Bayangan Api

Kamis, 06 Februari 2014

Setiap orang punya sisi gelap dan sisi terangnya. Seperti api yang juga masih memiliki bayangan. Dan tulisan ada kalanya mempresentasikan warna jiwa si penulis. Pertanyaannya, mana yang harus lebih sering ditulis, mana yang sebaiknya ditulis? Gelapkukah? Terangkukah? Baiklah, kalau saya, terserahlah... Apa yang nikmat untuk kutulis itulah yang aku tulis.. Meski setelah saya baca-baca ulang ternyata dalam banyak kesempatana saya jauh lebih sering memilih menulis yang gelap-gelap dari kehidupan pemikiran saya.

Dalam kesempatan kali ini, saya ingin meregangkan otot dan melemaskan syaraf. Pandangan, pemikiran, pola pikir, cara pandang atau apalah semua itu... Telah terkikis gila-gilaan belakangan ini, masih terus terjadi tapi inilah hidup. Seperti air yang melewati sungai... Selama  ada ruang, arus akan hadir.. Terserah kau buang sampah atau berak di kali, mau buang permata, dollar atau emas... Sejauh ada ruang, arus akan hadir. Air akan mengalir. Dan disini saya. Menulis karena mau menulis.

Refreshing jiwa kata sebagian orang. Pemenuhan pada diri sendiri, tapi tak dipungkiri juga... Kadang aku ingin dibaca..Aku ingin tulisanku dikomentari.. Dipuji kalo boleh. Responlah, yah.... enak juga kalo ada yang merhatiin ternyata ya, kawan? Tapi ya mbok saya ndak maksa cari pengikut lah.. Ini Om Google sama Mas Blogger udah berbaik hati biarin saya nyampah di tempat mereka saya dah seneng... Galaksi seabrek bernama internet ini batasnya mungkin jauh juga.

Refreshing jiwa kata sebagian orang. Pemenuhan pada diri sendiri... Loh koq upline nya diulang? ya suka-suka  saya lah... Nulis itu puyeng juga loh.. bahkan karangan bebas.. bahkan tulisan ngaco kayak gini aja nih susah banget bikinnya sumpah... Butuh berton-ton ceramah, berkilo-kilo semangat.... buat bisa lanjut.. yah wajar.. Taraf saya masih penulis level beginner, atau mungkin sandbox... Ini udah empat paragraf... udah bagus lah kayaknya ini ya? Okelah... saya tutup dsini.. Rencananya mau rekap Firapu dan Roki semuanya... Hah.... Gilak... Padahal belum genap 10 halaman... inih kepala udh buntuuuuu.. aja...

Oke.
Salam Selalu.


Marakech

Selasa, 04 Februari 2014

Kita sampai di Marakech, hari sudah sore.. Adzan berkumandang. Ashar masuklah. Turun dari bus, turunin tas-tas, orangnya juga. Saya muntah-muntah. Nah ini muntah kedua. Saya muntahnya berusaha banget supaya gak keliatan, kasihan sama teman-temannya, entar pada ikutan muntah, keliatan udah pada mabuk semua soalnya. Gilak men!! 7 jam di bus! Oke.. Lanjut. Kita jalan ke temapat pertemuan, deket koq dari pemberhentian bus ini. Tepatnya di Pom bensin di depan Hotel Al-Sawaq Al-Salam, Hotel Besar Banget, paslah buat ketemuan.

Saya dan Aldi singgah dulu bentar di Pom Bensin, masuk Wc. Saya buang air kecil, sekalian puas-puasan muntah bener... Aldi dulu yang masuk, cuma satu soalnya wcnya.. dia bayar 2 dirham sama tukang bersih-bersihnya. Lalu saya yang masuk.. Saya bayar cuma 1 dirham si.. Untuk info tambahan.. Itu wc di kafetarianya. Oke udah. Kak Fauzan udah ada, siap nganter kita ke rumah temen-temen. Oke. Kita bersembilan udah siap...ternyata masih jalan bentar dulu, supaya sampai di situs tempat Gronk (semacam angkutan umum dari ras taxi) biasa beroperasi. Dalam per-jalan-an temen-temen lewatin stand-stand pinggir jalan yang jual buah, inisatif aja beli buah apel sekantong. Gronk nemu, kita naek, cabut jalan! Gronk pertama isinya, saya dan 3 cewek, sisanya orang setempat, kira-kira 2 orangan kalo gak salah, sama sopir berarti kita ada 7 orang di gronk. 3 di depan, 4 di belakang. Gronk emang agak luasan. "Berenti di depan Masakhhah Yorli ya!" Kata mas Fauzan sebelum nutup pintu gronk. Gronk pun berjalan.. Saya ingat saya itu agak buru-buru banget waktu itu... Entah, pokoknya lebih careless gitu lah.. Ohya semua ransel di jatahin ke gronk kami.

>>>>>>
Cerita sisanya nunggu tangan saya mau lagi.

Salam selalu.



NAWAITU

Hilang diantara bacaan dan tulisanku, aku melongo. Hilang diantara sela aktifitas dan tidur, diantara himpitan detik, aku terbengong. Yah... Episode Firapu dan Roki rasanya harus menanti lebih lama. Rasanya seperti dipaksa merasakan gentar akan hidup, takut akan mati. Masih banyak ternyata yang mau aku lakukan, yang mau aku selesaikan, janji-janji yang mau aku lunasi. Masih banyak karya yang mau kubuat, tapi tanganku mengkarat. Masih ada nada-nada yang mau kupetik, masih ada lagu yang mau kunyanyikan... masih banyak yang ingin kulakukan. Aku masih muda. Tapi sakit ini membuatku tua.

Jariku, lidahku, kakiku....mataku, telingaku, hati dan otakku. Pusaran angin puyuh gila yang dulu meraung kencang-kencang kini menjinak---bukan--- MENGHILANG... Perlahan. Yang tersisa ada sedikit puing, bekas senjata rusak, sedikit harta rampasan perang. Diatas sudah terlalu tinggi, di bawah tak lagi ada alas, bualan mimpi selesai sampai disini. Terbangun kaget pelan-pelan, sudah pasti... Tersangkut... tentu...

Simfoni hitam yang mendiam perlahan tetap mengetukkan derap langkahnya di tengah hujan deras di hutan serigala mata biru yang sudah lama haus... Entah lengkah terakhir atau mantra pemanggil, yang jelas.... yang jelas...bunyinya terngiang. Jelas sampai subuh hari... Masuk sampai hati,sampai terbawa mimpi.. Sampai bangun lagi.. Sampai status fb. Celah sempit bernama kesempatan itu masih terbuka... Tentu. Tak pernah tertutup untuk siapapun.. hanya pindah. Kini jejaknya tak kulihat lagi. Lucunya? tak ada keinginan mencari. Niat punya, tapi tidak mau.

NAWAITU!
Salam selalu...


 

Popular Posts

Tags

Akun (1) blegok (6) Catatan luka (36) DerapLangkah (11) gemes (1) Giyatta (7) Giyatta!! (3) HujanDeras (9) IN-g-AT (13) Kacau (31) KAYLA (3) LucuB (5) Mimpi (8) Minat n pengen (11) Naskah (7) Pesan (5) Puisi (4) salute (5) Sejuta hidup Sehari (45) Serius dikit (11) Shadowlight (16) SuPistik (6) tapi gak bakat (4) Ups (5) Wisata (7)

Ketikkan Saja