tak bisa kulanjutkan. Seperti sebuah kutukan yang lengket tak mau lepas.

Kutukan yang agaknya juga menghujani aspek hidupku yang lain. Kuliah setengah setengah, cinta yang melemah loyokan, tugas yang dikerjakan seadanya, hidup yang serba tidak maksimal dalam usaha. Meringkuk dalam rasa malu. Meringkuk dalam rasa kalah. Meringkuk dalam rasa bersalah. Meringkuk saat marah. Meringkuk, berbaring, melemah.

Aku tidak punya rencana, cuma selembar harapan usang, beberapa doa, dan sebuah sumpah. Kegelapan mengelilingi sedikit cahaya terang. Aku berjalan dan terlelap. Aku lelah dan berbaring. Aku malu dan bersalah. Aku hina dan berdosa. Tapi aku berdoa, semoga besok jadi lebih baik.

Salam selalu

Tak Ada Jurang Tanpa Dasar

Selasa, 28 Oktober 2014



“Tak ada jurang tanpa dasar, Nak”. Begitu kata orang bijak. Tapi bagaimana kalau mereka keliru? Bagaimana kalau jurang tanpa dasar itu memang ada. Bagaimana kalau ternyata kata-kata itu hanya hadir untuk menjamin sebuah kenyamanan palsu?

Mungkin kata-kata bijak seperti itu tak pernah ada, namun kata-kata itu yang terpikirkan di kepalaku saat memikirkan ini, “Jatuh tanpa henti”.. dan untuk lebih jelasnya, yang kumaksud adalah “Jatuh cinta tanpa henti”. Bukan gagasan yang terlalu manis, kau tahu? Tak seromantis yang kau pikirkan!. Pemikiran aneh dan ngawur ini muncul setelah aku menonton episode terakhir Avatar, The legend Of Korra Chapter Two. Disitu diperlihatkan adegan tatap muka Korra dan Mako yang membahas tentang putusnya hubungan tali cinta antara mereka. Hubungan kita ini takkan berhasil, tapi kita akan saling mencintai selamanya. Betapa mengerikannya.

Seperti orang yang jatuh kedalam sebuah jurang dan tak pernah menyentuh dasar. Kasarnya, aku lebih memilih mati hancur terhempas di dasar jurang, atau patah tulang, atau tertusuk bebatuan runcing dibawah sana daripada harus terus mengambang dalam sebuah ruang hampa. “Jatuh tanpa henti”. Kurasa sensasi yang kurang lebih sama akan terasa saat kau mencintai seseorang tanpa henti, saat kau tahu dia juga mencintaimu juga… tapi takkan pernah satu. Satu detail yang kulupakan. Dalam kasus ini kita bukan mengawang di ruang hampa, atau mengarah ke jurang kosong menganga, melainkan melihat dasar tapi tak pernah mencapainya. Karena ini bukan cinta bertepuk sebelah tangan, ini tepuk dua tangan yang tak pernah bertemu.

Dalam kasusku sendiri, aku tak pernah menjadi pihak aktif yang meninggalkan kekasihnya. Selalu mereka yang meninggalkanku lebih dulu. Dan jujur aku belum melupakan apa-apa, seperti menaruh sebuah bola kaca baru di tempat yang penuh dengan bola kaca lain. Aku hanya menambah stok perasaan baru tanpa bisa benar-benar menghapus perasaan sebelumnya. Aku hanya menambah nama dan peristiwa tanpa sempat menghapus nama dan peristiwa lama. Otakku telah kuformat secara tak sadar untuk meletakkan secara khusus hal-hal seperti ini. Peristiwa tentang cinta, di kepalaku, merekat seperti alteco.

Sekarang aku sedang dekat dengan seseorang bernama Nawu, mungkin hanya aku yang merasakan, tapi aku mulai memperhatikan dia lebih, aku naksir padanya. Tapi aku menyadari keadaanku yang belum bisa sepenuhnya bergerak dari kisah dan perasaan pada orang-orang terdahulu. Jadi aku lebih memilih diam menunggu, memperhatikan tanpa terlalu menarik perhatian. Aku bukan lagi Iqbal yang sama sebelum mengenal perasaan yang banyak orang katakan cinta. Banyak yang berubah dari caraku berhubungan dengan orang, bersosialisasi dengan yang lain. Tapi satu yang tak pernah berubah dari prinsip ku “Aku tak pernah mau menyakiti mereka”. Tapi malah menyakiti semua, karena sikap plin-plan ku ini.

Ah.. Kuharap nanti bisa ketemu Avatar The Legend Of Korra, Chapter Three… Supaya aku tahu, apa yang selanjutnya terjadi antara Mako dan Korra. Apakah memang ada jurang yang dasarnya tak tergapai, selama apapun kita jatuh? Atau jawabannya akan datang menemuiku, lebih dulu dari itu.?

Salam Selalu.

U MESS WITH A WRONG MOMMA

Kamis, 19 Juni 2014

Ibuku tadi hampir dijambret, udah dijambret siy... Cuman ranselnya bisa balik lagi. Laptop dan uang jutaan rupiah terselamatkan. Meski sekarang ranselnya di tahan di kepolisian, katanya mau dijadiin barang bukti. Penjambretnya so pasti babak belur. Tapi salut lah sama penjambretnya. Masak kan nih ya, ibu saya pake vario, itu ransel di taro diantara dua kakinya, tuh jambret nyambitnya keren pasti. "Koq bisa keambil ya? Koq bisa nyampe ya?" Ibu saya sampai sekarang masih terheran-heran dengan hal itu.

Jambret itu jumlahnya dua orang, yang ngehajar itu massa. Massanya bejibun, oh.. mereka babak belur. Begitu diseret ke kantor polisi, yang satu dah sekarat. Yang masih belum sekarat, kasihan banget tadi saya liat fotonya... Dia ngerawatin yang lagi sekarat, ya kawannya itu. Sekalian, kata ibu saya, dia juga bakal sekarat. Soalnya ntu pak pol pak pol kayak udah gemes banget ama para PENCURI ini, mereka sesekali dipukul sama polisi, di kantor mereka. "Mama jadi kasihan liatnya juga nak..." Kata ibuku, prihatin. Soalnya kan mereka para jambret ini digebukan  tiada bukan ya karena jambret ibu saya, kurang lebih lah ada andil ibu saya disitu. "Ampuni kami Tuhan.".

