Hidup Ini Hanya Sementara
Minggu, 26 Juli 2015
It Was A Wrong book, Mate
Senin, 13 April 2015
Jika menulis adalah mengikat makna, membaca adalah menemukannya. Dan kukira kaulah buku yang tertulis untukku, sebuah buku yang akan kurawat sepenuh hati, kusampul dan takkan kupinjamkan pada siapapun, takkan bosan kubaca hingga berkali-kali. Darimu akan kutulis beribu karya indah tak terperi, karena kau adalah kristal makna yang takkan habis dicacah, takkan selesai dibagi, takkan sempurna dipetakan, kaulah maha makna untukku. Lalu tiba-tiba buku itu menutup setiba-tibanya. Seakan tak pernah dulu buku itu terbuka walau sehalaman, tak pernah untukku. Mendebulah semua makna itu, hilang. Karena hatiku ini rapuh dan lemah dan plin plan. Tak bisa kugenggam, ternyata, pasir makna yang berjuta-juta darimu. Kau menjelma jadi sejuta asteroid di luar angkasa. Mengawang tak berbeban meski sarat massa jika kau masuk ke orbit lingkar gravitasiku. Hai bidadari yang keluar dari kamus tujuh bahasa dan sastra pelangi tujuh warna, kenapa begini jadinya?
Sebuah buku tergolek, diam tak melakukan apa-apa. Tak ada yang tertarik untuk membacanya, tak ada yang tertarik mengikat makna darinya, tak ada yang menganggap ada sesuatupun yang bisa ditulis darinya. Kini kucoba menerka-nerka, jika aku jadi kau. Jika aku jadi Kamu, lalu bagaimanakah terlihatnya aku dari mata Kamu? Apakah sebuah bayangan yang ada tapi tak perlu dianggap ada? Atau debu yang ke-ada-annya selalu siap jadi tapi bisa pula dikebas seketika dan menghilang. Atau hanya sekedar sebuah ada yang menuntut diperhatikan tapi tak penting untuk dirawat dan disayangi, ada yang membingungkan dan mengganggu tapi tak cukup mengganggu untuk diatasi serius. Aku sedang menjadi Kamu, dan yang kulihat hanya seorang laki-laki dewasa tanpa masa depan yang lucu dan menyedihkan. Tapi diatas semua itu, dari mata Kamu kulihat seorang laki-laki LAINNYA. Tak ada yang istimewa, tak ada yang spektakuler, tak ada yang menarik, tak ada, normal dan biasa-biasa saja, bahkan aneh dan cenderung menjijikkan. Laki-laki di depanku ini bau. Bau tak enak yang mengernyitkan hidung, merindingkan bulu kuduk, dihindari orang-orang. Segera aku jadi aku lagi.
Tapi kita takkan pernah tahu kan? Seseorang harus membuka buku itu membacanya. Hei, apa yang ada di dalamnya? Mungkin memang tak ada apa-apa disana, hanya sebuah buku kosong bersampul mentereng yang dilupakan seseorang tanpa sengaja, atau orang itu memang tak peduli pada buku ini. Bisa jadi juga ada sesuatu yang sangat menarik disana, ada tulisan dari seseorang yang tiba-tiba kita merasa mengenalnya. Dan semua orang mulai penasaran. Hei, apa isi buku itu? Ketika semua orang mulai mendekati buku itu. Melihatnya lebih baik. Orang-orang itu menyadari buku itu milik seseorang. Orang itu teman mereka. Mereka menghubungi orang itu. Orang itu datang dan melihat buku itu. Ya, itu bukuku, katanya. Tak ada yang mau kuberi buku ini? Dia bertanya. Tak ada yang mengangkat tangan, awalnya. Lalu satu tangan terangkat, lalu dua. Buku ini buku tua, katanya. Antik, katanya. Takkan kuberi siapa-siapa, katanya, tersenyum miring
Ya sudahlah, kita semua orang baru disini kan? Ayo pulang. Buku itu? Buku itu milik dia.
>>>>>>
Sekian
Salam Selalu
Aku Temannya Budi
Senin, 24 November 2014
Aku pernah punya kawan, kawanku baik hatinya. Namanya Budi. Budi baik sekali. Dia suka menolong orang, diapun senang mengajarkanku cara mengerjakan pe er. Budi pintar sekali. Aku senang berteman dengan Budi. Budi juga senang berteman denganku. Budi bilang aku kawan yang baik, karena pernah memberinya buah kelapa. Padahal itu aku hanya memanjat saja. Juga kata Budi, karena aku sering memberikan dia ikan. Padahal aku hanya memancing saja. Ikan itu lalu dibakar oleh ibu Budi. Aku diajak makan bersama, rasanya enak sekali. Aku juga suka ibu Budi. Ibu Budi pintar memasak.
Nama ibu Budi adalah Aminah. Selain jago memasak, Ibu Budi juga pandai menjahit. Semua baju Budi, Bu Aminah yang jahit, kata Budi. Jahitannya bagus sekali. Aku juga mau dijahitkan baju sama Bu Aminah. Tapi aku malu mau bilang sama Bu Aminah. Ibu Aminah juga pandai bermain piano. Bunyi piano merdu sekali. Aku sering diajaknya bernyanyi. Kata Bu Aminah suaraku bagus. Setelah bermain piano dengan Bu Aminah, aku pulang ke rumahku.
Di rumahku ada ayah dan adek. Ibu sedang di pasar bersama kakak. Ayah sedang menulis, adek bermain penggaris dan pulpen. Ibuku memang suka berjualan, sehingga sekarang sudah memiliki toko yang lumayan besar di pasar sana. Kakakku senang berhitung dan memerintah orang-orang, tapi dia pintar menyuruh, sehingga yang disuruh tak merasa diperintah dan senang saja menurut. Kakakku menyuruh-nyuruh orang-orang yang bekerja di pasar ibu tentunya. Uang yang kami dapat dari toko, kata ayah dan kakak, sedikit saja. Karena ibuku sangat baik. Dia senang sekali memberi sana sini hasil penjualan dari toko sepulangnya dari pasar, sebelum sampai ke rumah. Aku senang ibu begitu. Orang yang baik disayang Tuhan, kata ayah. Aku senang ibuku disayang Tuhan. Orang yang disayang Tuhan pasti bahagia, kata ayah.
Ayahku senang menulis, sudah banyak kulihat ada buku yang ditulis ayah, sering kulihat nama ayah di toko buku. Sering lama lama aku tak sengaja berdiri di depan rak toko buku yang ada buku Ayah nya. Aku senang, seperti mau terbang, seperti balon yang membesar. Ayah bilang itu namanya bangga, katanya sambil menangis. Aku bertanya kenapa ayah menangis? Ayah bilang dia sangat senang karena aku bangga melihat nama ayah. Aku tak mengerti, kenapa senang koq malah menangis? Tapi yang aku tahu aku akan selalu bangga pada Ayah, pasti.