Pada waktu yang kurang lebih sama, yaitu tadi siang juga, saya sedang ada di tempat penjual telur, sedang beli telur. Punggungku enteng, ranselku kusimpan di motor di seberang jalan yang berhadapan dengan punggungku. Artinya, hanya 5 langkah dari tempatku berdiri. Beli telur ayam satu rak, harganya 35 ribu, katanya telur ayam ras, saya tak peduli. Selama bisa buat telur dadar dan nasi goreng, ya sudah saya beli. Setelah berbalik dan melangkah menuju motor, tampak sebuah pemandangan aneh. Bukan, gak mungkin tiba-tiba mantan saya muncul and mau nraktir saya bakso atau coto kuda, bukan juga tiba-tiba ada lahar meleleh dari bawah tanah.,.. anu... ituloh,.. Motor yang saya parkir itu koq keliatannya agak beda ya?

Ohya, ranselnya ndak ada. Saya cari-cari di penjual telur, ndak ada. Di samping, sekitar, sekeliling motor, ndak ada. Di got, sapa tau kecebur, nda ada juga. Wah kacau. Ransel ane ilang bro! Saya coba-coba nanya, ke penjaga warung dekat situ, dia bilang "Wah gak tau tuh, dek.. Daritadi saya disini, ndak pernah keluar-keluar.". Wah, malah curcol nih. "Kenapa memang ndak adek putar dulu motornya? Ditinggal seberang jalan lagi..ck ck ck...". Aseik, ane diceramahin... Tapi saya ingat betul hikmah yang ibu ini sampaikan "Yah... memang itu barang kalau mau hilang, ketemu juga lah jalannya....". Kata-kata ini saya dengar udah sering, tapi barusan ini terasa betul kedalamannya.

Di dalam Ransel itu ada Laptop, ada barang-barang lain juga tapi itu yang paling penting. Ohya, ada bukunya Aqram juga... Ada kitab saya dua. Ada fd 8 gb saya yang masih baru, ada kartu main yang belum pernah dimaenin, kecuali buat dijadiin alat peraga sulap amatiran. Kini mereka semua raib bersamaan. Yang paling pertama saya pikirkan Ortu. Anjrit, saya bikin sedih mereka lagi.. Ah, itu satu-satunya pemikiran yang mengganggu ketenangan saya, keikhlasan saya. Bahwa di laptop itu ada file-file tugas yang bejibun, di ransel itu ada KRS, fotokopian slip pembayaran, semua kekhawatiran untuk mereka itu datang belakangan.

Di tengah galau-galaunya, ada jin ifrit lewat, eh.. maksudnya saya Aqram. Dengan jaket warna biru muda yang mencolok itu, motor jupiter mx koplingan dan tanpa helmnya itu, dia berlalu, sempat menoleh dan melambaikan tangan padaku, kubalas. Lalu pemikiran yang kutunggu-tunggu tiba juga....Ah... Sudahlah, ikhlaskan saja, Bal. Saya pamit sama mereka, orang-orang yang kubikin ikut panik bersamaku. Aku naik motor, dan kupacu ke arah yang sama Aqram tadi menuju... ke arah rumahku, Aku mau pulang saja... telpon ibu, lapor, dimarahi, main Clash Of Clans bentar, lalu tidur.

Ternyata kujumpai Aqram sedang parkir depan warung, habis beli sayur dan lauk. Dia panggil kusamperi, kuceritakan yang baru saja terjadi... Dia ajak saya kerumahnya, makan. Saya ikut saja. "Ndak usah lapor dulu Bro, supaya ibumu ndak kaget.." Kata dia sok bijak. Saya juga sok merenung. Hapeku lobet. 1-0 untuk skenario Aqram. Saya minta pinjam hapenya, peluang Skor buat skenarioku. Hape Aqram ndak ada pulsa. Hasil Akhir 2-0 untuk skenario Aqram. Aku pamit pulang, dia terus ke kampus. Dasar emang orang sok sibuk dia.

Di Rumah, langsung dicegat dengan pernyataan tiba-tiba dari Bibi "Bal, tadi Mama nelpon cariin kau... Nda tau juga kenapa..". Wah... kedengarannya gawat. "Coba Bi, saya pinjam hapenya". Kutelpon ibu, wah.. dijawab sibuk ma mbak telkomsel. Yasud, hape saya kembalikan. Hidup berjalan normal. Dan lalu setelah maghrib, kudengar ibu pulang... Dan tahulah saya, ternyata ada cerita yang paling pertama tadi. Ibu jadinya ndak terlalu marah. Ranselku itu penolak bala ransel Ibu. Ibu menceritakan kisah kejambretannya dengan seru. Beliau mengejar motor Jupiter mx mereka, dengan varionya... Rem katanya tak lagi dihiraukannya, ketika teriakan "Maling.. Maling..." tak lagi dihiraukan, tersisa "Allahu Akbar!" dan kepalan tangan terangkat beliau yang menggantikan. Ah Ibu, anakmu di seluruh dunia takkan pernah berhenti kagum padamu.

"Mereka, waktu Mama kejar, sering noleh-noleh kebelakang... Mungkin mereka gak nyangka mama kejar wiihh..ibu itu ngejar!".....

Well... Bro, it's unfortunate, but U MESS WITH A WRONG MOMMA.


Dan MUNTAHLAH!

Selasa, 03 Juni 2014

Hari ini, bagian malamnya.. tepatnya dimulai dari setelah maghribnya, adalah hari yang sangat menjengkelkan.Ya, menjengkelkan. Setelah selesai shalat maghrib, saya pulang kerumah, bersandar di lemari kacadekat dapur, dan tidak bergerak sama sekali sampai iqamat isya selesai. Saya seperti kesurupan, atau mungkin begitu. Seperti ada yang berkata, "Apa yang kau lakukan disini? Apa yang kau lakukan disini? APA YANG KAU LAKUKAN DISINI?!!". Anjrit banget, ah.. Mungkin itu karena saat itu saya cuma bersandar menonton adik-adik saya memasak, lalu pikiran-pikiran tentang betapa hebatnya mereka menerpa diriku, dan perasaan ini membesar...sampai titik dimana aku mau saja menggas full motorku sampai tertabrak, sampai terbang. Begitulah... Sepanjang perjalanan diatas varioku aku terbahak gila, menangis, sesenggukan ancur... Aku mulai mengeluarkan geraman-geraman sembarang yang aneh.

Kisahku memang tak bisa  kutulis lurus-lurus, itu bukan gayaku. Yang kubagi bukan langkah-langkah, jarang seperti itu. Yang kubagi itu rasa, gambarannya, dan kau akan paham jika tiba saatnya, mungkin, mungkin tidak. Karena biarpun kuceritakan, kurasa tidak akan ada apa-apa yang sampai padamu, karena memang bukan itu, bukan itu yang biasanya kubagi. Sekarang, otakku malah meraung-raung, mereka mendesakku bercerita! Wanjjiiiirrr! Ndak bisakah kalian ini diam dan ikuti saja mauku? Baiklah kuikuti mau  kalian. Jadi, tadi aku pertama kali merasa hancur begini itu waktu di atas motor ada muncul perasaan seperti ini "Adikku keren banget, saya mau disamping dia terus, ah..bukan, saya mau dia disamping saya terus..." Start.. Mental saya singkatnya labil, adik-adikku ini, terutama yang satu ini, membawa tekanan yang terlalu kuat! Gila, saya akhirnya harus ngaku, saya mau kayak dia juga! Ah,.. Kalian menang.. kalian menang.. Oke.

Sebenarnya tidak ada ilmu, pengetahuan yang selalu aku percaya.. jarang sekali, maka saya ini rasanya tidak bisa menjadi ilmuwan. Tapi tadi, aku membuktikan teori yang mengatakan, suasana hati bisa mempengaruhi keadaan fisik. tarikan, desakan, dorongan jiwa ini saling grasak-grusuk, menumpang-tindih.. Kepalaku tidak sakit, tapi tubuhku rasanya kosong. Mungkin itu sensasinya kesurupan. Angin malam yang menghujam dengan kecapatan motorku yang beradu-adu, terasa sepele, sangat sepele.. Semua sepele! Tak ada lagi yang penting.. Huuuuuuuuuuuuu ... Semua tiba-tiba geser, yang kulihat kosong! Di depan saya, ndak ada apa-apa lagi! Masa depanku ndak kelihatan lagi! Mimpi-mimpi itu jadi sepele.... Gue gila! Gue gila! Ahhh! Motor ini tak tahu apa-apa, dia maju terus. Dan aku sampai juga di kost temanku. Dalam perjalanan itu, ada sekitar 2-3 kali aku menimbang kata "KEMANA?"

Wah... Roda ini, kemana kau mau pergi? Motor ini, dengan kecepatan 60 km per jam, mau kemana? "kau mau kamana, bal?" Kau mau apa? Ndak ada, saya ndak tau mau kemana, ndak tau.. ndak tauk... saya DIMANA? Kamu siapa? Apa ini? Apa INI? Semua pertanyaan-pertanyaan buatan ini, terus berputar-putar menyesatkanku.. sampai aku tiba depan rumah temanku. Dan saya akhirnya harus berhenti juga.. Kegilaan ini akhirnya jeda... Bukan henti, tapi jeda.

Beberapa hari lalu, guru menulis bilang bagusnya tulisan ada solisunya, jangan masalah terus. Aku sadar yang lebih sering kuketik, dan kutuliskan untuk kalian hanya masalah, dan lebih banyak pertanyaan. Baiklah, mari kita memberi kalian solusi. Solusiku... milikilah sebuah laptop, usahakan lumayan besar, usahakan milikilah uang cukup untuk masuk warkop yang ada wifi. Masuk, dan bukalah laptopmu, masuklah ke internet.. Dan MUNTAHLAH!

Cinta Gak Terlalu Sama Dengan Lemah

Selasa, 27 Mei 2014

cinta adalah rasionalitas sempurna, tempat harga diri melebur bersama kasih sayang tak bertepi. Merendahkan diri di hadapan cinta adalah menghina diri sendiri, karena cinta tak pernah minta dipuja. Ya, malam ini kubaca dan kuingat semua kisah-kisah.. aku kembali jadi laki-laki penuh teori dan kata-kata yang bisa jadi cuma berhenti di alam konsep semata. Tapi disinilah kurasa keganjilanku menemukan peraduannya, pelabuhannya.

setelah kuingat kalian semua, para nama agung yang pernah memberiku kesempatan mencintai, aku kini bisa menyimpulkan. Ada pesan yang kalian semua ingin perlahan sampaikan dan tanam, dan aku harus paham itu sekarang. Jika tidak, akan tambah banyak hari tak jelas yang sebenarnya sudah terlalu banyak di rentetan waktuku. Jika tidak aku pahami sekarang, jatuh cintaku selanjutnya akan kembali membawa luka gamang tak terpahami.

Semua kata yang telah dan kelak kuketik mungkin akan mengganggu banyak orang, Tapi inilah cita-citaku. Selamat datang... Tuhan. Terima Kasih.

Hati ini masih hancur seperti senantiasa, masih seperti 4-6 tahun lalu, tak berbentuk lagi, tak pantas dimiliki siapa-siapa, tapi tak apa-apa. Semua itu bukan alasan untuk menyia-nyiakan detik-detikku.. semua itu bukan untuk dikutuk seterusnya. Meski pasti besok-besok bisa jadi kalian dapati aku yang versi bangsat ternayta belum juga pergi-pergi, tapi hasrat untuk bahagia, menikmati, bersyukur, belajar lebih, semoga juga ikut menemani.

Hari-hari ini mungkin yang kutulis hanya seperti ini, tapi janji untuk menulis hal lainnya juga ada di niatanku. Aminkan, kawan..

Temple.....RUN

Minggu, 16 Februari 2014

Malam ini, alias barusan...saya telah memainkan game Temple Run II... ternyata seru juga ya?

Temple Run II ini pasti udah banyak yang tau.. bisa jadi malah saya yang paling belakangan tahu soal gane ini... soalnya barusan megang android (iya tauk, jadul). Awal main Temple Run II ini ane sempat ngamuk ngamuk dalam bathin... soalnya nih game asli nyebelin banget pertamanya..tapi setelah selang berapa galon....ehm...maksudnya selang berapa hari.... saya bertemu Hasbi.

Ok...ada ketidaknyambungan di akhir paragraf diatas... tapi tunggu dulu ... Itu disengaja. Alias pasri ada penjelasannya... tenang...tenang.. semua benang kusut ini akan saya urai tuntas dan akan kita temui simpulnya bersama-sama. Oke, lanjut... jadi ini semua bermula pada beberapa abad silam... atau tidak.. Tarolah beberapa hari yang lalu.. kalian semua sudah tahu kan apa yang terjadi? Ya... sya bertemu dengan Hasbi. Bukan, bukan yang insiden saya makan tahu pakai mayo naise. Jadi, ternyata Hasbi ini jago main Temple Run II teman teman!