Adikku pintar sekali, mungkin lebih pintar dari budi. Sudah pasti adikku lebih pintar dari aku. Tapi dia tidak pandai memanjat dan memancing. Aku pikir aneh, kenapa orang sepintar adikku tak pintar pula memanjat dan memancing. Mungkin dia malas saja belajar memanjat dan memancing. Dia lebih senang berhitung dan membaca. Meski kulihat lebih banyak berhitungnya. Kakakku juga senang berhitung, tapi beda. Kakakku senang menghitung jumlah beras, garam, menetega dan gula. Sedangkan adik lebih senang menghitung tinggi gunung, rumah, luas rumah dan soal soal matematika yang kelihatannya susah sekali. Pernah kutanya Budi tentang itu, lalu kata Budi itu....... kulkas? Semacam itu, aku lupa. Tapi satu yang paling ayah ibu senangi dari kami. Kami pintar mengaji!
Aku masih ingat, waktu khatam jus 30 kemarin, aku dibelikan martabak! Aku senang sekali. Kubagi martabak pada adik, kakak dan Amon, setelah kupisahkan bagian untukku yang lebih banyak. Amon itu nama pembantu kami. Dia baik juga rajin. Diantara kami, kakak yang paling pandai mengaji. Kalau kakak mengaji, aku berhenti main gasing, adik melepas pulpen dan penggaris, ibu berhenti menghitung barang, ayah berhenti menulis. Barulah setelah kaka selesai mengaji, semua kembali seperti semula. Amon yang tadinya cuma berdiri bengong sambil memegang gagang sapu juga jadi kembali menyapu. Aku senang mendengar kakak mengaji. Aku mau pandai mengaji seperti kakak. Kalau sudah malam, kami semua pergi tidur. Meski kalau sudah di kasur, kadang aku sulit tidur. Banyak sekali yang mau kulakukan besok.
>>>>>
Sekian
Salam Selalu
Talking Alone
Minggu, 23 November 2014
want to talk? Ok lets do this!
Whaddaya mean.
Do u know Gto?
I do, Eikichi Onidzuka.
Great, got?
I know, arya stark, robert baratheon
Nice! Tere liye.
U mean, that author? Hell yeah i know it! Bidadari surga, moga bunda disayang Tuhan, Hafalan Surah Delisa.
Andrea Hirata.
Shit! Give me something harder! Laskar pelangi. Hold! My Turn! Dee!!
Hohohoh... Playing dirty, arnt ya? Supernova, Perahu kertas, Rectoverso.
Bodhi is great isnt it?
Hell yeah he is.. And Elektra too.
And Alfa Sagala too.
Who?
Wait, dont tell me... U dont read gelombang yet!?
Dafuq! I cant accept this! Rich guy bastard!
Hahaha... I beat u, bro.. I beat u!!!
Shit, dont just get all cocky just cause one tiny thing like that. Here comes the Thunder! Dan brown!!!
Hallah...
What now.. Lose arnt ya?
hehehe.. Digital fortress, Inferno.
Ok youre Amazing. Its quite fun.
U really dont read Gelombang yet?
Ok ok, u got me.. its just a bored acting. I do.
Obviusly disgusting. I knew it.
When do life got this empty, buddy?
Da hell I'll know about that. hmpf...
Pramoedya Ananta Toer.
What?
Nothing, just saying.
We are so alike aren't we?
Maybe.
Yeah, maybe will be alright.
I'm so sleepy.
U're so creepy.
Hahahha.
Even ur laugh doesn't sound funny.
Ok shut up.
Shut me.
Like I can.
heheheh.
And here u are, laughing.
Its been long...
Its been long, absolutely.
Will it be like this all along, dude?
I dont know, buddy.
And U don't care too.
We don't.
Exactly.
And I know why.
U mean?
I know why I know, And I know U know it too.
Stop pretend?
Done with the bullshit, yes.
Give me.
No, buddy, Give Us.
Alright, desperate aren't we? Give Us.
U are Me.
Sekian.
Salam Selalu.
Aku ini Aku, aku si aku.
Sabtu, 22 November 2014
Lets do it fast, okay? A poem should be good by now.. So a poem it is. Now, Should we?
Aku nyalang dan terang, mataku belalak lalak.
Aku teriak dan garang, aku ngelakoni.
Oh, eh.. putri.. gadis.. cewek. kamu. Tuju.
le lek lek... Teredam malukah aku, terbakar takutkah aku. Hilangkah itu?
Wah tidak.. Sama sekali tidak. Sembunyi dia.
Suntuk, aku kutuk. Kubur saja kubur!
Kubur lagi, kubur! Bakar ajalah tu, bakar!
Kan ya seingatku tak begini, apa? apa? APA??!
Suram suram, karabam bam.. nguik nguik.. Holloh.. holloh!
Yeah yea yeah.. We knew it all along. I just pretend to be blind.
No, I just paralyzed. I just fall. I fall deep.
Kayak ndak pernah terjadi itu, tapi pernah.
Kayak ndak pernah tertulis itu, tapi pernah.
Kayak nda pernah ada itu, tapi ada.
Cinta, kenapa mesti selalu begini jalannya?
Ya aku salah. Ya aku salah. Ya aku tahu aku salah.
Aku salah. Aku tahu salahku apa.
Aku cuma tak mau percaya.
Pura pura tuli dan buta.
Aku bisu, bisu meraja.
Aku terkungkung, lama.
dan Kukira kau beda.
Sekian.
Salam selalu.
Makin Jauh
Jumat, 21 November 2014
Gelombang punya Supernova gubahan Dee bikin mabuk. Iya bikin mabuk. Pokoknya mabuk. Apa sih yang kau harapkan dari saya yang sedang mabuk. Sedangkan saya tak mabuk saja tulisanku sudah kacau. Apalagi saya yang sedang mabuk. Mabuk Gelombang Supernova. Aku dimabukkan sama rasa ingin hepi terus. We need Moreeeeee Supernova like this one. Jujur Partikel kemarin agak berat, dia tuh sama kayak Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh kemaren, mainnya terlalu rasa ahhh..
Rasa dingin ac ini menyenangkan sekali, sekaligus melenakan. Enak. Ditambah tadi habis makan kebab tomat dan cendol. Mantap. Tapi sempat sebel juga karena waktu pesan burger ya g keluar kebab.. Benci. Tapi ya sudahlah, ada gelombang. Dan sekrang saya jadi sempurna penasaran... Bahasa korea itu bacanya gimana siyyy... Soalnya ada yang mau saya terjemahin disini! Oh manis, kau tulis "Oh" saja saya penasaran apa maksudnya, ini hruf korea! superb lah... Baiklah, calm down for a sec will we? Belum tentu juga tulisan itu untuk saya, tetap saja saya penasaran. Pake adegan kamu nulisnya passs waktu mau ngasih ke saya. Ah sudahlah. Anomali kau itu.