Oke... hikmah dari cerita ini... jangan pernah menyerah atau putus asa.... gapailah mimpimu stinggi- tingginya... karena kesempatan hanya datang pada orang yang siap. Dan pasar!? Pasar akan memihak pada anda anda yang punya barant jualan.... Pesan saya ... rajin-rajinlah menabung... taati pesan orang tua....jaga kerukunan dengan sesama ummat beragama.... bersainglah secara sehat... selamat ber-twit ria!!

Sekian..
Salam selalu....

Bangkit Dulu, Ah.

Jumat, 14 Februari 2014

Nulis itu so pasti tantangannya adalah kebosanan garis miring kemalasan. Kadang mikirin tulisan bisa gila, belum ngerjainnya. Padahal sebenarnya memang lebih gila waktu mikirnya, waktu nulisnya sih gak banget-banget lah... Stephen Hawking (kalo gak salah) sekali waktu pernah nulis gini.. "Menulis adalah pekerjaan yang sepi, memiliki seseorang yang selalu percaya dan mendampingi adalah sebuah bantuan yang luar biasa". Oleh karena itu saya butuh pacar, eh sory... maksud saya cinta. Yah pacar termasuk lah,,, Makanya sekarang kadang saya stress berat, soalnya jomblo. Hahahah... jangan diambil hati wahai para pembaca, ini guyonan kelakar orang menderita saja. Banyak koq diluar sana para jomblo penulis yang tetap eksis.. dan gak gila gila amat juga koq.

"Berkaryalah... Agar otakmu tak dipenuhi hal-hal yang berbau penyakitan b*ngs*t dan sejenisnya"... ini hanya kata-kata saya, tanda kutipnya buat keren-kerenan aja. Aduh.. Mata saya koq giniyaa.. Apakah mungkin karena sekarang udah jama 03.00 pagi?Ato ini gejala mata minus? Waduh gawat... Saya gak pernah kepikiran bakalan kena mata minus.. Gak pengen juga sih.. Ah semoga bukan gejala mata minus.. Semoga ini akibat gangguan setan yang ingin menghalangi saya dari berkarya dengan cara menulis ini. Yah... meskipun gak keren dan gak terlalu waras ini kah orisinil... asli buatan sendiri.. Meskipun tentu banyak yang secara gak sadar yang terketik ini adalah hasil dari pemikiran banyak orang. Saya hidup sampai sekarang kan juga karena bantuan banyak pihak. Laptop yang sekarang saya pakai kan juga hasil keringat banyak orang.

Terima kasih Ayah..
Terima kasih Ibu.
Terima Kasih Adek-adekku..
Terima kasih Om.. Tante..
Terima kasih juga... Tukang siomay, tukang bakso, mbak-mbak dan mas-mas di Alfamidi, mba-mbak dan mas-mas di Carrefour, Mbak-mbak dan mas-mas di Indomaret.. Tukang tambal ban, tukang sepeda, supir taksi, tukang bajaj, sopir angkot, Pak pilot, mbak pramugari, Pak masinis, Terima kasih ya...


Ohya... Juga buat teman-teman sekalian yang membaca tulisan ini juga terima kasih banget. Ini saya liat banyak yang dari Amric...Gak tau deh nyata ato fiksi... Tapi terima kasih juga.. udah mo mampir n baca-baca.. Mampir lagi ya,...Oh... Buat teman-teman yang gak baca juga terima kasih ya...

Salam selalu..

Bayangan Api

Kamis, 06 Februari 2014

Setiap orang punya sisi gelap dan sisi terangnya. Seperti api yang juga masih memiliki bayangan. Dan tulisan ada kalanya mempresentasikan warna jiwa si penulis. Pertanyaannya, mana yang harus lebih sering ditulis, mana yang sebaiknya ditulis? Gelapkukah? Terangkukah? Baiklah, kalau saya, terserahlah... Apa yang nikmat untuk kutulis itulah yang aku tulis.. Meski setelah saya baca-baca ulang ternyata dalam banyak kesempatana saya jauh lebih sering memilih menulis yang gelap-gelap dari kehidupan pemikiran saya.

Dalam kesempatan kali ini, saya ingin meregangkan otot dan melemaskan syaraf. Pandangan, pemikiran, pola pikir, cara pandang atau apalah semua itu... Telah terkikis gila-gilaan belakangan ini, masih terus terjadi tapi inilah hidup. Seperti air yang melewati sungai... Selama  ada ruang, arus akan hadir.. Terserah kau buang sampah atau berak di kali, mau buang permata, dollar atau emas... Sejauh ada ruang, arus akan hadir. Air akan mengalir. Dan disini saya. Menulis karena mau menulis.

Refreshing jiwa kata sebagian orang. Pemenuhan pada diri sendiri, tapi tak dipungkiri juga... Kadang aku ingin dibaca..Aku ingin tulisanku dikomentari.. Dipuji kalo boleh. Responlah, yah.... enak juga kalo ada yang merhatiin ternyata ya, kawan? Tapi ya mbok saya ndak maksa cari pengikut lah.. Ini Om Google sama Mas Blogger udah berbaik hati biarin saya nyampah di tempat mereka saya dah seneng... Galaksi seabrek bernama internet ini batasnya mungkin jauh juga.

Refreshing jiwa kata sebagian orang. Pemenuhan pada diri sendiri... Loh koq upline nya diulang? ya suka-suka  saya lah... Nulis itu puyeng juga loh.. bahkan karangan bebas.. bahkan tulisan ngaco kayak gini aja nih susah banget bikinnya sumpah... Butuh berton-ton ceramah, berkilo-kilo semangat.... buat bisa lanjut.. yah wajar.. Taraf saya masih penulis level beginner, atau mungkin sandbox... Ini udah empat paragraf... udah bagus lah kayaknya ini ya? Okelah... saya tutup dsini.. Rencananya mau rekap Firapu dan Roki semuanya... Hah.... Gilak... Padahal belum genap 10 halaman... inih kepala udh buntuuuuu.. aja...

Oke.
Salam Selalu.


Marakech

Selasa, 04 Februari 2014

Kita sampai di Marakech, hari sudah sore.. Adzan berkumandang. Ashar masuklah. Turun dari bus, turunin tas-tas, orangnya juga. Saya muntah-muntah. Nah ini muntah kedua. Saya muntahnya berusaha banget supaya gak keliatan, kasihan sama teman-temannya, entar pada ikutan muntah, keliatan udah pada mabuk semua soalnya. Gilak men!! 7 jam di bus! Oke.. Lanjut. Kita jalan ke temapat pertemuan, deket koq dari pemberhentian bus ini. Tepatnya di Pom bensin di depan Hotel Al-Sawaq Al-Salam, Hotel Besar Banget, paslah buat ketemuan.

Saya dan Aldi singgah dulu bentar di Pom Bensin, masuk Wc. Saya buang air kecil, sekalian puas-puasan muntah bener... Aldi dulu yang masuk, cuma satu soalnya wcnya.. dia bayar 2 dirham sama tukang bersih-bersihnya. Lalu saya yang masuk.. Saya bayar cuma 1 dirham si.. Untuk info tambahan.. Itu wc di kafetarianya. Oke udah. Kak Fauzan udah ada, siap nganter kita ke rumah temen-temen. Oke. Kita bersembilan udah siap...ternyata masih jalan bentar dulu, supaya sampai di situs tempat Gronk (semacam angkutan umum dari ras taxi) biasa beroperasi. Dalam per-jalan-an temen-temen lewatin stand-stand pinggir jalan yang jual buah, inisatif aja beli buah apel sekantong. Gronk nemu, kita naek, cabut jalan! Gronk pertama isinya, saya dan 3 cewek, sisanya orang setempat, kira-kira 2 orangan kalo gak salah, sama sopir berarti kita ada 7 orang di gronk. 3 di depan, 4 di belakang. Gronk emang agak luasan. "Berenti di depan Masakhhah Yorli ya!" Kata mas Fauzan sebelum nutup pintu gronk. Gronk pun berjalan.. Saya ingat saya itu agak buru-buru banget waktu itu... Entah, pokoknya lebih careless gitu lah.. Ohya semua ransel di jatahin ke gronk kami.

>>>>>>
Cerita sisanya nunggu tangan saya mau lagi.

Salam selalu.



Hari Pertama, Iya.. Kayaknya.

Kamis, 12 Desember 2013

Enam jam di Bus, bersama 8 teman Kenitra lainnya. 3 cewek, sisanya cowok, lelah.... Lelah sekali. Tapi begitu sampai di Marakech, tubuh dan pikiran, mental dan jasmani, bisa perlahan terisi kembali. Tapi kuberitahu apa saja yang tiba bersama denganku di Marakech. Ada sakit gigi yang tabah mengikuti dari awal perjalanan sejak di kenitra, diikuti Perut kembung yang hadir perlahan diantara deru mesin dan angin sepoi Casablanca, dan dilengkapi dengan kehadiran sakit kepala yang merengkuh dengan penuh semangat seiring hadirnya panorama bata merah Marakech. Muntah? Oh... Sudah pasti.

Pertama kali muntah itu saat pemberhentian sementara di Marakech sebelum pemberhantian terakhir. Saat itu duhur sudah masuk, Adzan baru saja berkumandang saat saya dan seorang teman turun dari bus mau cari WC untuk membuang hajat pribadi (buang air kecil) sekalian buang nasib buruk (hehe). Nah.. Di dalam WC yang kita temui itulah.. disitulah itu, terjadilah...yang namanya muntah. Setelah memberi 2 dirham pada pemilik warung yang tadi kita tumpangi WC-nya, kita menuju bus lagi, sudah akn berangkat lagi soalnya. Ketika kami naik.. beberapa saat kemudian bus lepas landas. Ohya, teman yang tadi menemani saya namanya Farhani. Saat bus lepas landas tadi, Suroso dan Nizar (tokoh lainnya), hampir ketinggalan karena sedang beli telur rebus dulu. Saat Roso  akhirnya berhasil naik, Nizar masih menunggu kembalian. Masih sempat kami nikmati tontonan perdebatan seru antara Nizar dan si penjual telur. "Awalnya mau saya ambil saja telur 10 buah karena takut ketinggalan bus, tapi takut mubazzir ah...Makanya nda jadi. tak tunggu sekalian kembaliannya.. " Begitu katanya ketika akhirnya naik juga di bus. Jauh sebelum muntah dan berhentinya bus, saat bus baru saja masuk di pos peristarahatan sementara yaitu perkelahian antara kernet kami dengan salah satu penumpang... Sayang sekali mereka meneruskan perkelahian mereka di bawah, mereka berdua turun dari bus! Dan saya tak sempat merekamnya.. Oke Lanjut!

Kota yang bus kita lewati dalam perjalanan, setelah meninggalkan Kenitra, adalah Rabat lalu Casablanca. Nah, di Casablanca ini juga terjadi perkelahian seru yang untungnya sempat saya nonton sebagian besarnya. Perkelahian antara (awalnya) 2 penjual tiket, (kerennya) terjadi di atas bus kami, lalu (dengan antusias) diikuti oleh penjual karcis lainnya. (Hebatnya) kernet kita terlibat untuk melerai. Yang menarik juga di Casablanca ini terminalnya lumayan luas... Luas... luas... Luas.... luaaaasssss... Sudah. Oke, ramai juga si... Dan lalu, kayaknya itu aja si semua tentang Casablanca. Oke mundur!

Di Rabat, nah di Rabat,... Apa di Rabat? Nah.. Kita cuma numpang lewat di Rabat.. Sayang sekali ya? gak seru banget Rabat ya? Ya Iya, kita cuma lewat.. Yah.. Ada penumpang naek turun Si, cuma gitu doang ah... Ohya, Ada sedikit misi telpn menelpon antara Aldi-Nizar (tokoh dari pihak kenitra) dan Fauzan-Hasbi (tokoh dari pihak marakech). Andddddd That's All bout something in Rabat.

Dan untuk sesuatu tentang Marakech... Yah.. Yang itu pantas juga diceritakan ya? Jadi gini! Kita mulai darimana ya? Dari sampainya kita di rumah teman-teman di Marakech, jalannya kita Jami El-Fanna, ato kita simpen untuk besok saja? Kan kan? Udah besok ajalah.. Udah malem.. Oke-oke, seenggaknya kita selesaikan hari pertama kan? Hm... Lumayan panjang lagi kalo begitu! Ya udah.. Nanti mungkin saya tulis lagi. Heheh...