Mataku sudah berat sekali, mengantuk. Malam ini kubikin jadi apa bagusnya? Sudah, jangan tanya. Malam ini ya malam, ya hitam, ya ada bintang, ya ada bulan. Malam ya malam. Tak peduli apa. Malam ya malam. Cumbu rayu halus alam, tanah dan langit. Kompak banget ya mereka, kalo dah malam... Padahal tadi siang aja bakar-bakaran, udah adem ademan lagi sekrang. Desau napasku masih sama koq. Malas.
Bahasa apa yang paling ingin kupelajari setelah bahasa korea? Spanyol mungkin. Atau arab, saya gampang ngajarinnya, gampang bikin skripsinya. Besok ngajar, wah.. ngajar apaan yah... Saya kosong nih belakangan ini. KOSONG. gak ada inspirasi, motivasi, apa si. Ini doang Gelombang keren banget. Makasih mamen, kamu memang keren! Tadi ngumpul ma teman teman mereka nanyain proposal skripsi, saya gemetaran. Gugup mau jawab apa. Kenapa gak sistem ujian aja siy.... Wisuda donkkkkkkk... aduh masih lama banget gila. Ada laporan PPL, ada KKN.. ck. Pusying. Semoga ppl kkn gak ngulang.
Coba bisa gini terus, makan ada terus... Rumah nyaman. Air cukup. Listrik memadai. Ngapa ngapain enak. Mikiran kepengen malah jadi gelisah. Jadi tidak bisa menikmati apa yang udah aja dulu. Dasar Manusia Malas. Tapi aku mau koq jadi rajin kalo bisa, bisa si. Tapi malas. Ck. Apaan. Yang jelas, malam ini gak usah dicat hitam lagi nih kamar. Pasti kasihan ya? Makin jauuuuuhhhhhh... Seeeeedddddiiiiihhhhhhhhhhh.........tauk!
Sekian.
Salam selalu.
Aku Mau Disini Terus
Kamis, 20 November 2014
Aku mau tinggal disini saja terus, dalam kamarku. Ac sudah dingin lagi, wify lancar, ada selimut, ada banyak buku. Aku mau tinggal disini saja terus. Supaya tidak usah capek jalan kaki keluar. Tidak usah capek capek makan. Tidak usah capek capek buat orang ngerti, bicara sama orang. Gak usah dengar hal hal yang menjengkelkan. Tidak usah ketemu kamu. Malam ini aku mau di kamar saja terus, sendirian.
Aku baru saja menamatkan novel atau apalah namanya buku yang berjudul Rahvayana, karangan Sujiwo Tejo yang kata dianya mungkin lagi kerasukan Rahwana. Lucu juga, aku suka gayanya. Buku itu rekomendasi teman dari jawa timur, yang memang beliau suka sama Sujiwo Tejo. Isinya bagus ternyata, enak dibacanya, asalkan kamu ndak usah maksa-maksain paham, pasti bisa kamu tamatkan. Soalnya cara dia nulis ini rada-rada ngawur. Kerennya ini buku disertai kaset lagu segala, iya sih udah banyak yang kayak gitu. Tapi kalo saya seingatku ya baru pertama kali ini aku punya. Ada sajak sajak nya setelah cerita inti selesai. Setelah cerita inti bahkan disertakan daftar pustaka. Subhanallah.
Aku sih ya sebenarnya lumayan puyeng juga bacanya, soalnya banyak nama wayang. Morodadi, Sarpakaneka, Wibisana, Trijata dan banyak banyak laiknya, ada batara lah... resi lah.. dewi lah... hanuman... banyak kera! Aneh aneh saja kalo kalian mau paksa paksa ngerti. Makanya mata dosenku kemarin, banyak baca referensi ringan serius dulu baru baca bukunya. Ah embuh, yang penting sekarang saya lagi hampa. Asik ah, ngebahas hampa mulu aku ini.
Besok mau kuliah regular, mengulang buat perbaikan nilai, belum nyusun skripsi. Ini lagi skripsi ahh bikin keki. Ppl juga harus nyerahin laporan, apaan! Resiko situ jadi mahasiswa, ya kerjain lah! Kerjain woy kerjain! Hallah... aku sih mau leyeh leyeh, malas-malasan ogah-ogahan. Tidak boleh begitu sih seharusnya.
Lagian kenapa dijudes-cuekin sampai segitunya siyyy?! Aku kan jadi gemes-gemes asem gimanaaaaa gitu. Atau cuma perasaanku saja ya? Ah... sadarlah boy, nggak mungkin.. iya nggak mungkin.. nggak mungkiiiiinnn.. kinnnn.kinnn.... Sudahlah nyerah saja... Tinggalkan dan Lupakan sja mimpi mimpi itu. Hanya mengganggu tidur panjang kita. Tidur yang melana hinakan. Bangun bangun sudah ada nyala api berkobar di depan mata. Hayoooo..
Sudahlah, kita sudahi saja. Bingkai bungkusan kamu saya jadi makin ambil tempat saja, jadi sulit aku dan kau saling mengerti satu sama lain. Ahh.. siapa sih aku?! Malam ini aku mau tinggal disini saja. Aku mau malas-malasan sampai..... sampai jatuh cinta itu enak.
Sekian.
Salam Selalu.
Malam Introspeksi
Rabu, 19 November 2014
Badanku gemetaran, entah kenapa. Tapi jika memang mau mengingat-ngingat, sore tadi itu saya terguncang luar biasa. Hidup terasa kembali hampa, seperti sebuah perjalanan panjang sia-sia. Sang Dosen menasehati kami secara halus, betapa pentingnya membaca buku pelajaran, betapa penting belajar hal-hal keilmuwan. Betapa pentingnya mempersiapkan masa depan generasi setelah kita. Sebagai mahasiswa di jurusan pendidikan, nasihat itu tepat sekali, maka tentu wajar saja, tapi saya tersentuh. Tersentak tepatnya. Dedaunan kering di pohon jiwaku yang tinggi meranggas berguguran luruh perlahan, seiring cahaya kemilauan khayalku yang memburam dan runtuh melihat realita. Kupikir-pikir lagi, ah.. saya banyak sekali menyia-nyiakan hidup.
"Jika makalahmu masih seperti ini, tak usahlah turun demo, bicara ganyang koruptor. Kalian kelak akan menjadi koruptor juga kalo bikin makalah saja sudah kopas. Kalian malas serius belajar, apalagi memperdalam ilmu bahasa arab kalian. Ke malang sana, kalian bakal keok. Lucunya, sudah sejak lama kita begini. Saya dulu waktu mahasiswa juga kayak kalian! Bedanya dulu belum ada internet, jadi kami masih sibuk ke perpus. Lah kalian?". Ya, pak. Apa sih yang terjadi pada kami? Pada generasi ini..