Salam Selalu.....
Selamat Selalu....


Sakit Kepala? Yhuh!!!

Minggu, 08 Desember 2013

Setidaknya setelah shalat dhuha tadi saya berdoa "Ya Allah, seenggak-enggaknya biarkan saya habiskan omelet yang sisa semalam...". Dan sekarang saya sedang berjuang mewujudkan permintaan saya itu, dan sejauh ini Tuhan masih membiarkan saya sedikit menikmati, sedikit menderita...Tapi ujung-ujungnya tetap saja tidak sanggup saya habiskan omelet sisa semalam itu. Saya tawarkan pada teman sekamar saya yang langsung mengiyakan dan segera melahapnya habis. Lalu saya terpikir "Saya betul-betul lapar".

Saya senang karena teman-teman menyisakan makanan untuk saya makan, tapi sakit gigi ini sama sekali tidak memberi banyak pilihan makanan, dan sayangnya makanan yang disisakan untuk saya itu juga tidak masuk kategori. Maka saya terpikir untuk beli mie instan saja, makanan yang tidak terlalu menuntut saya untuk mengunyah. Tidak lama setelah itu saya keluar, mengunjungi toko yang saya tahu menjual mie instan. Toko pertama buka, tapi tutup sementara... (teralinya dipasang) (mungkin penjaganya sedang pergi shalat Ashar), toko kedua tutup, nampaknya untuk seharian full. Jadilah saya terus berjalan saja menyusuri jalanan. Sebenarnya niat saya keluar kali ini bukan sekedar untuk nyari mie instan, saya tadi juga sengaja mengantongi banyak uang receh. Saya meniatkan diri untuk sedekah sedikit, berharap dengan itu sakit gigi saya bisa mereda. Tapi sepanjang jalan saya cuma nemu satu pengemis. Saya beri lalu saya jalan pulang lagi. Kembali saya menyusuri rute mie instan tadi, ah... Toko yang buka tapi tutup sementara itu sudah buka lagi, dan saya beli 2 mie instan. Lalu saya pulang ke rumah.

Di rumah saya ambil periuk dan masak air. Karena tidak ada korek untuk menyalakan kompor gas, saya ambil kertas selembar (sepertinya tadinya kertas itu penting), saya bakar kertas itu di penghangat air yang juga berlokasi di dapur. Sulit, sulit sekali... Tapi berhasil juga mempertahankan nyala kertas itu sampai akhirnya sampai di mulut kompor. Menyalalah gas, dan akhirnya bisa masak air.beneran. Masak air, seduh mie instan. Jadi ingat masa-masa sekolah dan kuliah waktu di Indonesia. Meskipun belum tamat kuliah sih...hehe. Mienya enak, tapi perut saya sedang tidak enakan, saya hampir tidak bisa menghabiskan Mie tadi. Tapi saya habiskan juga. Saya sempat melirik nasi ayam yang disisakan buat saya, "Bagaimana kalo nasinya di campur dengan mie?" Tapi saya urungkan, saya takut tidak bisa menghabiskan mienya. Setelah mie nya habis, saya bersiap shalat ashar. Saat itu teman-teman yang lainnya sedang sibuk-sibuk bersiap mau berangkat ke pengajian sore. Kegiatan kami. Tapi saya tidak menyiapkan diri, beberapa teman yang mafhum dengan keadaan sakit gigi saya tidak lagi bertanya, tapi ada satu juga yang basa-basi mengajak "Ikutan ngaji bal? Udah sembuh kann.."."Kayaknya gak ikut bro, belum bisa... Udah mendingan si.."

Setelahh ritual shalat Asharku selesai, saya ngobrol dengan teman yang juga gak ikut ngaji sore di masjid. Kita ngomongin soal-soal standar pemikiran remaja kayak kita-kita ini. Ya cinta, ya cewek, ya sudahlah... Aduh,.. Kepala saya sakit! Bye bye...

Salam Selalu...
Selamat Selalu...

Maen Rubik

Jumat, 06 Desember 2013

Tertanggal 6 desember 2013, jam 11:11 siang.. saya belum tidur dari tadi malam...

Alasannya klasik, simpel dan sangat mafhum sama sekali.. Sakit gigi. Adalah teror mengerikan, saat anda di kasur, di bawah selimut, daerah sekitar anda bersuhu 3 derajat celcius, yang lain sudah pada tidur, gelap, dan anda sakit gigi! Sementara jam telah menunjukkan pukul 2 dini hari lewat, dan terus bergerak.. Belum tidur sama sekali.. Padahal besok jam 2 siang anda punya kuliah, dan bukan sekedar kuliah biasa, UJIAN LISAN pula... Bahasa Arab/Inggris... Dan disitulah saya, tergeletak sakit gigi dan sedikit lapar, dan yang lebih parah lagi, tanpa Paracetamol dan Antalgin!!! (2 merek obat yang sering saya pakai untuk menangkal sakitnya itu sakit gigi). 

Jika suhu seramnya tidak bisa anda rasakan (yang memang tidak juga saya rasakan), setidaknya ada bau samar penderitaan yang tercium dari sepenggal paragraf pertama diatas. Dan itu kisah nyata! Sakit gigi ini berlokasi di gigi belakang bawah sebelah kanan. Gigi inti yang saya pakai untuk mengunyah saat makan. Kadang ada dilema timbul, apakah saya tambal saja? Apakah saya cabut sekalian? Nyatanya saya biarkan saja begini. Total sudah bertahun-tahun saya mempertimbangkan ini tapi belum ada kesimpulan sama sekali. Sekarang saya jadi mau nonton film sajalah. Karena untungnya sakit gigi ini tidak begitu terasa jika saya sedang beraktifitas.. (padahal yang saya butuh sekarang itu tidur!).

Sekarang blog saya lagi yang inputnya rada error. Entah kenapa dia tidak berfungsi sebagaimana yang normalnya ia biasanya. Mungkin ada pengaturan yang salah atau entah apa, dan saya tidak tahu juga bagaimana memperbaikinya. Saya barusan menguap, mungkin anda juga. Saya mengantuk dan bosan... Saya mau nulis sesuatu yang meledak-ledak meski tenang. Memusingkan memang, tapi saya harap disitulah bisa jadi seninya tinggal. Tidak apa-apa tidak masuk akal, asal keren dan enak dikonsumsi berarti pasar siap menerima, karya anda diakui. Benarkah begitu? Salah tak mengapalah...