Semoga generasi mu tak seperti kami, ya Si Manis? Aku tahu kau takkan seperti kami. Ah andai semua anak bangsa bisa seperti kau, bangsa ini akan maju lebih cepat. Tapi efek nasihat dosen itu memang dahsyat. Sepanjang pembelajaran saya cuma bisa membisu dan membeo, hatiku tertekuk, otakku tertunduk. Aku malu. Mungkin ini yang Temanku itu maksudkan dengan gugup. Ya gugup. Gugup melihat masa depan. Apalagi ditambah memikirkan hasrat untuk mempersunting kau. Tambah sinting lah saya. Sempurnalah kemasygulanku akan hidup kalau begitu caranya. Beritahu aku, kawan. Apa yang sebaiknya terjadi? Pertanyaan macam apa itu.!
Terakhir, mau kukatakan padamu aku bukan pertama kali ini cemburu. Aku SELALU cemburu sejak kusadari aku suka kamu. Aku terlanjur rendah rendahkan diri. Ndak pede kayak dulu lagi. Saya sering sok asik sendiri. Saya sering sok enak enakan. Padahal sudah itu saya uring-uringan di kamar. Juga mau kubilang, Sang Dosen itu hebat benar, bisa bikin saya depresi setengah mati. Tapi ada bagusnya, saya jadi ndak kepikiran buat macam-macam. Bahkan ngerusak hape teman tadi saya menyesal, tapi ndak sempat galau. Malam ini masih suram juga seperti kemarin, atau malam sebelumnya, dan sebelumnya lagi.
Sekian.
Salam Selalu.
Malam-malam Sakit
Selasa, 18 November 2014
Malam selalu membisikkan padaku kata-kata tentang cinta. Kata-kata tentang sakit. Tentang betapa begadang itu nikmat, tidur itu menyusahkan. Aku selalu gelisah. Di malam hari, di peraduan tempat seharusnya aku mengantuk dan tertidur, aku malah cengengesan. Curhat seperti anak kecil, bicara tentang suramnya kehidupan.
Malam selalu mengajakku berkelana, bukan untuk terlelap. Kecuali di malam yang dulu-dulu. Yang waktu itu cinta belum kukenal. Yang waktu itu aku masih punya keinginan kuat untuk terbang, untuk berlari jauh. Helaan nafasku. Malam mengajakku menonton film-film lama. Mendengar lagu-lagu enak. Mengingat-ngingat mimpi. Izinkan aku menjadi sendiri, menjadi tak punya siapa-siapa lagi. Karena cinta hanya melukai. Dalam tawa, dalam tangis, dalam sakit, dalam nikmat. Bahkan di ceritamu, sayang.
Episode baru hidupku bernama lepaskan dengan paksa. Tak jadi bagian dari apa-apa. Meski sebenarnya, aku haus cinta, haus perhatian semua manusia. Keegoisan ini sudah mengambil tempat terlalu banyak. Sampai memaksa-maksa tangan untuk menulis rekayasa kata yang muram durja. Bukankah kau tak tahu sayang? Aku begitu pintar berdialog sendirian. Ah, rasanya ini bukan lagi rahasia. Mereka semua tahu aku gila, hanya saja aku gila tanpa ngajak-ngajak. Jadi tak apa-apa, gilaku kutempatkan dimana-mana tapi tidak merusak siapa-siapa. Gilaku begini saja.
Hai manis, bukan karena kau aku gila. Aku begini sudah lama, ini kurang lebih pilihanku juga, bukan paksaan siapa-siapa. Kau jarang begadang, tahukah kau rasanya digigit nyamuk tengah malam? Tahukah kau rasanya ingint tidur, tapi pikiran ini tak mau? Namanya kesadaran, yang menghalangi kantukku bertemu tidur. Semuanya kuusahakan, menutup mata percuma.
Aih, malam... Sebuah kesimpulan yang tidak mengikat apa-apa, meski erat tak dinyana. Tapi seperti tirai hujan yang serasi bersama malam, seperti bunyi suling halus di kejauhan, tak teraup semuanya, tak tergapai seluruhnya. Aku tak mau membagi, tapi tetap saja aku merasa kurang. Hai manis,.. Semoga kau berbahagia.
Salam Selalu.
SMS (sungguh mati sayang)
ce: Is it okay if I love U, kak?
co: ofcors its okay! I hope god says its okay too.. cause I love U too, dek.
ce: well.. haha.. becanda ji saya kak..
co: oh ya? well..truth has been told.. kalo saya serius, dek. Ku sayang ki.
ce:....
co: napa dek?
ce: marah ki pasti, kak.
co: ya iyalah marah... ka kusayang betul ki tapi takut ka bilangki.. malah kau main maini ka.. tapi nda papa ji.
ce: serius nda papa ji? minta maaf ka kak.. masih mau ja temanan sama kk tapi nda mau ka pacaran sama kk. nda bgtu perasaanku sma kk.
co: ya iyalah nda papa.. lagian saya jg gk ngajak pacaran koq.
ce: maksudnya kak?
co: sy maunya nikah.. tapi ya entar.
ce: ahh... serius ki kak? seram..
co: hehh? koq seram.. sorry dek.. haha.. iya serius ka, seenggaknya sekrang.
ce:....
co: yo.. napa lagi?
ce: ndak kutau apa mau kubilang :,(
co: hee? koq nangis... udah udah... gak usah ngomongin in lagi.. maap maap..
ce: terharu ka, kak... tambah besar rasa bersalah ku ini kalo memang benar apa kk bilang.
co: etdah... udah udah udah... becanda ja pale juga.... brhenti miki nangis itu e...
ce: BERCANDA KI PALE KAK?
co: enggak siy.
ce: iiihhh.. kk ahhh! sebel tauk! jadi tambah nangis nih... kenapa begitu kk!
co: ka nangis ki dek.. ndak kusuka sekali kalau ada cewek nangis.. apalagi kau ceweknya.
ce: pale, berhenti ma nangis.. jangan begitu lagi kk! aku gak suka.. well.. kyknya gak ada cewek yang suka.
co: iya iya.. maap maap.. jadi? jam berapa mi disitu.. belum mau istirahat dek.
ce: iya malam mhy.. istirahat ka dulu pale, kak..
co: iya.. selamat tidur.
>>>>>
di kamar masing-masing.
ce. "kusayang ki kak"... lalu tidur pulas sampai pagi dengan senyum.
co. "darn it! damn it! f*ck it!".. gak tidur sampe pagi.
sekian.
salam selalu.
Apakah Masa Depanku Pantas Untukmu?
Senin, 03 November 2014
tak banyak yang mau kukatakan pada kertas kosong ini. Gelegak hampa ini tak terdefenisikan. Aku tak tahu kenapa, hanya merasa kosong. Mungkin karena banyak pikiran. Mikirin Rpp, mikirin skripsi, nasi yang hampir basi, nasi yang kebanyakan, lauk ayam goreng sisa sedikit, lauk ikan kuah kuning masih banyak, kacang rebus hampir membusuk, motor belum dicuci, lantai belum disapu. Stress.