Masuk paragraf empat saya niatnya start gila lagi, mumpung sudah ada lampu hijau di paragraf ketiga. Tapi benarkah ini peragraf keempat? Bukankah satu garis kecil pembuka di awal sana juga dihitung paragraf? Maka yang ini jadi paragraf kelima. Sekalian paragraf penutup kalo begitu.. Karena saya mulai kehilangan nafsu menulis akibat baru saja mendengarkan perdebatan menyebalkan dari dua orang yang jahat dan rakus di dapur tadi... Mereka itu kriminal tingkat lapis bawah, yang tipis seperti layangan, gesit seperti belut, dan menyebalkan persis koruptor. Persilatan lidah mereka berdua tidak membuat kita tertawa seperti Abu Nawas, meski bisa jadi sama cerdasnya, karena yang satu ini bikin ingin muntah dan kadang bisa sampai menghilangkan nafsu makan saya. Buktinya, saya langsung tarik selimut dan "Caik" kata itu keluar... Kasar tapi tipis sekali, semacam pembalasan dendam pada mereka karena sudah menggugurkan nafsu menulis saya. Yah... Inilah penutupnya.

Salam Selalu.
Selamat Selalu.

Ah! Selamat Selalu!

Kamis, 05 Desember 2013

Hari ini saya lumayan senang, kayaknya emang harus bahagia. Sudahlah, biar air mata darah turun, tenggorokan keselek tusuk gigi, gigi sakit karena bolong parah, nampaknya mengeluh tepat tidak memperbaiki apa-apa. Jadi tak apa menangislah. Muka ini jelek, badan ini gemuk, celana kesempitan, baju kotor bertumpukan tetap bukan alasan untuk berkeluh-kesah lantas malas ngapa-ngapain. Jangan malas! Boleh rajin tidur, rajin maen game, rajin makan, tapi jangan MALAS. Bahkan saat suhu di kota/desa kamu telah mencapai 3 derajat celcius, lantai tehel/tegel terasa seperti balok es, air yang keluar dari keran terasa seperti keluar dari freezer, tetap malas tidak membawa efek positif sama sekali. Jadi bergerak, menulis, membaca, nonton film, makan, duduk-duduk sambil nyanyi, baringan sambil tereak-tereak, masih bagus.

Paragraf baru seharusnya berarti ide baru, sesuatu yang memang misah dengan paragaraf sebelumnya. Jika sebelumnya kita bicara soal 1, maka di paragraf berikutnya kita boleh bicara tentang 2. Tapi juga tidak apa-apa jika tidak seperti itu, kan? Toh warna biru dan hijau yang betapa jelasnya masih sering tertukar di lidah dan mata beberapa orang (banyak), sama kasusnya seperti kata hati dan jantung yang sangat sulit ditemukan relevansi di kehidupan nyatanya dan di dunia kedokterannya (kedua kasus ini sepertinya cuma di Indonesia). Paragraf baru juga sepertinya dimaksudkan supaya mata pembaca tidak jenuh dalam memandang. Ada seni keindahan tersembunyi yang memanjakan mata di satu kata kecil seperti paragraf itu...Meski pargraf juga agak nyebelin bagi penulis pemula sperti saya jika terlalu pendek. Kesannya saya seperti kekurangan bahan dan malas menulis (padahal iya). Disitulah mungkin mengapa nulis itu sulit sekali.

Seringkali saya katakan atau tuliskan atau ketikkan dalam tulisan saya bahwa "Menulis itu Sulit". Saya paham mungkin ini penyebabnya. Menulis berbeda dengan bercerita dengan mulut. Menulis beda dengan ngobrol, bicara. Menulis itu seperti berkata-kata sendirian, ada sensasi gila yang terwajari disini. Kadang tanpa sadar menggelitik otak kita, ada sebuah pertanyaan muncul "Hal mengerikan apa ini yang sedang saya lakukan?". Dan kadang gelitikan itu mensentak tangan kita dan disitulah saya berhenti menulis. Tapi ada pula yang mengabaikan gelitikan itu, terus maju.... bahkan ada yang menganggap gelitikan itu malah gas tambahan yang membuat dia melesat semakin kencang.. Orang-orang gila seperti Maha Guru Radit atau Pak Andrea Hirata mungkin paham ini. Saya hanya penulis pemula yang sempat menyicip kemanisan menulis tapi masih belum kuat menahan pahitnya. Masih panjang jalannya untuk diakui orang lain, meski sudah ada beberapa yang memuji.

Lihatlah ini, sepanjang jalan tadi saya ngawur seperti kumur-kumur obat sakit gigi. Tapi di tengah situ tiba-tiba koq saya jadi resmi dan terarah? Hehehe.. Padahal waktu masih solat tadi rencananya mau ngulas tentang kejadian demam Candy Crush yang lagi mewabah di rumah, yang sampai sepertinya bakal mengakibatkan demam betulan. Karena main Candy Crush bisa sampai bkin naik darah kalo gak naik-naik levelnya. Sering-sering naik darah bisa bikin pembuluh darah bengkak, apalagi salah satu korbannya ada yang memang punya darah tinggi. banyak pekerjaan terbengkalai karena Candy Crush. Seperti nyuci baju, nonton film ato ngisi blog.. hehe

Jadi intinya hari ini banyak kejadian yang terjadi meski sebenarnya hari ini saya tidur dari pagi sampe sore. Pas bangun langsung Solat duhur, mumpung asarnya belum masuk, Setelah solat duhur adzan Ashar langsung menyambut, dan shalat asarlah saya mumpung belum batal wudhunya, soalnya malas wudhu lagi... Berhubung airnya sangat dingin. Lalu saya baca komik, Buka puasa, Solat Maghrib, Dibaan... Ada acara makan-makan juga.. Soalnya tasyakuran yang baru pulang haji lagi dirumah. habis Tasyakuran (makan-makan) ada sedikit nyanyi-nyanyi.. Gitaran... Dan Sekarang.... Habis Shalat isya, di tengah nonton film dan main Candy Crush.. Saya tamatkan dulu tulisan ini....

Salam Selalu,...
Selamat selalu.....