Teman teman tahu mana yang harus kubereskan lebih dulu? Apa yang harus kulakukan? Tahukah kalian kalau aku pernah mempertimbangkan lari dari rumah? Apakah kalian merutukiku pengecut jika aku melakukannya? Bukankah lari dari rumah butuh keberanian besar? Aku sebenarnya tahu waktuku sudah sejak lama habis, terlalu banyak hutangku pada masa lalu, terlalu banyak. Sehingga aku takut melihat kedepan.
Aku yakin kalianpun pernah merasakan penyesalan seperti ini. Mengapa dulu tak belajar, mengapa tak mengerjakan tugas, mengapa begadang terlalu larut, mengapa tadi pagi tak mencuci motor, mengapa aku menunda nunda? Aku yakin kalian tahu rasanya jika pernah mengalami. Tapi yang beda adalah apa yang dilakukan berikutnya. Bukan begitu? Karena sejarah yang terhenti tidak ada, waktu bergulir terus.
Tik tok. Waktu mengetuk mengetuk ingatanmu untuk berhenti menyia nyiakan. Tapi aku memilih membiarkan dan menunda. Dan inilah yang kutuai.Sebuah kegamangan absolut. Aku tak bisa memastikan masa depan, ya semua orang juga begitu. Maksudku aku merasa masa depanku runyam. Masa depan seperti itu tak pantas diisi kehadiran seorang wanita hebat seperti kau... Makanya aku malu. Terima kasih, kehadiran kau membuat aku berani membuka mata melihat kedepan. Meski yang kulihat hanya abu dan puing. Sisa kejayaan yang aku runtuhkan. Dan aku tak bisa membuat kau ikut, meski aku sangat ingin. Sangat ingin... Bagaimana denganmu?
Salam Selalu
Rahasia Yang Menyedihkan
Jumat, 31 Oktober 2014
Dunia yang menyedihkan. Ada rahasia yang tersimpan di dunia yang menyedihkan ini. Tentang seseorang yang melihat kenyataannya. Seseorang yang tertolak dari terang, dan memilih terus berjalan dalam gelap. Ada banyak hal yang mau diceritakan meski tak pantas. Ada banyak kenyataan yang perlu diketahui meski tak menyenangkan.
Orang itu, yang duduk di kursi didepan sana, aku tak mengenalnya, tapi aku merasa sedih melihatnya. Seorang bapak bapak seperti itu apa yang dia lakukan disitu disamping dosen kami? Kenapa dia tak mengajar di kelasnya sendiri jika dia dosen? Kenapa dia tidak di tokonya jika dia pengusaha? Apa yang dia lakukan disini? Apa dia tak punya pekerjaan lain? Akankah aku seperti itu juga? Jujur saja, aku tidak mau.
Pada kenyataannya, aku juga tidak berhak berharap yang muluk muluk, misalnya mau jadi keren kaya raya dan terkenal. Dengan kemalasan yang belum berhasil kuusir, aku bahkan layak untuk mendapatkan sesuatu yang lebih hina. Bisa saja kau temukan aku meringkuk di depan emperan toko minggu depan, atau di bawah kolong jembatan di surabaya satu bulan kemudian.
Rasa stress memang kutanggapi dengan cara yang keliru, sudah sejak lama. Hasilnya malah berlipat ganda, stress itu berkembang dalam diriku secara membabi buta. Aku bingung dan linglung, tak tahu mau melakukan apa. Hal baik memang aku tahu banyak, tapi selalu saja aku lari, tak mau mengaku. Lari menuju peristirahatan sementara, melenakan dan membutakan, menyenyakkan dan meng alpakan. Tapi kuakui dalam pelarian selama apapun takkan ditemui kedamaian, ketenangan. Yang hadir cuma gelisah setia menemani, khawatir berkepanjangan, momok.
Dari titik sumpahku kubuat hingga kini, belum juga aku menyongsong terang, entah kenapa. Mungkin karena rasa malu dan bersalah, dari kesalahan yang terlanjur kulakukan dan tak bisa kuhapus kejadiannya, pun tak bisa hinggi kini kulupa rasanya. Kesalahan yang membuatku merasa telah mengganggu hidup orang orang. Semoga dia mau memaafkan kebodohan dan kelancangan ini.
Salam Selalu.
Kupenuliskah
Kamis, 30 Oktober 2014
Mungkin akan hanya aku yang terus mengenang seorang Iqbal Saja sebagai penulis.
Lahir dalam sebuah keluarga sebagai anak tertua atau pertama, catatan hidupku datar saja. Kalaupun ada beberapa dalam hidupku yang kalian tahu istimewa itu tak lain hanyalah kehebatan kedua orang tuaku dan ridha allah semata. Bahwa aku bisa pergi ke maroko dan dibeasiswa selama setahun disana, hanya sekolahku yang hebat dan menunjukku sebagai wakil. Singkatnya dari apa yang kulakukan tak ada yang begitu luar biasa, maka jarang kubangga banggakan apa yang pernah terjadi padaku. Pun jika kalian dapati ada hal hal istimewa dalam tulisan tulisanku ini, maka aku bersyukur pada Allah Swt. Karena sejujurnya, sejauh ingatanku, aku hanya mau mengaku diri sebagai penulis. Menjadi penulis yang karyanya dibaca dan menginspirasi banyak orang sudah menjadi mimpi yang menghantuiku sejak kecil.
Dari kecil, sejak tahu cara membaca, aku sudah mulai berusaha membaca banyak hal. Masih ingat aku, bagaimana ayahku membuat sebuah buku dengan tulisan tangannya sendiri agar aku mengenal huruf dan penggunaannya dalam susunan kata. Beliau tulis dalam sebuah notes sederhana, yang kerap kita lihat dipakai wartawan tempo lama. Yang ituloh, yang kalau mau membuka halaman selanjutnya, maka caranya adalah membuka kertas ke atas bukan kesamping. Maka setiap melihat notes seperti itu, selalu hinggap padaku rasa akrab yang mendalam. Setiap melihat notes seperti itu, sadarlah aku, Ayahku jauh di dalam hatiku adalah pahlawan besar. Buku itu dulunya selalu kubawa bawa kemanapun, masanya ialah sebelum masuk sd klas 1. Jadi aku sudah mengenal abjad sebelum masuk sd, lengkap dengan cara bacanya, penyambungannya. Saat itu aku belum sadar, kalau aku sedang jatuh cinta. Jatuh pada dunia baca tulis.
Waktu berselang, tahun berlalu. Banyak hal berubah, notes itu sudah tak tahu entah dimana, tertinggal di kenangan, 17 tahun lalu. Tapi cintaku pada baca tulis tak berubah, malah semakin tergila-gila. Di sd, majalah Tiko, bobo, beberapa komik dan koran koran kubaca sangat sering. Dan disana itu saja aku melampiaskan rasa, komik, majalah, koran, dan beberapa cerpen di buku pelajaran sekolah. Kadang saat sedang sendirian dan tak ada yang mau dilakukan, aku mulai membuka buku dan mengambil pulpen, menggambar sesuka hati. Anak kecil mana yang tak suka menggambar? Tapi waktu kecil aku pernah mengarang sebuah lagu. Judulnya Cinta Putih. Kala itu, aku sendiri yang punya konsep lagu begitu sehingga rasanya konyol sekali, sekarang pasti sudah banyak lagu judul begitu.
Semasa smp lah dia menjumpaiku, Sebuah Novel. Berlatar peristiwa WTC yg ditabrak pesawat, novel tipis ini, bahkan sangat tipis sebenarnya, mengisahkan sepasang kasih yang terpisah karena si lelaki wafat pada kejadian itu. Membacanya, merasakan luka sang gadis, perjuangannya dalam membuka hati yang terlanjur mati, penerimaannya pada hati yang baru. Dan aku hanyut begitu saja. Setelah menutup halaman terakhir novel itu, saya tahu saya mau buat yang seperti ini juga! saya mau buat yang beginian!
Sejak itu aku menjadi pembaca setia novel-novel apa saja yang kusuka. Tak ada genre khusus, selama bisa membawaku hanyut, aku suka. Dan ternyata menulis tak semudah membaca. Perlu tekad, kepercayaan diri yang tinggi, mental yang tangguh. Kesemuanya itu aku tak bisa miliki sepenuh waktu. Kadang aku ya, kadang aku tidak. Jika sedikit saja masalah datang, langsung aku kalah dan melemah, lalu menyerah. Sudah ada puluhan naskah. Tapi yang kumulai selalu tak bisa kulanjutkan. Seperti sebuah kutukan yang lengket tak mau lepas.
Kutukan yang agaknya juga menghujani aspek hidupku yang lain. Kuliah setengah setengah, cinta yang melemah loyokan, tugas yang dikerjakan seadanya, hidup yang serba tidak maksimal dalam usaha. Meringkuk dalam rasa malu. Meringkuk dalam rasa kalah. Meringkuk dalam rasa bersalah. Meringkuk saat marah. Meringkuk, berbaring, melemah.
Aku tidak punya rencana, cuma selembar harapan usang, beberapa doa, dan sebuah sumpah. Kegelapan mengelilingi sedikit cahaya terang. Aku berjalan dan terlelap. Aku lelah dan berbaring. Aku malu dan bersalah. Aku hina dan berdosa. Tapi aku berdoa, semoga besok jadi lebih baik.
Salam selalu
Tak Ada Jurang Tanpa Dasar
Selasa, 28 Oktober 2014
U MESS WITH A WRONG MOMMA
Kamis, 19 Juni 2014
Jambret itu jumlahnya dua orang, yang ngehajar itu massa. Massanya bejibun, oh.. mereka babak belur. Begitu diseret ke kantor polisi, yang satu dah sekarat. Yang masih belum sekarat, kasihan banget tadi saya liat fotonya... Dia ngerawatin yang lagi sekarat, ya kawannya itu. Sekalian, kata ibu saya, dia juga bakal sekarat. Soalnya ntu pak pol pak pol kayak udah gemes banget ama para PENCURI ini, mereka sesekali dipukul sama polisi, di kantor mereka. "Mama jadi kasihan liatnya juga nak..." Kata ibuku, prihatin. Soalnya kan mereka para jambret ini digebukan tiada bukan ya karena jambret ibu saya, kurang lebih lah ada andil ibu saya disitu. "Ampuni kami Tuhan.".
Pada waktu yang kurang lebih sama, yaitu tadi siang juga, saya sedang ada di tempat penjual telur, sedang beli telur. Punggungku enteng, ranselku kusimpan di motor di seberang jalan yang berhadapan dengan punggungku. Artinya, hanya 5 langkah dari tempatku berdiri. Beli telur ayam satu rak, harganya 35 ribu, katanya telur ayam ras, saya tak peduli. Selama bisa buat telur dadar dan nasi goreng, ya sudah saya beli. Setelah berbalik dan melangkah menuju motor, tampak sebuah pemandangan aneh. Bukan, gak mungkin tiba-tiba mantan saya muncul and mau nraktir saya bakso atau coto kuda, bukan juga tiba-tiba ada lahar meleleh dari bawah tanah.,.. anu... ituloh,.. Motor yang saya parkir itu koq keliatannya agak beda ya?
Ohya, ranselnya ndak ada. Saya cari-cari di penjual telur, ndak ada. Di samping, sekitar, sekeliling motor, ndak ada. Di got, sapa tau kecebur, nda ada juga. Wah kacau. Ransel ane ilang bro! Saya coba-coba nanya, ke penjaga warung dekat situ, dia bilang "Wah gak tau tuh, dek.. Daritadi saya disini, ndak pernah keluar-keluar.". Wah, malah curcol nih. "Kenapa memang ndak adek putar dulu motornya? Ditinggal seberang jalan lagi..ck ck ck...". Aseik, ane diceramahin... Tapi saya ingat betul hikmah yang ibu ini sampaikan "Yah... memang itu barang kalau mau hilang, ketemu juga lah jalannya....". Kata-kata ini saya dengar udah sering, tapi barusan ini terasa betul kedalamannya.
Di dalam Ransel itu ada Laptop, ada barang-barang lain juga tapi itu yang paling penting. Ohya, ada bukunya Aqram juga... Ada kitab saya dua. Ada fd 8 gb saya yang masih baru, ada kartu main yang belum pernah dimaenin, kecuali buat dijadiin alat peraga sulap amatiran. Kini mereka semua raib bersamaan. Yang paling pertama saya pikirkan Ortu. Anjrit, saya bikin sedih mereka lagi.. Ah, itu satu-satunya pemikiran yang mengganggu ketenangan saya, keikhlasan saya. Bahwa di laptop itu ada file-file tugas yang bejibun, di ransel itu ada KRS, fotokopian slip pembayaran, semua kekhawatiran untuk mereka itu datang belakangan.
Di tengah galau-galaunya, ada jin ifrit lewat, eh.. maksudnya saya Aqram. Dengan jaket warna biru muda yang mencolok itu, motor jupiter mx koplingan dan tanpa helmnya itu, dia berlalu, sempat menoleh dan melambaikan tangan padaku, kubalas. Lalu pemikiran yang kutunggu-tunggu tiba juga....Ah... Sudahlah, ikhlaskan saja, Bal. Saya pamit sama mereka, orang-orang yang kubikin ikut panik bersamaku. Aku naik motor, dan kupacu ke arah yang sama Aqram tadi menuju... ke arah rumahku, Aku mau pulang saja... telpon ibu, lapor, dimarahi, main Clash Of Clans bentar, lalu tidur.