I Got Confused

Rabu, 04 Desember 2013

Dua cerita fantasi yang sedang kugarap sedang dalam masa tak aktif, sudah lama tak kuisi. Bahkan sekarang aku kehilangan alur cerita yang kutulis sendiri itu... Kisah tentang Roki dan Firapu. Mereka berdua adalah tokoh utama dari dua zaman berbeda, dan dari 2 kisah berbeda pula. Mereka berdua bisa dikunjungi di http://dd4217bz.blogspot.com/ untuk Roki dan di http://firapu.blogspot.com/ untuk Firapu. Mereka pasti sekarang sedang bosan malas-malasan bersama teman-teman mereka yang juga sudah kureka-reka. Alur cerita yang lumayan Absurd dan semoga keren hadir dari kompleksnya bahan bacaanku. Harry Potter karya J.K Rowling, Twilight karya Stephenie Meyer.. dan banyak lagi.

Jadi sekarang biarlah saya tulis apa-apa sajalah. Jadi setiap hari itu ada saja kejadian yang sebenarnya asik sekali untuk diceritakan. Meski sulit untuk menceritakannya lewat tulisan. Siapa saja dimana saja bisa jadi pelawak hebat tapi tidak terkenal, yah... gak selalu karena gak nulis sih. Nah loh? Jadi hubungannya apa. Udahlah pokoknya gitu deh.. Gak usah mikir yang njilemt njlimet dulu.. Cuma deadline mo menuh-menuhin blog ini koq. Memang sih kalo mau jadi penulis ya harus serius katanya. Sudah harus latihan nulis dengan baik dan benar, harus berani dan tahan nulis yang bener-bener. Siap bosen, siap nguras pikiran dan bla bla bla. HARUS SIAP CAPEK, DAN HARUS CAPEK!! TITIK!

Saya tahu itu benar betul.. Mimpi ini bukan mimpi mudah, tapi disinilah saya dengan pedenya ngaku saja "Saya Mau Jadi Penulis".. Dengan nada seperti mau ditraktir donat terus bilang "Saya mau yang Coklat".. Semua kerumitan mimpi ini membuatku merasa agak ngeri, deh. Tapi memang terbukti juga akhirnya, mimpi saja gak cukup buat keren, harus BANGUN. Dan melakukan sesuatu. Umurku sekarang 21, sudah cukupkah bahan yang saya punya untuk ngejar mimpi ini.. Sanggupkah? Pantaskah? Sempatkah? Saya mau bikin karya seni tentang hidup, di tulisan bagus juga, kan?

Tapi seperti besi ikat pinggang yang perlahan karatan, semangat saya juga bisa auuusss.s.. .. Lenyap nguap meruap. Ah.. Benarkah mimpi memilih? Benarkah Pemimpi DIPILIH? Teori siapa? Pengen dong ngobrol panjang sampe pagi terus ngakak kayak orang gila, makan mi rebus ato mi goreng.. Nasi goreng juga boleh.. Asal yang merah. Saya suka yang Merah, yang khas Jawa Timur. Meskipun katanya kurang sehat. Oke.. Jadi semangat saya ternyata auss.. Mimpi saya terasa makin jauh, waktu gak punya waktu untuk kompromi. Dan saya iri, Men. Iri sama kesuksesan orang-orang yang lebih tua dari saya, bahkan yang lebih muda juga ada. Bukan iri pada apa yang mereka dapatkan (oke, itu juga si), lebih condong iri ke Orangnya. "Gilak! Mereka koq bisa ya! Saya juga pengen bisa dong!!!! Please God!! Help MWEWW... " Nah.. Sperti itu iri saya. Semoga iri yang sehat yah, Sodara-sodara...?

Cara tulis seperti ini sudah dipopulerkan oleh sang Maha Guru Raditya Dika. Dan dicampur sedikit gaya ceplas ceplos nya Andrea Hirata. Jadilah ini tulisan tulisan gado-gado ngawur gaya Iqbalisme. Pokoknya asal blog ini keisi. Tunggu saja, 3-4-5-6-7-8-9-an tulisan kedepan bisa jadi berbau sama. Semoga kalian yang (koq bisa bisanya ) jadi pembaca setia gak jenuh. Karena saya Iya. Jadi sebnernya wajat kalian jenuh juga.

Huh.. Hidup ini rumit yah/? Ada mimpi, ada cinta. ada keluarga. Mereka semua seakan minta jatah dari kita. Semuanya Dibagi-bagi dijatah.// lama lama sumpek. Tapi ternyata tak pelak harus diakui, begitu pula yang saya lakukan sama orang. Diam-diam saya minta ditolerir, diam-diam saya minta dikagumi, diam-diam saya minta dipuji, diam-diam saya minta dicintai, diam-diam saya minta dilayani. jadi sebenarnya tak jauh beda ya, sama mereka yang sengak sombong tak tahu diri, tolol songong sok perkasa dan nyebelin itu? Bedanya cuma di titik publikasi dan data. Kalo mereka lebih sering terlihat dan terdengar jelas, punya saya cuma kemresek hilang datang timbul tenggelam.

Start-nya tadi apa sudah jelas bodo amat. Sepanjang jalan banyak paku duri.. gak papa. Ngehindar saja. Ini saya mulai pegang muka. Ini sudah ngawur sekali betul. Kasihan kalian yang baca. Kasihan blog saya juga sebenarnya. Saya sering baca ulang tulisan saya sendiri. Tersenyum.. lalu termenung.. Kadang mengira-ngira... Ada jugakah yang tersenyum di paragraf ini sperti saya sekrang? Uh.. Adakah yang tahu paragraf ini ada? Ah.... Terlalu melankoli sebenarnya, tapi iya... Saya penasaran respon pembaca gimana? Tapi saya ini bukan siapa-siapa, belum. Pengen juga jadi penulis.... Pengen Nulis Cerpen... Pengen nulis Novel... Pengen dipuji cerpennya.... Pengen dibaca novelnya.. Pengen dikoment. Ujung-ujungnya.. yah... pengen diakui...

Lalu?

Salam Selalu.......
 

Popular Posts

Tags

Akun (1) blegok (6) Catatan luka (36) DerapLangkah (11) gemes (1) Giyatta (7) Giyatta!! (3) HujanDeras (9) IN-g-AT (13) Kacau (31) KAYLA (3) LucuB (5) Mimpi (8) Minat n pengen (11) Naskah (7) Pesan (5) Puisi (4) salute (5) Sejuta hidup Sehari (45) Serius dikit (11) Shadowlight (16) SuPistik (6) tapi gak bakat (4) Ups (5) Wisata (7)

Ketikkan Saja