Ternyata kujumpai Aqram sedang parkir depan warung, habis beli sayur dan lauk. Dia panggil kusamperi, kuceritakan yang baru saja terjadi... Dia ajak saya kerumahnya, makan. Saya ikut saja. "Ndak usah lapor dulu Bro, supaya ibumu ndak kaget.." Kata dia sok bijak. Saya juga sok merenung. Hapeku lobet. 1-0 untuk skenario Aqram. Saya minta pinjam hapenya, peluang Skor buat skenarioku. Hape Aqram ndak ada pulsa. Hasil Akhir 2-0 untuk skenario Aqram. Aku pamit pulang, dia terus ke kampus. Dasar emang orang sok sibuk dia.
Di Rumah, langsung dicegat dengan pernyataan tiba-tiba dari Bibi "Bal, tadi Mama nelpon cariin kau... Nda tau juga kenapa..". Wah... kedengarannya gawat. "Coba Bi, saya pinjam hapenya". Kutelpon ibu, wah.. dijawab sibuk ma mbak telkomsel. Yasud, hape saya kembalikan. Hidup berjalan normal. Dan lalu setelah maghrib, kudengar ibu pulang... Dan tahulah saya, ternyata ada cerita yang paling pertama tadi. Ibu jadinya ndak terlalu marah. Ranselku itu penolak bala ransel Ibu. Ibu menceritakan kisah kejambretannya dengan seru. Beliau mengejar motor Jupiter mx mereka, dengan varionya... Rem katanya tak lagi dihiraukannya, ketika teriakan "Maling.. Maling..." tak lagi dihiraukan, tersisa "Allahu Akbar!" dan kepalan tangan terangkat beliau yang menggantikan. Ah Ibu, anakmu di seluruh dunia takkan pernah berhenti kagum padamu.
"Mereka, waktu Mama kejar, sering noleh-noleh kebelakang... Mungkin mereka gak nyangka mama kejar wiihh..ibu itu ngejar!".....
Well... Bro, it's unfortunate, but U MESS WITH A WRONG MOMMA.
Mimpi Seperti Itu...
Selasa, 03 Juni 2014
Saya tak mau kalian tahu nama, silahkan tebak-tebak saja, tulisan kali ini pun hanya campuran dari mereka semua.. Karena sejauh ini, aku belum lupa. Mereka semua terlalu cantik, teman-teman. Silahkan kata-katai aku sebagai, pemuja nafsu, pecinta semu apapun itu. Aku laki-laki yang cukup beruntung untuk menemui mereka, dan cuku sial untuk akhirnya berpisah dengan mereka. Satu dari mereka, menyiksaku lebih sadis dari kata "Berpisah". Mereka semua ini, pernah kupertimbangkan untuk jadi istriku, ibu anak-anakku kelak.. Tapi sejauh ini semuanya bukan.
Mereka semua ini begitu mudh didekati, ya bangsatlah aku, tapi mereka itu para aktris maha ulung, pesohor di tingkat masing-masing. Dan aku ini lugu, selugu orang lugu dungu. Dan aku ini mau saja jatuh cinta pada mereka. Dan akhirnya saya melakukan kesalahan, mereka punya alasan angkat kaki. Ah... angkat kakilah kalian, biar saja tak usah ada akhirnya... bukan yang pertama juga saya dikasi begini. Yoi, mamen, saya sakit. Katanya sih, sebagian mereka juga.. ya okelah sama-sama sakit. Peace-peace,... keep smile.
Lagu, puisi, cerita, curhat.. ahhh semua itu cuma kubangan muntah raksasa. Sini kublender rame-rame semua yang terjadi diantara kita, dan kita coba kita makan sama-sama... rasanya getir, pahit, sepat... tapi kau dan aku akan memakannya sampai habis, sampai tak bersisa. Dan ketika kita selesai, kita sekali lagi akan terduduk diam sementara. Seperti jeda yang kau beri padaku waktu itu, menunggu memencet tombol yang akan meledakkanmu.. Dan aku menangis. yah.. Kalian boleh duduk menangis bersamaku, tapi yang kutahu lebih banyak dari kalian bangkit lagi... Perasaan bersalah itu memenuhi dadaku, aku ingin panggil kalian semua lagi. Tapi mimpi seperti itu akan memberiku utang yang terlalu banyak. Jadi disinilah kita...
Semua sudah terlanjur rusak. Kalo boleh, aku sangat ingin tahu jawabannya... "Sudah kau temukan, kah.. cinta sejati itu?"
Dan MUNTAHLAH!
Kisahku memang tak bisa kutulis lurus-lurus, itu bukan gayaku. Yang kubagi bukan langkah-langkah, jarang seperti itu. Yang kubagi itu rasa, gambarannya, dan kau akan paham jika tiba saatnya, mungkin, mungkin tidak. Karena biarpun kuceritakan, kurasa tidak akan ada apa-apa yang sampai padamu, karena memang bukan itu, bukan itu yang biasanya kubagi. Sekarang, otakku malah meraung-raung, mereka mendesakku bercerita! Wanjjiiiirrr! Ndak bisakah kalian ini diam dan ikuti saja mauku? Baiklah kuikuti mau kalian. Jadi, tadi aku pertama kali merasa hancur begini itu waktu di atas motor ada muncul perasaan seperti ini "Adikku keren banget, saya mau disamping dia terus, ah..bukan, saya mau dia disamping saya terus..." Start.. Mental saya singkatnya labil, adik-adikku ini, terutama yang satu ini, membawa tekanan yang terlalu kuat! Gila, saya akhirnya harus ngaku, saya mau kayak dia juga! Ah,.. Kalian menang.. kalian menang.. Oke.
Sebenarnya tidak ada ilmu, pengetahuan yang selalu aku percaya.. jarang sekali, maka saya ini rasanya tidak bisa menjadi ilmuwan. Tapi tadi, aku membuktikan teori yang mengatakan, suasana hati bisa mempengaruhi keadaan fisik. tarikan, desakan, dorongan jiwa ini saling grasak-grusuk, menumpang-tindih.. Kepalaku tidak sakit, tapi tubuhku rasanya kosong. Mungkin itu sensasinya kesurupan. Angin malam yang menghujam dengan kecapatan motorku yang beradu-adu, terasa sepele, sangat sepele.. Semua sepele! Tak ada lagi yang penting.. Huuuuuuuuuuuuu ... Semua tiba-tiba geser, yang kulihat kosong! Di depan saya, ndak ada apa-apa lagi! Masa depanku ndak kelihatan lagi! Mimpi-mimpi itu jadi sepele.... Gue gila! Gue gila! Ahhh! Motor ini tak tahu apa-apa, dia maju terus. Dan aku sampai juga di kost temanku. Dalam perjalanan itu, ada sekitar 2-3 kali aku menimbang kata "KEMANA?"
Wah... Roda ini, kemana kau mau pergi? Motor ini, dengan kecepatan 60 km per jam, mau kemana? "kau mau kamana, bal?" Kau mau apa? Ndak ada, saya ndak tau mau kemana, ndak tau.. ndak tauk... saya DIMANA? Kamu siapa? Apa ini? Apa INI? Semua pertanyaan-pertanyaan buatan ini, terus berputar-putar menyesatkanku.. sampai aku tiba depan rumah temanku. Dan saya akhirnya harus berhenti juga.. Kegilaan ini akhirnya jeda... Bukan henti, tapi jeda.
Beberapa hari lalu, guru menulis bilang bagusnya tulisan ada solisunya, jangan masalah terus. Aku sadar yang lebih sering kuketik, dan kutuliskan untuk kalian hanya masalah, dan lebih banyak pertanyaan. Baiklah, mari kita memberi kalian solusi. Solusiku... milikilah sebuah laptop, usahakan lumayan besar, usahakan milikilah uang cukup untuk masuk warkop yang ada wifi. Masuk, dan bukalah laptopmu, masuklah ke internet.. Dan MUNTAHLAH!
Cinta Gak Terlalu Sama Dengan Lemah
Selasa, 27 Mei 2014
setelah kuingat kalian semua, para nama agung yang pernah memberiku kesempatan mencintai, aku kini bisa menyimpulkan. Ada pesan yang kalian semua ingin perlahan sampaikan dan tanam, dan aku harus paham itu sekarang. Jika tidak, akan tambah banyak hari tak jelas yang sebenarnya sudah terlalu banyak di rentetan waktuku. Jika tidak aku pahami sekarang, jatuh cintaku selanjutnya akan kembali membawa luka gamang tak terpahami.
Semua kata yang telah dan kelak kuketik mungkin akan mengganggu banyak orang, Tapi inilah cita-citaku. Selamat datang... Tuhan. Terima Kasih.
Hati ini masih hancur seperti senantiasa, masih seperti 4-6 tahun lalu, tak berbentuk lagi, tak pantas dimiliki siapa-siapa, tapi tak apa-apa. Semua itu bukan alasan untuk menyia-nyiakan detik-detikku.. semua itu bukan untuk dikutuk seterusnya. Meski pasti besok-besok bisa jadi kalian dapati aku yang versi bangsat ternayta belum juga pergi-pergi, tapi hasrat untuk bahagia, menikmati, bersyukur, belajar lebih, semoga juga ikut menemani.
Hari-hari ini mungkin yang kutulis hanya seperti ini, tapi janji untuk menulis hal lainnya juga ada di niatanku. Aminkan, kawan..
Gamang Larang
Selasa, 13 Mei 2014
Tak kupungkiri awalnya semua ini cuma soal cinta belaka. Pada makhluk makhluk rupawan surgawi bernama perempuan, tapi kini tak lagi sesederhana itu, meski kuakui tetap merekalah intinya. Kawan, jika kau tak keberatan kupanggil kawan, ujung dari dunia memang harus kiamat. Ini bukan realita pesimistik, ini hanya fakta otentik karya manusia biasa. Kita semua merindukan Orang-orang seperti Nabi. Orang-orang gila yang bisa kita ajak ngomong dan bergaul sehari-hari. Orang-orang sinting yang bisa kita cintai sampai mati. Orang-orang yang selalu salah dimengerti namun pemberani dan terus bersosialisasi, bukan mereka yang patah-arang lalu menyembunyikan diri. Sebenarnya, sejauh inilah cinta itu kugapai...
Terlalu klise jika cerita cintaku lagi yang mau kuungkit-ungkit, karena setelah aku keliling internet, kisahku bukan yang pertama, pun bukan yang terakhir. Kulihat akhir dari kisah -kisah lama, kulihat awal dari kisah-kisah baru, hanya senyum yang bisa kuukir. Di tempatku, permainan sudah lama usai, seharusnya begitu. Tak ada lagi yang harus kuikuti, semua sudah selesai sejak sangat lama sekali, seharusnya seperti itu. Tapi hidup masih harus terus dilalui, dan disini aku tersesat. AH...betapa lama aku mau mengatakan itu.
Memang bukan terapi seperti ini, bukan relaksasi seperti ini yang cocok denganku, tapi kadang aku mau, betul-betul berharap. Sapa tau disini kutemui satu sisi koinku yang lain itu. Yang akan mengantarku menemui takdir yang sebenarnya sudah lama dijanjikan untukku. Yang akan mempertemukanku dengan satu belahan jiwa yang lama tersimpan dan juga sama menanti-cari ku. Yang akan membawaku pada pertobatan yang sebenarnya, pelepasan yang sempurna.
Sejauh mata memandang masih kutemui para hantu itu.
Maksa Nulis
Minggu, 11 Mei 2014
Setelah bertempur dengan jaringan yang masya allahu akbar lalodnya, akhirnya akun blogger saya mau menampakkan dirinya. Dan disini, ada adik saya yang paling kecil, yang selalu mau tahu urusan orang, yang juga selalu sok tahu atas urusan semua orang. Akhirnya dia pergi. Sekarang mereka semua sedang bercerewet ria. Adik saya yang paling kecil dengan ke sok tahuannya, sepupu saya dengan suara suara tak jelasnya, dan adik ketiga saya dengan ajaran-ajaran (game) nya.
Apa yang mau saya tulis? Ya, apa ya?
Desauan nafasku perlahan kuhembuskan,
Demi aku mencari arti dari semua ini.
Dan akhir yang samar dari gurauan takdir.
Kenyataan apa yang mau menemuiku?
Hari ini kukatakan cinta, karena kurasakan nyatanya engkau.
Kurasakan nyatanya ancaman kehampaan.
Kekosongan yang menyata perlaahan.
Kenapaaa dengan semua kata-kata ini?
Darimana mereka datang?
Sini kujawabkan...
Asal dari semua itu adalah begadang tak jelas, tontonan tak berfaedah, bacaan menyesatkan, dangkalnya mimpi serta minimnya usaha. Terakhir kali nulis di blog juga saya tahu emang sesulit ini, apalagi udah jeda lama. Ah.. Klise banget si rasanya ya kalo mau bilang "Jadi pusing mau nulis apaan?". Ya sudahlah, yang itu kita lewatkan.
Blog...
Biasanya itu isinya catatan-catatan yang penting ya? Yang menarik gitu, yang asik... Gila, gila... Emang nulis sesulit ini ternyata ya? Resiko deh karena pengen tulisan perfect. Sensanyinya disuruh tidur padahal pengen begadang... Susah! "Aku gak bisa...Aku gak bisa..". Ternyata emang, relaksasi saya bukan yang seperti ini,... Pengen, padahal.